
Tak beberapa lama seusai menerima popcorn dan juga tiket yang baru saja dibelinya, mereka berdua pun masuk ke dalam gedung B, karena film yang sudah mereka pilih akan segera dimulai.
Mereka berjalan masuk lalu mencari tempat duduk yang nyaman. Karena dirasa semua pengunjung sudah memenuhi tempat duduknya masing-masing, petugas pun kemudian meredupkan lampu di dalam ruangan B tersebut.
Rani duduk sambil memeluk tangan Steve dan menyandarkan kepalanya di bahu pria tersebut.
“Rasanya udah nggak sabar nunggu filmnya diputar. Pasti romantis gitu ya kan, Steve.” Ujar Rani dengan nada manja.
Pria itu pun hanya nyengir kuda melirik wanita di sebelahnya. Sejujurnya, Pria tersebut tidak menyukai film yang sudah dipilih Rani, karena menurutnya film tersebut sangat membosankan dan tidak ada adegan yang menegangkan yang membuat bulu kudunya merinding seperti saat menonton film horor bersama Olivia.
Tak beberapa lama kemudian film tersebut akhirnya telah diputar, Rani begitu senang menyaksikannya. Tapi tidak dengan Steve, mungkin saat itu kedua netranya memang menatap ke layar lebar tersebut, namun tidak dengan hati dan juga pikirannya.
Dirinya terus memikirkan Olivia, ia seakan sudah tak sabar ingin segera menghadiri acara pesta yang akan diadakan oleh perusahaan tempat Olivia bekerja.
“Film yang sangat membosankan, aku sangat tidak menyukainya. Di film ini nggak ada satupun adegan yang menegangkan. Berbeda jauh ketika aku melihat film horror bersama Olivia beberapa bulan yang lalu! Sebenarnya aku males banget duduk di sini menonton drama seperti ini, hanya buang-buang waktu ku aja. Aku jadi teringat lagi tentang dia saat bersama waktu dulu. Coba kalau saat ini wanita yang ada di sebelahku ini Olivia. Pasti aku akan betah duduk di sini menikmati film bersama dirinya. (Diam sesaat) Eh, kenapa sih tiba-tiba aku merindukan dia terus? Apa ini yang dinamakan rindu?” Batin Steve.
Tak lama Steve pun menyandarkan tubuh di bahu tempat duduknya mencari posisi duduk yang nyaman untuk dirinya. Akan tetapi, udara dingin yang dibuat dari mesin pendingin seperti AC itu membuat Steve terlena dengan suasananya. Tak terasa, kedua netranya pun terpejam perlahan-lahan.
Rani yang menikmati adegan yang ada di film tersebut pun tak sadar kalau ternyata pria yang duduk di sebelahnya itu sudah tertidur lelap. Hingga sampailah di menit-menit terakhir ketika film itu akan selesai tayang, Rani baper dengan kisah drama yang di tontonnya. Ia lalu memeluk tangan Steve dan berkata, “Seneng ya, kalau jadi cewek yang ada di film itu. Dia pasti bahagia banget punya kekasih yang super romantic dan pengertian seperti itu. Rasanya aku mau deh, di perlakukan seperti itu, Steve.” Sindir Rani seraya menyandarkan kepalanya di bahu pria tersebut.
Dia pun merasa aneh karena tak ada reaksi apapun dari Steve. Ia lalu mengalihkan pandangannya melihat ke wajah Steve.
“Steve! Steve!” ujar Rani seraya membangunkan kekasihnya yang sedang tidur.
__ADS_1
Steve pun seketika terbangun lalu mengerjapkan kedua matanya.
“Eh, iya. Gimana Ran?”
“Kamu tidur?”
“Enggak, aku hanya menutup mata sebentar. Filmnya udah selesai ya?” Tanya Steve.
“Ih, nyebelin banget sih! Di ajak nonton malah di tinggal tidur!” seru Rani.
“Maaf Ran, maaf. Tadi banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku merasa lelah sekali.” Terang Steve.
“Tau gitu kita nggak usah keluar nonton tadi! Males banget diajak nonton malah di tinggal ngimpi!” Seru Rani yang kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu pergi begitu saja, keluar dari ruang B tersebut.
Dengan segera Steve pun membuntuti wanita itu.
“Pikirin aja sendiri!” jawab Rani dengan meruncingkan mulutnya.
“Aku kan tadi udah bilang, kalau aku nggak sengaja ketiduran karena capek banget. Tolonglah mengerti sedikit!” Kata Steve.
Langkah kaki Rani kemudian berhenti, ia lalu menatap Steve. “Kamu ini emang nggak punya hati banget tau nggak Steve, nggak peduli banget sama perasaan ku! Asal kamu tau ya Steve, aku memang sengaja ngajak kamu kesini untuk nonton film romantic biar kamu tuh sadar gimana caranya memperlakukan cewek kamu! Bukannya malah ditinggal tidur dan mana cuek banget lagi sama aku! Sebenarnya aku ini kamu anggap apa sih Steve?! Capek tau nggak, kalau harus kayak gini terus!” tegur Rani dengan wajah marah.
“Kamu ini kenapa sih! Udah tua tapi sifatnya masih labil seperti ABG aja! Aku tuh udah capek-capek nurutin kemauan mu buat pergi nonton, tapi kamu malah nggak menghargaiku sama sekali! Kamu justru marah-marah nggak jelas seperti ini di depan banyak orang! Sekarang terserah kalau kamu mau terus-terusan ngambek seperti ini! Lebih baik sekarang aku pulang aja!” ucap Steve dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
Entah mengapa, hal sekecil apapun itu Rani selalu membesar-besarkannya. Sikapnya masih seperti anak kecil yang suka ngambek jika keinginannya tidak terpenuhi. Hal seperti ini lah yang membuat Steve merasa tidak nyaman dengan Rani. Sikap ngambek dengan ego yang terlalu tinggi.
Setelah perdebatan itu berlangsung, Steve pun dengan segera berjalan menuju ke pintu keluar, sedangkan sekarang Rani yang berbalik membuntuti pria paruh baya tersebut.
“Steve! Steve aku belum selesai bicara sayang!” pekik Rani yang terus berjalan membuntuti kekasihnya. Ia berusaha mengejar pria tersebut.
Namun karena sudah terlanjur kesal, Steve pun tak menggubris panggilan dari kekasihnya itu sama sekali. Ia terus saja berjalan ke arah pintu keluar gedung tersebut. Sesampainya di luar, ia lalu menghentikan sebuah taksi yang baru saja mengantarkan penumpangnya.
Ia pun menoleh ke arah Rani, “Sebaiknya kamu pulang sekarang, biar supirku yang antar kamu pulang! Aku akan naik taksi aja!” pinta Steve dengan tatapan dingin.
“Tapi Steve, please, jangan pulang dulu ya.”
“Sudahlah Ran, aku capek aku mau istirahat!” ucap Steve yang kemudian masuk kedalam mobil taksi itu.
Rani terus berusaha mencegah Steve untuk tidak masuk ke dalam mobil taksi itu dengan cara menarik tangannya. Namun, Steve langsung menepis tangan Rani begitu saja hingga dirinya berhasil masuk ke dalam kendaraan tersebut.
“Ran! Kamu pasti dengar, sama apa yang baru aja aku katakan kan?!” seru Steve.
Perlahan Rani melepaskan genggaman tangannya dari bahu tangan pria tersebut. Dan beberapa detik kemudian mobil itu pun dengan segera menancapkan gasnya lalu pergi seusai menerima perintah dari si penumpangnya.
***
Hari berikutnya tepat di jam lima sore. Stave sudah mempersiapkan diri sejak tadi untuk menghadiri acara pesta milad yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat Olivia bekerja. Dengan dandanan yang berbeda dari biasanya, dia sudah siap untuk bertemu dengan wanita pujaannya. Kali ini penampilannya terlihat lebih muda dari biasanya, gaya rambutnya sengaja di tata sedemikian rupa agar dirinya bisa menarik perhatian Olivia.
__ADS_1
Kemeja putih dengan jas dan juga celana kerja berwarna serba hitam itu membuat aura nya terlihat begitu menarik memikat hati para wanita yang hadir nanti.
Bersambung…