Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Zack datang


__ADS_3

Dalam perjalanan, pria itu hanya bisa berharap, semoga Olivia tidak melakukan tindakan nekat seperti beberapa waktu yang lalu. Sebab dia khawatir, karena Olivia hanya tinggal seorang diri di apartemennya.


Selang beberapa menit kemudian, sampailah Steve ke apartemennya. Dengan cepat ia pun berlari menuju unit apartemen tempat Olivia.


“Semoga tidak ada apa-apa dengan anak itu, dan semoga aja anak itu nggak melakukan tindakan nekat seperti kemarin. Aku harus cepat temui dia sekarang.” Batin Steve yang tampak begitu cemas sambil berjalan cepat.


Sesampainya di sana, ia mendapati Olivia yang tengah duduk memeluk lutut dan  menangis di lantai sebelah sofa ruang tamunya.


Steve pun dengan cepat bergegas mendekatinya. Ia kemudian bertanya, “Olivia, kamu kenapa?” Tanya Steve seraya menyentuh pundak wanita itu.


Seketika Olivia langsung menoleh dan memeluk tubuh kekar itu. Ia menangis sejadi-jadinya di dada bagian datar yang berbulu milik Steve.


“Om, hisk… hisk… hisk…”


“Iya, kamu kenapa Olivia? Ada apa? Apa yang udah terjadi?”


Perlahan Steve menuntun Olivia untuk pindah dan duduk di sofa ruang tamu itu.


“Sebaiknya kita duduk di sofa ya.” Pinta Steve dengan suara hangat.


Setelah Olivia duduk, Steve lalu beranjak berdiri dan kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.


Ia lalu menyuruh Olivia meneguk air putih yang baru saja di ambilnya.


“Sekarang coba kamu minum air putih ini dulu Olivia. Agar kamu bisa sedikit tenang,” Ucap Steve seraya menyerahkan segelas air minum.


Wanita itu pun menerima lalu meneguk air putih.


Gluk, gluk, gluk,


“Sudah cukup om, terima kasih,” ucap Olivia seraya memberikan gelas itu lagi  padanya.


“Sekarang, coba kamu ceritakan sama om, apa yang sudah terjadi?” Tanya Steve penasaran.


Tanpa bertele-tele Olivia menceritakan kejadian tadi. Steve yang mendengar pun tak habis pikir dengan sikap Jonatan, yang dengan mudahnya berkata buruk kepada putrinya sendiri.


“Kok ada ya orang tua seperti dia! Dia nggak sadar kalau ucapannya itu udah menyakiti hati putrinya sendiri.” ucap Steve menatap dalam wajah Olivia.


“Aku tuh kadang sampai mikir om, apa aku ini bukan anak mereka, atau aku tuh anak pungut. Soalnya mereka berdua nggak pernah sayang sama aku om.”


“Sudah, sudah. Jangan menangis lagi ya, om tau apa yang kamu rasakan saat ini.” Ucap Steve memberikan sedikit rasa nyaman.


“Terima kasih ya om, karena udah mau nenangin perasaan ku.”


“Iya Olivia,”


Tanpa di duga, Olivia tiba-tiba membaringkan tubuhnya di atas pangkal paha milik pria itu. Steve sedikit canggung.


“Om,”


“Iya,”


“Ijinkan aku untuk memejamkan mata sebentar saja,”

__ADS_1


Olivia sengaja bertindak seperti itu hanya untuk mencari ketenangan di dirinya, sebab hanya Steve lah yang mampu melakukannya. Hingga pada akhirnya, kedua netra miliknya pun terpejam dalam pangkuan Steve.


Melihat wanita itu sudah tertidur lelap, dengan hati-hati Steve menjunjung kepala Olivia, menempatkannya pada zona aman. Steve menangkup satu sisi wajah gadis itu dengan tangan kekarnya.


“Gadis yang malang, masih muda tapi hidupnya sangat berat. Semoga dia bisa kuat.” Batin Steve.


Dia ambilkan sebuah selimut, kemudian dia tutupi tubuh wanita itu yang sudah berbaring di atas sofa.


Setelah itu Steve kemudian pulang. Dia sengaja tidak mau membangunkan Olivia.


***


Esok harinya, wanita itu kembali mengerjapkan kedua matanya. Melihat ke sekeliling mencari keberadaan Steve, karena seingatnya, tadi malam dia tidur di pangkuan pria tersebut.


“Ternyata sudah pagi, tapi di mana om Steve? Apa dia pulang?”


Dengan segera wanita itu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia lalu menelpon Steve dan bertanya soal keberadaannya sekarang.


“Hallo om,”


“Iya, hallo Olivia, kamu sudah bangun?”


“Aku baru saja bangun.”


“Gimana ada apa?”


“Om Steve sekarang di mana?”


“Ya udah kalau gitu. Aku pikir om ada di mana tadi,”


“Terus sekarang kamu mau ngapain?”


“Karena udah jam tujuh, aku mau mandi terus berangkat ke kampus om.”


“Kalau gitu biar om aja yang akan antar kamu ke kampus.”


Mendengar itu, seketika senyuman Olivia mengembang, semangatnya kembali datang.


“Serius om?”


“Iya, sekarang cepat kamu bangun, terus siap-siap. Tiga puluh menit lagi om akan sampai di apartemenmu.”


“Baik om,”


Wanita itu patuh dan segera melakukan apa yang harus dilakukannya. Tepat di menit ke tiga puluh, Steve sudah datang. Namun, kali ini dia tidak sendiri dia pergi ditemani oleh supir pribadinya.


Selepas pintu terbuka, Olivia pun menyapanya dengan senyuman manisnya.


“Pagi om,”


“Pagi Olivia. Kamu udah siap?”


“Sudah om,”

__ADS_1


“Kalau gitu kita berangkat sekarang.”


“Baik om,” jawab Olivia melebarkan senyumnya.


Sesampainya kaki mereka di basement apartemen, mendadak ada seorang laki-laki yang datang menghampiri Olivia.


“Olivia, tunggu.”


Mereka berdua pun menoleh ke arah suara.


“Zack!” ucap Olivia lirih.


Sampailah pemuda itu di hadapan mereka berdua. Dengan nafas tersenggal-senggal, Zack mengutarakan permintaan maaf pada wanita itu.


“Ngapain kamu ke sini?!” Seru Olivia dengan wajah sedikit kesal.


“Olivia, aku mau minta maaf sama kamu.” terang Zack dengan jelas.


“Udah, sana pergi! Aku nggak mau ketemu kamu lagi!”


“Tapi Olivia,”


Steve yang sedari tadi berdiri seraya memperhatikan mereka pun mengehemnya.


“Ehem, kamu siapa?” tanya Steve.


Pemuda itu lalu menjulurkan tangannya mengajak berjabat tangan untuk memperkenalkan dirinya.


“Aku Zack om, temannya Olivia. Om pasti ayahnya ya.”


Mendengar itu, Olivia malah semakin jengkel. Menurutnya Zack orang yang sok tau, karena sudah berani mengira-ira bahwa Steve adalah ayahnya. Sedangkan pria yang disangka sebagai ayahnya itu adalah pria yang Olivia sukai selama ini.


“Ini orang udah salah, sok tau lagi! Ngapain sih dia ke sini! Bikin emosi!” gerutu Olivia sambil mengernyitkan dahinya.


“Owh, kamu yang namanya Zack.”


“Iya om,” jawab Zack mengeryih.


“Aku kasih tau ya sama kamu, sebaiknya kamu jangan deketin Olivia lagi. Kamu dengarkan kalau Olivia udah nggak mau ketemu kamu!” ucap Steve dengan tegas.


Tak di duga, perkataan Steve tadi mengejutkan Olivia. Ia membelalakkan kedua matanya, merasa bahagia karena ada orang yang membelanya kali ini.


“Tapi om, apa salahku? Kenapa om melarangku?” tanya Zack bingung.


“Udah lah Zack, nggak perlu di jelasin. Aku yakin, kamu masih ingat dengan kejadian di kedai kemarin!”


“Tapi, Olivia, tolong dengarkan penjelasan ku dulu.”


“Hay bung! Ini sudah siang, aku nggak mau Olivia terlambat berangkat ke kampusnya. Sebaiknya sekarang kamu pergi! Karena kami nggak ada waktu untuk ngeladenin kamu!” Ucap Steve masih dengan tahap normal.


Pria itu dengan segera menarik tangan Olivia dan menggandengnya berjalan mendekati mobil pribadinya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2