
Olivia berteriak agar kedua preman itu segera pergi. Namun nyatanya teriakan Olivia sama sekali tak mempan untuk mengusir mereka berdua.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Teriak Olivia.
Salah satu preman itu justru dengan cepat langsung membungkam mulut Olivia dan memintanya untuk diam.
“Hhuusstt! Diamlah, jangan berteriak. Kalau sekali lagi kau berteriak, tak segan-segan aku akan melukaimu!”
“Apa sih yang kalian mau? Jika kalian ingin mengambil barang-barang milikku, ambillah, tapi tolong lepaskan aku sekarang juga!”
“Waw, mudah sekali kamu mau menyerahkan semua barang-barangmu? Pasti kamu anak orang kaya ya?”
Olivia terdiam, ia terus meronta-ronta seraya menggelinjang.
“Sebaiknya kita apakan dia?” tanya salah satu preman tersebut.
“Kita bawa dia ke markas. Tapi sebelumnya, bungkam mulut dia. Jangan biarkan dia berteriak meminta tolong.”
Dengan cepat preman itu melilikan mulut Olivia dengan selembar kain persegi.
“Sudah bro.”
“Ayo, sekarang kita paksa dia untuk dibawa ke markas.”
Ada seorang anak jalanan melihat Olivia yang tengah di sekap oleh kedua preman itu. Anak itu dengan segera berlari di ujung jalan raya yang ramai mencari bantuan untuk menolong Olivia.
Sesampainya di jalan raya, dengan segera ia mencari orang dan memilih lawan yang sebanding untuk melawan kedua preman itu. Seorang laki-laki adalah target utama yang dipilihnya.
Ia menjumpai sosok pria dengan tubuh tegak nan kekar. Dengan cekat dan tanpa basa basi, anak kecil itu mendekat lalu meminta bantuan kepada salah seorang pria yang tengah berdiri di seberang jalan.
“Paman-paman.” Ujar anak kecil itu seraya menarik-narik kecil baju pria tersebut dengan wajah panik.
Seketika pria tersebut langsung menoleh ke arah anak kecil itu.
“Iya ada apa?” tanya pria itu heran.
“Paman, di ujung gang ini ada seorang wanita yang sedang di sekap oleh dua preman. Cepat tolong dia. Kasihan dia paman. Wanita itu sangat membutuhkan pertolongan.” Ujar anak kecil itu dengan wajah tegang.
Pria itu tercengang, setengah dirinya tak percaya dengan ucapan anak itu, namun ia sangat penasaran.
“Apa benar, ada wanita yang sedang di sekap oleh preman? Ah, setidaknya aku harus menolong dia sekarang, pasti wanita itu sangat membutuhkan pertolongan saat ini.” Batin si pria.
Dengan segera pria itu meminta anak kecil tadi untuk mengantarkan dirinya di lokasi tempat wanita tersebut di sekap.
“Di mana nak? Coba antarkan paman ke sana?”
“Baik paman, mari ikuti aku. Tapi sebaiknya kita lewat di jalan pinggir taman saja.”
“Iya, yang penting kita harus cepat selamatkan nyawa wanita yang sedang dalam bahaya.”
Dengan segera mereka berdua pergi mendatangi Olivia yang sebentar lagi akan dibawa ke markas preman. Anak kecil itu meminta pria tersebut untuk tidak langsung menghadang mereka, sebab preman-preman itu sangat berbahaya.
“Paman itu mereka. Mereka memaksa wanita itu untuk dibawa ke markas mereka paman.”
“Baik, paman akan menolongnya sekarang. Kamu tunggu di sini saja.”
__ADS_1
“Tapi paman,”
“Iya kenapa?” tanya pria tersebut bingung.
“Paman harus berhati-hati sama mereka, soalnya mereka berdua sangat berbahaya dan mereka juga selalu membawa sajam di kantong celananya.”
“Owh, baik nak. Terima kasih atas informasinya ya. Kamu tetap di sini. Paman akan segera menolong wanita itu.”
Tanpa banyak berbicara, pria tersebut langsung menarik tangan kedua preman itu dari belakang lalu memukulnya. Dihajarlah kedua preman itu dengan sekuat tenaga hingga membuat mereka berjatuhan di konblok.
Mereka begitu terperangah melihat kedatangan pria tersebut yang tiba-tiba memukulnya dari arah belakang
“Siapa kamu?! Beraninya kamu gapok kami dari belakang?!”
“Sebaiknya kalian pergi dari sini! Cepat!”
“Owh, elu nantangi kita?! Baik, kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan keok lebih dulu.” Kata salah satu preman.
“Baik lah, aku sama sekali nggak takut sama kalian berdua! Majulah, lawan aku sekarang!”
Tanpa banyak kata, kedua preman itu dengan segera menghajar pria yang mau menolong Olivia. Hingga terjadilah baku hantam antara mereka bertiga.
Pukulan demi pukulan terus mendarat di sekujur tubuh kedua preman itu. Hingga pada pukulan terakhir yang membuat kedua preman itu kewalahan melawan pria tersebut. Tak mau kalah sampai di situ juga, kedua preman itu serempak mengeluarkan senjata tajam dari dalam saku celananya untuk melawan pria tadi.
Walau kedua preman itu menggunakan senjata tajam, pria tersebut tak mudah untuk dikalahkan. Pria itu terus melawan preman-preman sampai mereka menyerah.
Sampai pada akhirnya, kedua preman itu kewalahan melawan laki-laki yang menghajarnya hingga membuat mereka lari kocar kacir.
Olivia sama sekali tak menyadari bahwa pria yang menolongnya itu adalah Om Steve.
“Hay, apa kau baik-baik saja?” Tanya Steve lembut.
Olivia menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia ketika melihat laki-laki yang ada di depannya adalah Om Steve.
“Om Steve,”
“Kamu Olivia kan?”
“I—iya om,”
“Kamu baik-baik saja kan?”
“I—iya om,”
“Mana Mommy mu?”
Olivia terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ha? Bukankah kalian tadi satu mobilkan?”
“I—iya.”
Steve berjalan mendekati Olivia lebih dekat lagi, ia menatap wajah wanita itu yang masih sangat ketakutan dengan insiden tadi.
Seraya menundukkan kepalanya, Steve mengusap lebut punggung Olivia.
__ADS_1
“Olivia, tenanglah. Semua sudah aman. Kedua preman tadi sudah pergi. Jadi jangan takut lagi ya.” Ucap Steve yang penuh dengan kehangatan.
Akan tetapi, Olivia mendadak memeluk tubuh Steve seraya memejamkan kedua matanya.
“Aku takut Om, aku sangat takut. Aku takut kalau kedua preman tadi datang lagi kemari.” Keluh Olivia.
“Tidak Olivia. Semua akan baik-baik saja selama Om masih bersamamu.” Balas Steve tersenyum manis.
Perlahan ia lepaskan pelukan dari pinggang Steve, senyumnya mengembang ketika dirinya sudah mulai merasa tenang.
“Terima kasih banyak ya Om, karena Om sudah mau menolongku. Aku nggak tau gimana nasib aku kalau Om nggak ke sini.”
“Mari ikuti Om.”
Tiba-tiba Steve mengajak Olivia menemui anak jalanan yang sedang berdiri di depan semak-semak.
“Semua ini berkat dia. Dia yang sudah membawa Om ke sini.”
“Apa? Jadi adek ini yang sudah menolongku?”
“Iya, berterima kasihlah kepadanya.”
Olivia membungkuk tubuhnya, ia kemudian mengucapkan terima kasih pada anak jalanan tadi.
“Makasih ya dek, kamu sudah mau menolong kakak.”
“Sama-sama kak. Tapi kakak nggak apa-apa kan?”
“Kakak nggak apa-apa kok. Sekali lagi terima kasih ya dek.” Kata Olivia sambil menyentuh pundak anak kecil itu.
Ia kembali menegakkan tubuhnya, diambil lah beberapa lembar uang 100.000 rupiah dari dalam tasnya dan setelah itu dia berikan uang itu ke anak kecil yang ada di depannya.
“Ini buat kamu dek.”
“Tidak kak, tidak perlu. Aku ikhlas kok menolong kakak.”
Karena tak ingin niat baiknya di tolak, Olivia segera mengambil tangan anak kecil itu.
“Ambillah, ini bukan apa-apa. Kakak juga ikhlas kok memberikan uang ini untuk kamu. Ya itung-itung, kakak kasih kamu uang untuk jajan dek.”
“Tapi kak, ini banyak sekali.”
“Tidak dek, uang ini nggak banyak. Uang ini nggak sebanding dengan ketulusan kamu yang udah menyelamatkan nyawa kakak.”
Steve kembali memberikan senyum manis saat melihat argumentasi antara Olivia dengan nak kecil itu.
“Tapi kak?”
“Sudah, ambil saja. Ini rezeki kamu. Jadi jangan di tolak ya.” Sahut Steve sembari melebarkan senyumnya.
Begitu senangnya anak jalanan itu seusai menerima uang pemberian Olivia.
Bersambung…
__ADS_1