
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, dan saat itu adalah waktu di mana Steve harus kembali pulang.
“Okey, berhubung ini sudah malam, aku sebaiknya pulang sekarang.”
“Ya ampun ternyata ini sudah jam sebelas ya, nggak terasa udah malam.”
Steve berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Rani mendadak melangkahkan kakinya mendekati Steve dan berdiri di hadapan pria itu. Ia berpura-pura ingin membersihkan kerah jas Steve untuk mencari perhatiannya.
“Tunggu, tunggu Steve, aku lihat di kerah jas kamu banyak rontokan kue yang kamu makan tadi deh. Bentar, aku akan bersihkan ya. Jelek banget kan jika seorang pria tampan seperti kamu bajunya kotor,” rayu Rani dengan centilnya seraya mengibas-ibaskan kerah jas itu.
Olivia yang melihat pun berdecak kesal, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu menuju ke pintu depan.
Ia berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan mengerucutkan mulutnya menunggu Steve keluar.
Selepas membersihkan kerah jasnya, Steve dan Rani lalu berjalan keluar.
“Steve, sekali lagi makasih loh, kamu udah menolong Olivia, dan makasih juga kamu udah sempetin mampir di rumahku.” Ucap Rani dengan tangannya yang terus menggandeng telapak tangan Steve.
“Sama-sama. Tadi aku juga udah bilang ke Olivia, kalau dia butuh apa-apa aku suruh dia hubungi aku aja.”
“Owh, iya. Bagus deh kalau gitu. Tapi Olivia kan belum punya nomer telepon kamu?”
“Udah, tadi aku udah chat dia kok. Tapi kebetulan ponselnya mati. Olivia, jangan lupa ya, simpan nomor telepon Om tadi.”
“Baik om.”
“Kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Hati-hati ya Steve.”
“Hati-hati ya Om.”
“Okey, selamat malam. Selamat beristirahat semuanya.”
Seusai Steve pergi dari rumah itu, Olivia lalu kembali masuk kedalam. Ia enggan berlama-lama harus berdiri di samping Rani. Tapi, seketika Rani menghentikan langkah kaki putrinya.
“Olivia tunggu!” Pekik Rani.
Mereka berdua berdiri saling membelakangi. Olivia sengaja enggan menoleh ke belakang untuk melihat ibunya.
“Mommy tau, kamu tadi sengaja kan mau mempermalukan Mommy di depan Om Steve.” Kata Rani dengan posisi yang masih sama. Hitungan detik ia pun menoleh dan berjalan mendekati putrinya lalu berdiri di sebelahnya.
“Mau kamu apa sih?! Kamu ini anak kandung Mommy, mommy yang ngelahirin kamu, tapi mommy merasa kamu tuh seperti musuh mommy sendiri tau gak?!”
__ADS_1
Olivia masih terdiam, dia enggan mengatakan apapun.
“Sekarang kamu bilang, mau kamu apa?! Katakan!” Rani terus melebarkan kedua matanya dan menekan Olivia agar dia mau berbicara. “Katakan! Jangan cuman diam aja! Mommy capek ngurusin kamu yang nggak tau diri ini!” Lanjut Rani.
Olivia menoleh ke samping, “Mom, ini udah malam. Aku nggak mau ribut. Aku mau istirahat.” Cetus Olivia seraya menahan emosinya.
“Mommy ingin kamu bilang sekarang! Apa mau kamu?! kenapa kamu begitu kurang ajar sama mommy?!”
Mendengar suara Rani yang terus membentak dirinya, membuat Olivia kembali menatap tajam dan merasakan benci yang luar biasa pada ibunya sendiri.
Harusnya Rani sadar dengan sikap atau tindakannya yang selama ini begitu sangat egois terhadap putrinya sendiri.
“Aku mau tidur! Aku capek!” jawab Olivia singkat.
Ucapan Olivia itu kembali membuat Rani naik pitam, hingga membuat dirinya harus menampar keras wajah anaknya lagi.
Plak!
“Awh!” Olivia memegang pipinya yang terasa kebas, ia memicingkan matanya. Dengan satu tangan yang terkepal kuat.
Tanpa banyak bicara, Olivia mendadak mencekal pergelangan tangan Rani lalu membawa tubuh ibunya ke dapur.
Rani di buat bingung, ia malah heran melihat tindakan Olivia saat itu. Sesampainya di dapur, Olivia melepaskan tangannya, dengan cepat Olivia berjalan mendekati sebuah benda tajam. Benda tersebut tak lain adalah sebuah pisau tajam.
“Oliv, kamu mau ngapain Oliv?! Letakan pisau itu nak!” ucap Rani dengan bibir bergetar takut.
Karena tak mau dirinya celaka, ia berjalan mundur perlahan-lahan untuk menghindari Olivia.
“Olivia, jangan macam-macam nak! Kembalikan pisau itu sayang! Mommy minta maaf jika membuat kamu marah sayang, lepaskan ya, Mommy mohon lepaskan pisau itu.”
Deg!
Seketika langkah Rani terhenti karena adanya sebuah dinding yang mengakhiri langkahnya. Ketakutannya semakin bertambah ketika melihat Olivia yang terus berjalan mendekati dirinya dengan terus membawa sebuah pisau.
“Oliv, jangan main-main sama benda itu nak, itu sangat bahaya sekali sayang. Letakan ya, Mommy mohon letakan sekarang.”
Dengan nafas yang memburu Olivia terus berjalan, hingga pada akhirnya langkah kakinya berhenti tepat di hadapan Rani. Karena rasa takut yang begitu hebat membuat Rani harus menutup kedua matanya. Ia tak ingin terjadi sesuatu kepada dirinya atas tindakan yang dilakukan putrinya.
Akan tetapi, dia semakin dibuat heran dengan Olivia. Tiba-tiba Olivia memberikan benda tersebut di tangannya. Rani lalu membuka matanya perlahan-lahan melihat apa yang dilakukan anaknya.
“Olivia,” ucap Rani lirih dengan rasa penasaran.
Namun Olivia tiba-tiba berkata, “Mom, percuma kalau tangan mommy terus-terusan menampar wajahku. Aku sudah ambilkan pisau ini, jadi sebaiknya sekarang Mommy bunuh aku saja! Bunuh aku Mom! Bunuh!”
__ADS_1
Suasana malam yang mencekam, membuat wajah Rani berubah tegang.
“Kamu ini sudah gila ya, Liv?” ucap Rani pelan dengan membeliakkan kedua mata.
“Aku bilang, bunuh aku Mom, bunuh aku sekarang juga!” pekik Olivia seraya mengguyur pipinya dengan air mata.
“Oliv,”
“Apa?! Dari pada Mommy terus-terusan nyakitin perasaan ku, sebaiknya Mommy bunuh aku, sekarang! Bunuh Mommy! Bunuh!” teriak Olivia yang kemudian merampas pisau itu, hingga membuat keduanya harus saling ber unggut-unggut merebutnya. Sebisa mungkin Rani berusaha agar pisau itu tak melukai salah satu di antaranya.
“Olivia! Hentikan! Kalau kamu seperti ini, kita berdua bisa celaka!” kata Rani yang terus menggenggam pisau.
“Nggak, aku ingin Mommy membunuhku sekarang!” Ucap Olivia seraya mengarahkan tangan Rani yang tengah menggenggam pisau itu ke tubuhnya.
“Awh! Bi, bibi! Tolong! Tolong!”
“Diam Mommy! Diam!”
“Nggak, mommy nggak akan diam sebelum kamu lepaskan pisau ini!” Lepaskan sekarang!”
“Aku udah lelah, jika diperlakukan seperti ini terus menerus! Untuk apa aku hidup kalau kehadiran ku nggak di diinginkan sama sekali!” seru Olivia.
“Lepaskan Olivia! Kamu gila! Kamu sudah gila! Bibi! Bi! Bibi!”
“Memang! Aku memang sudah gila! Aku seperti ini juga karena Mommy dan Papi! Bunuh aku! Bunuh aku sekarang, Mom!”
“Bi…! Bibi…!” Rani berusaha terus berteriak untuk meminta bantuan kepada seseorang yang tinggal di rumahnya.
Mendengar suara orang sedang bertikai di dapur, ketiga pelayan langsung datang. Dua di antaranya seketika menarik tubuh Olivia dari belakang dan salah satu seorang pelayan datang membantu Rani untuk berdiri.
Pisau itu masih berada di genggaman Rani, ia dengan segera memberikan benda tersebut ke pelayan yang sedang berdiri di sebelahnya.
“Buang jauh-jauh pisau itu! Amankan semua barang tajam yang berbahaya dari rumah ini! Dan kalian berdua, bawa anak itu masuk ke dalam kamarnya! Ikat tangan dia!”
“Baik Nyonya besar!”
“Satu lagi, ambil semua barang-barang berbahaya di dalam kamarnya lalu kalian kunci pintunya! Mengerti! Jangan sampai dia keluar!”
“Mengerti nyonya besar!” pinta Rani dengan tegas.
Bersambung…
__ADS_1