
Setelah mendengar penjelasan dari Rani, pria tersebut meminta wanita itu untuk segera pergi.
“Saya tidak peduli dengan penjelasan anda, jadi silahkan keluar dari hotel kami. Saya tak mau kenyamanan para tamu saya terganggu karena anda.” Tegas pria itu.
“Okey, baik,baik, baik. Saya juga akan pergi dari sini.”
Rani lalu berjalan menuju pintu keluar dari hotel tersebut, namun langkah kakinya mendadak berhenti.
“Em, sebelum aku pergi dari sini. Bolehkah Aku minta nomer telepon kamu?” ucap Rani.
“Mohon maaf, saya tak punya banyak waktu. Silahkan tinggalkan hotel ini sekarang. Atau saya akan panggil security untuk mengusir anda secara paksa dari sini,” Pinta pria itu lalu mengundang satpam.
“Scurity, security,” pekik pria tersebut.
“Eh, tunggu, tunggu, baiklah. Santai aja, aku akan pergi. Bye, bye ganteng. Eemmuuccaahh,” Kata Rani seraya melambai-lambaikan tangan dengan begitu centilnya.
**
Sudah hampir satu pekan ini, Rani sudah tak lagi terlihat keluar malam, bahkan ia juga tidak membawa laki-laki pulang ke rumahnya. Olivia merasa rencana yang dilakukannya telah berhasil untuk merubah sifat buruk ibunya.
“Aku perhatikan sudah seminggu ini mommy nggak keluar malam. Sepertinya rencanaku kemarin berhasil deh, buat ngerubah jalan pikiran mommy? Bahkan akhir-akhir ini aku pun juga tak melihat Mommy bawa laki-laki pulang ke rumah.” Batin Olivia dari dalam hati yang sedang duduk di ruang tengah seraya memainkan gadget-nya.
“Ya, bagus deh kalau Mommy memang benar-benar sudah berubah.” Lanjut batin Olivia dari dalam hati yang sudah mulai sedikit tenang.
Tak beberapa lama, Rani datang sambil memainkan ponselnya dengan wajah yang nampak semringah. Olivia merasa heran, ia tak pernah melihat raut muka Rani yang berseri-seri bak sedang jatuh cinta.
“Hay sayang,” sapa Rani tersenyum manis kepada putrinya.
Ia kemudian duduk di sebelah putrinya. Olivia hanya melirik tajam sambil terus bermain ponsel.
“Ada apa sama dia? Baru kali ini aku lihat wajahnya berseri-seri seperti itu. Apa dia sedang jatuh cinta ya? Ah bodo amat, setidaknya dia nggak bermain laki-laki kayak kemarin lagi, itu sudah cukup buat aku senang dan tenang.” Batin Olivia lagi.
“Olivia,” panggil Rani.
“Hem,”
“Kamu udah makan belum?”
“Belum.”
“Mommy laper, kita cari makan di luar yuk?”
Olivia merasa aneh dengan sikap Rani saat itu. Sebab nggak bisanya, Rani mengajak Olivia makan bersama di luar seperti ini.
“Aneh, ada apa sih dengan Mommy?” Batinnya lagi.
__ADS_1
Berhubung Rani memperlakukan putrinya dengan baik, Olivia pun juga menanggapinya dengan santai.
“Sekarang?”
“Iya dong sayang.”
“Yea, aku akan ke kamar untuk ganti pakaian dulu.”
“Okey, Mommy mau ganti pakaian juga kok.”
Mereka berdua lalu pergi menuju ke kamarnya masing-masing. Olivia keluar dari kamar terlebih dulu dengan menggunakan rok jeans mini dan kaos polos berwarna putih.
“Mom! Mommy, aku udah siap nih.” Teriak Olivia memanggil Rani yang berjalan turun dari anak tangga.
“Iya sebentar, kamu tunggu di bawah dulu. Bentar lagi Mommy sudah selesai kok.”
“Ya mom aku tunggu di bawah, jangan lama-lama ya,”
“Mau pergi makan aja lama banget sih make-upnya.” Gerutu Olivia.
Olivia senang, karena jarang sekali Rani mengajak dirinya makan malam berdua seperti sekarang, bahkan hal semacam ini malah hampir tak pernah terjadi.
Tak lama Rani keluar lalu turun dari kamarnya. Ia mengenakan shirt dress print flower yang bernuansa monokrom dengan sandal heels berwarna hitam dan tas jinjing beserta rambutnya yang di curly.
“Let’s go sayang, mari kita cari makan sekarang!” ajak Rani.
“Loh, kita kan mau cari makan. Masak iya, mommy mau berpenampilan seperti di rumah sih, sayang.” Terang Rani.
“Tapikan Mom,”
“Hust! Udah diem, sebaiknya kita pergi sekarang aja, yuk.” Ajak Rani.
Selintas ada hal aneh yang mengganjal di otak Olivia saat itu. Ia merasa heran dengan sikap Rani. Akan tetapi, karena ia juga sudah merasa lapar, ia akhirnya mau pergi bersama ibunya.
Dua puluh menit berlalu, sampailah mereka di sebuah tempat makan. Mereka lalu duduk dan memesan beberapa menu makanan yang akan mereka santap waktu itu.
“Kamu mau makan apa Oliv?” tanya Rani yang nampak sibuk dengan ponselnya.
Sebuah buku menu sudah tersaji tepat di atas meja mereka.
“Aku mau pesan cheesy meatball spaghetti, organic smoked salmon on toast sama flavour blended red velvet ya Mom,”
“Pesan lah, pesan saja apa yang kamu mau ya Oliv.” Ujar Rani.
Begitu pula dengan Rani yang sudah memesan beberapa makanan. Lagi-lagi Olivia di buat terheran dengan sikap ibunya.
__ADS_1
“Kok Mommy pesan makanannya banyak sekali sih? Sedangkan kita hanya berdua aja di sini, terus siapa yang akan menghabiskan makanan itu nanti?” tanya Olivia mengerutkan kedua alisnya.
“Hust! Dengerin Mommy sebentar. Olivia sayang, sebenarnya maksud Mommy ajak kamu makan di sini itu karena Mommy ingin mengenalkan kamu sama seseorang?” ucap Rani lirih.
“Seseorang? Maksudnya, kekasih mommy?” Tanya Olivia heran.
Rani lalu berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Ia kemudian mendekati putrinya dan berdiri di belakang Olivia. Dia bungkukkan punggungnya dan mengatakan, “Iya sayang, Mommy mau kenalin kamu sama kekasih Mommy.” Terang Rani.
Kedua netra Olivia membelalak. Ia pikir, ibunya sudah berubah, tapi nyatanya tidak.
“Apa?!” Ucap Olivia kaget.
“Hust!” Rani meminta Olivia untuk diam.
Ia lalu merangkul pundak anaknya dan berdiri di sebelahnya.
“Seperti yang kamu mau kan Oliv.”
Olivia menatap resah.
“Bukankah kamu sendiri yang pernah bilang kalau kamu sebel lihat Mommy sering gonta-ganti laki-laki?”
“Iya. Memang, aku akui itu.” Jawab Olivia tanpa basa basi.
Rani kemudian kembali duduk di kursinya tadi.
“Jadi begini Olivia, sebenarnya mommy sudah menemukan seseorang yang tepat buat Mommy. Dia laki-laki yang baik, perhatian, dan juga penyayang. Nanti kamu akan lihat sendiri orangnya. Mommy harap kamu setuju dengan pilihan Mommy.”
“Tapi mom,”
“Sayang, mommy mau kamu bisa sependapat dengan ku. Sebentar lagi dia datang. Mommy yakin , kamu akan setuju jika mommy menjalin hubungan serius dengan dia.”
“Terserah deh. Terserah apa yang mau mommy lakukan, lakukanlah sesuka hati mommy! Oliv udah capek!”
Karena merasa kesal, Olivia akhirnya pergi ke toilet. Dia benci dengan suasana yang awalnya menyenangkan seketika berubah menjadi menjengkelkan.
Dengan cepat dia berdiri dan kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia lalu mengepalkan kedua tangannya, dia memukul kecil wastafel yang ada di hadapannya.
“Sebel! Sebel! Sebel! Apa-apaan sih Mommy ini! Aku pikir dia sudah berubah! Tapi ternyata aku salah! Padahal aku udah seneng banget diajak makan berdua seperti ini. Resek! Bikin moodku berantakan!” Ucap Olivia sendiri.
Dia sengaja pergi ke kamar mandi hanya untuk meluapkan kekesalannya waktu itu. Selepas itu dengan berat hati dia kembali ke menuju ke tempat duduknya. Akan tetapi, terlihat dari kejauhan ada seorang laki-laki yang mengenakan jas. Laki-laki tersebut duduk berhadapan dengan ibunya.
Bersambung….
__ADS_1