
Ketika mereka bertiga tengah menikmati sajian makan malamnya, tiba-tiba ponsel Rani berdering.
“Ada apa sih Jonatan telpon. Ganggu suasa ku aja.” Gerutu Rani dari dalam hatinya.
“Siapa Ran?” Tanya Steve.
“Owh, ini papinya Olivia.”
“Angkat aja. Siapa tau penting. Soalnya dari tadi dia telepon kamu kan?” Tutur Steve.
“Em, bentar ya, aku mau angkat teleponnya dulu.”
Rani kemudian berjalan menjauh dari meja makan.
“Hem, hallo. Kenapa?”
“Aku udah carikan apartemen buat Olivia. Jadi besok kamu bisa antarkan anak itu untuk tinggal di sana aja.”
“Ha kamu telpon cuman mau kasih kabar itu aja?”
“Iya,”
“Suka banget sih ganggu suasa ku.”
“Emangnya kamu tuh lagi ngapain?”
“Ya pacaran lah,”
“Udah tua tuh tahu diri!”
“Berisik!”
“Nanti aku share lokasinya dan besok aku tunggu di sana, jadi kamu nggak usah ke rumahku. Soalnya aku nggak mau ribut sama istriku hanya cuma gara-gara Olivia!”
“Hem!”
Tanpa mengucap salam, Jonatan langsung menutup teleponnya begitu saja.
Tot… tot… tot…
Rani kemudian kembali ke meja makan.
“Ada apa Mom? Kenapa papi telepon Mommy?”
“Hem, nggak ada apa-apa kok. Udah di lanjut lagi aja makannya.”
Mendadak perut Olivia terasa perih dan kepalanya kembali pusing. Ia lalu menyudahi makan malamnya.
“Sepertinya udah cukup deh aku makannya.”
“Tapi kamu kan baru makan beberapa suap nasi Liv?” ujar Steve.
“Iya, om. Aku mau balik ke kamar dulu.”
“Jangan lupa obatnya diminum ya. Biar kamu lekas sembuh.”
“Iya Om.”
Olivia lalu berdiri dan akan berjalan menuju ke kamarnya. Namun, baru beberapa jengkal dia melangkah, tiba-tiba dia menggeliut, karena tubuhnya masih lemas.
Steve yang memperhatikannya dari tadi dengan cepat langsung menolongnya.
“Olivia,” pekik Steve yang kemudian berdiri lalu menyongkong tubuh wanita itu dari belakang.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Steve cemas.
“I—iya om,”
“Sini biar Om bantu kamu naik ke atas.”
“Nggak usah om, Olivia masih bisa jalan sendiri kok.”
Dari belakang Rani menarik tangan Steve, ia seakan tak rela melihat laki-laki yang dia suka terlalu perhatian dengan anaknya, “Iya Steve, udah biarin aja. Lagian dia juga masih bisa jalan sendiri kok.”
__ADS_1
Rani tetap terus mencegahnya saat Steve mau menolong Olivia.
“Tapi kan dia….”
“Udah om, aku nggak apa-apa kok,” sahut Olivia lirih.
“Kamu masih bisa jalan sendiri ke kamar kan, Olivia?” sahut Rani penuh tekanan.
Dengan wajah pucat Olivia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa bersuara apapun.
Steve terus memperhatikan Olivia yang berjalan merambat pada dinding dinding rumah.
“Kasihan sekali anak itu.” Gumam Steve.
Tapi Olivia tetap berusaha berjalan dengan sisa tenaga yang dia punya. Hingga sampailah kaki Olivia di depan pintu kamarnya.
Gubrak!
Mendadak terdengar suara benturan keras dari lantai atas. Sontak membuat Rani dan Steve berlari menghampiri bunyi tersebut.
Mereka terkejut saat melihat Olivia yang sudah tersungkur jatuh ke lantai dan dengan keadaan tak sadarkan diri.
“Astaga, Olivia,” pekik Steve seraya mendekatinya.
Steve segera membopong tubuh Olivia lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Ia kemudian menggosok-gosok kedua tangannya dan terus menggenggam tangan Olivia, ia juga meminta Rani untuk segera mengambilkan minyak kayu putih.
“Ran, cepat ambilkan minyak kayu putih atau minyak aroma terapi apa saja lah untuk menyadarkan dia.” Pinta Steve yang terlihat panik.
“Iya, iya Steve. Sebentar. Akan ku carikan di P3K.”
“Cepatlah,”
Kekhawatiran itu terlihat di mata Steve. Sedangkan yang ibu kandungnya sendiri pun hanya nampak biasa-biasa saja.
“Kenapa sih, Olivia pakai acara pingsan segala! Bikin mood ku jelek aja!” gerutu Rani seraya mencari minyak kayu putih untuk Olivia.
Selepas menemukannya ia lalu kembali ke kamar Olivia dan memberikan minyak itu pada Steve.
“Mana-mana sini,”
Ia dekatkan minyak kayu putih itu ke lubang hidung Olivia agar Olivia segera sadar. Tapi sudah hampir lima belas menit Olivia tak kunjung sadar juga.
“Kok dia belum sadar sih,” tanya Rani yang berpura-pura cemas.
Steve lalu menyentuh dahi Olivia dan memastikan suhu tubuhnya.
“Dia nggak demam kok, sepertinya tadi kepalanya pusing.”
Steve menepuk-nepuk pelan kedua pipi milik wanita yang sedang terbaring lemas tak berdaya, “Olivia, bagun Olivia, sadarlah.”
Namun hasilnya masih tetap sama.
“Coba kamu panggil dokter sekarang, Ran.”
“Sekarang? Malam-malam gini?”
“Iya,”
“Tapia pa dokternya mau ke sini?”
“Udah, coba kamu telpon dulu aja.”
“Tapi kan Steve,”
“Apa kamu nggak kasihan liat anakmu seperti ini?”
“Ya kasihan sih, tapi kan,”
“Ayolah, cepat telepon dokter pribadi keluarga kamu sekarang,”
“Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar,”
Belum juga Rani beranjak dari tempatnya berdiri, Olivia tiba-tiba membuka mata, ia kini telah siuman.
__ADS_1
“Ran, Ran, lihatlah. Olivia sudah sadar.” Seru Steve.
“Syukurlah kalau dia udah sadar. Olivia, apa kau baik-baik saja?”
Olivia menggigit bibir ujungnya karena menahan rasa sakit yang dia rasakan.
“Olivia, apa yang ingin kau butuhkan? Apa kau mau minum?” Tanya Steve.
Olivia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baiklah, Om akan ambilkan minum untukmu. Ran, sebaiknya kau di sini jaga dia. Aku akan turun untuk mengambil air minum.”
“Iya Steve.”
Begitu pedulinya Steve pada Olivia, dengan cepat ia turun, lalu mengambilkan secangkir air putih hangat untuknya.
Di sisi lain, Rani yang duduk di sebelah Olivia malah merajuk.
“Olivia, sakit kamu itu kan nggak parah, jadi mandirilah sedikit, jangan manja.”
“Ma—maaf mom,”
“Mommy merasa nggak enak hati aja sama Om Steve, karena kita sudah banyak merepotkan dia.”
“Aku pun jika diberikan pilihan, aku akan minta untuk tetap sehat Mom,”
“Tapi nyatanya mana? Kamu masih aja sakit seperti ini,”
“Maaf Mom, karena sudah membuat repot kalian.”
“Nak kalau kamu nyadar, makannya jaga kondisi kamu.”
Olivia menarik nafas panjangnya. Selang beberapa menit Steve datang dengan membawa segelas air putih hangat.
“Olivia, coba bersandarlah dan minum air hangat ini.”
“Baik Om,”
Gluk, gluk, gluk,
“Di mana obatmu? Selesai makan tadi kamu belum sempat minum obatnya kan?”
“Obatnya, ada disini kok om,”
“Di mana biar aku ambilkan.”
Olivia menuding ke arah nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya.
“Owh, ini ya?” tanya Steve.
“I—iya om,”
“Mana Steve, biar aku aja yang bantu Olivia buat minum obatnya.” Sahut Rani.
Steve kemudian memberikan obat itu kepada Rani.
“Olivia, kamu harus minum obatnya. Biar kamu cepet sembuh.” Ujar Rani dengan suara sedikit bengis.
Sudah beberapa jam Steve berada di sana, hingga tak terasa waktu sudah larut malam. Melihat keadaan Olivia yang mulai membaik, Steve lalu pamit pulang.
“Karena ini udah malam, sebaiknya aku pamit pulang dulu.” Ucap Steve.
Bersambung…
__ADS_1