Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Mengadu


__ADS_3

Dengan segera Olivia berjalan cepat menuju ke mejanya sambil bergumam, “ Ada apa itu ribut-ribut? Siapa wanita itu ya, kok dia marah-marah gitu?”


Setelah kakinya sampai, kedua matanya membelalak, ia tak percaya kalau wanita tadi iyalah adik tirinya sendiri.


“Dini!” ucap Olivia lirih.


“Loh, kak Olivia?” Dini pun juga terkejut melihat kedatangan Olivia.


“Kamu kenapa?” Tanya Olivia seraya mengernyitkan dahinya.


“Ini kak lihat, wanita ini udah godain cowokku!” Seru Dini sambil menuding-nuding wajah Renata.


“Ngodain cowok mu? Emang cowok kamu siapa?”


“Cowokku tuh yang lagi berdiri di sebelahnya dia kak, Zack namanya!”


“Zack?” Kata Olivia dengan pandangan serius.


“Iya,”


“Tunggu, tunggu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik ya, Din. Kalau kamu marah-marah kayak gini, semua orang akan ngeliatin kita. Jadi tolong jangan bikin malu ya!” pinta Olivia dengan nada sopan.


“Ngapain harus malu, nyatanya emang bener kan mereka ke pergok lagi dinner berduaan di sini! Orang mereka yang salah!” Cetus Dini seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Dini tolong diamlah sebentar! Aku akan jelasin sama kamu!”


“Kenapa kamu malah suruh aku diam?! Owh, jangan-jangan wanita penggoda ini teman kamu ya kak?! Pantesan aja, kamu lebih ngebelain dia daripada aku.” Pekik Dini.


Plak!


Karena tak terima sahabatnya disebut sebagai wanita penggoda, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dengan begitu lihainya ke salah satu pipi Dini hingga memerah.


“Berani banget kamu tampar aku kak! Lihat aja ya, aku bakal adukan ini sama Papi!” Ucap Dini sambil menyentuh pipinya yang memerah waktu itu.


Dini pun kemudian juga menoleh ke arah Renata, “Dan inget ya kamu, urusan kita berdua belum selesai!” lanjut Dini dengan nada sengak.


Karena merasa malu, Dini pun langsung meninggalkan tempat itu begitu saja. Sementara itu Olivia terus menarik tangan Renata dan mengajaknya untuk segera pergi dari kedai tersebut saat itu juga.


Dia melambaikan tangannya mengarah ke jalan, dan tak lama sebuah taksi yang tengah melintas pun berhenti. Dengan segera mereka berdua lalu masuk kedalamnya.


“Pak tolong antar kami ke apartemen xxx ya pak,” pinta Olivia pada driver taksi itu.


“Baik Mbak.”


Driver taksi itu pun dengan segera menancapkan gasnya mengantar si penumpang.


Sedangkan Zack, bukannya malah berlari mengejar kekasihnya. Ia justru berlari mengejar Renata dan juga Olivia yang sudah dulu masuk ke sebuah taksi.


Zack berusaha menggedor-gedor jendela taksi, meminta mereka untuk berhenti. Tapi sayangnya karena sudah terlanjur kesal, Olivia sama sekali tak menggubris pria tersebut. Ia terus meminta driver taksi itu untuk tetap terus berjalan.


“Olivia, tunggu!” pekik Zack seraya menggedor-gedor kaca jendela taksi sambil berlari.


“Gimana mbak ini mau berhenti atau lanjut?” Tanya di driver taksi itu.


“Jalan aja terus pak, jangan berhenti.”


“Baik mbak.”


Renata merasa iba ketika melihat aksi Zack yang berusa mengejar mereka.


 “Liv, Zack terus membuntuti kita.”

__ADS_1


“Udah biarin aja! Nggak usah kita ladeni orang kayak dia!”


“Tapi Liv, kasihan dia,”


“Re, kamu sadar nggak sih, kita tuh udah di buat malu di depan umum tadi?! Apa kamu lupa?” ucap Olivia kesal.


“Coba kamu liat ke belakang, dia ngejar kita terus dari tadi! Sebaiknya kita kasih dia waktu buat ngejelasin itu semua deh,”


“Nggak perlu biarin aja, masa bodo! Pokoknya mulai sekarang kita nggak usah ada hubungan lagi sama dia, ngerti!” kata Olivia penuh dengan keyakinan.


***


Di tempat lain, sepulang dari kedai, Dini langsung menghampiri ibu dan ayahnya. Dia lalu adukan semua kejadian tadi pada Jonatan dan juga Mona.


“Papi, mommy!” Teriak Dini sambil berjalan masuk.


Jonatan atau pun Mona lalu menghampiri putrinya.


“Kamu kenapa sayang?” Tanya Mona sedikit panik.


“Hisk… Hisk… hisk… Mom, tadi waktu aku lagi mau makan sama temen-temen ke kedai, aku ketemu Zack.”


“Zack?”


“Iya, dia lagi makan berduaan sama cewek.”


“What? Nggak bener berarti itu anak!”


“Papi kan udah bilang, kamu tuh nggak usah gandeng lagi sama cowok kepar*t itu!”


“Aaawwhhh, papi. Aku tuh cinta banget sama dia Pi,” ujar Dini manja.


“Hust! Udah deh Pi, kamu itu diem aja, anak lagi nangis malah nambah-nambahin beban aja sukanya!”


“Papi kan bilang gitu karena papi sayang sama kamu Dini, papi peduli sama kamu. Papi tuh nggak mau kamu disakiti dia terus, dari awal papi emang nggak suka sama cowok kamu itu. Sekarang lihat, kamu di buat nangis seperti ini.”


“Tapi Dini menangis bukan karena Zack pi,”


“Terus karena apa?”


“Karena Olivia!”


“Olivia?”


Mona dan Jonatan pun dibuat bingung oleh pernyataan putrinya.


“Kok Olivia? Kenapa sampai ke anak itu jadinya? Terus dia sudah berbuat apa sama kamu?”


“Hisk… Hisk… Hisk… dia tadi menamparku di depan umum, Pi.” keluh Dini.


“Kok bisa?”


“Iya, jadi tadi aku tuh ngepergokin Zack lagi dinner sama cewek. Terus tiba-tiba ada Olivia dateng. Bukannya bela aku, dia malah bela cewek ganjen itu di depan Zack!”


“Ya ampun serius,”


“Iya Mom,”


Mendengar itu sontak membuat Mona langsung naik pitam. Ia tak terima karena anak semata wayangnya  di perlakukan seperti itu. Ia kemudian menyalah-nyalahkan Jonatan di hadapan Dini.


“Tuh Pi, denger sendiri kan, apa yang udah dilakukan sama anak kamu itu! Berani-beraninya dia nampar Dini! Emang dia siapa?! Berani-beraninya menampar anak orang! Pokoknya aku nggak terima anakku di tampar sama dia kayak gitu!”

__ADS_1


“Nanti papi akan bicara sama dia!”


“Coba sekarang telepon dia, suruh dia minta maaf sama Dini.” Pinta Mona.


“Iya nanti Mom, papi janji, papi akan temui dia nanti.”


“Aku maunya sekarang pi! Cepat telepon! Nggak perlu nanti-nanti!” Seru Mona dengan wajah penuh amarah.


Ketika istrinya sudah berkata dan terlihat marah seperti itu, Jonatan tak lagi bisa berkutik apa-apa lagi. Apa yang diminta istrinya dengan cepat akan dia lakukan. Ya, bisa dibilang, suami-suami takut istri.


***


Sesampainya di apartemen selepas mengantarkan Renata pulang ke kost, ponsel Olivia berdering. Ia kemudian segera mengambil dan melihatnya.


“Papi. Pasti Dini udah adukan soal tadi ke papi.” Batinnya.


Diangkatlah panggilan itu.


“Hallo,”


“Kamu di mana?”


“Aku lagi di apartemen.”


“Sama siapa?”


“Sendiri.”


“Papi ke situ sekarang.”


“Ya,”


Panggilan itu pun langsung dimatikan oleh Jonatan. Mona dan Dini sengaja ingin ikut Jonatan datang menemui Olivia. Mereka kemudian pergi ke apartemen bersama-sama.


Beberapa menit kemudian sampailah mereka di sana. Dia pencet bell pintunya unit apartemen putrinya, dan tak lama Olivia membuka pintunya.


“Masuk,” ucap Olivia mempersilahkan mereka untuk masuk.


Olivia sudah tau maksud dari kedatangan mereka ke apartemennya waktu itu.


“Olivia, papi mau bicara sama kamu.” ucap Jonatan.


“Duduk dulu, akan aku ambilkan minum.” Kata Olivia tanpa melihat wajah mereka sama sekali.


“Nggak perlu!” seru Mona.


Olivia menghentikan langkahnya ketika ia mau menuju ke dapur. Ia lalu berdiri di sebelah Jonatan.


“Ada apa?” Tanya Olivia dengan wajah bengis.


“Apa maksud kamu nampar Dini di depan umum tadi?! Terus ngapain kamu bela-belain wanita yang udah ngegoda pacar dari anakku itu?!” Tanya Mona dengan tatapan sinis.


“Kalian ke sini cuman mau bahas itu aja?!”


“Olivia, bisa nggak kamu sopan sedikit!” ucap Jonatan seraya berkacak pinggang.


“Ini tuh udah malem, kalian juga bisa nggak, sopan sedikit bertamu ketempat orang?!” Sindir Olivia.


Bersambung…


 

__ADS_1


__ADS_2