Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Cleaning Servic


__ADS_3

Olivia pun kembali melanjutkan ceritanya lagi.


“Nah terus nih ya, pagi tadi Zack dateng nemuin aku di apartemen. Pas banget saat om Steve juga dateng mau nganterin aku berangkat ke kampus. Jadi tadi malam aku langsung ceritakan tuh semua ke dia, soalnya aku percaya sepenuhnya sama dia kan. Dan aku pun juga merasa dialah yang bisa menenangkan perasaan ku kalau aku lagi emosi.”


“Ih, Zack kok nggak tau diri banget sih. Ngapain coba dia pagi-pagi datang ke tempatmu? Dia nggak punya malu kali ya,”


“Katanya sih mau jelasin semuanya ke aku, biar aku nggak salah paham sama dia gitu, terus dia juga mau minta maaf.”


“Tuh kan, gila emang orang itu. Padahal yang di maki-maki ceweknya, kan aku. Kenapa dia minta maafnya malah ke kamu, kenapa nggak ke aku?! Sialan banget sih!”


“Makannya, kita nggak usah ada hubungan sama dia lagi,”


“Iya bener juga sih kata kamu, jadi males aku sama dia,”


“Nah, tadi dia kan mohon-mohon minta maaf gitu, karena aku udah terlanjur sebel sama dia dan om Steve juga udah tau kalau itu pacarnya Dini, Om Steve terus negasin ke dia biar dia nggak dateng nemuin aku ataupun ngajak aku jalan lagi.”


“Owh, gitu. Eh, tapi ngomong-ngomong so sweet banget sih om Steve itu.”


“Dan yang membuat jantungku mau copot lagi tuh Re, dia tadi peluk aku pas lagi di mobil. Aroma maskulinnya, emm, buat aku bener-bener terpikat Re,”


“Ha… Ha… Ha… bisa aja kamu, Liv.”


“Beneran Re, aku nggak bohong. Udah badannya kekar, macho, ganteng, pokoknya kalau buat aku dia paling sempurna. Ha… Ha… Ha…”


Mereka berdua pun saling bercanda, hingga membuat keduanya bisa tertawa lepas.


“tapi inget, besok kalau aku udah kenalin kamu sama dia, kamu di larang keras suka dengannya. Pokoknya Om Steve cuman milik ku, nggak ada yang lain.”


“Ye ile, siapa juga yang suka sama om-om, emangnya elu.”


“Sialan lu ya, gue getok bener deh pala lu. Ha… ha… ha…” ucap Olivia.


***

__ADS_1


Beberapa minggu kemudian, wanita muda ini berdiri dan bersandar di bahu jendela. Ia menatap langit-langit di luar sana, berharap teleponnya berbunyi dengan adanya panggilan masuk dari seorang laki-laki yang dia sukai.


“Kenapa Om Steve susah banget dihubungi ya? Apa dia sibuk?” batinnya dari dalam hati seraya memegang secangkir kopi hangat.


“Sudah beberapa hari ini, aku telepon ngak diangkat, aku kirim pesan juga nggak di balas, padahal pesan itu sudah dibacanya.” Lanjut batinnya.


Hal itu membuat dirinya semakin gundah gulana. Harapan yang tak kunjung terwujud membuat rindunya yang semakin menggebu.


“Apa Sebaiknya aku temui om Steve di kantornya aja ya?” ucapnya dari dalam hati dengan diam sejenak mencari keputusan yang pasti.


Seraya memijat-mijat dahinya ia kembali mencari cara agar dapat menemui Steve.


“Kalau aku datang ke kantornya, terus sampai sana aku nanti di tanya sama security, aku ini siapa? Aku mau jawab apa coba? Masak iya, aku bilang kalau aku ini anak nya, padahal aku sendiri nggak rela kalau orang lain beranggapan aku ini anak nya. Tapi aku kangen banget pengen ketemu om Steve. Ya ampun, gimana ya?”


Lagi-lagi dia terus terdiam sambil mencari ide yang tepat untuknya.


“Mana aku nggak tau rumahnya lagi!”


Tak beberapa lama kemudian, sebuah ide mendadak muncul di otaknya.


Di hari berikutnya dia pun segera meluncurkan aksinya. Menyewa salah satu baju karyawan Cleaning Service di kantor itu. Setelah mendapatkannya, ia dengan cepat berjalan menuju ke ruang kerja pribadi Steve. Akan tetapi, di saat tangannya akan meraih handle pintu ruangan itu, dari luar ia mendengar suara Rani.


Dia pun langsung menyurutkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang kerja pria itu.


“Sepertinya aku nggak asing sama suara wanita yang ada di dalam. Apa mommy lagi ada di sana?” geming Olivia yang berdiri di depan pintu. Karena mendengar mereka sebentar lagi akan keluar dari ruangan tersebut, dia pun memutuskan untuk segera menjauh dari ruang kerja Steve dan akan bersembunyi di balik dinding yang tak jauh dari ruang kerja pria tersebut.


“Sebaiknya aku sembunyi di sana saja.” ucapnya sendiri sambil berjalan mendekati dinding yang dituju.


Dan benar, tak lama ada dua orang yang keluar dari ruangan itu secara bersamaan. Olivia membelalakkan kedua matanya setelah mengetahui suara wanita tadi.


“Tuh, kan bener. Mommy lagi ada di sini! Iiih! Sebel deh! Ngapain juga dia sampe gandeng tangannya om Steve!” Gerutu Olivia sambil mengerutkan dahi dan mencebikkan mulutnya.


Melihat orang yang diincarnya sudah pergi, ia pun juga angkat kaki  dari kantor tersebut seusai mengembalikan baju yang disewanya tadi.

__ADS_1


Dalam perjalanan kembali ke apartemen, ia terus bergeming dengan dirinya sendiri.


“Udah, capek-capek nyari info buat bisa dapetin sewaan baju cleaning service di kantor itu, dan berharap bakal ketemu langsung sama om Steve. Eeh, malah di sana ada Mommy! Mana pake acara gandeng tangannya segala lagi,” gerutu Olivia sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah penuh kekesalan.


Karena bosan dan merasa jenuh, ia pun membatalkan niatnya untuk kembali ke apartemen. Olivia lalu mengalihkan rasa jenuhnya mencari sebuah hiburan di mall.


Dan tak lama setelah itu, sampailah taksi yang ditungganginya ke tempat yang dituju. Dia kemudian turun dan menapakkan kakinya masuk ke dalam mall. Berjalan sendirian mengamati suasana di dalam sana.


Kakinya terhenti tepat ketika dia melihat ada sebuah baju yang menarik untuknya.


“Bajunya bagus,”


Akan tetapi, ketika dia sedang memilih ukuran yang biasa digunakan, mendadak gendang telinganya mendengar seseorang tengah bercengkrama di belakangnya. Dia pun menoleh melihat ke arah suara tersebut.


Betapa kagetnya Olivia, setelah mengetahui bahwa seseorang itu tak lain iyalah Rani dan juga Steve yang sedang memilih-milih pakaian. Dengan secepat mungkin dia menghadap ke depan dengan posisi semula, karena dia tak mau menyapa mereka dan bahkan dia juga tak ingin mereka tau kalau dirinya sedang berada di sana. Dirinya pun segera mungkin meninggalkan tempat itu.


Namun, sekilas Steve melihat Olivia yang berjalan dengan cepat menuju pintu keluar. Steve pun segera membuntutinya, dan beralibi kalau ia mau ke toilet.


“Ran,”


“Iya,”


“Kamu milih-milih dulu aja baju yang mau kamu beli. Aku mau ke toilet sebentar,”


“Oke Steve.”


Steve berjalan cepat membuntuti gadis muda itu. Dia menoleh ke kanan dan mengejarnya.


 


Bersambung…


 

__ADS_1


 


__ADS_2