
Rentan beberapa jam kemudian Olivia terbangun, ia mengerjapkan kedua mata dan menatap langit-langit kamarnya.
Suasana dalam kamar sepi, saat itu hanya ada Rani yang ada di sana.
“Mom,” ucap Olivia dengan lirih.
“Kamu udah siuman?!” sapa Rani.
Kepala Olivia masih sedikit pening, ia coba bangkit sendiri dari tidurnya dan perlahan menyandarkan tubuhnya di bahu tempat tidur.
“Apa yang terjadi pada ku Mom?” tanya Olivia seraya memijat kecil ujung dahinya.
Seketika Rani mengerutkan kedua alisnya, ia heran dengan ucapan putrinya tadi.
“Apa dia lupa?” Gumam Rani dari dalam hati.
Olivia kembali bertanya, “Mom, kenapa diam?”
“Hem, apa kamu sungguh tidak ingat apa-apa?” tanya Rani.
Olivia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Terakhir aku ingat aku sedang duduk di depan meja riasku. Bukan kah hari ini Mommy mau bawa aku ke rumah papi?” tanya Olivia.
Entah bagaimana wanita ini bisa lupa dengan aksi nekatnya tadi. Karena tak mau di pandang jelek, Rani pun mempergunakan kesempatan ini dengan baik. Ia membius otak putrinya sendiri dengan cara mengarang cerita.
“Tadi kamu tuh tiba-tiba pingsan di kamar.”
“Iya, ini juga kepalaku rasanya masih sakit banget.”
“Ya udah, sebaiknya kamu tidur lagi aja. Ini ada obat, tadi Mommy udah panggil dokter ke rumah untuk periksa kamu. Kata dokter asam lambung kamu naik, karena udah dua hari ini kamu gak makan. Sekarang kamu minum obatnya dulu ya.” Ucap Rani seraya memberikan obat itu.
Olivia menerima dan dengan segera ia meminum obat tersebut.
“Berhubung obatnya udah kamu minum, sekarang mommy akan keluar dari kamarmu. Biar kamu bisa istirahat.”
“Iya Mom,”
Rani kemudian melangkah keluar dari kamar putrinya, ia lalu turun untuk menemui Steve dan juga Jonatan di bawah.
“Kenapa kamu turun? Terus Olivia gimana? Apa dia sudah sadar?” Tanya Jonatan.
“Huusst! Diem! Jangan berisik. Olivia udah siuman tadi. Tapi aku suruh istirahat lagi, setelah minum obat.”
“Jadi sekarang dia tidur?”
“Hu’um, dia tuh sama sekali nggak ingat apa-apa soal kejadian tadi.”
“Dia lupa?”
“Aku juga nggak tau. Cuman dia tadi tanya sama aku kenapa dia pingsan.”
“Terus kamu jawab apa Ran?” Tanya Steve.
“Ya aku kasih dia jawaban ngarang aja. Soalnya dokter pesan kalau dia nggak boleh stress kan.”
“Itu ide yang bagus menurutku,” celetuk Steve.
“Aku minta tolong sama kalian, jangan ceritakan tindakan nekat yang Olivia lakukan tadi. Setidaknya kita bisa menjaga mentalnya dulu agar dia tak kembali melakukan sesuatu yang konyol seperti tadi.”
Setelah dirasa keadaan mulai tenang, Jonatan kemudian pergi.
“Karena Olivia lagi tidur, aku sebaiknya pamit balik.” Ujar Jonatan.
“Ya, silahkan.” Rani dengan senang hati mempersilahkannya pergi.
“Ingat Ran, urusan kita berdua belum selesai!” Celetuk Jonatan sambil menuding ke arah Rani.
Selepas Jonatan pergi, Rani dan Steve duduk berdua dan berbincang-bincang di ruang tamu. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul dua siang.
__ADS_1
“Ran aku mau pulang dulu ya, nanti malam aku ke sini lagi untuk melihat kondisi Olivia.”
Mendengar itu wajah Rani seketika berubah gembira.
“Aa, dengan senang hati Steve, silahkan kamu mau datang kapan aja. Aku malah senang banget kalau kamu ke sini setiap hari.” Ucap Rani dengan senyuman centilnya.
Steve membalas dengan melebarkan senyumnya. “Kalau gitu aku balik sekarang ya,. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku.”
“Iya, Steve. Makasih ya.”
Setelah Steve pergi, dengan segera Rani mengambil ponselnya. Dia lalu menelepon Jonatan.
“Hallo ada apa?”
“Heh Jonatan, kamu itu gimana sih?!”
“Gimana apanya?”
“Pokoknya mau nggak mau Olivia harus tinggal sama kamu, titik!”
“Kamu masih bahas itu lagi?”
“Ya iya lah, kamu kan yang bilang kalau urusan kita belum selesai!”
“Nggak, aku nggak bisa! Walaupun kamu masih mau memaksa, aku akan carikan apartemen buat dia.”
“Ya itu terserah kamu, kalau maunya gitu ya silahkan. Yang penting Olivia tanggung jawab mu!”
Tot, tot, tot,
Jonatan seketika langsung menutup panggilan itu.
Malam harinya, Steve datang ke rumah Rani untuk melihat keadaan Olivia.
Ting, tong, Steve menekan tombol bel rumah.
“Selamat malam tuan,”
“Malam bi, Rani ada?”
“Nyonya besar ada tuan, silahkan masuk.”
Seusai mempersilahkan Steve masuk, pelayan itu kemudian segera pergi ke kamar Rani. Dia ketuk pintu kamar majikannya.
Tok, tok, tok,
“Masuk,”
“Maaf nyonya besar,”
“Iya kenapa bi? Steve udah datang ya?” Tanya Rani dengan wajah sumringah.
“Sudah nyonya, tuan Steve sekarang sedang duduk di ruang tamu.”
“Baiklah, buatkan dia minum dan sajikan makanan yang enak untuknya.”
“Baik nyonya,”
“Aku akan turun lima belas menit lagi.”
“Baik nyonya,”
Pelayan itu pun turun dan segera menjalankan perintah majikannya. Belum ada lima belas menit, Rani turun dan berjalan menapaki setiap anak tangga.
Dia sengaja berhias diri menyambut kedatangan Steve, agar dia bisa mencuri perhatian dari laki-laki itu.
“Hay Steve, maaf ya lama nunggunya.”
“Santai aja kalik. Owh ya Ran, ini aku bawakan sedikit makanan.” Ucap Steve seraya menyerahkan satu kantong paper bag berukuran sedang.
__ADS_1
Dengan wajah senang, Rani menerimanya, “Apa ini? Ya ampun, kamu baik banget sih. Makasih ya.”
“Itu hanya makanan kecil aja. Buat kamu dan Olivia.”
“Em, perhatian banget sih, sekali lagi makasih ya,”
“Iya, sama-sama. Gimana keadaan Olivia? Aku mau lihat dia.”
“Owh, baiklah. Kita ke atas sekarang.”
Mereka berdua kemudian naik ke atas berjalan mengarah ke kamar Olivia.
Tok, tok, tok,
“Olivia,” ucap Rani.
Tak lama pintu kamar itu di buka.
Cklek!
“Mommy, Om Steve.”
“Hay,” sapa Steve seraya mengayunkan tangannya dengan memberikan senyuman manis.
Olivia pun membalas senyuman itu.
“Hay juga om,”
“Boleh kami masuk?”
“Eh, iya. Silahkan om,”
Rani dan Steve melangkah masuk ke dalam kamarnya.
“Gimana Olivia? Kata Mommy kamu lagi sakit ya,”
Olivia menunduk malu.
“Apa kondisimu sudah membaik Olivia?” Tanya Rani.
“Iya, sudah agak mendingan kok.”
“Syukur lah kalau gitu. Lega rasanya om denger kamu sudah membaik.”
Olivia kembali menunduk malu.
“Owh, iya. Kamu udah makan belum?” Tanya Steve.
Olivia diam, ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kok belum? Kamu kan harus minum obat.”
“Belum selera makan om,”
“Kenapa?”
“Ya, mulutnya masih gak enak aja untuk makan om,”
“Tapi setidaknya perut kamu harus ke isi. Kita makan sama-sama aja yuk.” Ajak Steve.
“Iya, Olivia, yang dikatakan Om Steve itu benar. Tadi bibi juga udah masak kok, sebaiknya kita turun dan makan malam bersama di bawah.” Sahut Rani.
Tanpa menolak, Olivia mengindahkan ajakan mereka. Dan bersama-sama mereka bertiga turun menapaki anak tangga melangkah menuju ke ruang makan.
Entah kenapa, Steve begitu iba melihat wajah Olivia. Sebab menurutnya raut muka wanita itu nampak tertekan.
Bersambung…
__ADS_1