
Bujukan itu sama sekali tak berpengaruh pada Olivia. Karena emosinya sudah sangat memuncak, ia pun terus meluapkannya dengan cara melakukan tindakan nekat seperti itu.
“Stop Mom! Stop! Aku sudah tak ingin mendengar apapun dari mulut Mommy atau pun Papi! Bukankah aku ini hanyalah beban buat kalian berdua!”
“Nggak, nggak sayang. Kamu itu putri kami, kamu lah yang kami sayangi, Olivia. Jadi tolong lepaskan benda itu nak. Papi mohon,” kata Jonata dengan wajah memelas.
Ungkapan itu bukannya membuat emosi Olivia mereda, tapi justru malah membuat amarahnya semakin meledak-ledak.
Dia lalu menudingkan pisau itu ke arah mereka dengan mata melotot, “Diam! Aku bilang diam! Kau pikir aku akan terlena dengan ucapanmu itu Papi? Nggak! Aku sudah muak, dan aku sudah tak percaya lagi sama kalian berdua!”
“Non, jangan Non. Hentikan, bibi mohon Non,” ucap Bi Lastri dengan wajah yang nampak ketakutan.
“Aaahhh! Brisik! Kalian bisa ucapkan itu jika aku sudah berbuat nekat seperti ini! Selama ini, kalian berdua nggak pernah peduli sedikitpun sama aku, kalian hanya sibuk dengan kehidupan kalian sendiri dan urusan kalian sendiri! Hisk… Hisk… Hisk… padahal dari dulu aku hanya minta untuk diperhatikan, dan selama ini aku juga selalu berusaha menjadi anak yang baik, agar kalian berdua bisa bangga memiliki anak sepertiku! Tapi, tapi nyatanya semua itu nol! Usaha yang aku berikan ke kalian semua hanya sia-sia, kalian selalu saja menghakimiku, kalian selalu memandangku rendah! Dan kalian selalu menghiraukan semua usaha yang aku tunjukkan!”
“Non tenanglah, ini semua bisa dibicarakan baik-baik Non, cepat letakan pisau itu non, itu bahaya.” celetuk Bi La.
“Bibi menyuruhku untuk tenang! Lalu apa yang bisa bibi lakukan jika berada di posisiku seperti ini?! Batin dan jiwaku selalu disiksa oleh mereka berdua bi, padahal aku ini anaknya, anak kandungnya sendiri! Tapi mereka sangat tega memperlakukan ku seperti ini, aku bagaikan orang lain di mata mereka! Aku hanya butuh kasih sayang dan perhatian! Itu saja! Hisk… Hisk… Hisk…”
Olivia menangis seraya menundukkan kepalanya, ia sudah tak kuasa menahan rasa sakit yang tengah dia rasakan.
“Baik Olivia, jika memang itu yang kamu mau, kami berjanji kami akan berubah demi kamu, nak. Tapi tolong buang pisau itu jauh-jauh sekarang!” tutur Jonatan yang terus berusaha meredakan emosi putrinya.
Terlihat Olivia yang sedikit lengah, Jonatan pun berusaha mendekatinya dengan maksud ingin merampas pisau itu. Tapi sayang usahanya gagal, Olivia mendadak menegakkan kepalanya, ia kembali menyodorkan benda tajam itu ke arah Jonatan.
“Berhenti! Aku bilang berhenti, kalau papi melangkah satu kali lagi! Aku akan tusuk pisau ini ke tubuhku,” pekik Olivia.
Olivia nampak seperti orang depresi, wajahnya pucat dengan bibir memutih dan kedua mata menghitam. Irasnya pun nampak lusuh dengan rambut yang kusut. Olivia lalu mengancam Jonatan, jika terus berjalan maju mendekati dirinya.
“Mundur sekarang! Aku bilang mundur! Atau aku akan…” teriak Olivia seraya menodongkan pisau itu ke tangannya sendiri.
Semua orang yang ada di situ berteriak histeris, takut jika Olivia akan melukai tubuhnya.
“Okey, okey. Baik, papi akan mundur sekarang, ya nak ya.” Ujar Jonatan sambil berjalan mundur pelan-pelan.
Selepas Jonatan melangkah menjauhi putrinya, semua yang ada di sana nampak terlihat panik. Tak ada satu orang pun yang berhasil meredakan emosi Olivia.
Namun, tiba-tiba Steve datang, ia mendengar suara berisik dari luar. Dengan cepat Steve masuk ke dalam rumah Rani untuk melihat kondisinya.
Setelah dia masuk, dia begitu sangat terkejut menyaksikan tindakan Olivia waktu itu.
“Olivia,” ucap Steve lirih.
“Steve, Steve, tolong aku Steve. Olivia nekat mau menusuk pisau itu di tubuhnya.” Kata Rani yang berpura-pura khawatir.
__ADS_1
“Memang apa yang terjadi, kenapa Olivia bisa seperti ini?” Tanya Steve heran.
“Nanti aja aku jelasin sama kamu, yang penting tolong cepat bujuk Olivia agar dia mau membuang pisau itu, Steve.”
Tanpa berpikir panjang Steve segera berjalan mendekati Olivia sembari menenangkan hatinya.
“Olivia, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?” tanya Steve.
Olivia terdiam, ia menatap mata Steve dengan penuh harapan.
“Apa kita bisa bicarakan ini baik-baik, atau kamu mau membagi keluh kesahmu denganku? Om akan dengan senang hati mendengar semua beban yang kamu rasakan Olivia.” Kata Steve dengan penuh kehangatan.
Wanita itu terus terdiam, ia sangat berharap Steve bisa memahami apa yang diinginkannya.
Olivia kembali menangis, “Hisk… Hisk… Hisk… Om,”
“Okey, baik. Sekarang letakkan dulu pisau itu.” Pinta Steve dengan suara lembut.
Dia tatap pisau yang tengah di genggamnya.
“Iya, letakan itu ya, Olivia.” Bujuk Steve lagi.
Tetapi wanita itu sama sekali belum mau menjauhkan benda tajam tersebut dari genggamannya.
Olivia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Okey, baik. Om akan suruh mereka pergi meninggalkan ruangan ini. Jadi kamu bisa leluasa bercerita dengan Om,”
Ia kemudian meminta semua orang untuk pergi menjauh dari ruang dapur.
“Aku minta tolong kalian semua cepat tinggalkan ruangan ini sementara. Berikan kami waktu beberapa menit saja.” Pinta Steve dengan sopan.
“Kamu ini siapa memangnya?!” Seru Jonatan sambil berkacak pinggang.
“Kita bicarakan ini nanti, yang pasti aku akan berusaha meredakan emosi Olivia dulu, sekarang. Jadi tolong segera tinggalkan kami di sini. Aku mohon,” Steve kembali meminta dengan sopan.
“Tapi Steve,”
“Ran, percayalah aku pasti bisa memadamkan amarah Olivia.” Ucap Steve meyakinkan Rani.
“Baik, kami akan pergi. Tapi aku mohon, selamatkan putriku ya Steve.” Kata Rani yang menaruh kepercayaannya pada Steve.
Setelah mereka semua keluar, Steve lalu meminta Olivia untuk memberikan pisau itu kepadanya.
__ADS_1
“Semua sudah pergi, sekarang berikan pisau itu pada ku ya Olivia. Atau, sebaiknya kamu letakan benda itu jauh-jauh.” Pinta Steve.
Olivia sama sekali tak menolak atau pun membantahnya, ia justru mengikuti apa yang Steve pinta. Dia lepaskan pisau itu dari genggamannya, hingga pisau itu jatuh ke lantai. Dan dengan segera Steve mengambil lalu membuangnya jauh-jauh.
Setelah benda itu di buang, Steve menatap Olivia, ia sentuh kedua pipinya.
“Sekarang ceritakan sama om, apa yang sedang kamu rasakan, sampai kamu mau melukai tubuhmu sendiri Olivia?” Tanya Steve.
Seketika Olivia langsung mendekap tubuh Steve, ia mengucurkan air matanya, hingga membuat kemeja bagian depan dada Steve basah.
“Hisk… Hisk… Hisk… Om, aku, aku sudah lelah om,”
“Lelah?”
“Iya, aku lelah menjalani hidup seperti ini Om,”
“Okey, aku tau apa yang kamu rasakan. Sekarang, coba kita duduk dulu dan bicarakan empat mata. Mungkin itu bisa membuat perasaanmu sedikit lebih tenang.” Ujar Steve.
Sedangkan di luar sana Rani tengah di hantui rasa takut yang teramat sangat. Ia cemas jika Olivia akan menceritakan keburukannya kepada Steve.
“Aduh, Olivia pasti akan menceritakan kejelekanku sama Steve. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Pokoknya aku harus cari cara supaya Olivia diam.” Batin Rani sambil berjalan mondar mandir di depan Jonatan.
Tak lama Rani menghentakan kakinya dan akan berjalan menuju ke dapur. Akan tetapi, dengan segera Jonatan menghentikan langkah kakinya.
“Rani tunggu!”
“Kamu mau ke mana?!”
“Ya, aku mau lihat mereka! Aku mau tau Steve berhasil membujuk Olivia atau tidak,”
“Sebaiknya kamu duduk dan diamlah di sini aja! Kita percayakan laki-laki itu untuk mengurus Olivia.”
“Ah, nggak! Aku nggak bisa cuman diam aja seperti ini!”
“Ran, tolong. Pikirkan sekali lagi. Kalau kamu kembali ke sana, kamu akan membuat suasana menjadi tegang lagi.”
Rani terdiam, ia lalu mengurungkan niatnya.
Bersambung…
__ADS_1