
Di tempat lain, sore itu. Steve baru saja sampai dan menapaki kakinya berjalan naik menyusuri anak tangga menuju ruang kerja pribadinya. Akan tetapi dia tertegun ketika pintu sudah dibuka olehnya.
Terlihat seorang wanita tengah duduk manis membelakangi pintu ruang kerjanya. Dia lalu mengerutkan dahinya karena sangat penasaran dengan wanita tersebut.
“Ehem!” Steve mengehem memberikan sapa padanya.
Wanita itu pun menoleh ke pusat suara yang dia dengar.
“Hay Steve, akhirnya kamu datang juga.” Sapa wanita tersebut seraya menoleh ke belakang.
Dan ternyata wanita itu tak lain adalah Rani, hari ini ia datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya.
“Rani,” sapa Steve seraya berjalan mendekati dia.
“Hay, aku tuh udah nungguin kamu dari tadi tau nggak, kamu ke mana aja sih? Aku hubungi kok nggak bisa?”
“Aku tadi lagi keluar sebentar. Sejak kapan kamu duduk di sini?” Tanya Steve yang sudah berdiri di sebelahnya.
Rani tiba-tiba mendekapi tubuh Steve seraya memainkan dasi yang masih bergelantung di lehernya.
“Steve, malam ini kamu ada acara nggak? Aku kangen banget sama kamu, kita keluar yuk.” Ajak Rani begitu centilnya.
Spontan Steve menyorong pundak Rani secara perlahan, agar Rani menjauh dari tubuhnya.
“Em, Rani. Tolong jaga sikapmu, jangan seperti ini. Menjauhlah sedikit, kita ini lagi di kantor, nggak enak kalau tiba-tiba ada karyawan ku masuk ke ruanganku dan melihat kita berdua seperti ini.”
“Aagghh, Steve,” keluh Rani dengan nada manja.
“Ran, tolong.” Pinta Steve sedikit menekan.
“Baik, baik.”
Seketika Rani langsung melepas tangannya dari tubuh Steve. Ia kemudian ber gliyat gliyut sambil mengusap kedua bahu tangan Steve seperti ingin mencari perhatiannya.
“Gimana Steve, apa malam ini kita bisa jalan?” tanya Rani sambil membelai pipi Steve.
“Memangnya malam ini kita mau jalan ke mana?”
“Ya, kita cari tempat yang indah-indah gitu.”
“Kita lihat nanti. Aku gak bisa janji.”
“Oke, baiklah. Aku tau kok kamu orang sibuk.”
“Ya udah, aku mau kerja dulu. Banyak kerjaan yang harus ku selesaikan hari ini. Bukan maksudnya mau mengusirmu dari sini, hanya saja, aku lagi nggak mau di ganggu.” Ucap Steve seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
“Oke, iya. Aku paham. Kalau gitu aku pamit sekarang. Tapi ingat, ntar malam sempetin waktumu sedikit buat aku ya, Steve.”
Tanpa mengeluarkan suara Steve hanya menyunggingkan senyumnya. Rani lalu keluar dari ruang kerja Steve. Rani berharap malam ini dia bisa dinner romantis bersama laki-laki yang dia sukainya.
Waktu menunjukan pukul 19.00 Steve sama sekali belum menghubungi dirinya. Sedangkan Rani sudah sangat berharap, malam ini ia bisa jalan berdua dengan dia.
“Mana sih ini Steve, kenapa dia belum hubungi aku sama sekali? Apa dia lupa ya?” batin Rani yang berjalan mondar mandir di depan rumahnya.
“Ah, sebaiknya aku telepon dia sekarang. Moga aja dia lagi nggak sibuk.” Lanjut Rani.
Rani kemudian menelepon Steve, dan panggilan itu pun langsung terhubung padanya.
__ADS_1
“Hallo,”
“Iya,”
“Steve,”
“Kenapa?”
“Gimana?”
“Apanya?”
“Kamu lagi sibuk ya?”
“Sory Ran, aku sepertinya nggak bisa keluar malam ini.”
“Apa kamu lagi sibuk?”
“Ya, lumayan sih,”
“Jadi kita nggak bisa keluar dinner?”
“Sepertinya nggak bisa deh,”
“Kalau gitu aku aja yang samperin kamu ke kantor ya.”
“Nggak usah, ini udah malam.”
“Nggak apa-apa Steve.”
“Hust, aku ke situ ya, bawakan kamu makan malam. Kamu pasti juga belum sempat makan malam kan?”
“Ya udah deh terserah kamu,”
Karena kemauannya yang sangat besar, akhirnya Rani memaksakan dirinya untuk datang ke kantor Steve malam itu.
Sebelum pergi menemui Steve, dia bermacak seksi. Rani sengaja mengenakan plaid bodycon mini dress ketat warna coklat, memperlihatkan dua gundukan yang menonjol. Bibir tebalnya pun sengaja dipoles dengan lipstik berwarna cerah yang menunjukkan kalau dirinya itu erotis. Bahkan rambutnya sengaja dia ikat cepol kebelakang, layaknya seperti anak muda masa kini.
“Oke, penampilan ku udah sempurna malam ini. Aku yakin, Steve pasti akan terpesona melihatku. Jadi nggak sabar pengen ketemu dia. Steve, I’am coming,” ucap Rani sendiri seraya bercermin di depan kaca riasnya.
Dengan segera Rani turun, lalu memanggil salah satu supir pribadinya.
“Pak, pak Narto,”
Sopir itu pun segera menghampirinya.
“Iya Nyonya,”
“Siapkan mobil dan antarkan aku pergi sekarang.”
“Baik nyonya,”
Sambil menunggu supir itu selesai menyiapkan kuda besinya, Rani menelepon Steve.
“Hallo Steve,”
“Iya, kenapa Ran,”
__ADS_1
“Kamu mau dibawakan makan apa?”
“Apa aja lah terserah kamu,”
“Owh, ya udah. Aku on the way sekarang ya,”
“Iya,”
Selesai menelepon, ia lalu berjalan mendekati kuda besinya yang sudah siap di depan rumah.
“Pak, tolong antarkan aku ke restoran xxx ya,” perintah Rani.
“Baik nyonya.”
Rani memang sengaja mampir ke sebuah resto yang tak jauh dari kantor Steve, ia membeli beberapa makanan untuk dibawa ke sana. Hanya butuh empat puluh lima menit, dia pun kini telah sampai di kantor Steve. Rani turun seraya mencangking satu kantong paper bag yang berisi makanan di dalamnya.
“Udah pak, stop sampai di sini aja. Sebaiknya pak Narto pulang sekarang, biar nanti aku diantar sama teman ku.”
“Baik nyonya.”
Supir itu mengiyakan perintah dari empunya yang kemudian pergi begitu saja. Rani melangkah masuk ke dalam kantor tersebut. Seorang laki-laki dengan pakaian serba coklat berdiri di depan pintu masuk kantor itu.
Lebih tepatnya dia adalah security yang tengah bertugas menjaga dan mengamankan kantor tersebut. Sejak Rani datang, security itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya, ia terpukau dengan penampilan Rani malam itu hingga sampai tak bisa mengedipkan kedua matanya sama sekali.
“Malam pak,” sapa Rani yang berdiri tepat di hadapannya.
“I—Iya, ada yang bisa saya bantu nyonya?” tanya security itu dengan wajah gelagapan.
“Em, Steve masih ada di sini kan?” tanya Rani dengan nada berat.
“I—Iya Nyonya.”
“Di ruangannya?”
“I—iya Nyonya,”
“Baiklah, kalau gitu aku mau ke atas dulu, permisi pak.” Sapa Rani yang kemudian masuk kedalam gedung tersebut.
Sedangkan security tersebut terus memperhatikan Rani dari luar sana.
“Wuduh buset, tuh orang bikin mata ku melek. Gila ya, seksi bener, coba aja kalau dia mau sama aku yang seperti remukan peyek ini, pasti betah banget deh kalau ada di sampingnya. Et dah, tapi nggak akan mungkin,” Gumam security itu melucu dengan dirinya sendiri.
Sampailah Rani di depan ruang kerja Steve. Sebelum masuk kedalam, ia merapikan kembali pakaian yang dikenakannya malam itu. Rani lalu meraih handle pintu ruang kerja Steve. Tanpa membuang waktu, ia lalu membuka pintu itu seraya mengembangkan senyumnya.
Steve hanya melirik melihat kedatangan Rani. Dia lalu meminta Rani masuk.
“Masuk Ran, duduklah.” Pinta Steve dengan pandangannya yang terus fokus pada sebuah benda lipat di hadapannya.
“Steve, ini aku bawakan makanan untukmu,” ujar Rani.
“Taruh di situ dulu, bentar lagi aku selesai kok.” Kata Steve tanpa melihat Rani sedikit pun.
Pandangannya masih terus fokus pada sebuah laptop yang ada di depannya.
Bersambung…
__ADS_1