
Di lihat lah gadis muda yang dicarinya, dia kemudian melangkah cepat agar dirinya tidak kehilangan jejak.
Setelah langkah kakinya dekat, pria itu pun segera menarik tangan dan menghentikannya.
“Olivia tunggu,” teriak Steve.
Olivia menoleh ke belakang sambil meruncingkan bibirnya.
“Kamu kenapa menghindar?” tanya Steve.
“Nggak apa-apa.” Jawab singkat Olivia.
“Kita gabung ke sana aja, sama mommy kamu yuk,” ajak Steve.
“Nggak mau,”
“Kenapa nggak mau?”
Olivia diam, sambil berpaling muka dengan pria yang berdiri di hadapannya.
“Di sana banyak baju-baju, mungkin ada yang kamu sukai, Om akan belikan untukmu,”
“Aku lagi nggak mood shopping,”
“Kamu marah sama om? Soalnya sikap kamu nggak biasanya kayak gini,” Tanya Steve lagi.
Seketika Olivia menarik tangannya dari genggaman Steve.
“Nggak,” jawab Olivia singkat sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Terus kenapa kamu cemberut? Om salah apa sama kamu?” tanya Steve bingung.
“Aku mau balik!” Olivia lalu berpaling haluan membelakangi Steve.
Steve pun dengan cepat berdiri di hadapannya untuk menghalangi gadis itu pergi.
“Tunggu,” ujar Steve sambil menahan pundak Olivia.
“Apa lagi sih om?” tanya Olivia kesal.
“Kamu mau kemana? Om lagi bicara sama kamu?”
“Om, udah deh ya, aku nggak mau ribut di sini. Aku nggak mau kalau sampai mommy tau om berbicara dengan ku.”
“Biarin, om nggak peduli. Sekarang jawab pertanyaan om, kamu kenapa? Terus kenapa kamu menghindar?”
“Aku hanya nggak mau ganggu waktu kencan om sama Mommy.” Jawab Olivia dengan wajah dongkol.
“Kencan?”
“Udahlah om, awas, aku mau pergi, jangan halangi jalanku.” Seru Olivia seraya mendorong tubuh Steve.
“Bentar, bentar, Om kasih tau ya. Om kesini hanya mau nganterin mommy kamu belanja. Udah itu aja.”
“Belanja, kencan pun juga nggak apa-apa kok. Tapi aku nyesel aja udah percaya sama om!” tegas Olivia.
__ADS_1
Karena tak mau berlama-lama berdebat dengan Steve, Olivia akhirnya memilih untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut saat itu juga. Steve terdiam seraya menendang udara di sekitarnya.
Ia kemudian kembali berjalan menemui Rani yang masih sibuk memilih pakaian.
“Udah belum belanjanya?” tanya Steve pasai.
“Belum, bentar lagi ya sayang.” Jawab Rani dengan pandangan yang hanya fokus ke baju-baju di depannya.
“Jangan lama-lama, soalnya aku bentar lagi ada acara.”
“Loh kok dadakan banget sih, yank? Lagian kita kan baru sampai di sini.” tanya Rani.
“Iya, tadi aku di telepon klien.”
“Tapi aku belum selesai pilih-pilih bajunya nih. Bentar lagi ya,”
“Memangnya berapa lama lagi?”
“Ya mungkin sekitar tiga puluh menitan lagi, yank,”
“Kalau masih lama sebaiknya kamu pulang sama supirku aja, biar aku pergi naik taksi.”
“Loh tapi kan yank,”
“Udah nggak apa-apa, aku nggak bisa lama-lama di sini soalnya. Ada pekerjaan yang lebih penting dari ini.”
“Ya udah deh, kalau emang nggak ke buru, biar aku balik sama supir kamu aja nanti.”
“Kalau gitu aku tinggal sekarang ya,”
“Pak, cepat tolong antar aku ke apartemen xxx ya pak.” Pinta Steve.
“Baik pak.”
Dan dengan segera driver taksi itu pun melaksanakan perintahnya. Dalam perjalanan Steve membuka ponsel, dan berusaha untuk menghubungi Olivia. Akan tetapi, panggilan itu sama sekali tak terhubung dengannya.
Pria itu pun terus menghubungi dan menghubunginya berulang-ulang kali, bahkan dia pun juga terus mengirim sebuah pesan.
“Sepertinya Olivia benar-benar marah sama aku. Dia sama sekali nggak bisa di hubungi. Sedangkan beberapa minggu belakangan ini pekerjaan ku juga cukup banyak, hingga menguras tenaga. Aku pun juga jarang kasih kabar ke dia bahkan juga jarang membalas pesannya. Aku harus jelasin ke dia, supaya dia nggak salah paham sama ku.”
Entah kenapa, Steve sangat takut jika Olivia marah padanya, sedangkan dia selama ini hanya menganggapnya sebagai anaknya saja. Tapi rasa takut untuk kehilangan Olivia itu begitu mendalam, berbeda ketika dia mengenal seribu wanita yang pernah dekat dengannya.
Sampailah dia di apartemen Olivia, ia pun dengan cepat turun dan berlari menuju ke unit apartemen gadis muda tersebut.
Akan tetapi, tak ada tanda-tanda satu pun pergerakan di dalam sana. Sehingga membuat pria itu harus menunggunya.
Setiap menit Steve terus memandangi jam yang terbelit di tangannya. Penantian panjang menanti kehadiran seorang wanita yang tengah di nanti-nanti.
Hampir satu jam dia berdiri di depan pintunya. Namun gadis muda itu belum terlihat sama sekali.
“Di mana ya dia sekarang, aku hubungi dari tadi kenapa panggilannya nggak nyaut sih!” ucapnya dari dalam hati.
Karena banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan waktu itu, dia pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan apartemen tersebut. Akan tetapi, mereka berdua bertemu ketika berjalan beriringan di lantai bawah gedung tersebut.
Tatapan Olivia nampak kaku saat bertemu dengan Steve. Ia pun juga enggan menyapanya terlebih dulu. Bahkan dia juga berusaha untuk menghindar darinya. Namun, dengan cepat Steve langsung mencengkrami tangan Olivia.
__ADS_1
“Lepasin om,” Olivia berusaha melepaskan cengkraman tangan kekar itu.
Tanpa banyak kata, Steve pun menarik dia dan membawanya ke taman.
“Duduk dulu Olivia, om mau bicara sama kamu,”
Tanpa membantahnya Olivia pun mengikuti apa yang diminta oleh pria itu. Ia kemudian duduk dengan mengerucutkan mulutnya. Sedangkan Steve yang ada di hadapannya pun merundukkan tubuhnya lalu menatap gadis muda itu.
Dengan tatapan serius Steve bertanya, “Sekarang katakan, kenapa kamu marah sama Om?”
Masih dengan bibir yang kerucut, ia pun hanya diam.
“Olivia, bicaralah.”
Pelan, Olivia mendorong tubuh Steve, ia lalu berjalan membelakanginya.
“Aku nggak marah, aku hanya kecewa sama om,”
“Kecewa? Memang apa yang sudah om lakukan?”
“Om itu sama aja seperti mereka,”
“Mereka? Siapa yang kamu maksud?”
“Papi dan Mommy,”
Steve semakin di buat bingung. Ia sama sekali belum bisa menyimpulkan perkataan gadis itu.
“Om nggak ngerti,”
“Om, aku tuh cemburu kalau om jalan sama Mommy.”
“Cemburu?” ucap Steve lirih dengan mengerutkan dahinya.
Gadis muda itu pun langsung menundukkan kepala dan mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan.
“Sebenarnya aku suka sama om,” ucap Olivia seraya memejamkan kedua matanya.
Steve yang mendengarkannya pun seketika membelalakan kedua matanya. Ia tak percaya dengan yang didengarnya tadi.
“Tunggu, tunggu, apa om nggak salah dengar?”
Olivia pun dengan segera menoleh ke belakang, ia lalu berjalan dan kemudian berdiri tepat di hadapan Steve. Dengan pandangan serius Olivia kembali mengatakan, “Aku serius om, aku bener-bener suka sama Om Steve.”
Bersambung….
__ADS_1