Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Selesai wisuda


__ADS_3

Dua hari sudah penantian yang dinanti. Acara wisuda yang di gelar di gedung itu membuat ia bangga dengan dirinya sendiri. Sebab, sudah susah payah dia menginginkan kelulusan itu dengan nilai  IPK tertinggi dan lulus dengan predikat kumlot. Hingga pada akhirnya dia pun mendapatkannya. Satu persatu mahasiswa mahasiswi yang memiliki IPK tinggi diminta naik ke panggung untuk memberikan sambutannya dan didampingi oleh orang tuanya masing-masing. Namun hal itu berbeda dengan Olivia, dia hanya bisa bangga dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada dirinya sendiri, walaupun banyak orang yang tau, Olivia masih memiliki orang tua yang utuh.


Olivia pun naik ke panggung menapaki satu persatu anak tangga untuk memberikan sambutannya, “Pada hari ini saya bersyukur kepada Tuhan, karena saya sudah mampu menyelesaikan serangkaian kegiatan belajar dalam bentuk meraih gelar kesarjanaan. Teruntuk diriku sendiri, toga ini, gelar ini, hanya lah untuk saya sendiri. Tak lupa saya juga ucapkan terimakasih banyak, untuk bapak, ibu dosen yang sudah dengan sabarnya membimbing saya. Dan juga untuk teman-teman, terimakasih karena sudah menyemangati saya selama ini. Berbahagialah kawan-kawan semua yang kedua orang tuanya bisa hadir mendampingi kalian di hari ini di hari yang penuh dengan kegembiraan dan kebanggaan. Sekali lagi terima kasih.” Ucap Olivia seraya menahan peluh di sudut matanya yang sebenar lagi akan keluar.


Sambutan itu membuat seisi gedung menangis mendengarnya tak terkecuali dengan Renata yang tangisannya mendak pecah, karena ia lebih tau tentang kehidupan Olivia yang sebenarnya.


Selesai memberikan sambutan, Olivia segera turun dari panggung dan berjalan mendekati Renata. Dengan segera sahabatnya memeluk erat tubuh Olivia.


“Aku bangga punya teman seperti kamu Liv,”


“Makasih Re,”


“Kamu tadi memang terlihat tangguh di sana, tapi aku tau, kenyataannya kamu rapuh kan, Hisk… Hisk… Hisk….”


Olivia hanya bisa menunduk dan mengulum dalam kepedihannya.


“Udah, jangan nangis Re. Hari ini kan hari yang bahagia. Jadi kita nggak boleh sedih Re,”


“Iya, Liv. (sambil menghapus air matanya) Pokoknya, aku selalu berdoa, aku selalu minta sama Tuhan kamu harus hidup bahagia, mulai sekarang ya.”


Sambil mengulum senyum Olivia kembali mengatakan terima kasih kepada sahabatnya, “Makasih ya Re, makasih banget.”


Selesai acara wisuda, semua mahasiswa mahasiswi dan para tamu undangan keluar. Ramai-ramai mereka berfoto bersama orang tua, saudara dan kerabatnya. Terpancar rasa bangga yang begitu luar biasa dari masing-masing individu.


Tapi hal itu sama sekali tidak dirasakan oleh Olivia. Selepas dia keluar dari gedung itu, dia hanya bisa melihat dan menonton beberapa teman-temannya yang sibuk berfoto ria bersama keluarga.


Ada salah satu orang photografer yang mendadak mendekatinya, “Hallo kak, kami masih ada slot buat foto kalau kakak mau. Antriannya juga nggak banyak kok kak,”


“Di sebelah mana studionya kak?” tanya Olivia.


“Kami ada di sebelah barat gedung ini kak, kalau kakak mau silahkan ikut dengan saya, nanti kakak bisa pilih-pilih bagroundnya sesuai keinginan kakak.”


“Owh, boleh lah.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong mau foto sama orang tua, kerabat apa sama cowoknya nih kak,”


“Aku mau foto sendiri bisa kan?”


“Owh, bisa kak. Mari silahkan ikut dengan saya.” Karyawan photografer itu pun dibuat heran. Sebab kebanyakan semua orang foto bersama keluarganya. Tapi tidak untuk Olivia.


Selepas melakukan pemotretan, Olivia pun kembali pulang ke apartemennya. Dia duduk di sofa dengan memangku kepalanya.


“Setelah ini, aku harus cari lowongan kerja. Pokoknya semangat buat diriku sendiri. Semangat Olivia.” Dia pun menyemangati dirinya sendiri.


***


Delapan bulan kemudian, Olivia kini telah bekerja di salah satu perusahaan. Di perusahaan tersebut dia masih tergolong sebagai karyawan baru dengan masa percobaan tiga bulan dan serta sejumlah proses adaptasi.


Karena Olivia baru masuk ke dunia kerja, ia pun harus dituntut dengan keahlian dan kreativitasnya dalam bekerja. Ia juga harus mampu menjalani secara cepat dan segera mengakrabi deadline yang tak datang sekali atau dua kali saja. Dia juga harus menggerakkan inisiatifnya untuk menanyakan hal-hal yang tidak dia kuketahui selama bekerja.


Dari masa percobaan itu lah, Olivia mulai kenal dengan seorang pria yang bernama Arka. Olivia selalu memperhatikan bagaimana pria tersebut menyampaikan pendapatnya yang begitu cemerlang dalam setiap rapat. Memang Arka adalah sosok yang sangat amat keras kepala. Seisi kantor pun juga membenarkan tanggapan tentang dia. Bahkan semua orang juga mengaguminya karena keras kepala yang hadir dengan logika yang teramat kuat di dirinya.


Sejak Olivia bekerja di sana, Arka lah yang selama ini membimbing gadis muda itu dalam menyelesaikan tugas-tugas pekerjaannya.


“Iya, sama-sama.”


“Untung aja, aku bertemu dengan orang yang baik seperti kamu ya Arka. Nggak tau deh, gimana nasib aku nantinya kalau nggak ada kamu. Sedangkan aku aja baru masuk ke dunia kerja.”


“Iya, iya. Mau sampe berapa kali kamu memuji aku seperti ini terus?” ucap Arka seraya menyungingkan senyumannya.


“Tapi kamu betah kan kerja di sini Olivia.” Tanya Arka.


“Untuk sementara ini aku betah sih. Semoga aja sampai kedepannya aku betah ya.”


“Harus dong.”


Hampir setiap hari Arka dan Olivia selalu mencari makan siang bersama. Akan tetapi tak sengaja dan tanpa di duga, Olivia bertemu dengan seseorang yang dibencinya.

__ADS_1


Dan dari kejauhan orang tersebut pun terus memperhatikan Olivia hingga membuat dirinya merasa terganggu. Ia pun dengan segera mengajak Arka untuk pindah dari rumah makan tersebut.


“Arka, kita pindah yuk,”


“Loh kenapa? Kita kan baru aja sampai sini.”


“Emm, aku lagi males aja.”


“Kok males.”


“Ayo, pindah,” ucap Olivia seraya menarik tangan Arka lalu memaksanya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Mereka berdua pun kemudian berjalan menuju ke pintu keluar. Dan orang yang sedari tadi memperhatikan itu membuntutinya dari belakang.


Sesampainya di luar mendadak Arka menghentikan langkah kakinya.


“Olivia, bentar deh.”


“Ada apa Arka?”


“Aku kebelet nih, aku mau ke toilet dulu ya, sebaiknya kamu duluan aja ke mobilnya.”


“Ya udah sana, aku duluan ya.”


“Iya, iya.”


Arka pun segera berjalan mencari toilet umum yang disediakan oleh warung makan tersebut. Sedangkan Olivia, dia kembali berjalan menuju ke tempat parkir mobil Arka. Akan tetapi, belum juga dirinya jauh dari tempat itu, tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundaknya.


“Tunggu Olivia,” ucap orang itu.


Langkah kakinya seketika terhenti, ia kemudian menoleh ke belakang untuk melihat orang tersebut. Gadis ini pun membulatkan kedua matanya setelah kedua netranya melihat dia.


“Kamu!”

__ADS_1


“Hay, apa kabar?” sapa lembut dengan suara serak-serak basah.


Bersambung…


__ADS_2