
Tak disangka, ia harus kembali bertemu dengan Zack lagi di rumah makan itu.
“Lepasin nggak!” pekik Olivia menghempaskan tangan Zack dari pundaknya begitu saja.
“Hay, kita sudah lama sekali tak berjumpa sayang,” sapa Zack lagi.
“Kamu sebaiknya nggak usah ganggu aku lagi deh! Aku udah males banget ketemu kamu apa lagi berteman denganmu!” kata Olivia sengit.
“Olivia sayang, jangan marah-marah gini dong!” Rayu Zack.
“Gila kamu Zack!” ucap Olivia sambil melangkah pergi meninggalkan Zack.
Laki-laki itu pun berhasil meraih dan mencengkram tangan gadis muda tersebut.
“Tunggu sayang, kamu mau ke mana sih?” kata Zack.
“Lepasin nggak Zack! Kalau kamu nggak mau lepasin, aku akan teriak sekarang!” gertak Olivia.
“Hust… kenapa kamu jadi garang seperti ini sih? Apa kamu nggak rindu dengan ku, Olivia?”
“Nggak! Aku tuh udah nggak mau punya urusan lagi sama kamu! Pergi sana!” Ucap Olivia mengusir Zack.
“Tapi Olivia, aku tuh bener-benar nggak bisa melupakan kamu, setiap hari aku selalu terbayang-bayang sama wajahmu bahkan dengan permainan yang pernah kamu tampilkan ke aku. Ayolah kita lakukan sekali lagi,” Rayu Zack lagi.
Tanpa berkata apapun, Olivia terus berusaha melepas cengkraman Zack, namun pria itu tak kunjung melepasnya.
“Lepasin Zack! Lepasin!” Pekik Olivia seraya meronta-ronta.
Pria tersebut menarik tangan Olivia dengan kasar menuju ke mobil pribadinya. wanita muda itu pun kemudian berteriak meminta pertolongan.
“Tolong! Tolong!”
Dan tak lama datanglah seorang pria dengan tubuhnya yang kekar hadir menolongnya. Dia mendadak datang lalu menarik kerah kemeja Zack dengan kedua matanya yang melotot.
“Lepaskan dia bung! Atau kau akan merasakan akibatnya!” Ucap Steve menekan dengan nada garang.
Wajah Zack nampak ketakutan, dia pun dengan segera melepaskan tangan yang menggenggam pergelangan tangan gadis muda itu.
“Baik, baik om. Santai aja, santai. Akan aku lepaskan dia,” Kata Zack sambil membuka genggaman tangannya.
Sontak Olivia terkejut melihat kedatangan Steve yang tiba-tiba muncul di hadapannya waktu itu, dan pria itu pun menegaskan kembali kepada Zack yang masih berdiri di hadapannya.
“Aku peringatkan sekali lagi! Kalau kamu masih berani mengganggu Olivia, aku tidak akan memaafkanmu! Aku akan lakukan yang seharusnya aku lakukan, agar bisa membuatmu jera! Mengerti!” Seru Steve sambil membebaskan pemuda itu dari tangannya.
Reaksi Zack pun nampak begitu takut. Ia langsung pergi dari tempat tersebut saat itu juga.
“Ba—baik om!” ujar Zack seraya mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
Selepas Zack pergi, Olivia lalu merapikan pakaian kerjanya. Steve bertanya kepada gadis muda itu.
“Apa kamu baik-baik aja?” tanya Steve dengan wajah santai.
“Iya, aku baik-baik aja. Makasih udah mau nolongin aku!” ucap Olivia tanpa menatapnya sedikit pun. Wanita ini pun terus menyibukkan dirinya sendiri dengan berpura-pura merapikan pakaian kerjanya.
Selesai membuang air kecil, tak lama Arka datang. Ia kemudian menghampiri Olivia yang tengah berdiri membelakangi Steve.
“Olivia, aku udah selesai,” sapa Arka yang kemudian berdiri di sebelahnya.
Menurut Olivia, ini adalah kesempatan yang bagus baginya. Ia pun akhirnya membuat sebuah drama dan mengaku kalau Arka adalah pacarnya. Dengan percaya diri, dia bilang, “Eh, sayang. Udah selesai ya?” Ucap Olivia sambil mendekapi tangan Arka dengan kemayu.
Namun, pria itu pun dibuat bingung sama tingkah laku temannya yang mendadak memanggil dirinya dengan sebutan sayang.
Dan segera mungkin Olivia memberikan isyarat kepadanya untuk mengikuti drama yang sedang dia lakukan di depan Steve.
“Owh, udah sayang aku udah selesai kok, siapa pria ini? Ayah kamu?” tanya Arka dengan polosnya.
Padahal sesungguhnya, hati kecil Olivia seakan masih belum terima kalau Steve dianggap sebagai ayahnya. Walaupun sudah berbulan-bulan mereka berdua tidak ada komunikasi sama sekali, dan dia hanya terdiam membisu.
Seraya memasukkan tangan ke dalam saku celana Steve memberikan selamat pada mereka berdua, “Owh, jadi pria ini pacar kamu Liv? Selamat ya,” Tanya Steve dengan begitu hangat sambil memberikan senyuman.
Sementara dengan percaya dirinya Arka mengulurkan tangannya mengajak Steve berjabat tangan, “Kenalkan Om, saya cowoknya Olivia. Nama saya Arka. Om pasti ayahnya Olivia kan?” Tanya Arka lagi.
Wajah Olivia seketika berubah menjadi canggung. Ia justru menjadi salah tingkah.
Arka pun terkejut, “Astaga, aku kira Om ini ayahnya Olivia. Maaf ya Om,” ucap Arka yang sok akrab kepadanya.
Steve pun tersenyum geli sambil menyungingkan ujung bibirnya. “Ha… ha… ha… Nggak apa-apa. Santai aja.”
Sedangkan wanita itu sama sekali enggan menyapa, bahkan untuk menatap wajah Steve pun ia tak sanggup. Dia terus saja mengalihkan pandangannya agar ia tidak menatap wajah Steve. Dia takut jika hatinya kembali hancur mengingat ucapan Steve yang hanya menganggap dirinya sebagai anaknya saja.
“Sayang, ini udah mau jam satu. Sebaiknya kita pergi cari tempat makan sekarang. Aku nggak mau berlama-lama di sini! Gerah!” Celetuk Olivia.
“Owh, baiklah.”
Arka pun segera berpamitan kepada Steve.
“Kalau begitu, kami permisi dulu ya om.”
Dengan senang hati Steve pun mempersilahkan mereka pergi.
“Iya, iya. Silahkan, silahkan.”
Akhirnya mereka berdua pun melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Steve masih berdiri dan terus menatap memperhatikan mereka berdua pergi.
“Aku tau, dia bohong kalau pemuda itu adalah pacarnya. Dia pasti mau membuat aku cemburu. Maafkan aku Olivia, selama ini aku sengaja tidak mau menghubungimu. Aku nggak mau kamu terlalu dalam mencintaiku.” Batin Steve.
__ADS_1
Selepas Olivia pergi, Rani pun datang menghampiri kekasihnya.
“Ayang, kamu ngapain berdiri di sini? Lagi ngeliatin siapa sih?”
“Owh, enggak. Itu tadi ada teman aku. Dia juga lagi makan di sini.”
“Owh, temen kamu.”
“Iya,”
“Ya udah, sebaiknya kita masuk ke dalam yuk.”
Steve memang sengaja tak mau menceritakan pada Rani, bahwasannya dia baru saja bertemu dengan Olivia.
Selepas masuk kedalam tempat makan tersebut, mereka berdua pun lalu pergi mencari meja kosong. Duduklah mereka berdua di meja yang terletak di sudut ruang.
Tak lama salah satu seorang waiters datang dan memberikan sebuah buku menu.
“Silahkan pilih menu yang ingin disajikan tuan dan nyonya.”
“Baik, terimakasih.”
Selepas buku diterimanya, Rani kemudian menyibukan dirinya memesan sebuah makanan. Namun berbeda dengan Steve, dia malah melamun memikirkan Olivia.
“Aku mau, makan steak, sama minumnya em….” Ucap Rani yang kemudian menatap kekasihnya yang hanya melamun.
“Kamu mau makan apa sayang? Kenapa dari tadi bengong sih? Lagi mikirin apa emangnya,”
Lamunan Steve pun seketika buyar, dia kemudian membuat alibi, “Owh, enggak. Aku lagi nggak mikirin apa-apa.”
“Bohong,”
“Beneran, kamu jadi mau pesan apa?” tanya Steve tanpa melihatnya karena ia sudah malas menanggapi pertanyaan Rani.
Diam, Rani kemudian menatap kekasihnya dengan penuh kecurigaan.
Bersambung…
__ADS_1