Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Nonton bareng


__ADS_3

Pagi itu bunyi dering telepon terdengar begitu nyaring, hingga membangunkan Olivia dari tidurnya yang lelap.


Bbbrrriiinggg! Bbbrrriiinggg!


Bbbrrriiinggg!


Seketika Olivia mengerjapkan kelopak mata indahnya. Dengan cepat ia merampas ponselnya yang sedari tadi bunyi.


“Om Steve,” gumamnya seraya menggenggam ponsel itu.


Ia pun segera mengangkat panggilan itu.


“Ha—hallo om,” ucap Olivia yang masih setengah sadar.


“Hallo Olivia.”


“Ada apa ya Om?” tanya Olivia dengan wajah setengah mengantuk.


“Nggak ada apa-apa sih, om cuman mau kasih tau aja, kalau hari ini om free.”


“Free?”


“Iya, om nggak ada kerjaan sama sekali. Gimana kalau kita perginya dari pagi aja,”


“Ha? Serius?”


“Iya,”


“Tapi aku baru bangun nih, Om,”


“Om juga baru aja selesai jogging kok. Habis ini Om akan ke apartemenmu.”


“Baik, om. Kalau gitu aku mau siap-siap sekarang.”


Dengan segera Olivia mempersiapkan diri, ia berusaha bermacak cantik namun terkesan natural. Dia mengenakan rok mini rempel kotak-kotak dan atasan sweater hoodie dengan sepatu kets berwarna putih, yang terlihat tampak mengikuti style wanita korea masa kini.


“Oke, sempurna. Tinggal nunggu om Steve dateng deh.” Ucapnya dari dalam hati.


Setelah dirasa sudah cukup selesai mempercantik dirinya, ia lalu duduk di sofa ruang tamu seraya memainkan handphone.


“Kok Om Steve lama banget sih.” Batinnya.


Rentang beberapa waktu, Steve datang. Penampilannya masih sama, ia datang dengan mengenakan celana jeans, dan kemeja yang dimasukan ke dalam celananya. Bisa dibilang, penampilan om-om pada umumnya. 


Akan tetapi semua itu tak menjadi masalah untuk Olivia.


“Pagi Olivia,” sapa Steve setelah pintu unit apartemen Olivia terbuka.


“Selamat pagi om,”


“Kamu udah siap?”


“Siap,” ucap Olivia melebarkan senyum.


“Kalau gitu, kita jalan sekarang.”


“Oke.”


Mereka berdua pun berjalan bersama menuju basement apartemen. Sesampainya di mobil, mereka masuk dan melajukan kijang besi itu keluar dari basement.


Dalam perjalanan, Olivia canggung kedua pipinya memerah. Dia bingung harus membuka percakapannya dari mana. Hingga akhirnya Steve lah yang angkat bicara hingga membubarkan keheningan di dalam mobil.


“Ehem, Olivia.”


Olivia menoleh sambil memberikan senyuman manis.


“Mau ke mana kita?”


“Terserah om aja.”

__ADS_1


“Jadi mau karaoke?”


“Ya, jadi om. Pasti seru nanti.”


“Berdua aja?”


Olivia hanya manggut-manggut.


“Tapi aku nggak bisa nyanyi, suara om tuh jelek.”


“Masa sih? Ah, om mesti cuman merendah deh.”


“Serius Olivia.”


“Kita lihat nanti kalau udah sampai tempatnya.”


“Baiklah, jadi sekarang kita karaoke ya, tapi di mana tempat yang asik?”


“Kita ke DZ aja om.”


“Oke, baiklah, meluncur ke sana.”


Steve kemudian mengemudikan kendaraannya menuju tempat karaoke.


Sampailah mereka di sana. Mereka berdua lalu menghibur diri bernyanyi dan berduet bersama menikmati lagu-lagu yang mereka pilih.


Tak terasa sudah empat jam berlalu, mereka habiskan waktu bersama, dan kini waktunya mereka harus mengisi perut yang sedari tadi cacing-cacing di dalamnya sudah meronta.


“Om, aku laper nih, cari makan yuk,” ajak Olivia dengan nada manja.


“Ya udah, kalau gitu kita cari makan sekarang. Mulut om udah capek dari tadi nyanyi terus.”


“Ha… ha… ha… ada-ada aja om ini,”


Mereka berdua beranjak dari tempat karaoke itu dan pergi mencari makan. Sampailah di sebuah restoran, mereka turun lalu mencari tempat duduk. Salah satu pelayan datang memberikan buku menu.


“Silahkan mau pesan apa kak,” ucap si pelayan sambil menyerahkan buku menu itu.


Beberapa menit berlalu, seorang waiters datang membawakan makanan yang sudah mereka pesan.


“Permisi, ini pesanannya.” Kata waiters itu sambil meletakan beberapa piring diatas meja mereka.


Karena tenaga mereka sudah hampir habis, tanpa basa basi Olivia dan juga Steve langsung melahap hidangan itu.


“Mari makan om,”


“Ya, makanlah.”


Sambil makan Olivia bertanya, “Habis ini kita mau ke mana lagi om? Pulang?”


“Om ikut aja, masih jam segini masa mau pulang,”


“Ye, kalau mau ikut aku ntar om capek,”


“Kok bisa?”


“Iya, soalnya aku tuh nggak bisa diem orangnya om,”


“Terus habis ini kita mau ke mana enaknya?”


“Em, gima kalau kita nonton aja. Om suka liat film apa? Bentar aku cek dulu ke linknya,”


Olivia segera membuka link untuk mencari tahu daftar film yang sedang atau akan di tayangkan di bioskop.


“Om suka horor gak?”


“Emang ada film horornya?”


Olivia kemudian memperlihatkan daftar film yang akan diputar di bioskop pada hari itu.

__ADS_1


“The Conjuring 3 aja, om belum pernah lihat, kayaknya bagus deh,”


“Aku juga, tapi kayaknya serem banget deh om,”


“Nggak apa-apa, lagian kan kita nontonnya rame-rame, gak usah takut.”


“Ya udah deh, kalau gitu aku beli tiketnya sekarang aja ya om,”


“Gitu juga boleh, biar kita dateng bisa langsung duduk dan nggak perlu ngantri beli tiket lagi di sana.”


“Okey, bentar, Olivia klik beli dulu.”


Olivia pun segera membeli tiket bioskop lewat online.


“Sudah om, udah berhasil. Kita punya waktu satu jam, soalnya filmnya tayang jam 16.30.”


“Ya udah, kalau gitu cepat habiskan makanannya terus kita cus ke sana.”


“Siap komandan,” ucap Olivia tertawa lepas.


Selesai makan, mereka pun lalu pergi untuk menonton film. Mereka lalu masuk ke gedung B setelah tiket itu di serahkan oleh petugas yang menjaganya.


Steve dan Olivia berjalan mencari kursi yang sudah di pesan sebelumnya. Setelah menemukan kursi itu mereka berdua lalu duduk, dan tak lama layar lebar itu tiba-tiba menayangkan sosok hantu yang menyeramkan. Sontak seluruh penonton menjerit tak terkecuali dengan Olivia yang juga mendadak mendekapi tangan Steve seraya bersembunyi di belakang bahu tangannya.


“Aaaawwwwhhh!”


Steve tersenyum kecil, ia kemudian menepuk pelan pundak Olivia.


“Jangan takut,” ucap Steve lirih.


“Tapi hantunya serem banget om,”


“Ha… Ha… Ha… itu hanya film,”


Perlahan Olivia mengintip menatap layar itu, dirasa sudah aman ia pun kembali duduk ke posisi semula.


“Udah nggak ada kan hantunya,” ujar Steve.


“Tapi nanti pasti bakal muncul lagi.”


“Ya, iya lah namanya juga film horror,”


Saat itu wajah Olivia nampak terlihat begitu tegang, rasa takutnya sungguh membuat dirinya tak berdaya, sebab setiap kali sosok hantu itu muncul di layar dia selalu mendekapi tangan om Steve dan menyembunyikan matanya di balik tubuh laki-laki itu sampai film tersebut selesai. Steve terus tertawa tipis melihat tingkah Olivia yang ketakutan seperti anak kecil.


“Mau sampai kapan kamu terus bersembunyi di belakangku seperti ini Olivia?” Tanya Steve.


“Sampe filmnya habis om, aku bener-bener takut,”


Steve mengambil tangan Olivia dan memintanya untuk menatap ke layar.


“Coba lihat dulu ke layar.”


“Nggak, aku nggak berani Om,”


“Ayolah, lihat lah dulu.” pinta Steve sambil memaksa Olivia melihat ke layar itu.


 


Bersambung…


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2