
Ketika melihat pria itu, Olivia pun membulatkan kelopak mata indahnya. Ia seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya, karena dirinya kembali dipertemukan oleh laki-laki yang ingin dia lupakan yang tak lain adalah Steve. Pria paruh baya berwajah tampan.
“Om Steve? Kenapa dia ada di sini? Owh, ya Tuhan, bagaimana bisa aku ketemu dia lagi!” rengek Olivia.
Dengan wajah canggung, ia pun kembali membalikkan tubuhnya secara perlahan menghadap pintu itu lagi. Gadis muda ini mengira kalau ia salah masuk ruangan.
“Sepertinya, aku salah masuk ruangan. Sebaiknya aku segera pergi dari sini. Jangan sampai aku berbicara lagi dengan dia.” Batin Olivia seraya memegang handle pintu.
Akan tetapi, ketika pintu itu dibuka, tau-tau Steve sudah menyentuh pundaknya terlebih dulu.
“Olivia,” sapa Steve dengan ramahnya.
Olivia hanya diam seraya menangkupkan kedua kelopak matanya. Namun, lagi-lagi Steve membuka suara.
“Hay Olivia, lihat aku.” Ucap Steve dengan nada yang begitu hangat.
Dengan mata terpejam Olivia pun kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang, dirinya sama sekali enggan menatap wajah Steve.
Setelah melihat gadis muda itu, Steve pun hanya tertawa cekikikan hingga membuat gadis muda tersebut menjadi heran.
“Kenapa dia malah ngetawain aku ya? Apa ada yang lucu dariku?” batin Olivia lagi.
Olivia mengerlingkan matanya ke pria paruh baya itu, dan ternyata memang benar, kalau pria paruh baya tersebut tengah menertawakan dirinya. Ia pun seketika langsung membelalakkan kedua netranya dan bertanya, “Kenapa om tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Olivia dengan meruncingkan mulutnya.
Olivia semakin di buat bingung, sebab pria itu bukannya menjelaskan alasannya tapi dia malah mengeluarkan sapu tangannya dari saku celana. Pria paruh baya tersebut, kemudian mengusapkan sapu tangan miliknya ke ujung bibir mulut Olivia.
Awalnya, dia menolak dan menghindar dari tangan Steve.
“Jangan menghindar, aku tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin menghapus goresan lipstik yang keluar dari garis bibirmu itu, Olivia.” Terang Steve dengan lembut.
Olivia pun diam, ia lalu menunduk malu dengan kedua pipinya yang berubah menjadi memerah jambu.
Selepas menghapus lipstick itu, Steve bertanya, “Kenapa kamu di sini?” tanyanya sambil melipat kembali sapu tangan itu.
“Aku ada tugas untuk presentasi om,” jawab Olivia tanpa menatap wajah Steve.
“Meeting?”
Olivia hanya manggut-manggut kepalanya.
“Om juga mau meeting di sini,”
“Owh, om juga mau meeting. Mungkin aku salah ruangan.”
Gadis muda itu kemudian melihat ke jam yang melingkar di tangannya. Seketika dirinya langsung teringat kalau dia harus segera pergi ke ruang meeting sekarang.
“Astaga, sudah jam segini. Aku harus mencari ruang meetingnya sekarang.” Gerutu Olivia sendiri.
Ia pun kemudian pamit kepada Steve untuk pergi mencari ruang meetingnya.
“Kalau gitu aku permisi ya om, aku harus sampai ke ruang meeting sekarang.” Kata Olivia yang terus menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Steve pun kemudian mempersilahkan Olivia untuk keluar dari ruangan tersebut.
“Silahkan,”
Dengan segera Olivia membuka pintu, akan tetapi dia kembali dibuat terkejut ketika bertemu dengan Arka yang sudah berdiri di depan pintu itu.
“Arka?” ucap Olivia lirih.
“Olivia,” celetuk Arka.
“Kamu dari mana aja? Aku dari tadi nyariin kamu tau nggak.” Tanya Olivia.
“Aku baru saja sampai,” terang Arka apa adanya.
“Apa? Baru saja sampai? Bukannya kita mulai meeting jam delapan ya?” Tanya Olivia.
Bukannya menjawab, Arka malah cekikikan sendiri dan Steve hanya berdiri di balik pintu itu mendengarkan percakapan mereka berdua.
“Kok kamu malah ketawa sih?!” cetus Olivia.
“Olivia, Olivia, memangnya kamu tadi malam nggak baca pesan dari bos yang dikirim ke group chat?” Tanya Arka.
“Enggak,” jawab Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bos kan bilang, kalau meetingnya di undur jam sembilan. Ngapain kamu datang jam delapan?”
Seketika Olivia melegakan nafasnya yang sedari tadi tegang karena diburu oleh waktu.
“Astaga, aku kira aku sudah terlambat setengah jam tadi! Sialan, ternyata aku malah datang lebih awal!” keluh Olivia seraya menempelkan tangannya ke dahinya sendiri.
Tak lama kemudian, Arka lalu mengajak Olivia masuk ke dalam.
“Sudah, yuk kita masuk sekarang. Karena sebentar lagi bos akan segera datang.” Ajak pemuda itu yang sedari tadi tidak sadar kalau disebelah Olivia ada Steve.
Pria muda itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang meeting tersebut, ia pun terkejut ketika melihat Steve yang sedari tadi berdiri di sebelah tubuh Olivia dibelakang pintu.
“Om Steve,” sapa Arka.
“Hay Arka,” mereka lalu berjabat tangan karena tidak menyangka kalau ternyata mereka akan bertemu di satu ruang yang sama.
Namun, hal itu justru membuat Olivia tambah bingung.
“Loh, Arka kenapa masuk ke sini? Sepertinya dia belum sadar kalau dia salah masuk ruangan.” Batin Olivia.
Seketika, Olivia menarik tangan Arka dengan cepat, “Permisi ya Om, aku mau bicara sama dia sebentar.”
“Owh, silahkan.” Ujar Steve mempersilahkan mereka pergi, dan dia kembali duduk di kursinya tadi.
Gadis muda itu segera membawa Arka keluar dari ruangan tersebut. Dengan wajah heran dan bingung Arka bertanya, “Kamu kenapa sih, tiba-tiba menarik tangan ku, terus ngajak keluar gini?”
“Heh, aku kasih tau kamu ya, kita ini salah masuk ruangan!” bisik Olivia.
__ADS_1
Mendadak Arka kembali tertawa terbahak-bahak.
“Olivia, kata siapa kita salah masuk ruangan? Kita itu memang akan meeting di sini,”
Olivia pun membulatkan kedua matanya.
“Apa? Serius?”
“Iya,”
“Jadi, kita meeting sama om…”
“Iya, dia salah satu investor terbesar.”
Olivia pun hanya menggaruk-garukkan kepalanya seperti orang yang bingung.
“Jadi kita akan satu ruangan dan meeting dengan Om Steve?”
“Iya,” jawab Arka mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kok kamu nggak kasih tau aku dulu sih?!”
Arka pun kembali di buat geli dengan pertanyaan Olivia.
“Tuh kan, kamu malah ketawa. Nyebelin deh,”
“Bentar-bentar, aku malah penasaran dengan kamu,”
“Pensaran?”
Arka kembali manggut-manggut kan kepalanya.
“Kamu emang ada hubungan apa sih sama om Steve?”
“Nggak ada apa-apa sih,”
“Terus kenapa sedari tadi kamu seperti orang yang bingung selesai mendengar kita akan satu ruangan dengan om Steve?”
“Ya, nggak apa-apa sih.”
“Ya udah, kalau kamu nggak ada hubungan apa-apa dan nggak ada masalah sama dia, ngapain wajahmu kelihatan tegang gitu?”
Olivia pun seketika terdiam membisu, ia seakan tak bisa berbicara lagi dengan partner kerjanya.
“Tuh kan, diem aja!”
Olivia hanya melirik menatap Arka.
“Udah lah, ini sudah jam sembilan kurang lima belas menit. Sebaiknya kita siapkan semua presentasi yang udah kita buat kemarin. Supaya kita bisa menyampaikan secara optimal di depan investor-investor besar itu. Kalau mereka senang, bos pasti juga akan senang, dan dia pasti akan memberikan banyak bonus buat kita berdua.” Terang Arka dengan singkat seraya mencolek dagu Olivia yang runcing.
Selepas berkata seperti itu, Arka pun kemudian merapikan jas kerjanya lalu berjalan masuk ke dalam ruang meeting.
__ADS_1
bersambung...