
Setelah Rani keluar dari apartemen itu, wajah Olivia seketika berubah bahagia.
“Setidaknya ada ponsel ini yang bisa temani aku tinggal disini. Emm, jadi kangen Renata. Gimana kabar dia ya, aku telpon sekarang ah,” Batin Olivia yang nampak girang.
Setelah dia mengaktifkan handphonenya itu, ia segera menelpon Renata.
“Hallo Re,”
“Iya, hallo. Maaf apa ini beneran Olivia yang telpon?” tanya Renata, karena mengira Rani yang tengah menelepon dirinya.
“Ya iyalah Re, emang kamu pikir siapa?”
“Astaga buset, bocah sinting,”
“Kok kamu gitu sih Re,”
“Kamu tuh emang ngeselin ya! Kalau sekarang kamu ada didekatku udah ku getak juga pala lu, Liv. Kemana aja sih kamu, kenapa baru telpon?”
“Maaf Re,”
“Maaf, maaf, sekarang kamu di mana? Biar aku samperin!”
“Iya, kamu ke sini aja.”
“Kesini ke mana?”
“Tar aku share lokasinya ya,”
“Hem, cepetan!”
“Iya, iya beb. Benatar, tuh udah aku kirim share lokasinya. Kamu kesini cepetan.”
“Oke, aku buka dulu.”
Selepas Renata membuka pesan masuk yang Olivia kirimkan tadi, ia malah bingung.
“Kamu lagi di apartemen?”
“Iya,”
“Kamu ngapain di situ? Mesti lagi asik-asikan ama cowok ya?”
“Berisik! Udah deh ke sini aja.”
“Nggak mau ah, aku nggak mau jadi obat nyamuk!”
“Obat nyamuk apa sih, Re? Udah cepetan kamu datang ke sini aja dulu, nggak usah banyak cingcong. Ntar aku ceritain banyak deh,”
“Ya, udah deh, ntar aku ke situ.”
“Okey, aku tunggu ya.”
“Hem,”
“Jangan lama-lama.”
Tepat pukul satu siang, Renata tiba di apartemen Olivia. Setelah pintu dibuka, Olivia menyapa sahabatnya, dan mereka berdua pun sama-sama saling berpelukan.
“Hay, Renata. Aku kangen banget,”
__ADS_1
“Hay juga bebeb, miss you to.”
“Ayo masuk, masuk.”
Renata lalu masuk dan mengamati setiap ruangan itu.
“Ini apartemennya siapa sih, Liv?”
“Hust! (Olivia meminta sahabatnya diam) kamu duduk dulu, biar aku ambilkan minum.”
Dengan segera Olivia pergi untuk mengambil dua buah botol kaleng minuman bersoda, dan selepas itu dia berikan minumannya ke Renata.
“Nih, ambil.”
Sembari menerima minuman tersebut, Renata bertanya, “Cepetan, cerita, ini apartemennya siapa? Cowok kamu ya?”
“Cowokku dari mana, punya pacar aja engak!” celetuk Olivia.
“Terus?”
“Nih, aku ceritain. Kamu inget gak, kapan kita terakhir ketemu?”
“Em, kapan ya? Pokoknya beberapa hari yang lalu atau beberapa minggu yang lalu, ah lupa, Liv. Tapi terakhir kita main bareng itu waktu kita ke diskotik itu kan?”
“Yak, betul banget. (sambil menjentikkan jarinya) Nah, waktu itu aku ketemu tuh sama Rani,”
“Siapa? Rani? Mommy kamu maksudnya?”
“Iya, siapa lagi kalau bukan dia!”
“Terus, terus?”
“Nah aku lanjutin ya, aku ketemu dia di sana lagi main sama laki-laki, Re.”
“Ah, males ah. Kamu gitu,”
Renata malah ketawa lepas.
“Ha… Ha… Ha… Terus, terus gimana?”
“Kalau kemarin aku lihat dia nggak ciuman mesra sama beberapa laki-laki di sana. Mungkin aku nggak bakal marah Re, apalagi di tempat seperti itu. Dia kan jadi mirip pel*cur.”
“What, serius, Mommy kamu celup sana celup sini?”
“Iya, makannya itu Re,”
“Astaga, kok gitu ya Liv?”
“Nggak tau deh Re, aku tuh juga bingung harus gimana lagi jadi anak. Lagian anak mana sih Re, yang suka liat ibunya seperti itu? Bahkan aku sering banget liat Mommy bercumbu dengan laki-laki di rumah. Itu pun aku liatnya dengan jelas Re, dengan mata kepalaku sendiri.”
“Ya, kamu harus banyak sabar, Liv. Itu jalan satu-satunya.”
“Nah Cuma itu aja kan yang bisa aku lakukan, Re. Dan kalau terus-terusan sabar, lama-lama aku bisa jadi Zombie, ha… ha… ha…”
Mereka pun ngakak bersama.
Karena masih penasaran dengan apartemen itu, Renata kembali bertanya, “Eh, terus ini apartemennya siapa Liv?”
Olivia kembali menceritakan dengan detail perkara yang terjadi di rumahnya beberapa waktu yang lalu. Ia juga cerita pada Renata kalau dirinya sempat akan melukai tubuhnya sendiri, dan dia juga mengaku kalau dirinya berpura-pura lupa saat di tanya oleh Rani setelah dia siuman.
__ADS_1
“Gila kamu!” celetuk Olivia.
“Ya, gimana aku nggak gila coba Re, aku ini anaknya mereka, tapi mereka sama sekali nggak ada yang mau menerimaku. Ya udah aku nekat aja ngelakuin tindakan itu.”
“Tapi, itu bahaya banget kan Liv, coba kalau sampai pisau itu bener-bener kena ke tubuhmu, ngeri banget kan!”
“Karena waktu itu pikiran ku udah kalud banget, Re. Emosi ku reda juga semua karena Om Steve.”
“Om Steve? Siapa dia?”
Olivia terus menjelaskan siapa Om Steve itu dan apa hubungannya, lalu bagaimana dia bisa kenal dengannya, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00.
“Tapi ya Liv, kalau menurutku sih mendingan kamu hidup dan tinggal di sini sendirian aja daripada kamu harus kembali bersama Mommy kamu di rumah itu.”
“Tapi kalau aku tinggal di sini sendirian gini, aku ngerasa sepi Re,”
“Emangnya, kalau kamu tinggal di rumah sana, kamu nggak kesepian gitu? Selama ini kamu kan selalu sendiri walau kamu tinggal di satu atap yang sama dengan mommy kamu, Liv. Ya paling, cuman pelayan-pelayan mu itu aja yang setia banget dengerin ceritamu yang ngebosenin itu. Iya kan?”
“Sialan!” Ujar Olivia seraya melempar bantal sofa ke wajah Renata.
“Eh, tapi benar kan? Bener yang aku ucapkan ini kan, Liv?”
“Ya, iya sih. Emang nggak salah.”
“Nah itu kamu ngaku. Mungkin sekarang Tuhan mau liat hidup kamu bahagia. Tuhan mau kamu pisah dengan kedua orang tuamu, maksudnya pisahnya tuh nggak tinggal serumah gitu.”
“Semoga aja ya Re,”
“Kalau kamu tinggal di sini sendiri kamu kan bisa bebas mau ngapain aja. Apa lagi kamu juga udah nggak bakal melihat mommy kamu yang suka mesum di sembarang tempat itu.”
“Iya, juga ya.”
“Nah sekarang lebih baik, kamu fokus aja sama kuliah mu yang bentar lagi mau selesai. Habis itu, bahagiain tuh diri kamu sendiri, terus tunjukan sama mereka kalau kamu bisa sukses.”
“Bener juga sih yang kamu katakan itu Re, tumben otakmu encer,” Kata Olivia sambil bergurau.
“Aanjjjaayy! Sialan lu,”
“Habis biasanya kamu tuh lemot. Eh, udah sore, kamu laper gak Re?”
“Laper banget, cari makan yuk.”
“Aku pesen gofood aja ya.”
“Nggak mau, kita cari di luar aja yuk.”
“Tapi aku nggak ada mobil, Re. Mommy sama Papi ku belum ada yang mau ngasih aku mobil lagi.”
“Terus maksud kamu, kamu mau di sini terus sampe kamu kelaparan gitu? Sekarang jaman udah modern Olivia. Kita kan bisa cari taksi online.”
“Owh, iya. Ya udah, aku order dulu.”
Setengah jam kemudian, mereka pun pergi seusai taksi online datang menjemputnya.
“Mau cari makan di mana Re,”
“Mana aja deh, yang penting tempatnya asik.”
“Okey, di tempat nongkrong kita biasanya itu gimana.”
__ADS_1
“Boleh juga.”
Bersambung…