Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Duduk sendiri di sudut sana


__ADS_3

Steve lalu berjalan keluar dari ruangannya menuju ke pintu keluar dari gedung kantornya. Tak sabar dirinya ingin segera bertemu dengan Olivia.


Terlihat sebuah kendaraan kijang besi miliknya kini telah siap untuk mengantar dia pergi ke pesta. Seperti biasanya, sang sopir itu membuka pintu mobilnya untuk mempersilahkan dia masuk ke dalam.


Akan tetapi setelah pintu mobil itu terbuka, tanpa diduga Rani sudah duduk manis di dalam sana. Sontak membuat pria setengah bule ini terkejut melihat kehadirannya.


“Rani!” Seru Steve dengan wajah tertegun.


Dengan santainya Rani melambaikan tangan ke arah Steve sambil memberikan senyuman manisnya.


“Hay sayang,”


“Ngapain kamu tiba-tiba ada di dalam mobil?” tanya Steve heran.


“Aku mau ikut ke pesta,” rengek Rani manja.


“Kan sudah aku bilang, pesta ini bukan pesta untuk umum. Ngapain kamu ngotot mau ikut sih?”


“Kok kamu gitu sih Steve sama cewek kamu sendiri,” runggut Rani.


“Ya, habisnya aku tuh heran banget sama kamu! Kenapa sih kamu nggak ngerti juga, pesta ini hanya untuk rekan bisnis perusahaan itu saja! Ngerti nggak sih!” Seru Steve sedikit kesal.


Bak seperti anak kecil yang tidak diberikan permen dan menangis mengeluarkan air mata, itulah yang dilakukan Rani ketika Steve melarangnya untuk ikut ke acara pesta tersebut.


“Kamu kenapa jahat banget sih Steve! Hisk… Hisk… Hisk…” Rengek Rani.


Ini semua diluar dari ekspektasi yang telah direncanakannya, dia pun merasa kesal dengan kehadiran Rani yang pasti akan mengganggu dan menghalangi dirinya untuk bertemu dengan Olivia.


“Kenapa sih dia harus ikut ke pesta! Aku takut kalau nanti Olivia akan semakin kesal denganku! Sedangkan, aku udah menunggu acara ini sejak kemarin, agar aku bisa mendekati dan mendapatkan hati Olivia lagi!” batin Steve yang bergelimang kekesalan.


Rani pun terus merengek seperti anak kecil, dia juga terus memohon supaya Steve mau mengajaknya pergi.


“Steve, aku mau ikut! Please, ajak aku ya.” Rungkut Rani.


Dan dengan sangat terpaksa Steve pun akhirnya mengiyakan permintaan Rani.


“Ya udah, kita berangkat sekarang. Tapi ingat jangan bikin malu aku di sana! Sebab semua tamu undangan rata-rata mereka rekan bisnisku. Mengertikan kamu Ran?!” Tegas Steve.


Senyuman mengembang kini diperlihatkan oleh wanita itu. Dia begitu sangat bahagia, karena Steve akhirnya mengijinkan dirinya untuk ikut ke acara pesta itu.

__ADS_1


“Baik, Steve, baik. Aku janji, aku nanti tidak akan membuat kamu malu di sana. Tapi, aku mau kamu perkenalkan aku ke teman-teman kamu itu kalau aku ini calon istri kamu ya Steve,”


“Kamu ini apa-apaan sih! Nggak! Aku nggak akan bilang apa-apa di sana! Biar mereka tau sendiri siapa kamu ini.” Ucap Steve.


“Kamu malu ya ngenalin aku ke teman-teman bisnis kamu itu?” Tanya Rani memancing Steve.


“Bukannya aku malu, tapi aku hanya nggak mau menerangkan yang belum pasti kepada mereka. Aku harap kamu bisa paham dengan perkataan ku ini.”


“Ya, udah lah terserah kamu, kalau memang itu mau mu. Tapi jangan larang aku kalau nanti aku gandeng tangan kamu terus,”


Steve yang udah enek menjawab ucapan Rani pun memilih untuk membungkamkan mulutnya tanpa menjawab apapun. Ia lalu meminta supir nya untuk melajukan kijang besinya.


“Pak, jalan sekarang!” pinta Steve.


“Baik Tuan,” balas si supir yang kemudian menutup pintu mobilnya.


Dan tak lama kemudian si kijang besi itu pun melaju dengan gagahnya menuju ke acara pesta tersebut. Dalam perjalanan, Steve terus diam, dia sama sekali tak membuka omongan sedikit pun dengan Rani. Pandangan nya pun terus dialihkan untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan.


Namun, berbeda dengan Rani, dia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera sampai di acara tersebut untuk memperkenalkan dirinya di depan teman-teman bisnis kekasihnya itu.


“Huft… udah nggak sabar pengen cepet sampai sana. Pokoknya aku mau kenalin ke semua rekan-rekan bisnis Steve kalau aku ini calon istrinya, dan aku juga harus bersikap anggun di sana. Biar semua menilai kalau calon istri Steve ini wanita berkelas dengan gayanya yang anggun dan santun. Aku yakin, Steve akan bangga memiliki ku.” Bantin Rani yang begitu sangat percaya diri sekali.


“Silahkan Tuan,”


Bergantian membuka pintu mobil untuk Rani.


“Silahkan Nyonya,”


Steve yang lebih dulu turun dari mobil itu pun enggan menggandeng tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam sana.


Sedangkan Rani yang memakai gaun serba hitam dengan lekukan tubuhnya yang begitu terlihat jelas itu berjalan bak seperti putri.


“Steve tunggu aku,” teriak Rani dengan berjalan cepat.


Karena sudah terlalu kesal, Steve sama sekali tidak mengindahkan panggilan dari kekasihnya tersebut. Ia terus saja berjalan masuk sendiri kedalam gedung.


Nampak beberapa kerabat serta teman bisnisnya memberikan salam kepada Steve yang baru saja tiba disana.


“Hay Steve,” sapa salah satu rekan bisnisnya yang bernama Bima.

__ADS_1


“Hay Mr. Bima.” Jawab Steve seraya membalas sapaannya.


“Aku kira kamu tidak jadi datang ke sini,”


“Owh, ya pasti aku datang lah. Masa aku mau menyia-nyiakan kesempatan penting ini untuk berjumpa dengan teman-teman bisnisku.” Ujar Steve tertawa riang.


Tak lama Rani pun berhasil membuntuti Steve, ia lalu berdiri di sebelahnya. Semua teman-teman bisnisnya yang tengah bergerombol pun tertegun melihat kedatangan wanita itu. Mereka lalu bertanya, “Siapa dia Steve?”


Steve hanya diam, dan dengan bangganya Rani sendirilah yang memperkenalkan dirinya kepada mereka semua.


Dengan mengulum senyumnya ia berkata, “Hay semua, aku calon istrinya Steve,” ucap Rani girang.


Semua teman-temannya pun justru saling lirik melirik ke teman yang ada di sebelahnya.


“Apa aku tidak salah dengar Steve?”


“Iya, apa yang dikatakan wanita itu benar kalau dia calon istrimu? Ha… Ha… Ha…”


“Kalau memang benar, kami malah senang mendengarkan kabar baik ini Steve,”


“Benar itu Steve, akhirnya teman ku yang satu ini akan mengakhiri masa dudanya.”


“Lagian, apa kamu nggak kesepian bertahun-tahun hidup sendiri?”


Beberapa di antaranya menceletuk ungkapan candaan. Akan tetapi Steve sama sekali tidak menanggapinya. Dia hanya diam dengan tatapan dongkol. Sebab, sebelum berangkat, Steve sudah memperingatkan Rani untuk tidak mengatakan apapun di depan teman-teman bisnisnya, tapi Rani justru sengaja melakukannya.


Setelah itu Steve kemudian berjalan pergi menjauh dari teman-temannya untuk mengambil air minum yang sudah tersaji di meja ujung ruangan tersebut.


Dia berjalan seraya memperhatikan sekeliling tempat tersebut, karena pandangan dan niat awalnya hanya lah ingin bertemu dengan Olivia.


Hingga sampailah kakinya di sebuah meja persegi panjang yang di mana di atas meja tersebut sudah banyak beberapa menu makanan atau minuman yang sudah disiapkan.


Dia ambil satu buah beer dengan gelas sloki kecil dan setelah itu dia teguk beer tersebut. Sambil berdiri meneguk bir itu, ia pun celingukan melihat ke sana kemari.


“Di mana Olivia, kenapa aku belum bertemu dengannya?” Batin Steve dengan harapan penuh.


Bersambung….


 

__ADS_1


__ADS_2