
Steve lalu menarik kursi, ia meminta Olivia segera duduk untuk bercerita mengenai dirinya yang sedang gundah gulana.
“Olivia, om akan ambilkan kamu kursi, supaya kita bisa lebih nyaman untuk sharing nanti.” Ucap Steve seraya melepaskan tangan wanita itu dari tubuhnya.
Akan tetapi, tahu-tahu Olivia jatuh pingsan. Dengan gesit Steve menangkap kemudian menopang tubuh wanita itu.
“Olivia, kamu kenapa? Olivia bangun, bangun Olivia.” Ucap Steve sambil mengapit kedua pipinya dengan wajah cemas.
Karena khawatir, Steve lalu berteriak memanggil Rani.
“Ran! Rani! Cepat kemari!” pekik Steve.
Dengan segera Rani yang mendengar teriakkan itu pun langsung mendekat menuju ke pusat suara. Mantan suami dan ketiga pelayan itu juga berjalan membuntuti dirinya dari belakang.
“Ada apa Steve?” Tanya Rani yang terkejut melihat anaknya sedang jatuh pingsan.
“Jangan banyak tanya. Sebaiknya kamu cepat panggil dokter ke sini.” Pinta Steve.
Tanpa berpikir panjang, Rani menelepon dokter dan memintanya untuk segera datang ke rumahnya.
Sedangkan di sisi lain, Jonatan kesal dengan Steve, ia sudah berburuk sangka kepadanya.
“Kamu apa kan putriku? Ku kira kamu bisa menenangkannya, tapi nyatanya kau malah membuat dia semakin terpuruk.” Seru Jonatan mengernyitkan kedua alisnya.
Seketika Jonatan merampas Olivia dari genggaman tangan Steve.
“Tunggu, tunggu. Aku bisa jelaskan,” ujar Steve.
“Agh! Apalagi yang mau kamu jelaskan? Lihat putriku ini, aku tak tau, apa yang sudah kamu lakukan hingga sampai membuat putri ku jatuh pingsan seperti ini. Mau cari alasan apa lagi? Hem!” pekik Jonatan membuka matanya lebar-lebar.
Karena tak ingin beradu mulut, Steve akhirnya memilih untuk diam. Dan tak lama Rani datang setelah ia selesai menelepon dokter.
“Sebaiknya kita baringkan dia ke dalam kamarnya sekarang. Cepat bopong dia Jonatan,” pinta Rani.
Tak lama kemudian, dokter itu datang. Dengan segera ia langsung memeriksa kondisi Olivia.
“Gimana kondisi putri saya dok?” Tanya Rani.
“Apa dia sedang stress?” Tanya dokter itu.
“Stres? Stres kenapa? Sepertinya keluarga kami baik-baik saja dok,” sahut Rani.
__ADS_1
Rani mencoba menutup-nutupi permasalahan yang ada di dalam keluarganya, sampai ia memberi alasan palsu kepada dokter itu. Sebab ia tak ingin dipandang jelek oleh Steve.
“Setelah saya periksa, sepertinya asam lambungnya naik,” terang dokter itu.
“Naik?”
“Iya, dia sudah beberapa hari tidak makan?”
Bi Lastri berjalan maju ke depan mendekati dokter itu, “Non Olivia sudah dua hari ini belum makan dok, tadi dia hanya makan beberapa suap nasi saja.” sahut Bi Lastri.
“Em, gitu. Mungkin itu salah satu penyebab asam lambungnya naik, saya sarankan berikan dia waktu untuk istirahat, dan jangan kasih tekanan batin untuknya. Karena itu sangat berpengaruh besar untuk kesehatannya. Faktor asam lambung naik itu bukan hanya karena pola makan yang tidak teratur, bisa juga karena pasien terlalu stress, dan masih banyak faktor lainnya.”
“Tapi tekanan gimana maksud dokter,” tanya Rani yang berpura-pura tak paham.
“Ya seperti yang sudah saya katakan tadi, kalau bisa jangan sampai dia berpikir terlalu berat. Misal dia diberikan tuntutan agar dia bisa mengerjakan sesuatu di luar batas kemampuannya dan jaga pola makannya.”
“Iya, saya paham dok.” Celetuk Jonatan.
“Baiklah kalau kalian sudah paham, saya berikan obat khusus asam lambung. Jadi tolong berikan obat ini seperti yang dianjurkan.”
“Baik dok,” ucap Rani.
Selesai memberikan obat tersebut, dokter kemudian pamitan pulang. Jonatan mengantarkan dokter itu sampai ke depan pintu rumah. Sedangkan ketiga pelayan membubarkan dirinya masing-masing dan kembali bekerja. Steve dan Rani masih berada di dalam kamar menunggu Olivia sadar.
“Sebenarnya apa yang terjadi Ran? Kenapa Olivia bisa melakukan tindakan senekat itu?” tanya Steve penasaran.
“Aku juga gak tau apa yang sedang dipikirkan oleh anak itu. Dari dulu dia tak pernah menceritakan masalahnya sama aku.”
“Apa hubunganmu dengan Olivia tidak dekat?”
“Ya dekat sih, cumankan waktuku banyak terbuang di tempat kerjaan, Steve.”
“Emm, gitu. Kalau aku saranin sih, sebaiknya kamu luangkan sedikit waktumu untuk Olivia. Dia kan anak cewek, mungkin dia butuh teman curhat.”
“Tapi kan Steve, kamu tau sendiri. Aku ini single mother, aku kan juga harus mencari uang untuk menutup kebutuhan ku dan dia. Aku nggak bisa kalau harus berpangku tangan sama orang lain. Tapi saranmu itu bagus juga sih,”
“Coba deh, kamu agak sedikit dekat dengannya. Mungkin dia nggak akan stress seperti ini.”
“Iya, iya, besok akan lakukan itu. Aku seneng deh Steve kamu datang kesini.”
“Sebenarnya kedatangan ku ke sini mau ngajak kamu dan Olivia jalan. Kita cari makan gitu di luar. Eh tapi, baru aja aku sampai dan turun dari mobil, aku dengar suara orang teriak-teriak. Ya, spontan aku panik, terus aku masuk aja deh.”
__ADS_1
“Iya jadi, tadi aku sama papinya Olivia sedang membicarakan sesuatu. Eh, tau-tau Olivia jalan ke dapur gitu aja, terus aku tanya, katanya dia cuman mau ambil air minum. Loh kok tiba-tiba bi La teriak-teriak histeris gitu pas lihat Olivia mau bunuh diri.” Kata Rani.
“Mungkin jangan-jangan Olivia lagi berantem sama kekasihnya. Coba deh kamu hubungi pacarnya dan tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi,”
“I—iya, aku akan tanyakan padanya nanti,”
Mana mungkin Rani akan berkata yang sebenarnya pada Steve, padahal dirinya saja juga tak tau kalau Olivia sudah memiliki pacar atau belum? Sedangkan selama ini dia hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri.
“Mana ku tau, tuh anak udah punya pacar atau belum! Selama ini aku dan Olivia kan nggak pernah aku. Tapi, syukur deh Olivia nggak jadi cerita sama Steve. Owh, iya. Sebelum Olivia mengatakan yang tidak-tidak pada Steve, sebaiknya aku lebih dulu kasih dia peringatan agar dia bisa tutup mulutnya.” Gumam Rani dari dalam hati.
Seusai mengantarkan dokter pulang, Jonatan langsung berjalan masuk untuk kembali menuju ke kamar putrinya.
“Gimana Olivia?”
“Iya, masih seperti tadi lah!” jawab Rani sengak.
“Semua ini gara-gara dia!” Seru Jonatan seraya menuding Steve.
“Loh kok dia?!” ujar Rani seraya menatap jonatan sengit.
“Iya, coba aja kalau dia nggak menyuruh kita keluar dari dapur tadi, mungkin Olivia nggak akan jatuh pingsan!” Seru Jonatan sambil berkacak pinggang.
“Jonatan! Udah deh ya, sebaiknya kamu diam aja! Tuh, anak kamu aja belum siuman dari tadi. Kamu kok nambah masalah.”
“Sudah-sudah. Kalian jangan berdebat disini. Kasihan Olivia, bukankah kalian mendengar yang dokter katakan tadi?”
“Halah! Kamu ini siapa memangnya! Jangan sok jadi pahlawan kesiangan!”
Steve membusungkan dadanya dengan tatapan tajam menatap Jonatan.
“Brow, saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya merasa kasihan melihat Olivia seperti orang yang sedang depresi.”
“Udah Steve, nggak usah kamu ladeni orang macam dia itu!”
“Ran, aku sebaiknya tunggu di luar aja. Aku nggak mau ribut di sini!”
“Iya, iya.”
Steve, lalu berjalan keluar dari kamar Olivia.
Bersambung...
__ADS_1