Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Nggak punya perasaan


__ADS_3

Di sisi lain, Rani sungguh-sungguh akan pergi ke rumah Jonatan. Sesampainya di sana, dengan segera ia turun dan menekan tombol bell.


Tak beberapa terdengar suara orang yang tengah membuka pintu itu dari dalam.


Cklek,


Seorang asisten rumah tangga keluar lalu memberikan salam kepadanya.


“Selamat pagi, nyonya mencari siapa?”


“Mana Jonatan?!” Ucap Rani dengan nada bengis.


“Silahkan masuk dulu nyonya, saya akan panggilkan tuan. Maaf nama nyonya siapa?”


“Bilang aja, Rani mencari dia. Cepat! Jangan lama-lama!”


“Baik,”


Pelayan itu lalu pergi masuk ke dalam untuk memanggil Jonatan. Ia ketuk pintu ruang kerja Jonatan perlahan.


Tok, tok, tok,


“Masuk,” seru Jonatan yang tengah duduk di kursi kerjanya.


Cklek!


“Ada apa?” Tanya Jonatan tanpa menatap wajah pelayannya sama sekali.


“Tuan, ada seorang wanita yang sedang mencari tuan di depan.”


“Siapa?”


“Nyonya Rani tuan,”


“Ada perlu apa dia mencari ku?”


“Saya tidak tau Tuan,”


“Suruh di menunggu ku, sebentar lagi aku akan turun untuk menemuinya.”


“Baik tuan, saya permisi.”


“Hemm,”


Pelayan itu lalu turun, dan kembali menemui Rani yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“Nyonya,”


“Mana Jonatan?”


“Tuan sebentar lagi akan turun, jadi nyonya silahkan tunggu sebentar.”


“Aduh, buang-buang waktu ku aja!”


“Nyonya mau minum apa?”


“Buatkan aku es jus lemon.”

__ADS_1


“Baik nyonya.”


Pelayan itu pergi, ia lalu beranjak melangkah pergi untuk membuatkan jus lemon.


Selang beberapa menit, Jonatan datang menemui Rani.


“Ada apa kamu mencariku?”


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Tentang apa? Katakan! Aku sedang sibuk!”


“Tentang Olivia, anak kamu!”


“Kenapa? Dia buat masalah apa lagi kali ini?”


“Sebetulnya dia tidak melakukan kesalahan,”


“Lalu?” Jonatan menatap Rani seraya mengerutkan kedua alisnya.


“Aku hanya sudah lelah hidup bersama dia!”


“Ha? Bukannya kamu sendiri yang mengajukan hak perwalian atas Olivia?”


“Iya, memang. Aku benarkan ucapanmu kali ini, tapi batas umur yang ditentukan oleh hakim sudah tidak berlaku, karena apa, karena umur Olivia sekarang dua puluh dua tahun. Jadi sekarang giliran kamu yang harus merawat dia!”


“Nggak semudah itu, aku harus bicarakan semua dengan istriku terlebih dulu.”


“Halah! Lebay, kenapa harus dirundingkan segala, Olivia itu kan juga anak kandung kamu!”


“Mona itu bukan wanita seperti kamu, yang tak pernah menghargai suaminya!”


“Cukup! Jangan bikin ribut di sini!” seru Jonatan dengan membelalak kan kedua matanya.


“Kenapa? Nggak terima? Loh, itu kan kenyataannya, sejak awal kita menikah siapa yang lebih dulu kaya? Aku kan,”


“Rani! Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk mengungkit masa lalu kita, sebaiknya kamu segera angkat kaki dari sini!”


“Hey, Jonatan, kamu tuh harus ingat! Perusahaanmu bisa berdiri seperti sekarang itu karena siapa?! Coba kalau dulu ayah ku tak memberikanmu sedikit hartanya, mungkin kamu sudah menjadi gembel sekarang!”


“Aku mungkin dulu memang miskin, tapi sampai saat ini aku masih memiliki harga diri! Bukan seperti kamu!”


“Cuuiihh! Jangan sombong kamu! bilang harga diri, buat ngebahagiain istrinya dulu aja nggak bisa, pake bilang harga diri. Berapa harga diri kamu itu, sini aku bayar!” Ucap Rani seraya menatap Jonatan sinis.


“Udah ah, males berdebat lama-lama sama kamu! Buang-buang waktu aja bicara sama kamu tuh. Pokoknya aku nggak mau tau, besok aku akan bawa Olivia ke sini. Dan mulai besok dia harus tinggal sama kamu!” lanjutnya.


“Kalau begitu pergi kamu sekarang juga dari sini! Pergi! Dasar manusia kepar*t!” bentak Jonatan sambil berkacak pinggang.


Melihat sikap Jonatan, reflek Rani langsung menendang meja tamu yang ada di hadapannya sehingga membuat penghuni meja itu jatuh dan berantakan.


“Dasar kau wanita gila!” Pekik Jonatan seraya menuding-nuding ke arah mantan istrinya.


Rani memalingkan mukanya lalu pergi begitu saja dari rumah Jonatan.


“Dia itu seorang ibu, tapi sikap dan perilakunya sama sekali tak mencerminkan kalau dirinya itu sudah menjadi ibu! Sejak dulu sampai sekarang sikapnya sama sekali belum berubah. Wataknya sangat keras kepala dan sulit untuk dikendalikan. Mungkin ini karena sejak kecil dia hidup serba kecukupan dan selalu dimanja oleh orang tuanya. Semoga saja Mona dan Dini mau menerima Olivia untuk tinggal di sini.” Gumam Jonatan seraya mendang udara menadahkan emosinya.


Sore harinya, Rani pulang. Sebelum dia pergi ke kamarnya, ia lebih dulu mendatangi kamar anaknya untuk memastikan keadaan Olivia di dalam.

__ADS_1


“Bi. Bibi!” Teriak Rani.


Tak beberapa lama, salah satu pelayan datang.


“Iya Nyonya.”


“Apa dia tadi sudah makan?”


“Non Olivia maksud nyonya?”


“Ya iya lah, mau siapa lagi?!” jawab Rani kesal.


“Non Olivia sama sekali nggak mau makan Nyonya,”


“Dari tadi pagi?”


Pelayan tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya


“Apa ikatannya sudah di lepas?


“Sudah nyonya,”


“Buka pintunya sekarang.”


“Baik,”


Dibukalah pintu kamar Olivia, pelayan itu lalu mempersilahkan Rani masuk ke dalam. Akan tetapi, Rani meminta pelayan tersebut untuk tetap menemaninya di sana.


“Silahkan Nyonya besar,” ujar si pelayan.


“Kamu jangan pergi, tetap berdiri di sini, temani aku sampai selesai! Aku takut jika nanti dia akan membuat ulah lagi.”


“Baik nyonya,”


Ia masuk dan melihat Olivia duduk menyilangkan kakinya di sebuah kursi menghadap ke jendela.


Setengah takut, Rani duduk disisi tempat tidur, di belakang tubuh putrinya.


Ia hendak mengatakan kalau dia akan mengantarkan Olivia ke rumah Jonatan, “Aku tadi udah ke rumah papi mu, dan bertemu dengannya. Jadi mulai besok kamu akan tinggal di sana. Mungkin ini keputusan yang tepat untuk kamu dan Mommy, karena Mommy sudah angkat tangan. Mommy benar-benar sudah menyerah mendidik kamu. Jadi sebaiknya, biar papi kamu yang giliran membimbingmu ke jalan yang benar. Apa kamu dengar apa yang Mommy katakan Olivia?”


Olivia membisu namun ia menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya yang menandakan kalau dirinya mendengar.


“Semoga, kamu akan betah tinggal bersama papi, bunda, dan juga saudara tiri kamu itu di sana. Mommy berharap, kamu bisa merubah sifatmu untuk menjadi anak yang lebih baik lagi.” Lanjut Rani.


Tanpa di sadari, lakrimasi menetes begitu saja melalui ujung kelopak mata. Tekanan batin ini membuat jiwanya terguncang seketika.


Entah dia harus berbuat apa lagi, ia merasa semua yang di lakukan selalu salah di mata kedua orang tuanya.


Selesai berbicara, Rani lalu bangkit berdiri, ia kemudian melangkah keluar dari kamar Olivia sambil berkata, “Mommy dapat laporan, kalau kamu sama sekali belum makan hari ini. Apa itu benar?” Tanya Rani.


Ia duduk memeluk kedua lututnya, Olivia hanya menjawab dengan gerakan tubuh, ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara apapun.


“Sebaiknya segera isi perutmu, jangan sampai kamu sakit! Dan suruh pelayan bantu kamu untuk mengemasi semua barang-barang yang akan kamu bawa besok. Karena Mommy sudah sangat capek, sekarang Mommy akan keluar dan beristirahat. Apa kamu mengerti?” tanya Rani jelas.


Lagi-lagi Olivia Cuma terdiam membisu dan enggan mengeluarkan suara apapun.   


 

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2