
Dengan cekat ketiga pelayan itu langsung naik ke atas, mereka semua kemudian melaksanakan tugas yang baru saja diberikan oleh empunya.
Akan tetapi, sembari melangkah ke anak tangga mereka membicarakan kondisi di dalam rumah itu.
“Eh, sebenarnya, aku tuh nggak tega banget liat non Olivia.”
“Ak juga Yem,”
“Tapi mau bagaimana lagi, kita bertiga di sini hanya seorang pelayan.”
“Iya, benar sih. Tapi kok ada ya, ibu yang setega itu sama anaknya sendiri.”
“Aku juga nggak tau, kasihan non Olivia.”
“Walau pun aku hanya orang lain, tapi aku tau dengan tindakan non Olivia, dia seperti itu karena dia ingin mencari perhatian dari orang tuanya.”
“Iya benar, tapi sayang kedua orang tuanya sama sekali nggak paham. Mereka malah sama-sama egois.”
Bibi La, meminta kedua dua temannya untuk diam, sebab sebentar lagi mereka telah sampai di kamar Olivia.
“Hust, sudah. Berhenti membicarakan keluarga ini. Depan kita itu kamar non Olivia. Jangan sampai dia mendengar apa yang baru saja kita bicarakan.” Ujar bibi La.
Mereka bertiga lalu masuk bersama, dan melakukan tugasnya dengan pintu terkunci dari dalam.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, dan Rani baru saja pulang dari olahraga.
__ADS_1
“Huft! Capek juga lari mengelilingi komplek ini.” Ucapnya sendiri yang kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Di tegukalah minuman itu seraya bergumam, “Mereka bertiga sudah selesai belum mengemasi barang-barang yang akan dibawa Olivia hari ini? Sebaiknya aku segera naik ke atas dan memeriksa mereka.”
Selesai minum, Rani lalu naik ke atas. Ia berdiri tepat di depan pintu kamar putrinya. Ia tempelkan telinganya agar dia bisa mendengar sesuatu di dalam sana.
“Sepertinya mereka bertiga masih ada di dalam kamar. Sebaiknya aku segera ketuk pintu ini.” Batin Rani.
Tok, tok, tok,
Rani sengaja mengetuk pintu itu dengan pelan dan tak lama salah satu pelayan membuka pintu tersebut.
Cklek,
Rani lalu masuk, ia melihat putrinya yang duduk di kursi riasnya.
“Sudah nyonya,”
“Terus dia sudah sarapan?”
“Non Olivia baru saja selesai mandi nyonya, jadi non Olivia sama sekali belum sarapan.”
“Bi Rubiyem,” panggil Rani.
Bibi Rubiyem yang tengah berdiri di sudut ruang kamar Olivia pun dengan segera mendekati Rani dan berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
“Iya nyonya,”
“Ambilkan makanan untuk dia.”
“Baik nyonya,”
“Dan yang lain silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.”
“Baik nyonya,”
Rani berdiri tepat di belakang punggung Olivia. Dia belai lembut rambut putrinya.
“Olivia sayang, apa kamu sudah siap untuk pergi nak.”
Bak seperti boneka yang tak bisa berbuat apa-apa.
“Mommy yakin, kamu akan betah tinggal di rumah sana bersama papi kamu. Kamu di sana harus jaga diri kamu baik-baik ya, sebab kamu sudah tidak tinggal bersama mommy, dan semoga saja ibu sambung mu akan memperlakukanmu dengan baik, seperti anak kandungnya sendiri. Baiklah, kalau begitu, mommy akan mandi, dan setelah itu kita berangkat ke rumah papi kamu. Apa kamu mengerti sayang,”
Olivia membisu, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, kamu segera makan da nisi perut mu, karena mommy nggak mau dipandang buruk oleh papi mu itu.”
Selepas itu Rani melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari kamar putrinya.
Bersambung....
__ADS_1