
Pagi harinya, Rani masuk ke dalam kamar.
“Pagi Olivia,”
“Pagi Mom,”
“Gimana kabar kamu? Apa keadaanmu sudah membaik?”
“Sudah mendingan Mom,”
“Kalau gitu, hari ini Mommy mau ajak kamu pergi,”
“Pergi kemana?”
“Nanti juga kamu tau sendiri, yang penting kamu cepetan ganti baju sekarang,”
Tanpa menjawab apapun, Olivia mengiyakan ajakan ibunya.
Rani segera keluar dan kemudian memanggil salah satu pelayannya.
“Bi, Bi Lastri,”
“Iya Nyonya,”
“Sini sebentar,”
Dengan segera bi Lastri berlari mendekati majikannya.
“Iya Nyonya, ada apa nyonya besar memanggil saya?” Tanya pelayan.
“Bi, tolong turunkan semua barang-barang Olivia yang kemarin sudah dikemasi.”
“Sekarang Nyonya?”
“Nggak, besok tahun depan! Ya, sekarang dong bi,”
“Mohon maaf nyonya, saya mau tanya,”
“Hem, apa?”
“Apa non Olivia jadi tinggal bersama tuan Jonatan?”
“Emangnya kenapa?”
“Ya, nggak apa-apa sih nyonya,”
“Udah deh nggak usah banyak tanya, cepat kerjakan apa yang aku perintahkan tadi!”
“Baik nyonya saya akan kerjakan.”
Bi La segera meninggalkan tempat itu dan melakukan pekerjaannya. Selesai ganti baju, Olivia lalu turun ke bawah. Dia nampak tertegun melihat ada beberapa koper dan barang-barang miliknya di bawah.
“Loh kok barang-barangku ada di sini semua? Apa Mommy jadi mau antar aku ke rumah Papi?” Gumamnya dari dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Rani turun dan berjalan mendekati Olivia.
“Mom,”
“Hem, kenapa?”
“Kok barang-barangku ada di bawah semua?” tanya Olivia penasaran.
“Mommy akan jelaskan sama kamu, tapi nanti. Bi, bibi, semua kumpul disini!” Rani memanggil ketiga pelayannya.
“Iya nyonya besar.”
__ADS_1
Ketiga pelayan itu segera menghampiri Rani.
“Tolong masukan semua ini kedalam mobil.
“Baik Nyonya.”
Selesai memasukan semua barang-barang itu ke mobil, Rani dan Olivia kemudian pergi.
Dalam perjalanan, Rani menjelaskan dengan lugas pada putri semata wayangnya.
“Olivia,”
“Iya,”
“Sebenarnya Mommy mau bawa kamu ke apartemen,”
“Apatemen?”
“Iya,”
“Apartemennya siapa Mom?” tanya Olivia penasaran.
“Apartemen milikimu,”
“Milikku?”
“Iya. Papimu yang sudah membelikan apartemen itu untukmu. Jadi, mulai sekarang kamu tinggal di sana ya,”
“Owh,”
“Gimana, kamu setuju kan?”
Olivia diam, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Percuma juga kalau aku protes, toh mereka berdua juga nggak akan mau mendengarkanku,” batin Olivia yang hanya diam seraya menatap jalan dari luar jendela.
Lagi-lagi Olivia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya membuang muka.
“Tapi kamu nggak usah khawatir, Mommy akan minta salah satu pelayan kita untuk menemani kamu di sana. Biar nanti ada yang ngurusin kamu.” lanjut Rani.
“Terserah lah.” Celetuk Olivia.
Tiga puluh menit berlalu, kini mereka berdua telah sampai ke apartemen itu.
“Disini tempatnya mom?” Tanya Olivia.
“Sepertinya memang di sini tempatnya, tadi jonatan kirim share lokasinya di sini. Bentar, mommy telpon dia dulu.”
Olivia lalu berjalan pelan dan mengamati kondisi sekitar apartemen itu. tak lama Rani datang menghampiri dirinya.
“Kata papi kamu memang di sini apartemennya. Dia udah nunggu di atas. Sekarang kita ke atas dan temui dia.”
Sampailah kaki mereka di depan pintu apartemen yang sudah di beli Jonatan kemarin. Rani kembali menghubungi mantan suaminya dan memberitahukan kalau dirinya sudah sampai.
“Hollo, aku udah ada di depan! Cepet buka pintunya!”
“Ya, tunggu sebentar.”
Di bukalah pintu itu, ia lalu meminta anak dan mantan istrinya masuk.
“Cepat masuk!” pinta Jonatan.
Mereka lalu masuk bersama-sama. Wajah Olivia nampak terlihat datar, tak ada sedikitpun rasa senang yang terpancar saat itu.
“Gimana Olivia, apa kamu suka?” tanya Jonatan seraya melebarkan senyumnya.
__ADS_1
“Menurut Mommy lumayan bagus juga sih ini.”
“Semoga aja kamu bakal betah tinggal di sini, ya Liv.” ujar Jonatan.
“Pasti betah lah dia, iya kan Olivia. Kalau kamu tinggal di sini kamu bisa bebas mau ngapain aja.” Ucap Rani.
Jonatan yang berdiri di sebelah Olivia pun langsung menoleh dan menatap putrinya. Dia sentuh kedua pundak putrinya, “Olivia, Papi mau jelasin ke kamu, biar kamu nggak salah paham sama kita. Maksud papi beliin kamu apartemen ini, karena papi mau kamu bisa hidup mandiri. Bukannya papi nggak suka kamu tinggal di rumah papi bersama ibu tirimu dan juga adik tirimu, tapi papi hanya mau menjaga perasaan kalian semua. Papi cuman nggak mau ada keributan aja. Papi harap kamu paham dengan maksud papi, Liv. Lagi pula kamu kan juga sudah besar sekarang.”
Olivia terdiam dan lagi-lagi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Iya, Oliv. Yang dikatakan papi mu itu benar, dan begitu pula dengan Mommy. Mommy pun juga sama sekali nggak ada niat buruk ke kamu, Mommy hanya ingin menjaga hubungan kita saja. Biar hubungan kita berdua bisa membaik.”
“Ya, baik. Berhubung ini sudah siang, papi mau berangkat ke kantor sekarang. Kamu jaga diri kamu baik-baik ya nak.”
Olivia menunduk, ia sama sekali tak menatap wajah papinya.
“Owh, iya satu lagi. Kamu jangan khawatir soal biaya hidup kamu Liv, papi janji, papi akan tetap terus kasih kamu jatah setiap minggunya, seperti biasa. Oke, kalau gitu, papi pergi dulu.”
“Baik pi,”
“Mommy juga ya Liv, mommy harus ke kantor pagi ini. Soalnya ada meeting penting. Jadi kamu harus jaga diri baik-baik ya. Nanti mommy akan minta tolong sama securitynya biar bantu kamu naikin semua barang-barangnya.”
“Iya,” jawab Olivia singkat.
“Bye, bye putri Mommy. Emuch,”
Jonatan dan juga Rani lalu pergi keluar meninggalkan apartemen putrinya. Sementara itu, Olivia kesal, ia lalu membuang mini bagnya begitu saja di atas sofa. Dia juga duduk memeluk lutut seraya menangis di muka sofa.
Hari berikutnya, Rani kembali datang di apartemen itu. Dia ingin melihat kondisi putrinya setelah satu hari kemarin sudah mulai tidur sendiri di sana.
“Hay,” Rani menyapa putrinya setelah pintunya di buka.
“Gimana sayang, apa kamu suka tinggal di sini?”
Olivia tak mengatakan apapun.
“Pasti malam ini kamu tidur nyenyak ya di sini?”
“Biasa aja,”
“Tapi kamu suka kan tinggal di sini?”
“Ya, begitu lah. Ada apa Mommy ke sini?”
“Sebelum berangkat ke kantor, Mommy hanya mau mampir aja sih.”
Rani berniat ingin memberikan ponsel pribadi milik Olivia yang dia sita beberapa hari lalu.
“Ini, ponselmu Mommy kembalikan. Biar kamu nggak susah kalau mau butuh apa-apa.”
“Owh, ya. Makasih.”
Setidaknya barang kecil itu bisa membuat Olivia sedikit menghibur dirinya.
“Bagus deh, kalau ponselku udah dikembaliin. Setidaknya aku bisa komunikasi sama temen-temen aku. Terutama sama Renata. Udah lama banget aku nggak ketemu dia. Dan aku juga nggak tau gimana nasib kuliahku.” Batin Olivia seraya tersenyum sumringah.
Selesai memberikan ponsel itu, Rani lalu pergi dari sana.
“Okey, berhubung ponsel kamu sudah Mommy kembalikan, mommy mau pergi sekarang. Nanti Mommy akan kirimkan makanan untukmu.” Ucap Rani.
Bersambung…
__ADS_1