Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Makan kue


__ADS_3

Olivia kembali menemui Steve di ruang tamu lalu duduk di sampingnya, sedangkan Rani masih terus meluapkan kekesalannya di halaman belakang.


“Maaf ya Om, udah nunggu lama,” ucap Olivia.


“Owh, enggak kok. Santai aja.”


Tak lama di susul Rani yang juga kembali datang ke ruang tamu sambil mengulum senyum guram.


“Silahkan di minum Steve,” ujar Rani yang menyuruh Steve.


Steve lalu meneguk secangkir kopi yang ada di hadapannya.


Gluk, gluk, gluk,


“Owh, iya Steve, tolong lanjutkan ceritanya, bagaimana kamu bisa sampai bertemu Olivia?” tanya Rani dengan rasa ingin tahu yang menggelora.


“AKu lanjutkan ya, aku tadi bertemu dengan Olivia, itu karena anak kecil yang tiba-tiba datang menghampiriku dan meminta tolong,”


“Meminta tolong? Kok aku jadi semakin bingung sih?” ucap Rani mengerutkan kedua alisnya.


Saat itu Olivia memang sengaja untuk diam, dia ingin tau apa reaksi ibunya ketika mendengar kalau putrinya hampir saja celaka.


“Makannya dengerin dulu,”


“Iya, iya. Terus, terus gimana?”


“Terus anak kecil itu membawa ku ke salah satu tempat yang di mana Olivia saat itu tengah di sekap oleh kedua orang preman.” Terang Steve apa-adanya.


Seketika Rani langsung menoleh dan menatap putrinya.


“Owh, jadi tadi dia disekap?” gumam Rani dari dalam hati.


Rani atau pun Olivia sama-sama saling bergeming sendiri.


“Kok Mommy expresinya datar gitu sih? Dia seperti nggak panik aja deh denger anaknya mau mati!” batin Olivia seraya menyilangkan kedua tangannya.


Steve lalu lanjut menceritakan kejadian yang terjadi ketika dia sedang menolong Olivia.


“Astaga, sungguh Steve? Tapi kamu nggak terluka kan Steve? Ya ampun, ngeri banget sih mereka sampai mengeluarkan senjata tajam. Untung aja kamu bisa melindungi diri kamu ya, Steve.”


Steve menganggukan kepalanya, “Iya, aku tuh sering olahraga boxing kalau lagi nggak ada kegiatan gitu.”


“Ya ampun keren banget sih, pantesan aja bentuk tubuh kamu matco banget. Iya kan Liv.” Ucap Rani menoleh ke arah Olivia.

__ADS_1


Ingin rasanya Olivia marah saat itu juga, melihat sikap ibunya yang sama sekali tak tau diri. Namun, tak mungkin kemarahannya dia perlihatkan di depan Steve. Apa jadinya jika Steve melihat sikap negatif yang dimiliki Olivia, walaupun Olivia merasa dirinya tak salah.


Menahan emosi itu lah yang bisa Olivia lakukan. Dengan wajah sedikit muram, ia menganggukkan kepalanya seraya tangan kanannya menopang kepalanya.


“Hemm,”


“Eh, Oliv, kamu udah bilang terima kasih belum sama om Steve, dia kan udah nolongin kamu.”


“Nggak usah dikasih tau, aku juga udah bilang makasih. Iya kan om?”


“Iya, iya Olivia udah bilang kok. Tapi syukurlah, aku senang Olivia kedua preman itu sama sekali nggak melukai dia.”


“Makannya Olivia, lain kali kamu tuh harus hati-hati dan waspada sama keadaan sekitar. Kalau emang tempatnya di rasa nggak aman, sebaiknya kamu tuh cepet-cepet deh ninggalin tempat itu.”


Lagi dan lagi, Olivia semakin geram dengan mulut ibunya yang sama sekali tak bisa dikendalikan. Ia muak mendengar ibunya yang selalu mencari muka dengan sikap yang sok baik di depan Steve.


“Sialan! Apa-apaan sih dia tuh?! Kan yang salah dia, kenapa jadi aku yang disalahkan? Lagi pula kalau dia nggak nurunin aku di tengah jalan, mana mungkin aku bertemu dengan preman-preman itu! Pinter banget cari muka! Dasar manusia bertopeng!” gumam Olivai sambil mengerucutkan mulutnya dan juga mengerenyitkan kedua alisnya.


“Owh, iya Steve. Aku tadi bikin kue, enak banget. Bentar ya, biar aku suruh Olivia buat ambil kuenya.


“Olivia, tolong ambilkan kue di kulkas dong, biar om Steve bisa cicipi kue buatan Mommy.”


Dengan wajah heran Olivia bergeming, “Sejak kapan dia bisa bikin kue? Masak aja nggak pernah! Gila ya, nggak nyangka banget, ternyata Mommy jago sekali bersandiwara!”


Melihat anaknya tak kunjung bergerak, Rani lalu mengulang perintahnya kembali.


“Nggak usah repot-repot, Ran. Biarkan Olivia duduk. Lagi pula aku juga masih kenyang.”


“Nggak bisa gitu dong Steve, pokoknya kamu harus coba dulu kue bikinan ku, kalau enggak, aku nggak akan ngebolehin kamu balik.”


“Ya udah deh, aku cobain.”


“Olivia, sana cepetan berdiri, ambil kuenya.”


“Harus aku ya yang ambil? Lagi pula di rumah ini punya tiga pelayan. Kenapa mommy nggak suruh pelayan Mommy aja?”


“Loh, kamu kok gitu sih, Liv. Om Steve kan sudah nolongin kamu, dia juga udah nganterin kamu pulang. Jadi cepat ambilkan kuenya, ya itung-itung sebagai tanda terima kasih kamu ke dia. Bener kan Steve?”


Steve hanya melebarkan senyumnya yang berat, karena dirinya merasa canggung dengan Olivia.


“Nggak usah Olivia, aku nggak mau merepotkan kamu.”


Dengan terpaksa Olivia berdiri, ia melebarkan senyumnya lalu berjalan menuju ke dapur.

__ADS_1


“Nggak kok Om, aku akan ambilkan, sebentar ya.”


Olivia menggerutu seraya melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Tak lama ia sampai di dapur, dia membuka pintu kulkas dan mengambil kue yang Rani minta.


Akan tetapi di dalam kulkas hanya ada beberapa kue, dan kue-kue tersebut masih terbungkus rapi dengan kemasan berlabel.


Olivia langsung mendapatkan ide untuk mempermalukan ibunya di depan Steve. Sebab sedari tadi ia hanya bisa menahan kekesalannya.


“Bukankah dari tadi Mommy hanya memojokan ku dan bikin aku emosi? Hah, sekarang akan ku balas perbuatan Mommy. Lihat aja, aku yakin dia pasti akan malu sama Om Steve kalau aku memberikan kue-kue kemasan yang masih berlabel ini.” Gumam Olivia seraya tersenyum sengit.


Ia segera menata satu persatu, kue-kue itu ke atas piring. Selesai menata, ia langsung kembali berjalan menuju ke ruang tamu.


“Tuh, Oliv udah ke sini. Aku yakin, kamu pasti suka sama Kuenya Steve.” Ujar Rani.


Olivia sengaja langsung duduk di samping Steve dan segera memberikan kue itu kepadanya.


“Ini Om, silahkan ambil. Katanya sih, ini buatan Mommy. Iya kan Mom?” celetuk Olivia dengan wajah mengolok ibunya.


“I—iya, iya, silahkan ambil, ambil lah Steve.” Suruh Rani.


“Baiklah, akan ku coba.”


Diambil lah satu bungkus kue itu oleh Steve. Pertama kali melihatnya Steve berguming, “Bukannya Rani tadi bilang kalau dia yang bikin kue ini sendiri. Tapi kenapa di kemasan kue ini ada labelnya.”


Setelah mengambil satu kue itu, ia lalu memperlihatkan kemasan kue itu kepada Rani.


“Kamu punya toko kue sendiri, Ran?” Tanya Steve tergemap.


Seketika pertanyaan Steve tersebut membuat Olivia sedikit tersenyum girang, karena ia berhasil membuat ibunya malu.


“Sukurin, malu sendiri kan jadinya! Makannya jangan semena-mena kalau sama anak tuh! Anak juga butuh dihargai kalik!” batin Olivia tertawa kecil.


Pertanyaan tersebut seketika membuat Rani gugup. Ia lupa kalau kemasan kue yang dibelinya tadi masih ada labelnya. Tak mau malu, ia kemudian memberikan alasan untuk menepis rasa malunya waktu itu.


“Owh, Olivia mungkin mengambil kue yang ada labelnya. Kalau kue itu sih yang tadi aku beli. Olivia, apa di kulkas nggak kue yang lainnya?”


“Nggak ada, di kulkas cuman ada kue itu aja.” Ucap Olivia dengan nada sedikit sengak.


“Sungguh? Mungkin kue yang aku bikin udah habis dimakan sama para pelayan.”


“Ini juga enak kok. Santai aja Rani.”


“Beneran enak Steve? Apa kamu suka dengan kuenya? Kalau kamu suka habiskan aja.” Pinta Rani mengalihkan rasa malunya.

__ADS_1


 


Bersambung…


__ADS_2