Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Mona dan Dini ikut


__ADS_3

Amarah Mona semakin meledak melihat tingkah Olivia yang seakan-akan merasa tak bersalah sedikit pun. Ia kemudian meluapkan amarahnya pada Olivia saat itu juga.


“Berani sekali kamu bilang kayak gitu ya! Kamu ini sebentar lagi udah mau wisuda loh, udah mau dapet titel, tapi cara bicaramu itu nggak selaras dengan gelar mu nanti! Tuh, lihat kan pi, lihat sendiri anak kamu ini! Dia sama sekali nggak ada sopan santunnya sedikitpun ke kita.”


Olivia hanya diam sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


“Olivia, kami ke sini cuman mau kamu segera minta maaf sama Dini sekarang juga.” Pinta Jonatan dengan suara biasa.


“Minta maaf, memangnya apa yang sudah aku perbuat?”


“Alah, nggak usah sok nggak tau deh kak, kamu tadi udah nampar aku kan?!”


“Owh, itu.”


“Aku mau, cepet kamu minta maaf sama Dini sekarang!” pinta Mona.


“Kalau aku nggak mau gimana?!” celaan Olivia pada Mona.


Karena geram dengan Olivia, seketika tangan Mona melayang akan memberikan tamparan. Namun, Jonatan lebih dulu menahan tangan istrinya yang sebentar lagi akan mendarat di pipi Olivia. Ia pun juga melarang istrinya untuk melakukan hal tersebut.


“Mom, jangan lakukan itu. Biar Papi yang bicara sama Olivia!”


“Ya udah, cepetan bicara! Suruh anakmu itu minta maaf sama Dini sekarang juga!” seru Mona sambil membulatkan kelopak matanya.


“Olivia, ini papi mau bicara baik-baik sama kamu. Papi minta, kamu segera lah minta maaf sama Dini.”


“Nggak, Olivia nggak akan mau minta maaf ke dia.”


“Olivia!”


“Pi, kenapa sih, papi tuh nggak pernah sedikit aja mau dengerin penjelasan dari aku? Aku ini juga anakmu loh pi,”


“Alah, udah deh pi, nggak usah dengerin dia. Kamu tau sendiri kan, sudah berapa kali dia buat masalah? Dan menurut aku sih, percuma juga papi udah sekolahin dia sampai sarjana, nyatanya dia sama sekali nggak punya rasa sopan santun yang baik ke orang yang lebih tua darinya!”

__ADS_1


“Diam! Aku nggak bicara sama kamu! Aku lagi bicara sama ayahku sendiri, jadi aku minta kamu diam aja!” ujar Olivia seraya menatap tajam wajah Mona.


“Sudah-sudah nggak usah pada ribut. Sekarang katakan, apa yang ingin kamu jelaskan Olivia?” ucap Jonatan.


“Baiklah, aku mau bilang sama papi, kalau yang salah sebenarnya bukan aku ataupun temen aku itu,”


“Apa? Maksud kak Olivia apa nyalahin aku?! Dimana letak kesalahanku?!”


“Kamu ini gimana sih pi, udah tau anak itu yang salah, tapi kok kamu masih aja mau dengerin penjelasannya! Kalau kamu nggak bisa nyuruh anak ini untuk minta maaf ke Dini, biar aku aja yang akan paksa dia!”


“Iya, pi. Papi ini gimana sih!”


“Dini diam! Aku kan udah bilang sama kamu, kalau teman ku itu bukan wanita penggoda, dia juga nggak merebut cowok kamu sama sekali!”


“Kamu tuh mau ngasih pembelaan apa lagi sih kak? Terus apa coba dia datang berduaan sama cowokku di kedai tadi? Kalau nggak selingkuh, terus apa?!”


“Aku kasih tau ya Din, kamu tuh harusnya cari kebenaran dulu! Jangan hanya menuduh yang bukan-bukan ke temenku seperti ini! Asal kamu tau, Zack yang lebih dulu datang dan mengajak kami pergi jalan! Lagian, zack bukan lah tipe laki-laki idaman buat kami! Ngerti kamu! Dan wajar aja kalau aku tadi nampar kamu di sana! Apa yang aku lakukan itu semata-mata ingin membuatmu sadar kalau tadi kita ditonton banyak orang di kedai itu! Ngerti nggak!” pekik Olivia.


Ucapan itu seketika membuat Mona dan Dini terdiam tanpa kata.


Mona masih terus melakukan pembelaan untuk anaknya di depan Jonatan.


“Kok kamu diam aja sih pi! Kamu percaya sama ucapan anak ini?!” pekik Mona.


“Tapi Olivia, harusnya tadi kamu nggak perlu pake acara nampar pipi Dini seperti itu! Kamu kan bisa bicara baik-baik sama adikmu!”


Olivia tersenyum tipis, menarik ujung bibirnya ke atas.


“Udah aku duga, pasti papi akan melakukan pembelaan buat orang yang papi sayangi! Udah lah, aku mau istirahat, sebaiknya kalian semua cepat pergi dari sini!” ucap Olivia.


“Kenapa sih Liv, kamu nggak pernah mau menjalankan perintah dari papi! Kenapa kamu jadi anak yang keras kepala?! Papi tuh mau, kamu punya sifat seperti adikmu, sifat yang penurut, tidak membangkang sepertimu ini!”


“Aku ya aku! Aku nggak suka dibanding-bandingin sama orang lain! Sebaiknya kalian semua cepet pergi dari sini deh!”

__ADS_1


“Emang dasar anak kurang ajar ya kamu, anak yang nggak tau di untung dan nggak tau diri! Rugi papi udah besarin kamu kayak gini! Nyesel tau nggak papi punya anak kayak kamu!” Seru Jonatan.


Selepas mengatakan hal yang membuat hati Olivia terguncang lagi, ia pun lantas pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.


Begitu pula dengan Dini dan juga Mona yang mengikuti Jonatan pergi dari tempat itu.


“Lihat aja, aku akan buat hidup kamu sengsara!” kata Mona mengancam Olivia sebelum dirinya beranjak dari tempat dia berdiri.


Olivia yang mendapatkan gertaan itu pun hanya terdiam, tanpa melawan atau pun menentangnya. Tetapi setidaknya dia bisa sedikit lega, melihat mereka pergi meninggalkan apartemennya.


“Ini hal yang sering banget papi lakukan ke aku. Dia tadi bilang kalau dia menyesal punya anak seperti aku! Woe! Siapa juga yang minta di lahirin di dunia ini! Kalau sejak awal aku tau, aku bakal dapet orang tua kepar*t seperti kalian! Aku akan bilang sama Tuhan, kalau aku nggak mau punya orang tua kayak kalian berdua! Benci baget aku sama kalian! Hisk… Hisk… Hisk...”


Olivia berteriak sendiri di apartemennya meluapkan kekesalan yang dia rasakan. Namun, selang beberapa menit, suara ponselnya berdering. Ia kemudian meraih ponselnya yang masih berada di dalam mini bagnya.


Terlihat ada sebuah panggilan masuk, Steve tiba-tiba menghubungi dirinya.


Dengan suara tersengguk-sengguk Olivia memberikan salam pada Steve, “Ha—hallo om,”


“Malam Olivia,”


“Ma—malam juga om,”


“Loh, kamu lagi nangis?”


“Hisk… hisk… hisk…”


“Hey, hey, kenapa Olivia, ada apa?”


Tangisnya pecah, ia sama sekali tak bisa menceritakan soal apa yang sedang dirasakannya waktu itu.


“Olivia,” panggil Steve lirih.


“Oke, kalau gitu om ke apartemen kamu sekarang,”

__ADS_1


Dengan segera Steve mengakhiri panggilan itu. Ia lalu pergi menuju ke apartemen Olivia untuk melihat kondisinya.


Bersambung....


__ADS_2