Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Masih bersama Rani


__ADS_3

Dalam hati Rani bergumam, “Akhirnya Steve kasih kesempatan untuk aku. Udah lama banget aku ingin jadi pacar dia. Sekarang aku harus fokus buat dia percaya sama aku, biar aku bisa menikah dengannya. Udah nggak sabar pengen segera satu ranjang tidur sama dia.” Ia terus meringis kegirangan membayangkan hal-hal yang indah bersamanya.


Lain halnya dengan Steve, “Nggak tau, apa aku akan bisa mencintai wanita ini nanti? Sedangkan aku sendiri masih sulit untuk bisa dekat dan menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Semoga saja, nantinya aku nggak buat dia kecewa atas perjuangannya yang udah dia lakukan untukku.” Batin Steve yang terus bergeming dengan dirinya sendiri.


Selesai makan Steve lalu mengantarkan Rani pulang.


“Berhubung ini sudah malam, sebaiknya aku antarkan kamu pulang sekarang.”


“Baik Steve,”


Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati meja kerjanya, dia lalu meraih jas kerja yang tersampir di bahu kursi kerja miliknya itu. Ia meminta Rani untuk segera menutup tubuhnya yang terbuka.


“Pakai ini, tutup tubuhmu, aku nggak suka lihat wanita yang terlalu mengumbar bentuk tubuhnya.”


Mendengar itu Rani langsung tercengan, karena semua yang diekspektasikan tak sesuai dengan realitanya.


“Owh, jadi dia nggak suka dengan penampilanku. Pantesan aja sejak aku datang, dia nggak merespon penampilanku sama sekali, wajahnya pun datar bahkan dia hanya fokus dengan laptopnya.” Gaming Rani seraya mengenakan jas yang baru saja Steve berikan padanya.


Setelah memberikan jas kerja ke Rani, ia lalu mengambil ponsel pribadinya di atas meja kemudian dia masukkan ke saku celananya.


Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari Olivia.


“Malam om,”


Dengan segera Steve membalasnya. “Hay, malam juga Olivia.”


Tak lama Olivia pun juga membalas pesan itu lagi. “Lagi sibuk kah om?”


“Enggak, ini mau pulang. Ada apa?”


“Nggak apa-apa sih om, Olivia hanya merasa kesepian aja. Makannya aku wa Om Steve.”


“Nanti kalau om sudah sampai rumah, Om akan telepon kamu. Ini Om baru mau pulang dari kantor,”


“Baik om, Olivia tunggu ya, J”


Rani yang sedari tadi memperhatikan Steve pun berjalan mendekatinya. Tapi untung saja Steve dengan segera memadamkan ponselnya dan dengan cepat dia masukkan ke dalam kantong celana nya. Sebab dia tak ingin Rani berburuk sangka dengan putrinya.


“Siapa Steve?” tanya Rani dengan penuh rasa penasaran.


“Owh, enggak ini temen aku.”


“Kirain kamu lagi chat-chatan sama cewek. Habisnya kamu cengar cengir sama ponselmu,”


“Nggak ada apa-apa kok, ini tadi temen aku ya ngirim pesan lucu,”


“Cewek?”


“Cowok lah. Kamu udah siap?”


“Udah, ninggal nungguin kamu aja.”


“Kalau gitu kita pergi sekarang aja.”


“Ayo,”


Steve hanya nyengir lalu mengajak Rani keluar dari ruang kerjanya. Dalam perjalanan mengantarkan Rani pulang, Steve membuka pembicaraan.


“Eh iya Ran, gimana kabar Olivia?” Steve pura-pura tanya tentang keadaan putrinya, padahal sebenarnya dia sudah tau soal Olivia.


“Hem, Olivia sudah membaik kok.”


“Syukur deh kalau gitu. Sebenarnya aku masih penasaran soal tindakan Olivia waktu itu, Ran. Dia kenapa sih Ran?”


Steve sengaja memancing pembicaraan  itu karena penasaran dan rasa ingin tahunya yang terlalu tinggi.


Pertanyaan itu membuat Rani sulit untuk menelan ludahnya. “Hem, jadi kemarin Olivia itu,”


“Nggak tau kenapa aku lihat anak itu seperti depresi, apa dia baru punya masalah?” sahut Steve.


Rani lalu membuat sebuah alibi yang seolah-olah tindakan itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. “Aku nggak tau Steve, cuman dia cerita soal masalah cowoknya ke aku sih.”

__ADS_1


“Owh, berarti dia udah punya pacar?”


Rani hanya manggut-manggut.


“Mungkin dia lagi frustasi sama cowoknya kemarin,” celetuk Rani.


“Tapi kenapa dia sampai melakukan tindakan itu?”


“Mungkin karena sudah sakit hati banget sama cowoknya, Steve.”


“Kamu nggak khawatir dengan kelakuan anakmu itu?”


“Ya khawatir lah, masak enggak.”


“Terus apa kamu udah samperin cowoknya? Udah tanya ke cowoknya kenapa Olivia bisa sampai seperti itu? Coba kalau kemarin Olivia bener-bener nekat mau nusuk pisau itu ke perutnya, apa nggak berabe urusannya nanti.”


“Aku masih belum ada waktu sih, nanti aku bicara lagi sama dia. Tapi aku pasti akan datangi tuh cowoknya yang udah buat Olivia seperti itu.”


“Bagus itu, setidaknya kamu bisa buat dia sedikit nyaman. Kalau aku punya anak cewek seperti dia, aku nggak akan rela liat anakku disakiti sama orang lain, apalagi sama pacarnya. Ya, walaupun aku sempat di sakiti oleh wanita.”


“Iya Steve. Lagi pula kalau kita menikah, Olivia nanti juga bakal jadi putrimu Steve.”


Steve menoleh dan hanya melirik santai.


Sedangkan dalam hati Rani berguming, “Ngapain sih harus bicarakan Olivia pas lagi berdua gini. Apa lagi soal kemarin itu, aku kira Steve lupa dan nggak akan membicarakan hal itu lagi. Huft, nyebelin. Tapi setidaknya ada Olivia yang bisa memancing Steve, agar dia mau menikah dengan ku.”


Sampailah kuda besi itu di rumah Rani, ia lalu turun.


“Steve makasih ya udah mau nganter aku pulang,”


“Iya, sama-sama. Kalau gitu aku mau langsung balik ya.”


“Apa kamu nggak mau mampir dulu?”


“Udah malam, nggak enak sama tetangga. Lain kali aja ya Ran,”


“Owh, baiklah. Padahal aku pengen banget kamu mampir dan main di sini.”


“Baiklah Steve, kamu hati-hati di jalan ya.”


Laki-laki itu hanya melebarkan senyumnya kemudian kembali menjalankan kuda besinya lagi. Sambil mengemudi dalam perjalanan ia langsung menghubungi Olivia.


“Dia udah tidur belum ya?” ucapnya dari dalam hati seraya menekan tombol warna hijau di ponselnya.


Tak lama Olivia mengangkat panggilan masuk itu.


“Hallo om,”


“Hay, kamu belum tidur?”


“Belum, Olivia dari tadi nunggu telpon dari Om,”


“Kenapa?”


“Kangen,”


“Ha… ha… ha…”


“Loh, om Steve kok malah ketawa sih,”


“Habisnya kamu lucu, kangen kok sama om,”


“Eh serius, aku beneran om, kangen sama om,”


“Kangen apanya? Om ini kan udah tua,”


“Tua tua menggoda,” celetuk Olivia lirih.


“Ha? Apa, kamu tadi bilang apa Liv?” tanya Steve memburu.


“Hem, enggak, enggak apa-apa Om,”

__ADS_1


“Tua-tua apa? Tadi putus-putus, sepertinya sinyalnya jelek.”


“Tua, tua baik hati maksudnya om,”


“Owh, kirain apa. Ini om masih di jalan,”


“Loh, belum sampai rumah kah?”


“Belum, tadi Om tuh lagi sama Mommy kamu,”


“Mommy, emangnya habis dari mana?”


“Mommy kamu tuh tadi datang ke kantor om, terus dia bawakan makanan,”


“Owh, tapi om nggak ceritakan sama Mommy kalau om bertemu dengan ku?”


“Sama sekali nggak, seperti yang kamu pesan tadi. Om nggak cerita apa-apa ke dia, om nggak mau kamu di marahin sama dia.”


Olivia tersenyum sumringah, karena Steve mau memahami dirinya. Sambil senyum-senyum sendiri Olivia bergumam, “Seneng deh rasanya, karena om Steve bisa ngertiin aku.”


Karena Olivia tak kunjung berbicara Steve pun memanggilnya.


“Olivia, hallo,”


“Eh, iya om,”


“Kamu lagi ngapain? Kok diem aja?”


“Eh, iya maaf om, tadi lg nutup pintu kamar mandi,” Olivia memberikan alibi.


“Om,” panggilnya.


“Iya, kenapa Olivia.”


“Besok om sibuk nggak?”


“Ada apa memangnya?”


“Kalau nggak sibuk, aku mau ajak om karaoke.”


“Karaoke?”


“Iya, om.”


“Tapi, om nggak bisa nyanyi.”


“Aa, nanti Olivia yang ajarin om nyanyi.”


“Ha… Ha… Ha…”


“Loh, kok Om Steve malah ketawa sih.”


“Habisny kamu lucu,”


“Eh, Olivia serius ini om,” ujar Olivia.


“Baik-baik, besok om kasih kabar lagi.”


“Bener ya, Olivia tunggu loh,”


“Iya, ya udah, kalau gitu om matiin dulu telponnya ya. Nanti kita sambung lagi kalau om udah sampe rumah.”


“Iya deh, hati-hati ya om.”


“Iya, bye Olivia.”


“Bye juga om Steve.”


Bersambung….


 

__ADS_1


__ADS_2