Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Cerita apa adanya


__ADS_3

Olivia kemudian memberanikan dirinya membuka matanya dengan perlahan-lahan menatap layar. Sedangkan film itu sudah selesai di putar sejak tadi.


“Tuh, lihat sendirikan filmnya udah selesai, nggak ada yang perlu kamu takuti Olivia.” Tutur Steve.


Olivia meringis dan kedua pipinya berubah memerah karena malu.


“Iya, ternyata filmnya udah selesai. Jadi malu aku om,” celetuk Olivia.


“Kalau gitu sekarang kita keluar dari sini aja sekarang,”


“Baik om,”


Mereka berdua kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari gedung itu. Akan tetapi belum juga mereka melangkah menjauhi gedung itu, dari kejauhan Olivia melihat Rani yang sedang berjalan bersama dengan teman-temannya. Dengan segera ia menarik tangan Steve untuk bersembunyi di balik dinding.


“Ada apa Olivia?” Tanya Steve heran.


“Hust, diem dulu om,” Olivia meminta pria itu diam sejenak.


“Kenapa emangnya?” tanya Steve dengan wajah bingung.


Rani dan teman-temannya pun kini sudah melewati dinding tempat Olivia bersembunyi. Steve baru sadar kalau ternyata Rani sedang berada di satu gedung yang sama dengannya.


“Kok Rani ada di sini?” Ucap Steve seraya menuding Rani yang sudah melewati dinding tempat mereka bersembunyi.


“Iya, makannya itu aku langsung tarik tangan om tadi.”


“Untung aja dia nggak tau kita ada di sini. Sebaiknya kita segera tinggalkan gedung ini Olivia, biar dia nggak melihat kita berdua.”


“Iya om,”


Steve segera mengajak Olivia berjalan cepat menuju pintu keluar dari gedung tersebut.


Dalam perjalanan, Steve bertanya, “Emang Rani beneran akan marah kalau kamu jalan sama om ya, Liv?”


“Sepertinya iya sih om,”


“Kenapa jawabanmu nggak yakin gitu?”


“Ya, gimana ya om, mommy kan orangnya hiper protektif banget. Aku nggak mau aja kalau nanti Mommy mikirin aku yang enggak-enggak. Terus nanti aku lagi yang disalahkan.”


“Sejujurnya, om tuh pengen aja terang-terang sama Mommy kamu kalau kita lagi pergi berdua kayak gini.”


“Maksud om Steve,”

__ADS_1


“Maksudnya gini, om mau kita nggak usah kucing-kucingan seperti ini sama dia. Kita terbuka aja sama dia, toh kia juga nggak ada hubungan apa-apa. Dia pun juga nggak berhak marah sama kamu atau pun sama aku.”


“Kalau kita terbuka sama Mommy, aku yakin mommy bakal ngelarang aku untuk ketemu sama Om Steve lagi. Tapi bukankah om Steve ini pacarnya mommy kan?”


Steve menyengir, “Pacar? Sebenarnya, Om sama dia dekat juga belum lama, dan baru aja kemarin Mommy kamu bilang kalau dia suka sama om,”


“Ha? Serius om?”


“Serius,”


Dalam hati Olivia hanya bisa mengelus dada dengan sikap ibunya yang seakan-akan sama sekali tak memiliki harga diri.


“Ya ampun, kok mommy gitu banget ya, kayak nggak punya harga diri banget. Di mana-mana tuh cowok yang ngemis cinta sama ceweknya, lha ini kok malah kebalikan? Aneh emang, segitu nggak lakunya apa mommy tuh, malu-maluin aja.” Batin Olivia sambil menatap pemandangan luar jendela mobil.


“Ya sebenarnya nih ya Liv, sejak om berpisah sama mantan istri om itu, om tuh sama sekali nggak ada pikiran ingin punya pacar, ataupun dekat dengan wanita lagi. Nggak tau kenapa, om masih keinget dengan sakit hati yang pernah om rasakan beberapa tahun yang lalu.”


“Pasti dulu om sayang banget ya sama dia, sampe-sampe om sakit hati banget dan belum bisa move on darinya?”


“Udah, om udah bisa move on, tapi nggak tau kenapa om sama sekali nggak punya niatan buat cari cewek lagi setelah pisah darinya, nggak percaya lagi sama cinta. Udah ah, nggak usah dibahas lagi, nggak penting juga.


“Iya, ntar om sakit hati lagi. Kalau aku sih jujur aja ya om, sejak aku kenal sama om Steve, aku merasa sekarang ada yang memahamiku gitu.”


“Eh, tapi Olivia, apa kedua orang tua mu selama ini nggak ada yang peduli sama kamu?”


Olivia diam, ia hanya menggelengkan kepalanya.


Olivia diam dan hanya mengedikkan kedua bahunya.


“Tapi, biar bagaimanapun, mereka cari uang dan sibuk seperti itu, semua juga demi kamu Liv,”


Mendadak Olivia meminta Steve untuk menghentikan laju kendaraan kijang besinya ke bahu jalan tepa di sebuah taman.


“Stop om, stop,”


Steve heran, ia mengerutkan kedua alisnya.


“Kenapa Liv?”


Setelah berhenti, Olivia tiba-tiba keluar dan turun dari mobil itu. Steve pun membuntutinya dari belakang.


Olivia berjalan dengan nafas merangap.


“olive, kamu kenapa? Apa om salah bicara?”

__ADS_1


Seketika Olivia duduk di kursi panjang yang berada di taman tersebut. Ia diam, sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Steve merasa canggung, ia pun kemudian merangkul Olivia memberikan ketenangan pada wanita itu.


“Hey, ada apa denganmu Olivia? Om minta maaf kalau omongan om tadi ada yang nyakitin hati kamu.”


Olivia tetap diam, seketika ia langsung memeluk Steve lalu menangis di bagian dada bidang datar tubuhnya, bahkan ia terus menghirup aroma tubuh pria itu, aroma maskulin yang memanjakan indra penciumannya.


Steve mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap Olivia yang tiba-tiba memeluk tubuhnya, Steve pun juga mengusap lembut kepala Olivia.


“Ada apa Olivia, om merasa bersalah, kalau kamu seperti ini. Om minta maaf ya,” Steve merendah meluluhkan hati wanita itu.


Tangisan Olivia terhenti, ia lalu melepaskan wajahnya di dada bidang Steve. Berada dalam dekapan pria ini, membuat tubuh dan hatinya menghangat.


“Om tidak salah,” ucap Olivia sambil mendongak menatap Steve dengan bibir yang mencebik.


“Lalu, kenapa kamu nangis?”


Olivia perlahan melepas pelukannya, ia lalu bercerita melepaskan penat dalam hidupnya.


“Om nggak salah, aku hanya sedih jika membicarakan papi sama mommy.”


“Kenapa?”


“Sejak kecil, aku nggak pernah diperhatikan oleh mereka. Mereka berdua selalu sibuk dengan pekerjaan dan kebahagiaan mereka sendiri. Keegoisannya sudah menutup mata dan hatinya.”


“Owh, gitu.”


“Aku tuh bingung om,”


“Bingung kenapa?”


“Aku memang masih memiliki orang tua yang lengkap. Tapi sejak dulu sampai sekarang saku sama sekali belum pernah merasakan yang namanya kasih sayangnya dari orang tua, dan bahkan apapun yang aku lakukan nggak pernah di lihat sama sekali. Selama ini aku berusaha ingin menjadi anak yang baik, supaya mereka senang memiliki anak sepertiku, tapi kenyataannya, semua itu salah. Papi dan mommy selalu saja ribut di depan ku, mereka selalu berantem dan nggak pernah akur. Aku sedih om, hisk… hisk… hisk…”


Tangisannya kembali pecah, saat meluapkan isi hatinya. Steve yang masih duduk di sebelahnya pun merasa prihatin, ia kembali merangkul tubuh Olivia.


“Om percaya kamu anak yang kuat. Om minta maaf, om sama sekali nggak ada niat buat kamu menangis seperti ini.”


“Iya, aku tau om. Jujur aja, aku mulai merasa nyaman saat sedang bersama Om. Aku merasa om peduli sama aku, om perhatian sama aku, beda sama mereka berdua. Hisk… Hisk… Hisk…”


“Sudah, sudah jangan nangis lagi ya, om tau apa yang sedang kamu rasakan.”


“Makasih ya om, karena udah bisa memahamiku.” Ungkap Olivia.


Bersambung…

__ADS_1


 


 


__ADS_2