Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Bertemu Zack kembali


__ADS_3

Sambil mendekapi tubuh Olivia, pria itu bergumam, “Ternyata itu yang membuat anak ini tertekan. Sejak awal aku memang sudah curiga dengan Rani dan Jonatan. Mereka berdua terlalu cuek sama putrinya sendiri. Bahkan, aku juga heran saat Olivia bilang kalau dia dibelikan apartemen dan dia disuruh tinggal di sana sendiri. sedangkan rumah mereka masih satu wilayah, itu pun jarak yang ditempuh tidak begitu jauh. Kasihan juga anak ini.” Batinya.


Wanita itu kembali menatap Steve.


“Om,”


“Iya Olivia?”


“Aku mohon jangan tinggalkan aku ya Om,” pinta Olivia dengan wajah berkaca-kaca.


“Nggak Olivia. Pokoknya aku akan berusaha selalu ada buat kamu. Jangan sedih lagi ya,”


“Makasih ya Om,” ucap Olivia kembali memeluk Steve.


“Owh, iya. Kalau boleh tau, kenapa kamu pindah ke apartemen, padahal rumah mommy kamu itu besar dan luas?”


Olivia lalu bercerita apa adanya soal dia pindah ke apartemen. Pria yang duduk di sampingnya pun hanya bisa bergedek mengindahkan ceria Olivia. Dia seakan tak percaya kalau ternyata Rani dan Jonatan begitu tega memperlakukan putri semata wayangnya seperti itu.


“Owh, jadi gitu ceritanya kenapa kamu nekat mau bunuh diri kemarin, kamu yang sabar ya Liv.”


Dua ceria yang berbeda dengan pengakuan yang tak sama. Entah mana yang harus Steve percayai. Sebab, cerita itu sangat berlainan dengan cerita Rani.


Tapi setidaknya Olivia berhasil meyakinkan Steve, kalau apa yang dikatakannya memang benar dan sungguh-sungguh terjadi.


“Aku nggak akan memaksa om untuk percaya sama aku sepenuhnya, tapi yang jelas, aku menceritakan apa adanya tentang kejadian waktu itu. Karena aku tau, aku bukan tipe orang yang hanya untuk mengarang cerita.”


“Iya, om percaya kamu. Kita nggak usah bahas itu lagi. Sekarang senyum, dan hapus air mata ini. Om nggak mau liat kamu menangis lagi.” Ucap Steve seraya mengusap air mata Olivia yang terlanjur jatuh membasahi pipinya.


Senyuman Olivia kembali mengembang ketika ia bisa melihat wajah pria itu dengan begitu dekat. Kedua netra saling pandang memandang hingga tatapan mereka mulai menyatu. Dengan pencahayaan yang minim, ditambah suasana sunyi dan hembusan angin dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat suasana menjadi semakin romantic.


Wanita itu memejamkan kedua netranya, berharap Steve akan memberikan kecup*n indah di bibir ranumnya. Perlahan wanita itu pun mencondongkan bibirnya mendekati pria yang duduk di sebelahnya.


Tapi sayangnya, Steve sama sekali tak ingin menanggapinya, karena dia sadar akan dirinya. Mendadak pria itu pun segera beranjak dari duduknya. Olivia yang menyadarinya pun langsung mengerjapkan kedua netranya.


“Om,” ucap Olivia lirih seraya melihat Steve yang sudah berdiri di depannya.


Sambil mengamati jam yang melingkar di tangannya, pria itu lalu mengajak Olivia pulang.


“Ini sudah malam, sebaiknya om antar kamu pulang sekarang.”

__ADS_1


Olivia pun diam, ia hanya blingsatan karena ekspektasinya tak tersalurkan.


“Sial, aku jadi malu sendiri sama Om Steve, aku kira tadi dia bakal mau mencium ku,” Batin Olivia sambil memukul-mukul kecil dahinya.


Steve yang tengah berdiri membelakangi Olivia pun menoleh dan kembali mengajaknya pulang.


“Olivia, kita pulang yuk.”


“Ba—baik om,”


Kedua pipinya seketika berubah menjadi merah jambu. Dalam mobil dia terus termangu, mengingat kejadian tadi.


“Olivia,”


“Iya om,”


“Nanti om nggak bisa mampir ya,”


“Kenapa?” Tanya Olivia seraya berpalis muka.


“Biar kamu bisa langsung istirahat nanti,”


“Lain kali aja. Ini sudah malam, sebaiknya kamu segera masuk dan istirahatlah.”


“Baiklah kalau gitu, Olivia turun sekarang.”


Pria itu tersenyum manis padanya. Namun belum sempat dia menutup pintu mobil, Olivia menoleh ke arah Steve.


“Om,”


“Iya, kenapa?”


“Makasih atas waktunya ya,”


Steve lagi-lagi tersenyum, “Iya, sama-sama. Selamat malam.”


“Malam Om, hati-hati ya,”


Selepas itu, Steve kembali melajukan kendaraannya pergi meninggalkan basement.

__ADS_1


Sambil mengemudikan mobilnya, Steve bergeming sendiri, “Aku yakin anak itu pasti malu sama aku, dia juga pasti merasa canggung, karena tadi aku tidak menanggapinya sama sekali. Maaf ya Olivia, aku sengaja tak mau melakukan itu, karena aku menghargaimu sebagai seorang wanita. Dan aku pun sadar akan usia yang sudah tua.” Batin Steve.


Lain halnya dengan Olivia, sesampai di unitnya, ia pun segera membuka pintu dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


“Sebel, sebel, sebel deh! Kenapa sih, aku tadi harus berharap pengen di cium sama Om Steve, padahal dia sama sekali nggak menanggapinya. Aku jadi malu banget sumpah. (diam beberapa menit) Tapi, kenapa dia beda banget sama pria di luar sana ya. Biasanya ketika aku melakukan hal seperti itu mereka pasti akan langsung nyosor duluan. Kalau ini beda, om Steve malah cuek aja!” Aaagghhttt!”


Wanita itu lalu bangun dan bangit berdiri, ia kemudian melangkahkan kakinya mendekati balkon dan berdiri bersandar di trails.


“Apa mungkin dia ke ingat sama mantan istrinya? Atau dia malu sama umurnya, kalau dia sampai mau mencium ku? Aght! (Olivia mengacak-acak rambutnya) Nggak tau lah! Sebaiknya aku mandi aja sekarang!” gemingnya dari dalam hati.


Dengan segera ia pun pergi ke kamar mandi, lalu melepas semua pakaian yang dikenakan kemudian menyiram tubuhnya dengan air hangat.


Keesokan harinya, Olivia terburu-buru mau berangkat ke kampus. Dia berdiri di bahu jalan untuk menghadang angkutan umum, sebab waktunya sudah terlalu mepet jika harus menunggu taksi online datang. Setiap detik dia melihat jarum jam yang melingkar di tangannya supaya dia tidak terlambat berangkat ke kampus saat itu.


“Mana ini, kok nggak ada angkutan umum yang lewat sih! Udah jam segini lagi, kalau aku order taksi online, waktunya mepet banget. Mana jalanan kota macet lagi! Ayo Tuhan, please bantu aku. Jangan sampai aku terlambat berangkat ke kampusnya.” Gumam Olivia yang terus memperhatikan ujung jalan kota itu.


Namun, tak lama ada sebuah mobil hitam yang berhenti di hadapannya. Olivia penasaran dengan orang yang ada di dalam mobil tersebut.


“Mobil siapa ini? Kok berdiri di depan ku, apa papi ya? Ah sepertinya bukan, atau jangan-jangan Mommy? Tapi itu nggak mungkin juga, mana mungkin dia lewat sini.” batin Olivia yang terus memperhatikan jendela kaca mobil tersebut.


Beberapa detik kemudian, jendela mobil itu terbuka, nampak seorang pria yang duduk di ujung kursi dengan mengenakan jaket hoodie dan kacamata hitam.


“Kamu mau sampai kapan berdiri di sini terus Olivia,” Teriak Zack.


“Zack,”


“Cepat masuk!”


“Nggak usah, aku mau naik angkot aja,”


“Udah, jangan menolak! Aku tau kamu lagi buru-buru berangkat kuliah.” Pekik Zack.


Bersambung….


 


 


  

__ADS_1


 


__ADS_2