
Olivia menghentakkan langkah kakinya ketika melintasi depan kamar ibunya. Rani yang mendengar lalu keluar dari dalam kamarnya.
“Apa anak itu sudah pulang? Pergi ke mana aja dia? Kenapa jam segini baru sampai rumah.” Ucap Rani dari dalam hati.
Sementara itu Rani turun dari kamarnya, ia menapaki satu persatu anak tangga, Ia berniat untuk turun dan mengambil minum di dapur, agar bisa mengguyur tenggorokannya yang kering bagaikan ladang tandus.
Dengan memainkan ponselnya, Rani mengirim pesan ke sekretarisnya, kalau ia tak bisa menghadiri acara pesta salah satu klien investor di perusahaannya.
Salah satu asisten rumah tangga menyapa majikannya dan menghentikan langkah kakinya.
“Selamat malam Nyonya besar.”
“Hem,”
“Apa Nyonya sedang membutuhkan sesuatu?” Tanya si pelayan menundukkan kepalanya.
“Aku mau ke dapur, aku haus,” terang Rani singkat.
“Biar saya saja yang ambilkan minum untuk Nyonya besar,”
“Tak perlu, bair aku sendiri aja yang ambil minumnya. Kau lakukan pekerjaan yang lain,” mandat Rani ke pelayan itu.
“Baik Nyonya besar, kalau begitu saya permisi,”
Selepas pelayan itu pergi, kaki Rani melangkah masuk ke dalam dapur. Ia lalu mengambil sebuah gelas yang akan digunakan kemudian menuangkan air putih ke dalamnya.
Tenggorokannya terasa lega, bak seperti padang pasir yang baru saja mendapatkan guyuran air hujan yang rasanya begitu sejuk.
Namun tau-tau kedua matanya melihat ada segelas kopi hangat di samping dirinya.
“Buat siapa kopi hitam ini? Kenapa hanya di letakkan di sini saja, kenapa anak itu tak membawanya ke kamarnya dia?” geming Rani yang terus melanjutkan aktivitasnya untuk meneguk air minum yang sedang dia bawa.
Selepas di rasa cukup meneguk air minum, ia lalu memanggil salah satu pelayannya.
“Bi, bibi!”
Tak beberapa si pelayan datang.
“Iya Nyonya besar, ada apa Nyonya?” Tanya si pelayan merundukkan kepalanya.
“Ini kopinya siapa?”
“Tadi saya disuruh sama Non Olivia untuk membuat Kopi hitam ini Nyonya,”
“Terus? Kenapa nggak kamu antar ke kamar dia saja?”
“Kopi ini sebenarnya akan disajikan untuk tamu Non Olivia yang sedang duduk di ruang tamu Nyonya.”
“Ya sudah, kau antarkan kopi ini untuk tamu itu,”
__ADS_1
“Tapi Non Olivia, mengatakan kalau dirinyalah yang akan membawa kopi itu ke tamunya Nyonya,”
“Bener-bener ya tuh anak hidupnya ribet amat. Memang tamunya tuh siapa sih, kenapa dia sampai mau membawa minumnya sendiri untuk tamunya itu!” gumam Rani sewot.
“Ya udah, mana sini kopinya, biar aku saja yang antarkan minuman ini ke tamu istimewanya.” Pinta Rani kepada si pelayan untuk mengambilkan secangkir kopi itu.
Rani penasaran, dengan tamu yang datang waktu itu. Ia lalu berjalan menuju ke ruang tamu seraya membawa secangkir kopi yang siap untuk disajikan.
Mendadak ia membelalakkan kedua matanya seraya menelan kasar ludahnya. Bagaimana tidak, ia begitu sangat terkejut ketika melihat seorang tamu yang tengah duduk menyilangkan kedua kakinya.
“S—Steve,” ucapnya tersendat-sendat.
Rani masih nampak sedikit tertegun, tetapi rasa itu segera tertepis saat Steve menyapanya.
“Hey, aku baru aja mengirim pesan ke whatsapp-mu. Tapi kamu malah udah datang ke sini.” ucap Steve singkat.
Rani mengulum senyum getir lalu meletakan secangkir kopi itu diatas meja.
“Kok ka—kamu bisa ada di sini Steve?” tanya Rani heran.
Steve lalu menjelaskan dan menceritakan kepada Rani soal dia bisa datang ke rumahnya.
“Loh,apa Olivia belum cerita sama kamu?”
“Aku sama sekali belum bertemu dengan dia.”
“Owh, jadi tadi waktu aku mau membeli sesuatu di pinggir jalan, ada anak kecil yang datang menghampiriku, dia…”
“Om Steve!” pekik Olivia.
Steve dan Rani bersamaan menoleh ke samping.
“Maaf ya Om lama. Aku tadi ganti baju dulu.”
“Iya, gak apa-apa.”
“Kopinya udah di bawa ke sini sama pelayan?”
“Mommy kamu yang bawa kopinya kesini, tadi.”
“Owh, kirain pelayan,” ucap Olivia gusar seraya memandang Rani dengan gaya bicara jengkel.
Melihat sikap Olivia, Rani langsung menatap tajam ke putrinya.
“Satu anak ini bener-benernya! Tapi gimana ceritanya mereka berdua bisa bertemu. Bahkan Steve sampai mengantarkan Olivia pulang ke rumah?! Jangan-jangan dalam perjalanan Olivia sudah mengadu yang enggak enggak lagi sama Steve. Padahalkan aku sedang berusaha mendekati dia. Nggak, nggak, pokoknya aku harus bicara berdua dulu sama nih anak! Jangan sampai, usahaku kandas begitu saja hanya karena dia!” Batin Rani.
Rani segera menarik tangan Olivia dan membawanya masuk ke dalam.
“Olivia, sini. Mommy mau bicara sama kamu.”
__ADS_1
“Mau bicara apa sih Mom, di sini aja kenapa?”
“Iya Ran,” sahut Steve.
“Em, gini Steve. Ada hal penting yang ingin aku omongin sama putriku. Jadi ini sifatnya private. Kamu tunggu di sini sebentar ya,” kata Rani seraya mengulum senyumnya dan memaksa Olivia untuk ikut dengannya.
Sedangkan Olivia sudah paham betul sikap ibunya, dia yakin bahwa ibunya akan bertanya soal bagaimana dirinya bisa pulang bersama Steve.
Dengan terpaksa Olivia mengikuti keinginan ibunya.
“Sebentar ya Steve. Kamu tunggu di sini, aku mau bicara berdua sama Olivia.”
“Silahkan-silahkan.”
Rani lalu membawa Olivia menjauh dari ruang tamu, dengan maksud agar Steve tidak mendengar apa yang akan mereka bicarakan nanti. Sesampainya di halaman belakang rumah, Rani langsung bertanya kepada putrinya.
“Sekarang katakan, bagaimana kamu bisa pulang bersama Steve?” tanya Rani dengan membeliakkan kedua matanya.
Seraya berdiri santai Olivia menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Katakan Oliv! Katakan!”
Olivia terdiam sambil menyungingkan senyum sinisnya.
“Kenapa kamu hanya diam aja Oliv?!” Seru Rani yang begitu sangat penasaran.
“Tenang mommy, tenang. Jangan panik. Aku tidak seburuk yang mommy pikirkan,”
“Maksud kamu apa? Jangan sekali-kali kamu mencoba untuk menjatuhkan martabat Mommy di depan om Steve!”
“Berarti secara tidak langsung Mommy sudah bisa menilai diri Mommy sendiri kan?”
“Olivia!”
“Memang siapa yang mau menjatuhkan harga diri mommy? Aku? Mom, aku tuh masih punya perasaan, walaupun Mommy dan Papi selalu menyakiti perasaanku, dan yang perlu mommy tau, aku nggak pernah punya sifat buruk ke kalian berdua!” kata Olivia menjatuhkan kedua tangannya.
“Tapi kamu nggak mengadu ke Steve kalau Mommy yang udah nurunin kamu di jalan tadi?!”
Olivia hanya terdiam seraya membuang muka.
“Olivia! Katakan!”
“Hust! Diam! Pelankan suara Mommy! Kalau mommy terus-terusan berteriak seperti ini, suara mommy akan terdengar sampai ke depan, dan Om Steve akan tau sendiri gimana buruknya Mommy ini.”
Rani begitu geram dengan sikap putrinya yang semakin hari semakin berani. Tangannya pun juga sudah sangat mengerinyau ingin sekali menampar wajah putrinya. Namun ia hanya bisa menahan, menghantam udara meluapkan emosinya.
“Olivia! Agh!” teriak Rani.
__ADS_1
Bersambung…