Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Olivia kembali kacau


__ADS_3

Rani berjalan menuju pintu, langkahnya terhenti tepat di gawang pintu, ia mau pelayan membawakan makan malam untuk putrinya.


“Bi,”


“Iya nyonya,”


“Bawakan dia makan malam dan suruh dia makan.”


“Baik nyonya,”


Ia kembali berjalan keluar meninggalkan kamar Olivia. Sedangkan, wanita malang itu terus terdiam seraya menatap gemerlapnya langit dari jendela kamarnya.


Daya tarik pikirannya tiba-tiba muncul, hingga membuat dia harus melakukan sesuatu.


“Aku harus telepon Renata sekarang, aku yakin dia pasti akan menolongku.” Gumamnya dari dalam hati.


Olivia segera beranjak dari duduknya, ia lalu mencari ponsel pribadinya yang ia ingat telah di simpan di dalam nakas.


“Kok ponselku nggak ada? Seingatku ponsel itu aku letakan di dalam nakas.”


Dia lalu mencari ke sekeliling kamar, dan merogoh di setiap tas pribadi yang bergelantung di lemari tas miliknya. Akan tetapi, ponsel itu sama sekali tak ditemukan.


Dia berdiri di sebelah tempat tidurnya, dan mengingat-ingat betul di mana ponsel pribadinya dia letakan.


“Kok, nggak ada di kamar sih? Padahal aku sudah mencari ke semua meja dan bahkan ke semua tas-tasku?” ucapnya dari dalam hati.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu.


Tok, tok, tok,


Seorang pelayan datang seraya membawa sebuah nampan yang berisi sepiring makanan dan juga segelas susu kesukaan Olivia.


“Non, bibi bawakan makanan non, Nona Olivia dari kemarin belum makan kan? Ini bibi juga sudah memasak sayur kesukaan non Olivia.”


“Nggak, nggak bi, bawa kembali makanan itu. Aku sedang tak ingin makan apapun.”


“Tapi non, tadi nyonya besar sudah memberikan tugas untukku. Nyonya besar meminta ku untuk menyuruh non Olivia makan.”


“Bi! Bibi dengar kan apa yang aku katakan tadi? Bawa makanan itu pergi! Aku nggak mau makan,”


Seorang pelayan sama sekali tak menampik kemauan Olivia. Ia kemudian membalikan tubuhnya dan akan pergi keluar dari kamar majikannya itu.


“Tunggu bi!”


Pelayan itu seketika menoleh ke belakang.


“Iya non? Apa non Olivia berubah pikiran?”


“Nggak, nggak! Aku hanya mau tanya, apa bibi tau ponsel ku di mana?”


Si pelayan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Apa bibi yakin tak tau?”


Pelayan tersebut menundukkan kepalanya, akan tetapi gelagatnya mengatakan kalau ia tengah menyembunyikan sesuatu.


“Bi, aku tanya sekali lagi, apa bibi sungguh-sungguh tak tau di mana ponsel ku?” tanya Olivia penuh dengan tekanan.


Pelayan itu dengan lirih berkata, “Ponsel non Olivia, ada bersama Nyonya besar,”


“Apa! Jadi ponselku juga disita sama dia?”


“I—iya non,”


“Kalau begitu saya permisi non,”


Seorang pelayan itu dengan cepat segera pergi meninggalkan kamar Olivia, lalu mengunci kamar itu dari luar.


Olivia kemudian menggedor-gedor pintu itu.


“Bi, bibi! Buka pintunya bi! Bibi!” pekik Olivia sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.


Akan tetapi si pelayan itu sama sekali tak menanggapi Olivia, sebab ia takut jika nanti ia mengikuti semua permintaan Olivia, ia akan di pecat dari rumah itu.


“Maafkan saya non Olivia, saya hanya menjalankan tugas dari nyonya besar. Aku harap Non Olivia bisa memahami hal itu.” Batin si pelayan itu dari dalam hati.


Olivia hanya menangis di dalam sangkar, meratapi nasibnya yang sama sekali tak ada keberuntungan di dirinya. Semua orang bahkan sudah tak ada lagi yang berpihak dan menyayangi dirinya. Ia hanya bisa menangis, dan menangis lagi.


Semua barang-barang di kamarnya awut-awutan tak karuan. Hingga kamarnya terlihat begitu sangat berantakan.


“Kenapa lagi sih itu anak! Nggak tau apa ya, kalau aku mau istirahat!” Batin Rani yang kemudian berjalan keluar.


Ia terlihat sangat kesal, sebab waktu istirahatnya terganggu. Ia ketuk pintu kamar putrinya dengan begitu kencang.


Tok! Tok! Tok!


“Olivia! Kamu bisa diam tidak sih? Ini sudah malam! Sekarang waktunya orang untuk istirahat!”


Mendengar mommynya berdiri di balik pintu kamarnya, ia dengan segera mendekati pintu itu.


“Mom, mommy, dimana ponselku? Aku mohon kembalikan ponselku!”


“Mau ngapain? Udah deh jangan banyak ulah,!”


“Tapi Mom, aku mohon mom, kembalikan ponselku!”


“Olivia, kamu tau kan ini sudah malam! Mommy akan berikan ponselmu besok! Jadi Mommy minta kamu diam! Jangan bikin gaduh dan keributan lagi!”


“Tapi mom,”


“Sudah diam! Berhenti merengek seperti anak kecil! Pokoknya mommy nggak mau tau, kamu jangan berisik! Mengerti!”


Rani lalu kembali ke kamarnya, dan ia pun tak mendengar lagi suara gaduh dari kamar putrinya.

__ADS_1


“Sepertinya dia sudah diam! Ya, baguslah, aku bisa beristirahat lagi. Susah bener ngurus anak itu!” Ucap Rani dari dalam hatinya seraya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Hingga akhirnya dia pun bisa tenang untuk beristirahat, tanpa harus memperdulikan keadaan putrinya di dalam sana.


Keesokan harinya, Rani sengaja bangun lebih awal untuk memastikan keadaan Olivia. Dia memanggil salah satu pelayan untuk menemaninya masuk ke dalam kamar putrinya.


“Bi, bi,” panggil Rani memelankan suaranya dengan maksud agar Olivia tak bangun.


Pelayan itu pun datang menghampiri Rani.


“Sekarang buka pintu kamar Olivia dan temani aku ke sana.”


“Baik nyonya, saya akan ambilkan kuncinya dulu.”


Pelayan dengan segera pergi mengambil kunci kamar Olivia, selepas itu mereka berjalan bersama ke sana.


Cklek,


Selepas pintu itu terbuka, Rani seketika membelalakan kedua matanya. Ia tertegun melihat kondisi kamar putrinya yang begitu awut-awutan tak karuan.


“Astaga, kenapa kamarnya berantakan sekali?! Apa yang dilakukannya sampai dia mengacak-acak kamarnya seperti ini?” geming Rani dari dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rani kemudian meminta pelayannya untuk menutup kembali pintu kamar Olivia.


“Tutup dan kunci lagi pintunya, jangan biarkan dia keluar. Aku akan bawa dia ke rumah papinya hari ini jam sepuluh pagi, jadi aku minta kamu segera mengemasi barang-barang dia. Apa kamu mengerti?”


“Mengerti nyonya besar,”


“Bagus, aku mau pergi jogging, jadi segera lakukan tugas yang aku berikan. Sekarang.”


“Baik nyonya.”


Rani kemudian pergi, dan mengganti pakaian piyamanya.


Sebelum dia pergi, ia kembali memberikan sebuah pesan kepada ketiga pelayannya. Ia panggil semua pelayan untuk berkumpul di ruang tamu, agar suara Rani tak didengar oleh putrinya.


“Ayo semua kumpul disini.”


Setelah ketiga pelayan itu sudah berbaris rapi di depan Rani, ia pun langsung memberikan instruksi.


“Baik, jadi pagi ini aku mau pergi jogging. Aku mau kasih tugas ke kalian bertiga untuk mengemas semua barang-barang milik Olivia,”


“Maaf nyonya, saya mau tanya. Memangnya non Olivia mau di bawa ke mana?” Tanya bibi La, seorang pelayan tertua yang paling lama bekerja di rumah Rani.


“Hari ini aku akan bawa anak itu ke rumah papinya, jadi anak itu akan tinggal di sana. Tadi sih aku sudah kasih tugas sama bibi Rubiyem. Intinya kalian harus saling kerja sama untuk mengemasi barang Olivia dan menjaga anak itu, pokoknya jangan biarkan dia keluar atau pun melarikan diri dari rumah. Jam sepuluh semua harus sudah selesai! Mengerti?”


“Baik nyonya besar,” jawab ketiga pelayan dengan serempak.


 


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2