Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Bertemu Steve


__ADS_3

Olivia berjalan menyusuri jalanan kota. Dia sengaja tak mau pesan taksi online, karena kala itu moodnya ingin mengajak dia bergerak merasakan panasnya kota, sedangkan udara begitu sangat terik dan berpolusi bahkan juga dipenuhi dengan padatnya kendaraan yang sibuk akan aktivitasnya.


“Panas banget sih hari ini.” Batinya dari dalam hati seraya berjalan dan mengelap keringat di dahinya.


Tanpa sengaja Steve melihat Olivia yang tengah berjalan di pinggir jalan. Dengan segera, ia pun memelankan laju kendaraannya dan berhenti di sisi jalan.


Bbiimm,


Bunyi klakson menyapanya. Seketika kedua mata lentik itu menoleh kearah samping. Steve melambaikan tangannya, seakan memberikan tanda kalau dia sedang memanggil wanita yang tengah berdiri di pinggir jalan.


“Olivia,” teriak Steve.


Pria tersebut kemudian keluar dari mobil dan berjalan melangkah menghampiri Olivia.


“Om Steve,” ujar Olivia lirih dengan tatapan heran.


“Hay, kamu mau kemana? Kok jalan kaki? Mobil kamu mana?”


“Iya om, ini aku tadi baru pulang dari…”


Belum juga selesai menjelaskan, seketika Steve menarik tangan Olivia dan meminta dia untuk masuk kedalam mobilnya.


“Hari ini cuacanya panas banget, gimana kalau kita bicara di dalam mobil aja?” tutur Steve yang mendadak menarik tangan Olivia.


“Tapi om,”


Tanpa ragu, Olivia menerima ajakan Steve, mereka berdua pun kemudian berjalan mendekati mobil lalu masuk kedalam.


“Kamu mau ke mana?”


“Aku mau pulang om,”


“Pulang?”


Olivia mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kok arahnya ke sana?”


“I—iya om, aku sekarang udah nggak tinggal satu rumah lagi sama Mommy.”


“What? Why?”


Wanita itu hanya melebarkan senyumnya.


“Kenapa?”


“Em, sebenarnya papi tuh udah beliin aku satu buah unit apartemen om,”


“Apa? Serius?”


Olivia mengangguk-anggukkan kepalanya lagi, “Iya om,”


“Jadi kamu tinggal di apartemen?” tanya Steve.


“Iya om,”


“Sendiri?”


“Iya om,”


“Tapi kenapa sih, kamu harus dibelikan apartemen dan menyuruhmu untuk tinggal sendiri di sana?”


Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Padahal kan kamu dan kedua orang tua mu itu masih tinggal di satu wilayah, kenapa harus pada pisah gitu sih? Apa lagi, kamu ini cewek, apa mereka nggak takut kalau anaknya kenapa-kenapa.”


Olivia diam, ia hanya menggerakkan kedua bahunya.


“Ya udah, sekarang kamu mau ke mana, biar om anter.”

__ADS_1


“Aku mau balik ke apartemenku sih om, tapi udah nggak jauh kok dari sini.”


“Emangnya di mana?”


Olivia lalu menjelaskan letak apartemen itu pada Steve.


“Itu mah nggak deket Oliv, itu masih jauh. Om anter aja ya,”


“Tapi om,”


“Hust, om nggak lagi banyak kerjaan. Jadi santai aja. Oke.”


“Baik om, makasih sebelumnya,”


Selepas itu, Steve lalu menghidupkan mesin mobilnya dan kembali mengendarai kijang besinya untuk mengantarkan Olivia pulang.


Hanya butuh waktu dua puluh lima menit saja untuk sampai di sana.


“Ini tempatnya Liv?”


“Iya om,”


“Kamu beneran sendirian tinggal di sini?”


“Iya om,”


“Owh,”


“Ayo mampir dulu om, nanti kan ku buatkan kopi untuk om,”


“Ya, boleh. Tapi om hanya sebentar saja ya mampirnya.”


“Iya,” ucap Olivia tersenyum manis.


Entah kenapa, Olivia senang dengan kehadiran Steve di apartemennya. Dan bahkan dia bisa dengan leluasa memandang wajah Steve dengan begitu jelas.


“Owh, iya makasih ya.”


Steve menyeruput sedikit demi sedikit kopi itu.


Ssrruupp… Ssrruupp…


Selepas menyeruput kopinya, ia letakkan cangkir itu di atas meja.


“Owh, iya. Tadi pertanyaan om ada yang belum kamu jawab,”


“Yang mana om?” Tanya Olivia seraya mengerutkan kedua alisnya.


“Kenapa kamu jalan? Mobil kamu kemana?”


“Owh, mobil aku masih di bengkel om.”


“Rusak?”


“Iya,”


“Bukannya Rani punya empat buah mobil ya? Kenapa kamu nggak pakai salah satu di antaranya, dari pada kamu harus panas-panas jalan kaki seperti tadi.”


“Hem! Enggak, aku emang nggak mau pakai mobilnya Mommy, Om.”


“Owh gitu. Kenapa?”


“Ya, aku lebih nyaman sama mobilku sendiri aja.”


Padahal sejujurnya Rani sama sekali tidak memperbolehkan Olivia membawa mobil kesayangannya yang terparkir rapi di garasi rumahnya itu.


“Iya sih, Om juga gitu, punya empat mobil tetap aja hanya satu mobil yang om sayangi. Eh iya Liv, kamu udah makan belum?”


“Udah, tadi pagi om,”

__ADS_1


“Kalau sekarang?”


Olivia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sama, om juga belum. Gimana kalau kita cari makan di luar?”


“Boleh om,”


Mereka berdua kembali keluar untuk mencari makan. Tibalah mereka di sebuah resto, mereka lalu masuk dan memesan makanan yang akan mereka santap.


“Kamu mau pesan apa Olivia?”


“aku mau tiramisu sama steak salad aja om,”


Selesai memesan makanan, mereka berdua pun saling bercakap menceritakan sesuatu hal yang menarik. Hingga sampai membuat Olivia bisa tertawa lepas.


“Om itu lucu banget sih, ha… ha… ha…”


“Ya gitu Liv, cerita Om waktu masih muda. Sampai di kejar anjing, ha… ha… ha…”


“Serius om, aku nggak bisa ngebayangin kalau aku melihat kejadian itu secara langsung. Aku pasti bakal ngakak.”


“Owh, iya gimana kuliah kamu?”


“Ya gitu lah om,”


“Yang semangat ya,”


Beberapa menit kemudian, seorang waiters datang mengantarkan pesanannya. Mereka berdua lalu menyantap hidangannya saat itu juga.


Seusai makan, Steve mengantar Olivia pulang ke apartemennya, “Olivia, om lanjut aja ya, karena ini udah mau sore, om harus balik ke kantor.”


“Iya om, makasih banyak ya om,”


“Sama-sama.”


Langkah Steve mendadak berhenti ketika mendengar namanya dipanggil.


“Om Steve, tunggu.”


Ia lalu menoleh.


“Iya, kenapa, Liv?”


“Om, jangan cerita ke Mommy ya, kalau kita baru aja ketemu,” tutur Olivia.


“Tenang aja, ini rahasia kita berdua,” ujar Steve seraya mengedipkan matanya.


“Hati-hati ya Om,” ucap Olivia.


“Bye Olivia,”


“Bye Om Steve.” Sapa Olivia melambaikan tangannya.


Olivia sengaja meminta Steve untuk tidak menceritakannya pada Rani soal pertemuan dia dengan dirinya. Karena Olivia khawatir Rani akan marah besar padanya.


Dia merasa hari itu adalah hari yang menyenangkan untuk dirinya, karena dia bisa pergi berdua dengan orang yang dia kagumi. Dia juga merasa begitu sangat nyaman ketika sedang bersama Steve.


“Ya ampun, ya ampun, aku seneng banget hari ini. Nggak nyangka kalau ternyata aku bisa pergi berdua sama Om Steve. Tapi, walaupun dia sudah Om-Om, tetep masih asik kok kalau diajak bicara. Kapan ya bisa ketemu dan pergi berdua lagi kayak tadi.” gumam Olivia yang masih berdiri di balik pintu dengan wajah yang nampak sumringah.


*Dilain tempat.


Di sisi lain, tak dipungkiri. Bukan hanya Olivia saja yang merasa nyaman ketika sedang jalan berdua, Steve pun juga merasakan hal yang sama. Dia senang bisa membuat Olivia tertawa lepas seperti tadi.


Seraya mengemudikan mobilnya Steve terus terbayang-bayang dengan paras manis nan cantik yang Olivia miliki.


“Senang rasanya bisa liat Olivia senyum tadi. Berbeda saat aku ketemu dia di rumah Rani. Aku lihat dia seperti tertekan tinggal di sana? Apa yang sudah Rani lakukan sama anaknya sendiri ya? Terus kenapa Rani memilih hidup pisah dengan anaknya? Agh! Bodo amatlah, itu bukan urusan ku,” batin Steve.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2