Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Jiwa yang terguncang


__ADS_3

Seusai Olivia diikat kedua tangannya dan di masukan ke dalam kamar, kedua pelayan itu langsung mengunci pintu.


“Non, maafkan kami ya, kami hanya menjalankan perintah dari nyonya besar.” Ujar kedua pelayan tersebut.


“Pergilah,” ucap Olivia seraya duduk disisi tempat tidurnya.


Dalam hening Olivia bergumam, “Aku bagaikan tawanan di rumah ku sendiri, kenapa dia tak langsung membunuhku saja! Kenapa hanya mentalku terus yang disiksa seperti ini!”


Dalam diam, ia menangis, mengguyur pipinya dengan derasnya air mata yang mengalir.


“Kenapa hidupku jadi seperti ini! Aku lelah menjalaninya! Tuhan, ambillah nyawaku sekarang juga, untuk apa aku harus hidup berlama-lama dengan batin yang selalu tersiksa! Aku ingin kau tau Tuhan, aku mau hidup bahagia!” Ucap Olivia berbicara sendiri.


Kedua matanya nampak begitu sembab, karena ia terus menangis mengeluarkan air mata. Batin yang selalu tersiksa membuat dia hidup dalam kesengsaraan. Malam itu, ingin rasanya ia mau melarikan diri, menghindar dari siksaan yang ibunya berikan. Namun apalah daya, dia hanyalah seorang anak muda yang tak memiliki keberuntungan seperti orang pada umumnya.


***


Keesokan harinya, Rani ingin melihat keadaan putrinya di dalam sana. Ia menginjakkan kakinya melangkah menuju ke kamar Olivia.


Namun, pintu itu masih terkunci, dan ia harus menyuruh pelayan untuk mengambilkan kuncinya.


“Bi, bibi!” pekik Rani yang sudah berdiri di depan pintu kamar anaknya.


Tak lama salah satu seorang pelayan datang dengan serbet yang tersampir di pundaknya.


“Iya nyonya besar,” ucap pelayan itu yang berdiri di sebelah Rani.


“Cepat ambilkan kunci kamar ini!” pinta Rani.


Pelayan tersebut dengan segera langsung menjalankan perintahnya. Selesai mendapatkan kunci, ia lalu kembali menuju ke kamar Olivia.


“Ini Nyonya kuncinya,” ucap pelayan itu seraya menyerahkan sebuah benda kecil.


“Buka pintunya!” perintah Rani jelas.


“Baik nyonya.”


Selepas pintu terbuka, terlihat Olivia yang tengah terbaring lemas di atas tempat tidurnya, dan dengan kedua tangan yang masih di lilit oleh sebuah tali.


Bukannya panik melihat kondisi Olivia waktu itu, Rani malah terlihat biasa saja, dan dia bahkan tak memperdulikannya sama sekali.


Rani lalu menyuruh pelayannya masuk kedalam terlebih dulu, untuk memastikan kondisi Olivia. Sebab dia takut jika Olivia tiba-tiba menyerang dirinya lagi.


“Kamu masuk,” pinta Rani.


“Saya nyonya?”

__ADS_1


“Iya, cepetan sana masuk!” ucap Rani sambil melebarkan kedua kelopak matanya.


“Tapi Nyonya,”


“Udah sana kamu masuk, dan lihat keadaan dia di dalam!” pinta Rani yang masih berdiri di depan pintu.


“Ba—baik nyonya.” Ucap pelayan itu yang berdiri menundukan kepalanya.


Pelayan itu lalu berjalan masuk mendekati Olivia. Ia merasa prihatin dengan kondisi gadis muda yang malang tersebut. Bagaimana tidak, sebab penampilan Olivia waktu itu sangat lah  awut-awutan tak karuan bak seperti orang yang sedang depresi.


Pelayan itu perlahan-lahan mengguncang pundak Olivia dan berniat ingin membangunkannya.


“Non, Non Olivia. Bangun non,” Kata si pelayan itu dengan lirih.


Olivia membalikkan tubuhnya, wajahnya nampak begitu sangat pucat, kedua matanya juga terlihat sembab akibat semalam ia tak berhenti menangis.


“Non, apa Nona Olivia sakit?” tanya pelayan tersebut seraya membantu menyandarkan tubuh Olivia ke bahu tempat tidurnya.


Pelayan tersebut langsung menyentuh dahi Olivia untuk mengecek keadaanya.


“Tubuh non Olivia tidak panas, tapi non Olivia pucat sekali. Bibi ambilkan minum ya non.”


Olivia hanya terdiam membisu, ia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Dari kejauhan Rani bertanya, “Gimana? Apa dia sakit?”


Rani lalu menarik langkahnya untuk masuk ke dalam, “Ambilkan sarapan untuk dia sekarang!” pinta Rani dengan jelas.


“Baik nyonya besar,”


Pelayan itu langsung melaksanakan perintah dari Rani.


Rani  kemudian mendekat dan duduk membelakangi putrinya di sisi tempat tidur.


“Sebetulnya Mommy gak tega harus melakukan ini sama kamu. Tapi mau bagaimana lagi, mommy hanya ingin melindungi diri mommy dari tindakan konyol mu kemarin!”


Olivia hanya terdiam membisu, seraya mengatupkan kedua matanya sambil berderai air mata.


“Coba kalau tadi malam kamu tidak melakukan aksi bod*h semacam itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi denganmu, dan mommy gak akan kasih hukuman seperti ini padamu! Terus terang aja, Mommy sudah angkat tangan hidup satu rumah denganmu! Jadi Mommy akan serahkan kamu sama papimu. Supaya kamu bisa tau gimana rasanya tinggal di sana!”


Belum juga luka di hatinya sembuh akibat perbuatan Rani, dan lagi-lagi dia harus menerima ucapan tajam hingga membuat batinnya kembali hancur berkeping-keping setelah mendengarkan ucapan ibunya tadi.


Akan tetapi, pagi itu dia benar-benar tak mau berdebat apapun kepada ibunya, dia hanya membisu dan diam seribu bahasa. Sebab dia merasa tubuhnya begitu sangat lemas, mungkin akibat menangis semalaman suntuk dan juga dia sudah terlalu banyak beban hati yang di pikulnya selama ini.


“Pagi ini Mommy akan pergi ke rumah papi kamu. Mommy akan bilang ke papi mu biar kamu tinggal bersama dia dan juga ibu tirimu disana!”

__ADS_1


Lakrimasi yang keluar dari kelopak mata indahnya terus bercucuran keluar. Bahkan sebuah lisan tak sanggup lagi untuk menentang perkataan ibunya.


“Mommy yakin, setelah kamu tinggal bersama mereka, kamu akan bisa membedakan enak hidup bebas bersama Mommy atau papi kamu.”


Tak lama, si pelayan datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan segelas susu hangat untuk Olivia.


 “Suruh dia makan,”


“Baik nyonya besar,”


“Selesai makan, suruh dia mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lalu jangan biarkan dia keluar dari kamar ini terus kunci pintu, dan jangan ada yang untuk membuka pintu kamarnya kecuali perintah dari ku! Mengerti!” Ucap Rani tegas.


“Baik Nyonya,” jawab Pelayan seraya mengganggut-anggut kepalanya.


Rani bangkit berdiri, ia lalu berjalan keluar setelah pelayan itu datang. Dan si pelayan tersebut segera memberikan sepiring makanan setelah dia membuka ikatan tali yang melilit di kedua tangan Olivia.


“Non, silahkan sarapan dulu,”


Olivia termangu dengan tatapan kosong seraya mengelus-elus tangannya.


“Biar bibi, bantu suapin ya Non,” ucap si pelayan menawarkan diri.


Ketika pelayan itu akan menyuapi nasi ke mulut Olivia, tiba-tiba ia langsung menerjang tangan pelayan itu, hingga membuat semua makan jatuh berserakan di lantai.


Dengan wajah tercengang si pelayan berkata, “Non, kenapa Non Olivia lakukan ini?”


“Aku nggak mau makan!” ucap Olivia singkat.


“Tapi, kalau Non Olivia nggak mau makan, nanti non Olivia pasti akan jatuh sakit.”


“Biarkan saja aku sakit bi, itu akan lebih baik,”


“Jangan begitu non, atau setidaknya non Olivia minum susunya ya. Ini masih hangat loh non.”


Pelayan itu terus memaksa Olivia untuk mengisi perutnya, akan tetapi, Olivia tetap tidak mau.


“Nggak bi, aku gak haus,”


“Tapi Non,”


“Aku mau mandi sekarang bi, jadi tolong siapkan semuanya,”


“Tapi non,” ucap si pelayan dengan wajah bingung.


“Tenanglah, aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin mandi.” Ujar Olivia meyakinkan pelayan itu.

__ADS_1


 


Bersambung….


__ADS_2