
Sambil membuka buku menu, Rani bergeming, “Apa yang sedang Steve pikirkan? Memangnya dia tadi bertemu dengan siapa ya?”
Selesai memesan makanan, sedari tadi Steve pun sibuk dengan gadget-nya. Dia hanya diam tanpa mengucapkan apapun.
“Sayang,” ucap Rani memanggil kekasihnya.
Tanpa menatap wajahnya Steve pun menjawab, “Iya kenapa?”
“Habis ini kamu mau balik ke kantor?” tanya Rani membuka percakapan.
“Iya,”
“Yah, padahal aku mau ajak kamu ketemu sama temen-temen aku.”
“Lain kali aja. aku lagi banyak pekerjaan.” terang Steve yang terus mengalihkan pandangannya.
“Aaa, ayo lah.” Rengek Rani manja.
“Ran, aku nggak suka ya kalau kamu terlalu memaksa aku untuk melakukan semua kemauan mu! Aku punya kesibukan sendiri. Jadi tolong jangan paksa aku! Karena aku nggak suka di paksa!” seru Steve dengan nada sedikit tinggi.
Ucapan itu sontak membuat Rani merasa kesal.
“Kamu tuh kenapa sih, Steve? Lagian siapa yang mau maksa kamu buat ikut? Kok malah jadi sewot kayak gini!” seru Rani.
“Kalau kamu nggak mau ikut ya udah, bilang aja nggak mau, nggak perlu cetus kayak gitu jawabannya! Bikin kesel aja.” Tegas Rani sambil memanyunkan bibirnya.
“Maaf Ran, aku lagi banyak pikiran,”
“Sejak tadi, aku perhatikan kamu tuh berbeda, nggak seperti biasanya, emang kamu tadi ketemu sama siapa? Siapa temen kamu itu? Apa dia mantan istrimu?” ceplos Rani.
“Udah nggak usah dibahas.” Pinta Steve.
Dan dalam hati Rani beranggapan, kalau Steve pasti baru saja bertemu dengan mantan istrinya.
__ADS_1
“Aku yakin, nanti pasti dia bertemu dengan mantan istrinya! Soalnya dari tadi sewo banget bicaranya.”
Tak lama seorang pelayan datang mengantarkan makanan yang sudah di pesannya.
“Silahkan nikmati hidangannya Tuan, dan Nyonya,”
“Makasih ya mas,” jawab Rani.
“Makasih,” ucap Steve.
Selesai mengantarkan makanan-makanan itu, pelayan tersebut pun segera pergi. Rani lalu melahap makanan yang ada di hadapannya, namun berbeda dengan Steve. Ia hanya memainkan sendok dan garpu yang sedang dipegangnya.
Dan Rani pun bertanya, “Steve, kenapa kamu nggak makan?”
“Sebenarnya aku nggak lapar sih,”
Rani kemudian meletakan sendok dan garpunya, “Nggak laper? Terus ngapain kamu ajak aku makan siang?”
Hal itu kembali membuat Rani semakin kesal. Ia terheran dengan sikap Steve yang sedari tadi membuat moodnya berantakan.
“Kamu itu sebenarnya kenapa sih! Kok hari ini nyebelin banget! Kalau nggak niat ajak aku makan siang, ngapain kamu suruh aku datang ke sini! Emangnya kamu habis ketemu siapa sih?! Dan aku perhatikan dari tadi perkataanmu tuh ngeselin banget tau nggak!” seru Rani.
“Apa kamu habis ketemu sama mantan istrimu?” lanjut Rani.
Tanpa mengatakan apapun pria itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia lalu memanggil seorang pelayan.
“Mas, mas, sini sebentar,”
Seorang pelayan tersebut kemudian dengan segera berjalan mendekati meja Steve.
“Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”
Dan Steve pun langung merogoh saku belakang celananya untuk mengambil sebuah dompet. Dia keluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
__ADS_1
“Aku bayar bonnya sekarang, sisanya ambil aja!” ucap Steve seraya menyerahkan uang itu ke si pelayan tersebut.
“Baik Tuan,”
Setelah memberikan uang ke pelayan, ia pun kemudian berjalan pergi meninggalkan mejanya.
Rani dibuat tercengang dengan aksi dari kekasihnya. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan nafas yang mendongkol.
“Ini orang sinting apa gila sih! Aku lagi marah-marah malah main pergi aja!” geming Rani yang kemudian menyusul langkah kaki Steve.
Rani berusaha menghentikan kekasihnya sambil berlari pelan.
“Steve tunggu Steve. Steve!” teriak Rani.
Tangan Rani berhasil menarik lengan jas kerja milik pria itu, sehingga membuat kakinya berhenti seketika.
“Kamu mau kemana sih?”
“Aku mau ke kantor, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan.” Jawab Steve singkat tanpa menatap wanita itu.
“Aku tuh heran ya sama kamu, ditanya kenapa, tiba-tiba marah nggak jelas kayak gini, terus habis itu tau-tau bayar bon ke pelayan dan pergi ninggalin aku gitu aja! Mau kamu apa sih?!”
“Kalau mau marah, silahkan! Aku pergi!”
“Steve, aku lagi ngomong Steve! Tunggu!”
“Udahlah Ran, jangan merengek seperti anak kecil! Kamu sebaiknya pulang sekarang!”
Dengan segera Steve pun langsung masuk kedalam mobilnya setelah supir pribadinya itu membukakan pintu. Rani pun meluapkan kekesalannya dengan menghentakkan kakinya berulang-ulang kali di lantai.
“Sumpah dia ngeselin banget! Benci aku! Benci! Kalau bukan karena cinta, udah aku maki-maki dari tadi tuh orang! Baru kali ini aku ditinggalin cowok, dan baru kali ini juga aku mengemis cinta sama laki-laki! Iiihh, sebel, sebel, sebel!” rengek Rani dengan meruncingkan mulutnya.
Bersambung….
__ADS_1