Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Kurang greget


__ADS_3

Sedangkan Olivia, menghela nafas panjangnya untuk mengurangi rasa tidak percaya dirinya di hadapan Steve nanti.


Dirinya pun terus bergeming, “Aku harus bisa, aku nggak boleh gugup di depan om Steve nanti. Aku bisa, aku yakin aku bisa melakukannya. Ayo Olivia, jangan gugup.” batin Olivia yang terus menyemangati dirinya sendiri.


Selepas itu, ia pun membuntuti Arka yang tengah berjalan masuk kedalam ruangan. Dan kebetulan posisi kursi yang Olivia tempati itu beradu pandang dengan Steve, pandangan mereka saling berjumpa walau ada dua meja yang memberikan jarak kepada mereka.


Steve terus mencuri-curi pandang ke Olivia. Ia seakan tak mau kehilangan kesempatan berharga ini. Sebab dirinya merasa sudah begitu lama tak berjumpa dengan gadis muda itu.


Satu persatu investor datang memenuhi kursi yang sudah disediakan, begitu pula dengan bos, pemilik perusahaan tempat Olivia bekerja.


Beberapa menit kemudian presentasi itu pun dimulai. Semua pandangan para investor yang telah hadir kini hanya fokus menatap ke sebuah layar lebar untuk mendengarkan presentasi yang akan dijelaskan oleh Olivia. Namun berbeda dengan Steve, pandangan pria ini terus fokus memandangi wajah Olivia yang tengah menyampaikan presentasinya. Ia terus mengulum senyumannya seraya bersandar di bahu kursi miliknya.


Hingga hal tersebut membuat Olivia merasa tak nyaman, karena ia merasa sedari tadi Steve terus memandanginya sehingga membuatnya dirinya gugup dalam menyampaikan materi itu.


Berapa menit kemudian, meeting itu pun telah selesai. Bos dari perusahaan tempat Olivia bekerja itu pun bertanya, “Bagaimana tuan-tuan apakah ada yang mau bergabung dengan perusahaan kami setelah mendengar beberapa materi yang disampaikan oleh karyawan saya ini?” tanya pemilik perusahaan tempat Olivia bekerja.


Hampir sepuluh menit lamanya, semua terdiam bukannya memberikan argumen tapi mereka malah saling lirik melirik satu sama lain serta saling berdiskusi dengan kawan yang ada di sebelahnya. Akan tetapi berbeda dengan Steve, dia justru segera mengacung dan mengambil kontrak kerjasamanya tanpa mempertimbangankannya lagi. Karen dia percaya bahwa Olivia pasti bisa melakukannya. Steve pun tau, bahwa tidak mudah untuk membuat materi yang baru saja di sampaikan oleh gadis muda itu.


“Hey Steve, kenapa kamu tidak mempertimbangkan lebih dalam lagi keputusanmu itu, kamu nggak takut kalau perusahaan mu merugi?” ucap salah satu investor yang duduk di sebelahnya.


“Kalau aku sih nggak perlu mempertimbangkan lagi, karena aku sudah puas dengan persentase yang dia sampaikan.” Jawab Steve.


“Ya, kalau aku sendiri sih nggak yakin banget bisa bergabung dengan perusahaan ini. Dan aku nggak yakin kalau perusahaan ku akan berkembang pesat seperti yang sudah dijanjikan. Sebab, dari cara penyampaian materinya saja masih sedikit kurang greget. Tapi untuk iklannya saya suka.” Celetuk salah satu investor lagi.


“kalau itu sih terserah kalian semua, kalian yang datang di sini punya keputusan dan juga punya penilaian masing-masing. Tapi menurut saya, saya suka dengan penyampaian karyawan dari PT. Cemerlang, maka dari itu, saya menerima dengan baik kontrak kerjasamanya.”


Bos dari perusahaan tempat Olivia bekerja pun kemudian angkat bicara, “Baik, kalau begitu, saya akan menutup meeting hari ini. Dan untuk Tuan Steve yang kami hormati, selesai ini kami akan berikan beberapa dokumen penting untuk di tanda tangani. Saya selaku direktur utama perusahan akan terus mempertahankan kepercayaan dari Tuan Steve. Kami juga berjanji akan melakukan yang terbaik untuk memajukan perusahaan Tuan, Karena tuan sudah memberikan kesempatan bagi kami. Sekali lagi terima kasih untuk tuan Steve dan juga para investor lainnya yang sudah mau hadir di sini.”


Setelah meeting itu selesai, satu persatu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu pula dengan Arka dan juga Olivia.

__ADS_1


Sambil mencangking tas laptopnya, Arka mengajak Olivia kembali ke kantor. “Ayo balik,” ajak Arka.


“Iya bentar,” jawab Olivia seraya merapikan dokumen-dokumen yang ada di atas mejanya.


Mereka berdua pun kemudian berjalan keluar melangkah menuju ke tempat parkir. Dalam perjalanan kembali ke kantor Olivia bertanya, “Arka,”


“Hemmm,” jawab Arka dengan pandangan yang terus fokus pada jalanan kota.


“Menurut kamu gimana presentasi ku tadi?”


“Kalau menurutku sih lumayan, buat orang dengan tahap training seperti kamu ini,”


“Serius?”


“Iya,”


“Tapi banyak yang bilang kalau cara penyampaian ku kurang greget.”


“Ya, terus terang aja. Soalnya ini adalah hal pertama kalinya buat aku, aku kan jadi nggak percaya diri.”


“Sudahlah, nggak usah kamu pikirkan, yang penting acara meeting kita sudah selesai. Kalau menurut aku sih kamu udah bagus, nyatanya Tuan Steve langsung mau bekerjasama dengan perusahaan kita.”


Seketika Olivia diam tanpa suara, akan tetapi dirinya hanya bisa bergeming di dalam hati, “Aku yakin, dia sengaja melakukan itu karena ingin  membantuku, dan dia pasti nggak mau melihat aku malu di depan para kerabat bisnisnya.” Batin Olivia.


Sambil mengemudikan mobilnya, Arka bertanya, “Eh Olivia,”


“Iya, kenapa?”


“Aku lihat kamu tadi gugup banget,”

__ADS_1


“Ya iyalah, gimana aku nggak gugup, lagi pula ini kan hal yang baru buat aku, Arka. Aku takut kalau aku mengecewakan kamu dan bos.”


“Sungguh? Apa hanya itu alasannya?”


Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah heran.


“Terus, kalau boleh tau, apa hubunganmu dengan Om Steve?”


“kenapa kamu tanya begitu?”


“Ya aku cuman pengen tau aja sih,”


Sesungguhnya Arka sudah menduga kalau Olivia pernah memiliki hubungan dengan om Steve.


“Ngapain sih tanya-tanya gitu?” seru Olivia sambil mencebikkan mulutnya.


“Soalnya dari tadi aku perhatikan tatapan om Steve itu berbeda ketika melihat kamu. Apa dia pernah suka sama kamu, Liv?” tanya Arka polos.


“Kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu?”


“Olivia, aku kasih tau ya, aku ini kan cowok, jadi aku bisa menilai gimana seorang cowok itu suka sama lawan jenisnya. Tapi, semoga aja dugaan ku ini salah. Masa iya, om Steve suka sama gadis muda seperti kamu ini? Aku rasa itu sangat tidak mungkin, sebab jarak umur di antara kalian kan sangat jauh berbeda.”


“Nih ya, aku kasih tau kamu Arka, orang itu nggak akan memandang umur kalau dia bener-bener menyukai kekasihnya. Lagi pula juga banyak kan, orang-orang di luar sana yang memiliki hubungan serius dengan kekasihnya walau umur mereka sangat jauh berbeda. Lama-lama kamu tuh kayak dukun ya, suka banget menduga-duga soal urusan orang.” Ujar Olivia.


Arka pun hanya menyunggingkan senyumnya dengan pandangan yang terus fokus ke jalanan kota.


Sebenarnya Olivia ingin sekali marah ketika Arka melontarkan perkataan seperti tadi. Dia seakan tidak terima dengan spekulasi Arka, karena dia sangat benci dengan orang yang suka ikut campur dengan urusan pribadinya.


Bersambung…

__ADS_1


 


__ADS_2