
Anak jalanan itu tak lupa mengucapkan terimakasih kepada mereka.
“Terima kasih banyak kak, terima kasih juga paman.” Ucap anak itu menundukkan kepala.
Tangan Olivia mendadak menjamah kepala anak jalanan tersebut, ia lalu mengusapnya dengan lembut.
“Sama-sama dek, kakak juga berterima kasih sekali sama kamu.”
“Kalau begitu saya permisi dulu ya kak.” Pamit anak itu yang kemudian melangkah pergi dari hadapan mereka berdua.
“Kamu hati-hati ya de,” ucap Olivia melambai-lambaikan tangannya seraya memperhatikan dia pergi.
Steve mengajak Olivia untuk meninggalkan tempat tersebut saat itu juga.
“Kalau begitu, mari Om akan antarkan kamu pulang, Liv.”
“I—iya Om.” Ucap Olivia grogi.
“Tapi, mobilku masih ada di jalan raya sana. Jadi kita jalan sedikit dulu ya.”
“Baik Om.”
Tak lama, mereka berdua pun sampai tepat di depan mobil Steve. Steve menyuruh Olivia untuk segera naik ke mobilnya.
Dalam perjalanan mengantarkan Olivia pulang, Steve bertanya, “Olivia,”
“Iya Om,”
Olivia menoleh ke samping kanan menatap Steve yang tengah mengendarai mobilnya.
“Gimana keadaanmu, apa preman-preman itu sudah melukaimu?”
“Untung aja mereka belum melukaiku sama sekali Om, mereka hanya menyekap mulutku dengan kain.”
“Syukurlah kalau gitu, yang penting mereka tidak melukaimu sama sekali dan dirimu baik-baik aja.”
Olivia hanya mengulumkan senyumnya, seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, wajahnya terlihat sedikit canggung karena ia sedang berada di satu mobil dengan laki-laki yang hampir saja akan mencuri hatinya.
“Tapi, bagaimana kamu bisa disekap oleh mereka, Liv? Terus dimana Mommy mu? Kenapa kamu pulang sendiri?”
“I—iya, tadi pulang dari resto, aku memang minta Mommy untuk di turunkan di jalan Om.”
“Kenapa?”
“Soalnya aku mau pergi sama teman-temanku,”
“Terus dimana teman-temanmu itu?”
“Ya, itu tadi om, yang datang duluan malah preman-preman itu.” keluh Olivia.
“Emm, gitu. Tapi kenapa teman-temanmu itu nggak kamu suruh jemput di rumah aja? Sedangkan ini sudah sore, lapi pula sangat bahaya banget jika gadis macam kau itu berdiri di pinggir jalan sendirian.”
Mendengar itu, Olivia merasa ada yang peduli dengan dirinya walau hanya dengan sebuah omongan.
“Astaga, orang ini udah ganteng, baik, macho, dan bahkan dia sangat peduli sekali dengan ku. Gaya bicaranya begitu hangat dan enak untuk didengar. Aku rasanya seneng banget, walaupun dia hanya cuman bertanya seperti itu. Nggak seperti Papi dan Mommy yang suka nya bikin aku sedih terus.” Gumam Olivia menatap wajah Steve dari sebelah.
Steve mengamati Olivia yang sedari tadi hanya melamun menatap dirinya. Ia kemudian mengayunkan salah satu tangannya di depan wajah Olivia.
“Hey, Oliv, Oliv,”
Seketika menungan Olivia buyar saat pria itu membuat dirinya terbangun dari lamunannya.
__ADS_1
“Eh, iya gimana Om tadi?”
“Lagi mikirin apa sih? Di ajak bicara kok malah melamun?” Tanya Steve.
Olivia meringis, ia pun bingung akan menjawab apa pertanyaan dari Steve tadi.
“Olivia, Om tanya, kenapa kamu nggak minta di jemput di rumah aja?” Steve kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Hem, itu aku tadi, apa ya Om? Aku bingung ah,” Ucap Olivia buncah dengan nada manja.
Steve tertawa kecil mendengar Olivia.
“Ha… Ha… Ha… Kamu itu lucu sekali sih.”
“Kok lucu om?”
“Habis di tanya kenapa malah bingung mau jawab apa,”
Olivia meringis dan bergidik kikuk seraya tersenyum malu hingga membuat kedua pipinya memerah jambu.
“Terus sekarang, Mommy kamu di mana? Apa dia ada di rumah?”
“Sudah sepertinya om,”
“Kalau gitu Om akan langsung antarkan kamu pulang aja ya.”
“Iya om, makasih banyak ya.”
“Sama-sama. Lain kali, kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan ya bilang ke Om.”
“Baik Om, tapi kalau mau bilang ke Om Steve gimana caranya? Olivia kan nggak punya nomor teleponnya Om,”
“Owh iya, bentar Om akan ambil ponsel dulu ya.”
“Astaga Oliv, handphoneku jatuh.”
“Biar aku aja yang ambilkan Om,”
Steve dengan segera memelankan laju kendaraannya dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Tak sengaja Steve melihat dua gundukan padat yang indah milik Olivia ketika wanita itu sedang membungkukan badannya.
Dua gunung itu nampak terlihat indah dan menawan, membuat Steve jadi salah tingkah. Setelah Olivia berhasil meraih ponsel milik Steve, ia serahkan ponsel itu kepada pria yang tengah duduk di sebelahnya.
“Ini Om,” ucap Olivia sambil tersenyum manis lalu menyodorkan ponsel itu padanya.
“Iya, makasih.”
Setelah ponselnya dia terima, ia kemudian mengetik nomor telepon Olivia.
“Berapa nomer telepon kamu, Liv?”
“Kosong delapan bla, bla, bla,”
Selesai mengetik nomor telepon, Steve memperlihatkan pada Olivia untuk memeriksa nomor tersebut sudah benar atau belum.
“Olivia, coba lihat, apa nomermu ini sudah benar?”
Steve mendekatkan tubuhnya ke diri Olivia. Lagi-lagi kedua gunung istimewa itu terlihat, hingga membuat Steve harus menelan kasar ludahnya.
“Kosong, delapan, bla, bla, bla,” guming Olivia mencocokan nomornya sendiri.
Sehingga membuat pandangan Steve tak bisa fokus dengan ponselnya. Kedua matanya terasa berat untuk berpaling dari pandangan spesial itu.
__ADS_1
Namun, Olivia membuyarkan pandangan itu begitu saja.
“Om,”
“Eh, iya. Gimana Liv, apa ini sudah benar?”
“Sudah Om, coba Om Steve kirim pesan ke whatsapp-ku. Nanti kalau udah sampai rumah aku cas ponsel ku dulu.”
“Baiklah.”
Selepas menyimpan nomor telepon Olivia, mereka lalu melanjutkan perjalanannya.
Olivia sengaja berkata bohong kepada Steve, walau dia membenci ibunya, dia tetap tak mau menjatuhkan ibunya di mata kekasihnya. Biar bagaimanapun juga, Rani tetaplah ibu yang melahirkan dirinya.
“Kalau Om Steve tau sifat Mommy yang sebenarnya, aku yakin dia bakal ilfil sama Mommy. Biar pun Mommy udah keterlaluan banget sama aku, aku nggak mau menjelek-jelekan dia di mata kekasihnya.” Batin Olivia menatap luar jendela.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai, Olivia lalu turun dari mobil Steve.
“Mampir dulu Om, biar Olivia buatkan kopi.”
“Owh, boleh juga sih.”
Olivia dan juga Steve melangkahkan kakinya bersamaan masuk kedalam rumah.
“Silahkan duduk dulu Om, aku mau buatkan minum sebentar.”
“Nggak usah repot-repot Oliv.”
“Santai aja om, aku nggak merasa direpotkan kok.” Ucap Olivia mengulum senyumnya.
“Sebentar ya Om,”
“Iya, iya.”
Olivia pergi menuju ke dapur, ia meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan secangkir kopi.
“Bi, bibi.”
“Iya non,”
“Bi, tolong buatkan kopi untuk om Steve ya. Aku mau ganti pakaian dulu. Lihat, bajuku kotor banget gara-gara kena cipratan air kubangan tadi di jalan.”
“Baik non,”
“Owh, iya bi, kalau udah selesai, taruh di situ aja. Biar aku yang antarkan minuman itu ke Om Steve.”
“Baik non,”
Selepas itu, Olivia segera pergi menuju ke kamarnya untuk menganti pakaiannya yang nampak kotor.
Bersambung….
__ADS_1