Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Mona


__ADS_3

“Mau ke mana kamu?!” Tanya Jonatan.


“Mau cari anakku lah! Ngapain lama-lama ngabisin waktu berdua sama kamu di sini! Najis!”


“Hey, kau bilang najis, tapi nyatanya dulu doyan!”


Rani bergerak pergi meninggalkan rumah sakit dengan dibuntuti oleh Jonatan. Seraya berjalan, Rani mengambil ponsel pribadinya dari dalam tas. Ia kemudian menghubungi putrinya. Namun sayang, nomor ponsel Olivia sama sekali tak dapat dihubungi.


“Aduh, kamu dimana sih nak? Kenapa kamu sama sekali nggak kasih kabar ke mommy kalau kamu sudah dibolehkan pulang sama dokter.” Ucap Rani dari dalam hati yang terus melangkahkan kakinya keluar.


Rani bingung harus kemana ia mencari putrinya sekarang. Sebab, ia sama sekali tidak mengenal teman-teman yang dekat dengan anaknya.


“Gimana? Apa Olivia mengangkat telepon mu?” Tanya Jonatan.


Rani menggelengkan kepalanya.


“Coba kamu hubungi teman-teman yang dekat dengan Olivia. Mungkin salah satu diantara mereka ada yang tau di mana Olivia sekarang.”


“Aku nggak tau siapa teman-teman yang dekat dengan Olivia dan aku nggak punya nomor teleponnya.”  Jawab singkat Rani membuang muka.


“Loh, gimana sih? Kamu itu kan ibunya, masak nggak tau siapa teman-teman dekat Olivia!” pekik Jonatan seraya berkacak pinggang.


“Eh, emang kamu pikir pekerjaan ku cuman ngurusin Olivia doang, terus kamu pikir aku harus selalu 24 jam ada untuk Olivia gitu?! Hello, aku tuh bukan wanita yang kerjaannya hanya duduk, terus duit cair sendiri ye, aku ini wanita karier, banyak yang harus aku urus! Jadi mendingan kamu diem aja deh?! Jangan menambah kepanikan. Bisa kan?! Bantu cari ide biar Olivia bisa cepat ditemukan atau gimana kek! Malah berkicau terus seperti burung beo aja dari tadi!”


“Maka dari itu, ini aku juga sedang berusaha mencari cara untuk menemukan putriku, dan menurutku, jika kamu tau salah satu saja alamat rumah tempat tinggal teman yang dekat dengan Olivia kita pasti akan menemukannya.”


“Tapi aku nggak tau, siapa teman-teman Olivia dan di mana tempat tinggal mereka!”


“Makannya aku heran, kamu dan Olivia itu tinggal satu rumah, Olivia hidup bersama kamu sejak kecil! Masak kamu sebagai orang tua nya sama sekali tak mengenal satu pun teman dekat putrimu sendiri sih?! Keterlaluan kan itu namanya!”


“Aght! Berisik! Sebaiknya kamu cepetan pergi dan suruh anak buahmu mencari putri kita!” pinta Rani mengusir Jonatan dari hadapannya.


Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Jonatan langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke mobil dengan wajah kesal dan cemas.


Begitu pula dengan Rani yang kemudian kembali pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, dia lemparkan tasnya begitu saja di atas sofa, dengan segera, dia ambil ponselnya untuk menghubungi Olivia lagi. Akan tetapi, nomor ponsel Olivia masih belum aktif sampai saat itu juga.


“Astaga, dimana sih kamu sekarang Oliv, mommy sangat mencemaskanmu nak. Pulanglah.” Batin Rani dengan bentuk wajah cemas.


“Tapi memang ada benernya juga yang di katakan Jonatan tadi, bagaimana bisa aku sampai tak tau siapa teman-teman yang dekat dengan putriku sendiri.” Lanjutnya.


Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara panggilan masuk di ponselnya, dia dengan cepat melihat dan menerima panggilan masuk tersebut. Dia mengira panggilan masuk itu adalah putrinya yang sedang dia cari.


“Ha—hallo Olivia, kamu dimana sih nak? Kenapa kamu belum sampai rumah, dan kenapa kamu sama sekali tak memberikan kabar apapun sama mommy sih? Mommy sangat khawatir sayang.”


“Hallo Ran. Ini aku Beni?”


“Beni?”


“Yea,”

__ADS_1


“Owh, aku pikir tadi anakku.”


“Anakmu?”


“Iya, kenapa? Ada apa kamu telepon aku?”


“Sayang, aku hanya ingin mengingatkan sama kamu, jangan lupa ya, nanti malam kita bersenang-senang lagi. Entah kenapa, aku begitu sangat merindukanmu.”


“Aaaa Beni, baiklah. Ntar kamu jemput aku ya.” Jawab Rani manja.


“Baik baby.”


Tot, tot, tot,


Begitulah Rani, setelah dia mendapatkan panggilan dari sang kekasih atau laki-laki yang bisa membuatnya senang, ia selalu menghiraukan kesulitannya. Walau putri semata wayangnya pun masih belum ditemukan.


**


Berbeda dengan Jonatan, selepas pulang dari rumah sakit. Dia lalu kembali ke perusahaannya. Ia duduk di kursi hitam miliknya.


“Aris!” Teriak Jonatan memanggil asisten pribadinya.


Mendengar dirinya dipanggil, ia lalu masuk ke ruangan Jonatan.


“Iya tuan?”


“Ada tugas untukmu!” Ucap Jonatan jelas.


“Cari tau dimana putriku berada sekarang!”


“Putri tuan?”


“Iya, kamu ini tuli ya! Putriku,”


Jonatan mengambil sebuah foto Olivia yang dia selipkan di dompetnya.


“Itu, dia putriku yang bernama Olivia! Temukan sekarang!” lanjut Jonatan seraya melempar selembar foto di atas meja.


“Baik tuan!”


“Kalau kau sudah berhasil temukan anakku, langsung kau kabari aku secepatnya! Paham?!”


“Baik tuan, saya paham.”


“Pergilah sekarang!”


Aris lalu pergi menjalankan tugas yang baru saja diberikan oleh bos besarnya. Orang kepercayaan Jonatan inilah yang kiranya bisa dia andalkan.


Beberapa menit kemudian, Mona datang ke kantor suaminya.

__ADS_1


“Pi,”


“Eh, bunda.”


“Gimana? Apa Olivia sudah ditemukan?”


“Belum.”


“Kenapa sih pi kamu harus repot-repot cari anak itu. Papi lupa, dia tuh udah sering banget loh bikin masalah.”


“Papi kasihan bun, bagaimanapun dia itu kan juga anak kandung papi.” Ucap Jonatan.


Mona cemberut, ia tak ingin perhatian suaminya di bagi untuk orang lain.


“Inggat ya pi, aku nggak suka kalau papi terlalu memikirkan Olivia. Dini itu juga anak papi loh yang harus diperhatikan.”


“Iya bun, papi tau itu.”


“Biarin Rani aja yang urus Olivia. Toh juga papi udah banyak ngeluarin duit buat mereka. Bunda nggak mau, papi terlalu fokus sama Olivia. Lagi pula dia kan juga udah besar. Dia seharusnya bisa dong jaga sikap dan perbuatannya.”


“Iya, iya bun. Papi hanya mengkhawatirkan keadaan dia saja, sebab dia kan baru saja pulih dari kecelakaan kemarin.”


“Ya udah sih pi, biarin Rani aja yang urusin anaknya. Tugas papi tuh sekarang urusin aku sama Dini. Aku nggak pengen ada orang lain masuk di keluarga kecil kita. Lagian bukannya papi sendiri kan yang pernah bilang, kalau papi tak ingin rumah tangga papi hancur lagi.” Ucap Mona yang membius pikiran Jonatan.


Mona wanita berbisa yang sering meracuni otak Jonatan, agar Jonatan tak terlalu memperdulikan anaknya lagi. Mona bagaikan toksin di jiwa suaminya karena ia ingin suaminya melupakan Olivia.


**


Satu hari setelah pulang dari rumah sakit telah berlalu. Kondisi Olivia nampak terlihat semakin membaik sekarang.


“Liv, kamu mau berangkat ke kampus nggak?” tanya Renata.


“Sepertinya untuk saat ini aku mau izin dulu deh Re.”


“Owh, baiklah. Kalau gitu aku ke kampus dulu ya?”


“Iya Re, kamu hati-hati ya.”


“Okey, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku aja ya Liv.”


“Iya,” jawab Olivia seraya tersenyum manis kepada sahabatnya.


Renata lalu pergi berangkat kuliah. Dan setelah waktu menunjukkan tepat di pukul sepuluh pagi, terdengar suara ketukan pintu.


Tok, tok, tok,


Olivia berdiri dan segera membukakan pintu itu. Akan tetapi, dirinya terkejut setelah pintu itu terbuka.


 

__ADS_1


Bersambung...


                                                                   


__ADS_2