Om Steve Kiss Me Please

Om Steve Kiss Me Please
Nekat


__ADS_3

Bibi Rubiyem datang, “Non, bukankah sudah dua hari ini Non Olivia tidak makan sama sekali? Bibi mohon Non, isi perut Non Olivia,”


Seketika tangan Olivia menyorong tangan bi Rubiyem, “Enggak bi, aku nggak mau makan.”


“Tapi Non,”


Bibi Lastri atau yang akrab disebut bi La, berjalan menghampiri Olivia.


“Non, kami tau, apa yang sedang dialami Non Olivia sekarang. Tapi apa Non Olivia tidak sayang dengan diri non sendiri? Kalau non Olivia sama sekali nggak makan, non Olivia nanti akan jatuh sakit. Maaf, bukannya saya lancang, tapi jika non Olivia sakit, apa tidak merugikan diri non Olivia sendiri? setidaknya makan lah sedikit saja non, agar perut non Olivia terisi.” Celetuk bi Lastri.


“Biarkan bi, biar kan saja aku sakit. Itu akan jauh lebih baik. Untuk apa aku hidup jika pada akhirnya semua orang tak ada yang menyayangiku.”


“Non, jangan begitu, kami semua sayang sama non Olivia. Namun, apa lah daya kami, kami hanyalah seorang pelayan disini. Sejujurnya, kami tau kalau non Olivia itu anak yang baik, tapi mungkin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untuk non Olivia.”


“Tuhan?!” Sahut Olivia seraya menyungingkan ujung mulutnya.


“Iya non, betul sekali yang di katakan Bi Rubiyem, kami yakin non Olivia bisa melewati ujian ini.”


“Semoga saja, non Olivia akan bahagia jika tinggal bersama tuan Jonatan non.”


“Mereka berdua sama aja bi, sama-sama egois. Mereka sama sekali tak menyayangi.”


“Tapi menurut saya, setidaknya Tuan Jonatan, bisa sedikit peduli dengan putrinya,”


“Sudah lah bi, aku malas membahasnya.”


“Kalau begitu, non Olivia makan ya? Non Olivia itu masih muda, sebentar lagi juga kuliah non Olivia akan selesai. Tunjukan sama nyonya dan tuan kalau non Olivia mampu bahagia dan berdiri sendiri. Kami yakin, kedua orang tua non Olivia pasti akan sadar dan bangga memiliki anak pintar seperti non.”


Olivia menoleh ke samping menatap wajah bibi Lastri yang terus memberikan motivasi untuk dirinya.


Seraya melebarkan senyumnya, bi Lastri mengatakan, “Non, pergunakanlah waktumu sebaik mungkin. Non Olivia masih muda, dan masa depan Non Olivia itu masih panjang. Non Olivia yang kuat dan tabah ya, semua pasti akan berlalu.”


“Terimakasi ya bi. Terima kasih karena kalian semua sudah memberikan motivasi buatku. Doa kan, semoga hidupku bahagia.”


Serempak ketiga pelayan itu mengaamiinkan ucapan Olivia.


“Aamiin, sekarang makan ya non, sedikit saja, ya.” Rayu bi lastri seraya menyodorkan satu sendok berisi makanan.


Wanita muda itu perlahan membuka mulutnya, berkat bujukan dari semua pelayan yang berada di sana, akhirnya Olivia mau mengisi perutnya yang sudah dua hari ini kosong.

__ADS_1


Akan tetapi di suapan yang keempat kalinya, terdengar suara Jonatan dari bawah. Ia terus memanggil-manggil Rani dengan suara kencang.


“Rani! Ran! Rani!” teriak Jonatan seraya berkacak pinggang.


Semua penghuni rumah itu pun keluar bersamaan setelah mendengar suara gaduh dari lantai bawah.


“Jonatan! Bisa sopan gak sih datang ke rumah orang! Tiba-tiba datang ke sini dan teriak-teriak seenaknya aja!” ucap Rani.


“Aku kesini mau kasih tau ke kamu!”


“Kasih tau apa?!”


“Olivia nggak bisa tinggal bersama ku!”


“Loh kenapa?”


“Istriku nggak mau melihat Olivia tinggal satu rumah dengan kami,”


“Jonatan! Kamu ini gimana sih! Olivia itu anak kandung kamu loh! Masa kamu lebih mementingkan istrimu itu dari pada anak kamu sendiri! Bapak macam apa kamu ini!”


“Nggak, nggak bisa! Pokoknya aku nggak bisa menerima dia tinggal bersama ku!”


“Terus kalau kamu nggak mau, Olivia mau tinggal sama siapa?!”


“Ya sama kamu lah!” ujar Jonatan.


“Kok sama aku?!”


“Terus sama siapa lagi! Kamu itu kan ibunya,”


“Kamu tuh tuli apa pikun sih! Kamu lupa dengan yang aku katakan kemarin! Kita sekarang bagi tugas! Jadi jangan hanya aku terus yang merawat Olivia! Kamu itu juga ikut adil merawat dia!”


“Gini, gini, Ran. Aku perjelas ya, aku kan sudah berumah tangga lagi, sedangkan kamu belum. Kamu masih bebas untuk melakukan apapun yang kamu mau, tapi kalau aku, aku juga harus menjaga perasaan istri dan anakku. Jadi biarkan aku hidup tenang bersama mereka! Aku janji, aku akan cukupi semua kebutuhan Olivia.”


“Enak aja kamu bilang gitu! Nggak, nggak bisa, pokoknya mulai sekarang Olivia harus tinggal bersama mu!”


Adu mulut tersebut terdengar hingga ke rongga telinga Olivia. Dengan pandangan kosong Olivia bergerak turun menapaki satu persatu anak tangga.


Pertengkaran mulut terhenti sejenak, Jonatan dan juga Rani langsung menoleh ke arah Olivia.

__ADS_1


“Olivia, siapa yang suruh kamu keluar dari kamarmu? Masuk! Mommy bilang kembali ke kamar!”


Olivia terus menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kebencian.


“Olivia, kamu masuk ke kamar dulu ya nak, Papi mau selesaikan permasalahan ini sama Mommy kamu dulu,” ujar Jonatan.


“Terus kan aja, aku mau ke dapur ambil air minum.”


Sedangkan ketiga pelayan itu curiga melihat sikap Olivia, terutama bi La dengan cepat ia turun dari lantai atas, ia takut jika Olivia akan berbuat nekat saat itu.


Dan ternyata firasat bi La benar, Olivia masuk ke dapur bukan untuk mengambil air minum, ia malah mengambil sebuah pisau. Bi la seketika berteriak histeris ketika melihat Olivia akan menancapkan pisau itu ke tubuhnya.


“Awh! Non Olivia! Jangan non, hentikan!” Teriak Bi La dengan begitu kencang, hingga membuat perdebatan antara Jonatan dan Rani terhenti seketika.


Dengan segera mereka berdua lalu berlari ke arah dapur, terlihat pisau itu masih berada di genggaman tangan Olivia yang hampir saja akan menusuk tubuhnya sendiri.


Rani dan Jonatan seketika membelalakkan kedua matanya, mereka sangat kaget hingga wajahnya terlihat panik, ia tak percaya kalau anaknya akan berbuat nekat seperti itu.


“Olivia, jangan bermain-main nak. Letakan pisau itu sekarang,” Jonatan mencoba untuk merayu putrinya.


Sedikit demi sedikit Jonatan mencoba berjalan mendekati putrinya. Akan tetapi langkahnya berhenti seketika.


“Stop! Jangan coba-coba mendekatiku! Kalau tidak, aku akan tancapkan pisau ini ke tubuhku,”


Suasana begitu menegangkan, dan tak hanya Jonatan yang terus membujuk putrinya, hal itu juga dilakukan oleh Rani yang jua merasa tegang atas tindakan putrinya.


“Olivia, mommy mohon, letakkan pisau itu nak. Itu bahaya sayang, mommy mohon ya,”


“Nggak, pisau ini nggak akan aku letakan. Aku ingin mengakhiri hidup ku hari ini juga! Untuk apa aku hidup! Bukankah kalian berdua tak menginginkan aku ada di dunia ini! Iya kan!” Seru Olivia.


“Tidak Olivia, bukan begitu sayang. Kami hanya berunding untuk merawat mu saja nak. Biar bagaimanapun juga kamu kan harus merasakan gimana rasanya tinggal bersama Papi kamu sayang. Bukankah sejak kecil kamu selalu bersama Mommy terus nak.” Terang Rani.


 


Bersambung…


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2