
Selepas meletakan bungkusan itu di atas meja, Rani lalu berjalan mendekati Steve, ia berdiri di belakang sebelah samping kursi kerjanya. Dia dekatkan bibirnya ke telinga Steve.
“Steve,”
“Hem,”
“Apa masih lama?”
“Enggak sih, sebentar lagi selesai. Kamu duduk aja di sofa sana,” pinta Steve yang terlihat risih dengan sikap Rani.
“Baiklah, aku tunggu kamu di sana ya,”
Sebelum beranjak dari tempat itu, Rani membelai kedua bahu Steve. Ia lalu berjalan ke sofa yang Steve perintah.
Ia lalu duduk dan pandangannya terus menatap netra Steve. Mendadak terdengar suara dering ponselnya. Ia pun segera mengambil dan melihatnya.
“Olivia,” batinnya lirih.
Karena tak ingin Steve mendengar percakapan antara mereka, Rani pun pamit keluar.
“Steve, aku mau angkat telepon di luar sebentar ya,”
“Iya, silahkan,”
Rani pun keluar, dan segera mengangkat panggilan itu.
“Hallo,”
“Mom,”
“Hem, kenapa?”
“Mommy lagi di mana?”
“Mommy lagi keluar, kenapa?”
“Owh, mom tolong gosend kan laptop Olivia dong,”
“Emang nggak kamu bawa?”
“Enggak, kemarin kan yang mengemasi barang-barangku bibi.”
“Ya udah, besok Mommy gosend-kan.”
“Tapi aku butuhnya sekarang Mom,”
“Kan Mommy udah bilang, mommy lagi keluar Olivia. Kamu denger gak sih?!”
“Iya, iya. Besok juga nggak apa-apa.”
“Ganggu orang aja!”
Tot.. tot.. tot…
Rani pun segera menutup telponnya dan kembali masuk ke dalam ruang kerja Steve. Ia sedikit terkejut melihat Steve yang sudah duduk di sofa itu, ia pun segera menetralkan tatapannya.
“Loh, apa pekerjaanmu sudah selesai Steve?”
__ADS_1
“Iya sudah,”
“Kalau gitu, mari kita santap makanan yang baru aku beli di resto sebelah.”
“Memangnya kamu bawa apa aja?”
Rani dengan segera duduk berdampingan dengan Steve. Dia terus membuka paper bag, lalu mengeluarkan bungkusan di dalamnya. Tanpa banyak kata, mereka berdua dengan segera melahap makanan yang ada di depannya. Di tengah mereka makan, Rani membuka percakapan memecah kesunyian.
“Ehem, Steve.”
“Iya,”
“Ada yang ingin aku katakan sama kamu,”
“Apa?”
“Steve, sejujurnya selama ini aku suka sama kamu,”
Steve tersedak mendengar ucapan Rani tadi dan dengan segera Rani pun mengambilkan air minum.
“Ini Steve, minumlah.” Ucapnya seraya memberikan secangkir air putih.
Gluk, gluk, gluk,
Mendengar itu, Steve mengulum senyum, “Apa? Kamu suka sama aku Ran?”
Rani hanya manggut-manggut dan wajahnya mulai pias, ia menggigit bibir bawahnya.
Steve bergeming dengan ungkapan Rani, hingga laki-laki itu kembali membuka suara.
“Memangnya apa yang kamu suka dariku Ran?” Tanya Steve menatap lekat Rani.
“Serius?” tanyanya menekan.
Lagi-lagi Rani kembali mangut-mangut.
“Ran, sejujurnya sejak aku berpisah dengan mantan istriku dulu, aku masih belum bisa menerima seseorang datang dalam hidupku.”
Pelan, rani mengangkat kepalanya dan menatap Steve dengan penuh ambisi.
“Tapi Steve, kamu kan sudah berkepala empat. Apa kamu tidak membutuhkan wanita untuk masa depanmu nanti?”
“Ya, aku tau itu. Mungkin memang belum saatnya, dan bukan sekarang waktunya Ran.”
“Steve, aku mohon, izinkan aku untuk mengisi kekosongan dalam hatimu itu. Aku janji, aku tidak akan membuat kamu kecewa. Aku juga janji aku akan menjadi kekasih mu yang setia.” Rajuk Rani.
Steve terdiam, ia seakan kembali dalam masa kelam yang teramat sangat sulit dia lupakan. Penyebab ia bercerai dengan mantan istrinya dulu, karena masalah perselingkuhan.
“Aku butuh waktu untuk itu Ran, selama ini aku anggap hubungan kita hanyalah sebuah pertemanan biasa Rani.”
Rani menatap Steve dengan kekecewaan. Ia dibuat terkejut dengan perkataan dari laki-laki yang tengah duduk di sebelahnya.
“Tapi Steve, apa kamu tak mau memberikan aku kesempatan?”
Dia diam, sambil menundukkan kepalanya.
“Steve, please, kasih aku kesempatan. Aku tuh bener-bener suka sama kamu.” ucap Rani.
__ADS_1
“Tapi Ran,”
“Ayolah Steve, please. Aku sangat berharap ingin menjadi istrimu. Jadi ku mohon, beri aku kesempatan.”
Lagi-lagi Steve terdiam, ia lalu duduk menyandarkan tubuhnya di bahu sofa.
“Steve, aku tau dulu kamu pernah kecewa dengan orang yang kamu anggap spesial. Tapi, tolong, kamu jangan terus menilai semua wanita seperti dia. Lihatlah Steve, ini aku, aku berbeda dengan mantan istrimu itu. Aku orang yang setia.”
Steve memijat pelipis dahinya dengan mata terpejam. Sedangkan Rani terus berusaha meyakinkan Steve, kalau dirinya itu orang baik.
“Steve, apa kamu nggak mau punya keturunan? Apa kamu akan terus hidup dalam kesendirian seperti ini? Coba pikirkan lagi Steve, ku mohon terimalah aku untuk jadi kekasihmu. Aku yakin, kamu nggak akan menyesal karena telah memilihku. Apa lagi selisih umur kita juga nggak jauh berbeda.”
“Tapi Ran, nggak mudah aku bisa melupakan itu semua, sedangkan sejak kejadian itu aku sulit menerima wanita yang akan aku jadikan kekasih.”
“Iya, aku tau. Maka dari itu, mari kita coba sama-sama melupakan masa kelam kita. Kita sama-sama pernah menikah, dan pernikahan itu pun gagal. Jadi setidaknya kita bisa berjuang bersama Steve. Aku janji akan memberikan kamu keturunan, lagi pula rahimku juga masih bagus dan normal.” Ucap Rani.
Steve menoleh ke samping dan menatap wajah Rani.
“Apa benar, kamu masih bisa memberikan aku keturunan?”
Pelan, Rani kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Yea, aku bisa, karena aku pernah melahirkan Olivia.”
Steve diam dengan seribu bahasa. Ia terus bergulat dengan batinnya yang sempat hancur.
“Steve, mari kita berdua jalani hubungan ini dengan serius. Karena aku benar-benar mencintaimu,” bisik Rani berdesah.
“Sudah enam tahun aku berpisah dengan mantan istriku. Dan sampai sekarang, aku pun belum menemukan satu wanita yang aku percayai.”
“Makannya Steve, kasih aku kesempatan untuk bisa mendapatkan kepercayaanmu. Sungguh, aku benar-benar cinta sama kamu Steve.” Ucap Rani yang terus meyakinkan Steve.
“Baiklah, akan aku beri kamu kesempatan. Yakinkan aku kalau kamu benar-benar serius ingin menjadi istriku Ran.”
Senyumnya kembali mengembang ketika mendengar ucapan itu.
“Serius Steve? Kamu kasih aku kesempatan?”
Steve hanya manggut-manggut tanpa berbicara apapun. Seketika Rani memeluk Steve dari samping dengan raut wajah bahagia.
“Makasih ya Steve, aku seneng banget dengernya. Pokoknya aku janji, aku nggak akan ngecewain kamu. aku akan turuti semua yang kamu mau Steve.”
Biasanya laki-laki yang nggak sabar ingin menjalin rumah tangga bersama pasangannya, namun berbeda dengan Rani. Ini justru wanita lah yang begitu menggebu-gebu ingin segera menikah dengan kekasihnya.
“Tapi Steve?”
“Apa?”
“Jika kamu sudah percaya pada ku, apa kamu akan jadikan aku istrimu?”
“Kita lihat nanti, aku nggak bisa bilang sekarang. Aku ingin tau, keseriusan kamu. Karena aku nggak mau kecewa lagi.”
“Baik Steve, sekali lagi terima kasih ya.” Ucap Rani yang terus mendekap tubuh Steve.
Selepas itu mereka lanjut menyantap makanannya.
Bersambung…
__ADS_1