
“Nggak, pokoknya ini nggak bener. Olivia, apa yang kamu katakan ini bercanda kan?” Tanya Steve menekan.
“Om, tatap mata Olivia sekarang. Apa Olivia kelihatan sedang bercanda saat ini?” ucapnya serius.
“Tapi Olivia, bagaimana mungkin kamu bisa menyukai om? Sedangkan umur kita sangat berbeda jauh.” Tegas Steve.
“Aku nggak peduli tentang umur, om. Karena cinta itu nggak pandang umur,”
Pria itu dibuat terkejut seraya membulatkan kedua netranya seusai mendengar pengakuan Olivia, ia langsung menelan kasar ludahnya, lalu menepuk pelan punda Olivia.
“Olivia, om kasih tau ya. Selama ini, om anggap kamu itu hanya lah sebagai anak om saja, dan nggak lebih dari itu.” ucap Steve pelan.
Wajah Olivia nampak kecewa. Ia seakan tak menerima dengan kenyataan yang harus di dengarnya saat itu juga. Sedangkan selama ini dia pun sudah sangat percaya dengan Steve.
“Apa Om, jadi selama ini om cuman menganggap aku seperti anak om sendiri?!” tanya gadis muda itu.
Steve pun mengangguk-angguk seraya menjelaskan kembali padanya, “Iya Olivia. Om memang sudah sayang sama kamu, tapi rasa sayang ini hanyalah sebatas anak dan orang tua saja. Soalnya, om lihat kamu tuh anak yang baik, anak yang butuh kasih sayang dan perhatian. Maka dari itu, om hanya ingin kamu jangan salah paham. Dan kita nggak akan mungkin ada hubungan percintaan selayaknya pasangan kekasih.”
Mendengar itu seketika ujung kelopak mata Olivia pun mengeluarkan air mata. Ia tatap wajah Steve penuh dengan kekesalan. Sakit hati ini sungguh luar biasa berbeda dari biasanya, tak sama ketika dia mendapatkan perlakuan kasar dari orang tuanya. Kali ini sakitnya lebih mendalam seperti dalamnya palung lautan. Kecewa pasti, sedih pun juga iya, tapi mau gimana lagi.
“Om jahat! Ternyata Om sama aja dengan mereka! Om hanya memberikan aku harapan palsu! Aku benci om Steve! Aku benci! Hisk… hisk… hisk…” seru Olivia seraya memukul kecil dada pria tersebut.
Perasaan kalut pun kembali hadir di dirinya. Secepat mungkin dia tinggalkan Steve dan berjalan menuju ke unit apartemennya.
Sambil berjalan Olivia hanya bisa menangis meratapi nasibnya, “Aku terlalu bodoh, aku terlalu gila! Kenapa aku harus percaya dengan orang itu! Kenapa aku juga harus suka sama dia! Dan kenapa aku terlalu berharap pada nya, jika ujung-ujungnya aku lah yang tersakiti! Hisk… hisk… hisk…”
Hingga tak terasa langkah kakinya pun kini telah sampai di depan pintu, dengan segera ia langsung masuk lalu melepas sepatu kets yang dikenakannya. Dia juga membanting tasnya di atas sofa begitu saja.
Ia pun duduk merekuk memeluk lutut di depan sofanya, menyesali ungkapan yang telah diucapkan ke pria yang disukainya.
Tiga puluh menit sudah waktu yang dia habiskan untuk menangis meluapkan segala kekesalan dan rasa sakit hatinya sendiri disana. Dia pun bangkit dan berjalan menuju ke wastafel kamar mandinya untuk membasuh wajahnya.
Setelah guyuran kedua, ia pun menatap wajahnya sendiri dari cermin itu.
__ADS_1
“Mulai sekarang aku akan berubah! Aku nggak mau nangis-nangis lagi seperti ini! Aku nggak mau di sakiti lagi! Aku harus bangit, aku harus bahagia! Iya, mereka semua itu hanyalah toxic! Aku berhak bahagia!” ucapnya sendiri dengan nafas menggebu.
***
Dua bulan berlalu, acara wisuda kini sudah akan segera dilaksanakan. Olivia memang sengaja tak menginginkan kehadiran dari kedua orang tuannya. Selebar kertas undangan untuk para orang tua mahasiswa mahasiswi sengaja tidak ia berikan kepada Rani atau Jonatan. Karena menurutnya mereka tidak akan mungkin mau hadir di acara penting tersebut. Sebab selama ini mereka tak peduli dengan dirinya
Bahkan Olivia sudah memutuskan kalau dia tak ingin lagi berhubungan dengan orang tuanya. Seburuk dan sesusah apapun keadaannya nanti, dia ingin mengatasinya sendiri, baginya orang tuanya itu sudah mati di telan bumi.
Duduk menatap langit, itulah yang sering dilakukannya setiap malam. Sambil memegang secangkir kopi hangat Olivia bergeming, “Aku merasa lega, akhirnya sebentar lagi aku udah mau wisuda, jadi nggak sabar pengen cepet cari kerja dan punya penghasilan sendiri.”
Dering telepon berbunyi, ia pun dengan segera meraih ponselnya yang berada di atas meja sudutnya.
“Hem, hallo Re,”
“Hallo cantik,”
“Ada apa?”
“Kamu lagi ngapain?”
“Nggak apa-apa sih.”
“Tuh kan nggak jelas,”
“He… he… he… Eh, iya kamu udah dapet kebayanya belum? Bentar lagi kan kita mau wisuda.”
“Udah,”
“Baguslah kalau udah. Em… liv,”
“Iya, kenapa?”
“Apa kamu bener-bener nggak mau kasih kabar ke mommy sama papi kamu kalau sebentar lagi mau wisuda?”
__ADS_1
“Nggak, ngapain ngasih tau mereka. Nggak penting banget. Toh mereka juga nggak akan peduli.”
“Apa sebaiknya nggak kamu coba dulu?”
“Re! Udah ya, please. Aku mau hidup tenang, jadi tolong jangan bawa aku kembali ke masa lalu!”
“Maaf, maaf Liv. Tapi aku hanya kasihan aja sama kamu. Di acara wisuda nanti, semua teman-teman kita pasti pada ngundang orang tuanya dan keluarga mereka pun bakal datang di acara berharga itu.”
“Terus?!”
“Ya, masak kamu cuman sendirian aja Liv,”
“Re, aku nggak peduli! Mau aku sendiri, mau aku datang rame-rame aku nggak peduli! Lagian itu acaraku. Aku juga kan udah bilang sama kamu beberapa kali, kalau aku mau menjalani hidup ku sendiri! apapun keadaan ku, aku mau tanggung sendiri! Dan tolong, kalau emang kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu, tolong jangan bicarakan soal mereka lagi! Aku udah muak, aku udah capek! Aku mau hidup bahagia Re, bisa kan kamu bantu aku?!” tegas Olivia.
“Iya, iya maaf. Aku bilang seperti ini karena aku peduli sama kamu, Liv.”
“Makasih karena kamu udah mau peduli Re. Inget ya Re, tolong jangan bahas lagi soal mereka berdua, bahkan juga soal om Steve. Ngerti kan, udah cukup penderitaan yang kualami selama ini.”
“Iya, maaf, maaf Liv. Bukan maksud aku mau buat kamu sedih lagi.”
Memang nyesek banget sih mendengarnya, tapi biar bagaimana pun dia memang harus bisa memilih pilihan yang tepat untuk kehidupannya di hari mendatang. Walaupun rasanya sangat berat untuk dia jalani. Namun, semua yang dia lakukan semata-mata ingin membuat hidupnya bahagia.
Sejak kejadian itu, Olivia mulai membatasi hubungannya yang bersangkutan dengan keluarganya. Bahkan, dia juga sudah mengganti nomor ponsel pribadinya yang biasa dia pakai. Mungkin hanya beberapa orang tertentu saja yang tau nomer telponnya.
Harapan yang pupus membuat semua impannya terkubur, tapi jiwanya yang kuat membuat ia harus bangkit dari keterpurukan.
Planning kedepan setelah semua urusan kampus selesai dan selepas dia mendapatkan pekerjaan yang tetap, ia ingin mengembalikan semua barang-barang yang dia punya ke orang tuanya. Bahkan dia juga mau pindah dari apartemen itu. Dia ingin apa yang dia punya adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
Bersambung…
__ADS_1