
Beberapa menit kemudian, sampailah Steve ke kantornya. Dengan segera ia berjalan menuju ke ruang kerjanya. Dia lalu duduk di kursi kerja pribadinya seraya menyilangkan kakinya.
Di ambil lah ponsel pribadinya dari dalam saku celananya. Dia buka layar ponselnya itu, lalu dia cari foto kebersamaannya bersama Olivia. Di pandang lah paras cantik wajah wanita yang ada di ponselnya itu terus menerus.
Sambil berandai-andai, ia pun bergumam, “Coba kalau dia umurnya sama seperti ku, udah aku nikahi dia dari dulu. Kenapa juga aku harus bertemu dengan gadis muda ini?! Sepi rasanya, karena sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak menghubungi dia.”
Steve pun tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri di kaca jendela ruangan itu sambil menatap teriknya sinar matahari.
“Jika aku menerima cintanya, apa tidak akan membuat ribut banyak orang di sekelilingku? Terus bagaimana dengannya jika hal itu benar terjadi, apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya nanti? Mereka pasti akan semakin sengit dengan Olivia. Mungkin ini lah yang dinamakan cinta tak harus memiliki. Huft…”
Hal itu sama dirasakan oleh Olivia. Selepas pulang dari makan siang bersama Arka tadi, ia pun duduk di bilik kerjanya. Dia keluarkan ponsel pribadinya, lalu dia buka sebuah foto selfie nya ketika sedang bersama Steve beberapa waktu lalu.
“Sebenernya, aku sangat rindu sama kamu om. Tapi aku nggak sanggup jika harus menatap wajahmu lagi. Aku takut, rasa kecewa itu hadir lagi. Aku takut, jika aku terlalu berharap sama kamu lagi Om. Kenapa kita harus bertemu lagi sih, sedangkan aku di sini masih berjuang untuk melupakan mu, melupakan rasa ini dari kamu! Huft… apa mungkin ini lah yang namanya cinta itu tak harus memiliki?” ucapnya dari dalam hati yang kemudian meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja kerjanya. Dia pun kemudian duduk seraya menopang dagu dan meletakkan kepalanya di atas meja.
Tak lama datanglah Arka dari samping bilik kerja itu. Tanpa sengaja, ia melihat ponsel Olivia yang terpampang foto dirinya bersama Steve dengan gaya merangkul pria paruh baya tersebut.
Arka pun mengerutkan dahinya, “Sepertinya aku kenal dengan laki-laki yang ada di foto itu,” batin Arka.
Ia pun mengehem memberikan sapa pada Olivia.
“Ehem!”
Sontak hal tersebut membuat Olivia kaget, dengan cepat Olivia mengambil ponselnya lalu dia redupkan layar ponselnya.
“Eh, kamu Arka. Sejak kapan kamu berdiri di situ?” Tanya Olivia gugup.
“Sejak tadi. Kamu ngapain? Kamu pusing?”
“Hem, enggak kok.”
“Beneran?”
Gadis muda itu hanya manggut-manggut kan kepalanya.
“Ngomong, ngomong, siapa laki-laki itu? Cowok kamu?”
__ADS_1
Seketika Olivia membelalakkan kedua matanya karena terkejut dengan pertanyaan Arka.
“Woe!” seru Arka menampik pandangan Olivia.
“Tuh kan, ditanya malah diem aja.”
“Eh, iya. Maaf. Owh, iya, ada apa kamu ke sini Arka?”
“Ya ampun, kamu tuh ya, ditanya malah balik tanya. Aku ke sini tuh mau ajak kamu ke ruang meeting sekarang,”
“Sekarang?”
“Iya, tadi pas makan siang aku juga udah kasih tau ke kamu kan?”
Sambil menyunggingkan senyumnya Olivia menjawab, “Aku lupa, maaf.”
“Dasar kamu tuh! Bisa-bisanya ngelupain acara penting gitu.”
Gadis muda itu pun hanya menyengir dan memberikan senyuman manisnya.
“Siap bos,” jawab Olivia bergurau.
“Bos, bos. Satu lagi, jangan lupa bawa laptop kamu. soalnya sebentar lagi kita akan membuat presentasi untuk proyek besar bersama klien besar besok.”
“Iya, iya Arka.”
“Ya udah, kalau gitu aku mau ke ruanganku dulu ya,”
“Iya, iya.”
Melihat Arka yang sudah pergi, Olivia pun mengurut dadanya, “Syukurlah, kalau dia udah pergi. Untung aja pertanyaan dia nggak melebar luas kesana kemari. Apa yang akan dia katakan jika dia mengetahui kalau laki-laki yang berfoto selfie bersama ku ini adalah orang yang aku sukai. Huft… Untung aja aku bisa mengalihkan pertanyaan nya tadi.”
Olivia dan Arka memang sudah ditugaskan untuk membuat sebuah presentasi yang akan mereka sampaikan ke beberapa klien besar nantinya. Maka dari itu, mereka berdua selalu mengerjakan pekerjaannya bersama-sama.
Hari ini hari selasa, hari pertama kalinya bagi Olivia untuk presentasi di depan para Klien besar. Akan tetapi, kebiasaan buruknya yang selalu bangun siang membuat dirinya harus berangkat kerja dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
“Astaga, kenapa aku bangunnya kesiangan gini sih! Padahal hari ini pertama kalinya aku menyampaikan presentasi di depan klien besar! Bisa di marahi bos nih, kalau aku sampai terlambat datang ke kantornya.” Gerutu Olivia dari dalam hati seraya mengenakan sepatu kerja heelsnya.
Selepas itu dengan segera mungkin ia menghentikan sebuah taksi yang sedang melintas di depannya. Di dalam mobil dia terus menyisir dan menata rambutnya yang masih terlihat sedikit acak-acakan, dia juga bermake up mempoles wajahnya dengan perangkat yang sehari-hari dikenakannya.
Dan tak lama sampailah dia di kantor. Dengan secepat mungkin dia berlari menemui Arka di ruangannya. Akan tetapi, pria muda itu tak terlihat sama sekali di ruangnya. Dia lalu berlari menuju ke bilik ruang kerjanya untuk mengambil laptop dan juga flashdisk yang berisi dokumen-dokumen penting yang akan dipresentasikan nanti.
“Arka mana sih? Apa dia udah ada di restoran yang sudah di booking kemarin itu ya? Sebaiknya aku telepon dia sekarang,” ucap Olivia dari dalam hati yang kemudian berjalan keluar dari gedung itu.
Sambil berjalan, ia pun bertanya kepada beberapa teman-teman kerjanya.
“Eh, kamu liat Arka nggak?”
Mereka-mereka yang di tanya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kok pada nggak liat Arka sih? Apa Arka langsung ke sana ya? Mana di telpon juga nggak dianggap lagi. Yah, terpaksa deh aku harus naik taksi ke sana.” Geming Olivia lagi.
Setelah sampai di sebuah restoran, dia pun dengan cepat berjalan menuju ke salah satu ruang tertutup ya sudah di booking untuk acara rapat penting bersama orang-orang penting disana.
Sambil berjalan, ia pun terus berharap bahwa dirinya tidak datang terlambat.
“Semoga aku datangnya nggak terlambat. Ya Tuhan, aku takut kalau bos akan marah sama aku. Padahal aku masih dalam tahap training.” Ucapnya dari dalam hati.
Dan sampailah kakinya di depan ruangan itu, bak seperti akan menghadapi seorang dosen killer. Sebelum dia membuka pintu, bayangan dan pikiran buruknya sudah menghantui dirinya sejak tadi. Tapi mau tak mau, dia harus berani masuk ke dalam. Dia ketuk pintu itu dengan keras dan sambil memejamkan matanya dia lanjut dengan membuka pintu tersebut.
Selepas pintu itu terbuka, dia malah terkejut melihat seseorang dari samping yang sedang duduk di dalam sana seorang diri. Bahkan kursi-kursi yang ada di sana pun masih kosong tak berpenghuni.
Dia langkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam ruangan itu.
“Permisi,” salam Olivia seusai menutup pintu.
Pria yang duduk di ujung sana menoleh ke arah suara.
“Olivia,” ucapnya lirih dengan pandangan heran.
__ADS_1
Bersambung….