
DI DALAM kelas, Ami melancarkan serangannya untuk menggoda Randu. Beberapa kali dia melirik dan mengerling pada cowok yang duduk di sebelahnya itu, tapi Randu tak pernah meresponnya. Ami tidak patah semangat, dengan melanjutkan perjuangan RA Kartini, dia bertekad untuk mendapatkan Randu.
"Randu..." Panggil Ami dengan suara semerdu mungkin. Randu diam tak menanggapi.
"Jangan pura-pura budek, tar budek beneran loh." Randu masih diam.
Saat jam istirahat Randu tidak ke kantin, dia memilih ke perpustakaan karena sedang menjalankan puasa sunnah. Benar-benar calon imam idaman, ya 'kan?
Trio Kiyut sudah berada di kantin dengan santapan kesukaan masing-masing.
"Aww!" Pekik Ami saat tiba-tiba rambut indahnya ada yang menjambak. "Apa'an sih lo!? Lepasin ga!?" Gertak Ami.
"Biarpun lo berubah jadi peri, gue ga akan biarin lo jadian sama Randu. Gue pasti bakal hancurin lo dan memisahkan kalian berdua. Ngerti lo!?" Sesil menggeram mengancam Ami.
Ami menarik rambutnya lalu berdiri sambil mendorong Sesil! "Emak gue yang lahirin gue aja ga pernah jambak gue! Lu yang ga punya arti apa-apa beraninya jambak rambut gue!"
"Biarin!" Seru Sesil.
Ami memicingkan mata. "Lo ga nyangka kan, kalo gue aslinya cantik? Hihi.. Makanya, jangan sok kepedean mengaku paling cantik dan seksi. Gue dandan baru 60 persen loh belum 100 persen, jadi jangan kaget kalo pas gue dandan 100 persen lo bakal kalah telak."
"Gue ga peduli lo mau dandan 60 persen atau 100 persen!"
"Tapi lo takut kan kalo Randu bakal milih gue?"
"Randu ga bakal milih lo!"
"Kita liat aja!"
Di perpustakaan
Toto berjalan cepat menuju bangku yang berada di sudut perpustakaan.
"Ran, sepertu biasa 2 cewek yang ngebet banget sama lo berseteru di kantin." Beri tahu Toto pada Randu.
Jam istirahat perpustakaan tak begitu ramai, hanya ada beberapa murid yang berkunjung. Tentu saja murid-murid yang sangat serius belajar saja. Randu hanya memandang sekilas pada Toto lalu kembali fokus pada buku yang dibacanya.
"Emang lo ga tertarik sama salah satu dari mereka? Ami cantik banget hari ini. Ya emang sih kemaren-kemaren juga biar pun ga dandan dia manis sih. Kalo Sesil kan cantiknya karena dia dandan tiap hari." Tanya Toto.
"Berisik." Randu lau keluar dari perpustakaan menuju kelasnya diikuti Toto.
"Kalo lo ga milih salah satunya, boleh dong kalo gue deketin Ami. Gue udah nahan karena gue anggep lo sohib gue, gue ga mau rebutan sama sohib sendiri."
Randu menghentikan gerakannya sejenak mendengar ucapan Toto, beberapa detik kemudian dia kembali melangkah. Dia tidak menjawab apa pun dan langsung masuk ke kelas.
Ami memasuki kelasnya dengan senyum yang dia tujukan untuk pangeran kuda hitamnya. Dia mulai berusaha menerima kenyataan jika pangeran yang disukainya bukanlah pangeran kuda putih seperti impiannya, tetapi pangeran kuda hitam yang penuh pesona.
Randu melihat kedatangan Ami dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kok tadi ga ke kantin, emang ga lapar?" Tanya Ami membuka obrolan.
Tapi Randu hanya diam dan kembali fokus pada bukunya.
"Perasaan dari tadi baca buku mulu, enggak bosen?" Randu masih diam.
Ami membuang napas kasar. Dia berpaling pada cowok di sebelahnya. "Jangan terlalu cuek, tar kalo gue ga godain lo lagi lo bakal kangen loh.."
__ADS_1
Randu tetap diam.
***
AMI pulang dengan wajah cemberut. Hal itu membuat Emak dan Babeh saling pandang dan sama-sama mengangkat bahu.
"Napa lu muka dilipet-lipet kaya duit mo dimasukin dompet?" Tanya Emak.
"Aye dicuekin, Mak!" Adu Ami.
"Dicuekin ama siapa? Siapa yang nyuekin anak Emak yang paling cakep?" Tanya Emak lagi.
"Pangeran kuda item aye!"
"Pangeran kuda item? Siapa?" Emak mengerutkan kening.
"Yang kata Emak si kinclong itul!" Jawab Ami kesal.
"Ooo.." Emak manggut-manggut. "Jangan patah semangat, Mi. Hari ini dia boleh cuekin lu, tapi besok Emak yakin dia bakal ngejar lu."
Ami masih cemberut sambil menggerutu.
"Aminin nape, orang tua lagi berdoa buat lu juga." Emak menoyor bahu Ami.
"Iya, iya Amiin."
***
BEBERAPA hari berlalu. Ami selalu tampil cantik, bahkan kini dia jarang jajan di kantin. Dia lebih memilih membawa bekal dari rumah agar lebih irit dan uangnya ditabung untuk beli pakaian atau pun kosmetik untuk menunjang penampilannya.
Pagi-pagi Ami sudah disuguhkan dengan pemandangan yang menusuk mata. Di ujung koridor sana, dia melihat Randu yang sedang duduk berdua dengan Sesil. Randu tidak melihat Ami, tapi Sesil yang melihat langsung menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Randu.
"Napa lo?" Tanya Leni.
"Muka sangar bener, Neng.." Kata Cici.
"Tadi pagi gue abis kecolok." Jawab Ami ketus.
"Kecolok apa? Mata lo ga merah kok." Kata Cici.
"Mata gue kecolok dan ternoda liat pangeran kuda item gue sama si kuntilanak!" Seru Ami kesal.
"Seriusan lo!?" Seru Cici terkejut.
"Ngapain gue bo'ong, muka gue muka jujur!"
"Jujur ayam apa jujur kacang?" Cici malah memelesetkan kata.
"Jujur pengen gue tabok!" Ucap Ami ketus.
"Lo liat Randu sama si kuntilanak di mana?" Tanya Leni tenang.
"Di ujung koridor waktu mau masuk kelas."
"Mereka mesra gitu?" Tanya Leni lagi penuh selidik.
__ADS_1
"Ya biasalah si kuntilanak mepet-mepet sama pangeran gue."
"Randunya gimana?"
"Lo nanya Randu gimana? Cowok dipepet-pepet ya tambah seneng lah! Kenyel-kenyel anget.." Ucap Cici.
"Pangeran gue ga kaya gitu!" Sanggah Ami.
"Emang lo yakin?" Tanya Cici.
Ami diam. Dia tidak begitu dekat dengan Randu. Tapi dia yakin jika Randu bukan tipe cowok seperti itu.
Pulang sekolah Ami menahan Randu di kelas. Mereka kini tinggal berdua di dalam kelas.
"Mau apa lo?" Tanya Randu datar.
"Gue mau ngomong."
"Ngomong apa?"
"Gue...gue.."
"Gue ga ada waktu kalo lo ga cepet bilang. Gue harus ke warung." Randu bersiap melangkah.
"Gue suka sama lo!" Seru Ami tanpa jeda. Posisinya berdiri beberapa langkah di belakang Randu.
Randu menghentikan langkahnya dan berbalik. "Gue bukan tipe lo, kan?"
"Cuma satu." Jawab Ami menunduk.
"Gue kere, kan?" Ami diam. "Gue bukan tipe lo, jadi buat apa lo ngomong itu ke gue."
"Tapi itu beneran.."
"Lo bukan tipe gue."
"Apa cewek kaya Sesil yang jadi tipe lo?" Jelas tergurat raut dan nada cemburu diwajah dan suara Ami.
"Kita ga lagi bahas dia." Sangkal Randu.
"Tapi tadi pagi gue liat lo duaan sama dia."
"Bukan urusan lo!"
"Jadi urusan gue karena gue suka sama lo!"
"Tapi gue ga suka sama lo." Randu berkata penuh penekanan. Sorot matanya yang menatap Ami entah menyiratkan apa. Randu berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Gue sumpahin besok-besok lo bakal bucin sama gue!" Seru Ami.
Randu berhenti sejenak di ambang pintu lalu kembali melangkah, meninggalkan Ami sendirian di kelas.
Gue ga relaaaa... Kenapa gue suka banget sih sama dia? Kenapa gue sukanya sama dia yang nolak gue? Kenapa juga dia deketnya sama musuh gue si kuntilanak? Kenapa harus dia, Gustiiii??
**Ada yang tahu kenapa?
__ADS_1
Kalau tahu, kasih tau Ami ya dikomen 🙂
Cirebon, 13 Februari 2022**