
AMI menunduk, menyembunyikan semburat merah dipipinya. Dia benar-benar malu kali ini. Jika tadi yang mengatakan hal itu adik Randu, kini yang mengatakannya adalah Ibu dari cowok itu. Jika tadi dia tidak mengerti apa artinya, kini dia sudah mengerti karena saat makan tadi dia menanyakan hal itu pada Randu.
"Makasih, Tante.." Ucapnya tersipu.
"Ibu atuh manggilnya, ulah Tante." Ralat wanita paruh baya itu.
"Makasih, Tan--- eh, Ibu.." Ami meringis karena salah tingkah.
"Eneng teh, Ami yang dari Jakarta, kan? Temen SMA-nya Randu?" Tanya Ibu dengan logat Sundanya.
"I-iya, Tan-- eh, Bu." Ami memejamkan matanya sambil meringis. Kenapa gue gugup sih? Ya'elah,, ini bukan gue banget!
"Makan yang banyak atuh, Neng."
"Udah kenyang, Bu."
"Sok, sok, lanjutkan makannya. Ibu masuk dulu ya. Randu, nanti ajak ke rumah ya!" Pamit Ibu tersenyum.
"Iya, Bu."
"Huffhhh!" Ami menghembuskan napas lega. Sedari tadi dia sedikit menahan napas saat berhadapan dengan Ibu Randu.
"Kenapa?" Tanya Randu tersenyum lebar.
Ami memanyunkan bibirnya. "Itu pasti senyuman mengejek, kan? Karena lo liat gue salting, iya kan?"
"Hahaha..." Randu terbahak.
"Ihh, tawa genderuwo."
"Lucu aja."
"Apanya yang lucu!?"
"Gue kira lo ga bisa salting, ternyata bisa hahaha..." Puas sekali Randu tertawa hingga membuat adik dan Ibunya yang terus memperhatikan dua sejoli itu merasa heran.
"Jahat!" Ami menghempaskan pantat semoknya kembali di kursi. "Begini kali ya, kalau berhadapan langsung dengan calon mertua?"
"Kepedean!"
"Kalo ditolak lagi ngapain gue di sini!" Ami berdiri, mengambil ranselnya dan pergi.
__ADS_1
Randu menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia ikut berdiri, mengejar Ami lalu menggenggam tangan gadis itu, mengajaknya keluar menuju motornya.
"Lepas!" Ami berusaha menarik tangannya dari genggaman Randu tapi tidak bisa. Cowok itu mengeratkan genggamannya.
Ami hanya bisa pasrah kemana pangeran kuda hitamnya akan membawanya. Saat bonceng, Ami ragu untuk berpegangan pada pinggang Randu. Dia hanya memegang ujung jaket yang dikenakan cowok itu.
Tangan kiri Randu menuntun agar tangan Ami melingkari perutnya. Awalnya Ami terkejut, tapi lama-lama dia merasa nyaman. Dia menyandarkan kepalanya pada punggung tegap cowok itu, dia memeluk pinggang cowok itu erat. Nyaman. Bahagia. Itu yang Ami rasakan. Ami memejamkan mata sembari tersenyum sepanjang perjalanan.
Randu membawa Ami keliling kota Bandung. Mereka lalu berhenti di jalan Braga, lokasi syuting Preman Pensiun. Mereka duduk di kursi panjang yang ada di trotoar.
"Lo nginep, kan?" Tanya Randu.
"Tergantung.."
"Tergantung apa?"
"Tergantung lo. Lo mau gue nginep, apa langsung pulang?" Ucap Ami menatap cowok di sebelahnya.
Randu balas menatap Ami. Dia tidak mengucapkan apapun, hanya tangannya yang bergerak meraih tangan gadis di sampingnya dan menggenggamnya erat. Ami menatap tangannya yang bertaut dengan tangan Randu, yang semakin lama semakin erat.
Ami masih belum percaya jika saat ini dia sedang bersama dengan pangeran berkuda hitamnya, setelah dirinya dikecewakan sebanyak lima kali oleh cowok itu. Tapi senyuman maut cowok itu meruntuhkan keraguannya. Dia pun membalas senyuman cowok di sampingnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu lebar cowok itu.
"Jadian apa?" Randu menahan senyum.
Ami menegakkan tubuhnya, menatap tajam cowok di sampingnya sambil bersedekap. "Fiks! Lo sukses bikin gue kesel!"
Randu tersenyum.
"Karena lo udah bikin gue kesel, lo harus traktir gue duren bakar sama kelapa muda bakar!" Todong Ami.
Randu malah tertawa mendengar tuntutan Ami. Ami memanyunkan bibirnya lalu membuang muka memunggungi Randu, tidak ingin melihat Randu yang sedang menertawakannya.
Randu memeluk Ami dari belakang dan berbisik, "As you wish.."
Ami menegang, melihat tak berkedip sepasang tangan yang lumayan berotot melingkari tubuhnya. Dia merasa lingkung saat Randu menuntunnya untuk menaiki motor lagi menuju Dago, di mana penjual durian dan kelapa muda bakar berada.
"Ternyata air kelapa muda dibakar enak ya? Duren bakarnya juga! Bandung bener-bener surga kuliner! Si Cici bakal boros banget nih kalo ke sini!" Ucap Ami tanpa merasa malu pada penjual dan pembeli yang berada di kedai itu.
Randu pun tidak merasa malu saat gadis yang diajaknya bertingkah memalukan di depan banyak orang. "Kenapa Leni dan Cici ga ikut?"
"Mereka ada acara sendiri. Sebagai permintaan maaf ga bisa nemenin gue, Cici beliin gue tiket kereta ke Bandung." Jawab Ami dengan mulut penuh daging durian. Dia menjilati jari-jarinya setelah menelan daging durian itu.
__ADS_1
"Apa yang lo rasain sekarang?"
"Mmm... Jadi cewek paling beruntung! Diantar Leni dari rumah ke stasiun, dibeliin tiket kereta oleh Cici, makan gratis di rumah makan lo, ga harus bayar angkot yang gue tumpangin dari rumah makan lo, dan sekarang ditraktir kelapa muda dan duren bakar. Apalagi makannya berdua bareng lo. Jadi, gue cuma ngeluarin duit buat ongkos ojol dari stasiun ke rumah makan lo. Minim banget kan dana hari ini?"
Ami menyeruput air kelapa yang masih hangat. "Jadi gue ngerasa jadi cewek paling beruntung." Imbuhnya.
Randu masih setia dengan senyumannya, dia menyelipkan anak rambut Ami ke belakang telinga gadis itu.
"Keberuntungan gue dipadu dengan kebahagiaan karena lo nerima gue. Iya, kan?" Ami menyondongkan badannya ke arah Randu.
"Emang gue bilang kalo gue nerima lo?"
"Nih cowok bener-bener minta dipelet pake ajian jaran goyang ya!?" Seru Ami kesal.
Randu terbahak mendengar ucapan Ami, dia baru sadar jika mereka menjadi pusat perhatian pengunjung kedai yang lain. Randu menghentikan tawanya, "maaf, Kang, Teteh.." Ucapnya tidak enak hati.
"Eh, mereka liatin gue ya?" Bisik Ami dan dijawab anggukan oleh Randu. Ami merapikan anak rambutnya yang menutupi kening dengan punggung tangan karena tangannya kotor oleh daging durian. "Rapi belum? Cemong ga muka gue?"
Ciri-ciri pertanyaan orang yang tidak tahu malu itu membuat Randu mati-matian menahan tawa. Itulah Ami, cewek ga tau malu dan ga pernah ja'im yang selalu sukses membuat gue tertawa dengan segala kekonyolannya. Dan hanya dia, cewek yang bisa membuat gue merasa nyaman, tanpa menuntut apa pun dari gue.
"Ditanyain malah bengong! Ambilin bedak deh di tas gue, gue mau ngaca!"
"Ga perlu. Muka lo ga cemong, masih cantik seperti dulu." Jawaban Randu membuat Ami tersipu.
"Jadi,,, gue cantik dari dulu ya?" Tanya Ami malu-malu.
"Lo emang cantik dari dulu." Puji Randu lagi.
"Terus kenapa lo nolak gue mulu!? Pengen pacaran sama lo aja mesti inden delapan tahun! Bisa-bisa gue jadi cewek bangkotan kalo lo masih nolak gue lagi. Gerutu Ami kesal.
Para pengunjung kedai beberapa kali menahan tawa mendengar ocehan Ami. Bahkan ada yang tidak sanggup menahannya dan akhirnya terbahak juga. Ami menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kedai.
"Randu, bahasa Sunda-nya maaf, apa'an?" Bisiknya pada Randu.
"Punten, Kang, Teh. Nyuwun hampura.." Ucap Randu membungkukkan badan sedikit.
**Cirebon, 2 Maret 2022
Jangan lupa baca juga karyaku yang lain yaaa 😘😘**
__ADS_1