
Randu menoleh saat namanya dipanggil. Seorang gadis berdiri di halaman depan rumah Ami. Gadis itu memasang wajah yang memprihatinkan pada Randu.
"Mau apa lagi?" tanya Randu malas.
"Aku ... aku ...."
"Mau ngapain lo, kuntilanak! Mau gangguin laki orang?" tanya Ami ketus.
Ami mendekati Randu lalu berdiri di samping suaminya. Dia menatap tajam Sesil. Sesil masih diam, belum berani membuka suara.
"Ck! Kalau lo ga ada perlu apa-apa, mending lo pulang sono!" usir Ami.
"Bentar, gue belum selesai ngomong!" seru Sesil.
"Ya udah cepetan lo mau ngomong apa?" Ami bertanya lagi dengan ketus.
"Gue mau ngomomgnya sama Randu, bukan sama lo," balas Sesil.
"Randu laki gue, jadi gue berhak tau!" tukas Ami.
"Udah, Yang. Masa pagi-pagi berantem." Randu berusaha meredakan emosi Ami.
"Kamu panggil dia sayang?" tanya Sesil kecewa.
"Iya," jawab Randu.
"Lah, gue kan istrinya. Pantes dong kalau dia manggil gue sayang. Wek!" Ami menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yamg sedang meledek temannya.
"Dih! Ngeselin banget sih lo!"
"Lo juga nyebelin!"
"Udah jangan kaya anak kecil," seru Randu. "Lo kalau memang ada yang mau diomongin, bilang aja. Apa yang mau lo omomgin?"
Sesil menelan ludahnya kasar. "Aku ... aku ... mau pindah ke kota lain. Aku akan coba melupakanmu."
"Bagus itu! Jangan ngejar-ngejar laki orang, ga baik," sela Ami.
Sesil melotot tajam pada Ami karena kesal. Wajahnya kembali sendu saat menatap Randu. "Boleh ga, untuk yang pertama dan terakhir, aku meluk kamu?" tanyanya pelan.
"Boleh," jawab Ami.
Wajah Sesil langsung sumringah karena mendapat izin dari Ami. Senyum sudah terkembang di bibirnya. Dia sudah merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk Randu. Randu sendiri merasa terkejut dengan jawaban istrinya yang membolehkan gadis yang biasa istrinya panggil dengan sebutan kuntilanak itu memeluknya.
"Tapi diwakilkan oleh istrinya. Yuk," imbuh Ami seraya merentangkan kedua tangannya.
Senyum di wajah Sesil langsung lenyap tanpa bekas. Tangan yang semula terentang langsung luruh ke bawah. "Ogah kalau sama lo!"
"Gue juga ogah laki gue dipeluk lo! Dah sono, pergi!" usir Ami. Sementara Randu berusaha menahan tawa.
"Randu, kamu ga mau bela aku?" pinta Sesil.
"Atas dasar apa laki gue bela lo? Yang ada, dia harus bela gue, bukan lo!" sarkas Ami.
"Lo tuh bener-bener ngeselin, Bakmi!" seru Sesil lalu pergi.
"Lo juga, Kunti!" balas Ami.
"Yuk masuk," ajak Randu.
"Ke mana?"
__ADS_1
"Kamar."
"Ogah! Masih sakit tau," tolak Ami merajuk.
"Dosa loh nolak suami." Randu menarik tangan Ami.
"Iiihhh!" geram Ami tapi tetap mengikuti langkah suaminya.
***
"Sori, gue ketiduran. Gue tidur nyenyak banget tau," oceh Cici saat ke rumah Ami sore harinya.
"Iya, kemaren malam kan kita ga tidur, semalam juga kita tidurnya larut banget, jadi ya kita bangunnya siang," dalih Leni cengengesan.
"Ga asik lo! Jadi calon kakak ipar bukannya bantuin beres-beres malah molor!" sembur Ami.
"Coret aja dari daftar calon kakak ipar," ucap Cici mengompori Ami.
"Dosa lo jadi kompor," balas Leni tidak terima.
"Ngobrol di kamar aja yuk," ajak Ami.
"Eh, lo lupa? Kamar lo kan sekarang jadi kamar Randu juga." Leni mengingatkan.
Ami menepuk keningnya. "Gue lupa!"
"Tapi yang semalam ga lupa kan?" tanya Cici dengan senyum jahil.
"Mana bisa lupa, orang sakitnya aja masih terasa." Ami buru-buru menekap mulutnya seraya menengok kanan kiri.
"Seriusan, Mi? Sesakit itu?" tanya Leni meringis.
"Ngaco lo!" Leni menoyor kepala Cici.
"Gue kan nanya, penasaran gue," dalih Cici.
"Ya masa empe dibandingin sama ditinggal mantan? Biarpun empe sakit, tapi ada enak-enaknya. Nah, ditinggal mantan kawin, apa ada enaknya?" tanya Ami.
"Huss! Ga boleh ngomongin malam penganten, pamali!" tegur salah seorang Bibi Ami.
"Tuh kan, di sini ga aman buat kita yang suka keceplosan dan blak-blakan ngobrol," ucap Ami.
"Ya masa di kamar lo. Lo mau laki lo kita keroyok?" canda Leni.
"Dih! Ya jangan! Dia cuma milik gue!" seru Ami.
"Eh, Mi. Beneran sakit ya belah duren?" tanya Cici.
"Sakit dan kaget juga," jawab Ami.
"Kaget gimana?" tanya Leni dan Cici berbarengan.
"Gue lagi sercing mbah gugel gimana cara biar ga sakit, dia langsung masukin aja," gerutu Ami.
"Sumpah lo sercing gugel?" tanya Cici tak yakin. Ami mengangguk.
"Astoge!" seru Leni dan Cici menepuk keningnya.
***
Dua minggu setelah pernikahan, Ami bersiap untuk pindah ke Bandung. Dia sudah membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke Bandung. Dia juga sudah berhenti bekerja sejak seminggu menjelang pernikahan.
__ADS_1
Mereka sudah membicarakan hal ini sebelumnya, jika Ami akan dibawa ke Bandung setelah pernikahan. Keluarga Randu yang diwakili oleh pamannya, menjemput sepasang pengantin baru itu. Barang-barang sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
Ami memeluk Emak dan menangis di pelukan wanita yang sudah melahirkannya itu. "Maapin aye, Mak. Aye sering bikin kesel Emak. Aye sering bikin malu Emak. Aye janji, kalau Emak lagi kangen ngomel-ngomel sama aye, aye bakal balik. Aye bakal bikin kesel Emak lagi," ucap Ami sesenggukan.
"Lu baek-baek di sono ye. Jangan bikin kesel dan malu laki lu ame mertua lu. Cukup Emak ame Babeh aja yang kesel dan malu ame tingkah lu. Lu kudu jadi bini yang baek, mantu yang baek. Kagak boleh bikin mertua ame laki lu ngomel-ngomel," pesan Emak.
"Jadi beneran aye sering bikin malu Emak?" tanya Ami masih sesenggukan.
"Sering banget!" jawab Emak. "Tapi sekarang lu udah nikah, jadi lu mesti berubah. Bila perlu jadi power renjes kek apa jadi wonder women, terserah lu."
"Aye pengennya jadi ketwomen, Mak," protes Ami.
"Tar lu nyakarin segala rupa."
"Udeh, udeh, makin lama makin ngaco lu berdua!" sembur Babeh. "Lu udah ditungguin, Mi. Cepetan!"
"Babeh ngusir aye?" Ami merengek.
"Bukan ngusir lu, bocah! Lu udah kawin, lu bakal dibawa ame laki lu." Mata Babeh mulai berkaca-kaca saat sudah berhadapan dengan Ami. "Lu kudu jadi bini yang baek. Jika lu jadi bini yang baek, lu bisa bawa Babeh ke surge besok-besok."
Babeh memeluk Ami erat, matanya sudah berkaca-kaca. Ami mencium punggung tangan Babeh dan Emak, juga Arman. Mereka berpelukan.
"Lo kalau kangen berantem sama gue, main ke Bandung ya, Bang," ucap Ami masih sesenggukan.
"Lo harus jadi istri yang baek. Lo harus kurangi kadar somplak lo," ucap Arman.
"Emang gue somplak banget ya sampe lo bilang gitu?"
"Lumayan."
"Lumayan apa?"
"Lumayan tinggi." Ami memanyunkan bibirnya. "Dah sono, udah ditungguin."
Ami pun melepaskan pelukannya. Randu pamit dan minta izin pada kedua orang tua Ami dan kakaknya. Dengan berurai air mata, Ami melambaikan tangan pada keluarganya.
...**Selamat tinggal ......
...Selesai...
...Tamat ...
Cirebon, 15 April 2022
Ami udah nikah, jadi Ami sama Randu pamit sama kalian. Makasih buat kalian yg sudah ikuti kisah Ami sampai selesai 😍😍😍
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah ya buat Ami. Sampai jumpa di karya berikutnya 😘😘😘
Jangan lupa, ada karya yang keceh badai dari teman Emak. Karya author EET WAHYUNI SHANDI yang berjudul LEGENDA GIOK KEMBAR. Bagi pecinta fantim, yuk merapat. Dijamin seru ceritanya.
Blurb :
Pada 16 tahun yang lalu, Keluarga Shen dan Keluarga Yu mengadakan suatu perjanjian pernikahan aliansi antara kedua keluarga. Dan mereka sepakat, bahwa anak kedualah yang akan menjadi pengikat tali aliansi kedua keluarga tersebut.
Namun siapa yang menyangka, jika ternyata anak kedua dari Keluarga Shen adalah seorang gadis dengan fisik tak serupa dengan Shen Xu saudara kembarnya yang cantik jelita.
Yu Zhen yang merupakan tuan muda kedua Keluarga Yu, menolak pernikahan aliansi tersebut dengan suatu alasan. Yu Zhen masih ingin mempelajari ilmu yang mengharuskan dirinya untuk tetap menjaga keperjakaannya.
Shen Ji yang merasa ditolak oleh Yu Zhen dan terus ditindas oleh Shen Xu, akhirnya melarikan diri dari keluarganya hingga dia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah takdirnya**.
__ADS_1