Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
23. Usaha Terakhir


__ADS_3

AMI memilih masuk wisma menuju kamarnya dari pada menunggu jawaban yang tidak pasti. Ami tahu jika Sesil tersenyum mengejek padanya tapi Ami tidak menghiraukannya. Leni dan Cici ikut masuk karena merasakan kekecewaan Ami.


Sesil mendekati Randu dengan senyuman genitnya. Tapi Randu malah beranjak hendak masuk ke wismanya.


"Randu tunggu!" Sesil mengejar Randu dan mencekal tangannya. "Mau kemana?"


"Masuk."


"Kok masuk sih. Aku kan mau ajak kamu sarapan di luar."


"Keinginan lo udah tercapai, kan? Jadi udah ga ada urusan, kan?"


"Maksud kamu apa?" Tanya Sesil tidak mengerti.


"Lo pikir gue ga tau apa niat lo dekati gue? Gue udah tau sejak dulu, Sil. Lo deketi gue cuma biar Ami marah kan? Bukan karena lo suka sama gue." Randu memaparkan seraya melepas tangan Sesil lalu masuk tanpa mempedulikan paggilan Sesil.


"Gue ga nyangka lo kaya gitu. Pantesan Randu ga mau sama lo! Lo itu picik!" Tukas Toto sebelum ikut masuk menyusul Randu.


"Kok jadi gini sih!" Sesil kesal karena ternyata Randu sudah mengetahui semuanya.


Sarapan sudah disajikan oleh pihak wisma. Mereka sengaja sudah memesan wisma sekaligus makan pagi, siang dan malam mereka yang akan disediakan oleh pihak wisma dengan cara prasmanan. Semua mengambil makanannya sendiri-sendiri.


Ami memilih kursi bambu di belakang wisma setelah mengambil sarapannya dan memakannya di sana. Leni dan Cici pun ikut bersamanya.


"Lo tadi abis teleponan sama Bang Arman?" Tanya Ami pada Leni.


"Iya."


"Bang Arman pilih kasih!" Gerutu Ami.


"Pilih kasih gimana maksudnya?" Tanya Leni tidak mengerti.


"Temen adeknya ditelepon tapi adeknya sendiri ga ditelepon!


"Eh, Maymunah! Temen adeknya itu ceweknya dia, jadi wajarlah kalo Abang lo teleponan sama Leni!" Omel Cici dan Ami hanya cemberut.


Randu hanya menatap kepergian Ami tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah mengambil sarapannya, Randu memilih duduk agak jauh dari teman-teman lainnya bersama Toto.

__ADS_1


"Ami marah ya?" Tanya Toto yang dijawab Randu dengan mengendikkan bahunya. "Biasanya kan, biar pun lo tolak dia tapi dengan ga tau malunya dia tetep deketin lo."


"Boleh gabung ga?" Sela Sesil yang sudah berdiri di depan mereka dengan sepiring sarapan dan air mineral gelasan.


"Ini nih yang ga tau malu." Bisik Toto tanpa mau menjawab Sesil. Randu pun tidak mengucapkan sepetah kata pun.


Sesil cemberut. "Kok ga ada yang jawab sih!?"


"Dijawab atau pun enggak, lo bakalan tetep duduk, kan? Jadi percuma kita jawab!" Jawab Toto kesal.


"Ih, lo perhatian banget deh sama gue sampe lo masih inget kebiasaan gue." Balas Sesil seraya duduk di kursi depan mereka.


Toto hanya memutar bola matanya, jengah pada gadis di depannya. Randu yang sudah habis sarapannya langsung berdiri dan pergi.


"Eh, Randu! Kok pergi sih!? Gue baru mau makan!" Seru Sesil mencoba menahan Randu.


"Gue udah selesai." Jawab Randu datar.


"Temenin gue." Pinta Sesil dengan nada manja.


Randu menaikkan kedua alisnya lalu pergi begitu saja.


Randu berjalan ke belakang wisma dan melihat Trio Kiyut sedang bercanda dengan banyolan konyol mereka hingga tertawa terbahak. Tanpa disadarinya, dia tersenyum tipis melihat gadis berambut panjang yang bersila di atas kursi bambu tertawa lebar.


Apa cowok impian lo masih sama? Gue hanya pengeran berkuda hitam, bukan kuda putih yang lo impikan.


Senyum Randu berubah getir setiap mengingat pacar impian Ami. Dia lalu pergi dan memilih masuk wisma.


Mereka berkumpul lagi di pendopo wisma jam setengah 10 pagi. Mereka mengikuti kuis dan tantangan yang diadakan oleh panitia reuni. Yang berhasil menjawab dengan benar atau menyelesaikan tantangan dengan baik akan mendapat bingkisan.


Riuh rendah suara tepukan, tawa dan sorakan memenuhi pendopo itu. Mereka membaur, melupakan kesibukan masing-masing dalam pekerjaan mereka. Berehat sejenak mengenang masa putih abu-abu yang ternyata terasa konyol setelah mereka beranjak dewasa seperti sekarang.


Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan bermain air di sungai yang tidak jauh dari wisma. Mereka tidak pernah melupakan untuk ber-swafoto dalam setiap kesempatan untuk dijadikan kenangan. Semua yang mengikuti acara reuni ini menyantumkan nomor ponsel mereka dan panitia membuat grup chat agar bisa saling komunikasi.


Mereka seperti anak kecil yang baru bermain air. Ada pula beberapa kejadian lucu, seperti sepasang teman masa SMA yang mencoba berpose bagaikan Jack dan Rose di film Titanic dengan merentangkan kedua tangan mereka sambil berdiri di atas batu. Tapi karena kehilangan keseimbangan, akhirnya mereka berdua sama-sama terjatuh dalam air.


Atau mereka melihat pakaian dalam wanita yang terapung terbawa arus air sungai. Mereka berseloroh sambil mengatakan jika itu pakaian dalam salah satu teman perempuan mereka.

__ADS_1


Ada juga yang sengaja bermain air sambil berendam di sungai. Ami berendam di sungai sambil memejamkan kedua matanya, tubuhnya sudah basah kuyup.


"Lagi ngapain lo, Mi?" Tanya Leni.


"Semedi, kali aja bisa jadi cantik kaya Dayang Sumbi!" Jawab Ami asal.


"Iya kalo kaya Dayang Sumbi, kalo Dayang Sumbing? Malu-maluin lo!" Oceh Cici.


"Ya jangan didoain sumbing, Maymunah! Entar si Ferguso makin ga mau sama gue!" Protes Ami. Masih dengan memejamkan mata, dia berucap pelan. "Cantik, cantik, cantik."


Randu geleng-geleng kepala sembari tersenyum melihat tingkah Ami yang menurutnya konyol. Tapi dia berpikir, Ami-lah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa. Randu masih menatap Ami yang kini mulai membuka kedua matanya dan mendapati pangeran kuda hitamnya sedang menatapnya.


Ami hanya menatap datar, tidak ingin ge'er dan salah tingkah yang akan membuatnya malu. Dia lalu bergabung kembali dengan Leni, Cici dan teman-teman lainnya.


Malam ini adalah malam puncak acara reuni mereka, malam yang panjang bagi mereka karena besok mereka akan kembali ke kehidupan masa menuju dewasa mereka. Kehidupan harian mereka yang sudah memasuki masa kerja.


Ami sengaja berdiri di samping Randu. Dia hanya ingin memanfaatkan kesempatan terakhir mereka bersama. "Tapi tawaran makan gratis buat gue masih berlaku, kan? Meski pun lo nolak gue."


"Gue ga bilang nolak lo." Jawab Randu datar.


"Tapi lo ga nerima gue! Itu sama aja dengan lo nolak gue!"


"Terserah lo."


Ami mencebikkan bibirnya. "Emang gue ga semenarik itu ya sampe lo tolak berkali-kali?"


Randu menoleh pada gadis di sampingnya, hanya menoleh untuk menatap sejenak lalu selesai tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Ami mencegah Randu saat cowok itu akan pergi. "Mau ke mana?"


"Ga tau." Jawab Randu.


"Kok ga tau?"


"Gue ga nyaman di sini."


"Kalo di sini, nyaman ga?" Tanya Ami sembari menunjuk dadanya. Usaha terakhir. Pokoknya, usaha aja dulu.

__ADS_1


Cirebon, 25 Februari 2022


__ADS_2