
Ami bangun dengan tubuh yang terasa pegal dan nyeri di bagian sensitifnya. Dia berusaha memindahkan tangan kekar yang sejak semalam melingkar di pinggangnya. Dengan langkah sedikit tertatih karena menahan nyeri, dia ke luar kamar untuk mandi.
"Emak kira lu belum bangun. Cepetan mandi terus bikinin teh atau kopi buat laki lu," perintah Emak.
"Iya, Mak," sahut Ami lalu masuk kamar mandi.
Si Ami jalannya kaya gitu, berarti udah dong ya. Syukurlah, dia berarti cewek tulen, ade lobangnye. Moga-moga aje bentar lagi gue jadi nenek. Emak tersenyum.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ami ke dapur untuk membuatkan sarapan intuk Randu. Emak masuk ke dapur setelah menyuguhkan kopi dan singkong rebus untuk Babeh.
"Laki lu belum bangun?" tanya Emak.
"Belum, Mak," jawab Ami seraya membuat nasi goreng.
"Emak mau nemenin Babeh lu di depan." Emak kembali ke teras, di mana Babeh duduk di kursi teras sambil menikmati singkong rebus dan kopi.
"Masak apa?"
Pertanyaan Randu mengagetkan Ami hingga membuatnya berjengit. "Hufhhh ... lagi bikin nasi goreng," jawab Ami.
Randu mendekat, lalu mencium pelipis Ami. Ami masih merasa canggung, terburu-buru dia menengok ke belakang Randu, khawatir jika ada yang melihat mereka. Randu ikut menoleh ke belakang, penasaran dengan apa yang dilihat Ami.
"Kenapa?" tanya Randu.
__ADS_1
"Lo bau! Mandi dulu gih!" perintah Ami.
"Sama suami kok gitu," protes Randu.
"Kalau gue bilang lo wangi, itu fitnah! Lo kan belum mandi," sangkal Ami. "O ya, mau dibikinin kopi apa teh tubruk?"
"Maunya ditubruk."
"Cepet masuk ke kamar mandi sono!" Ami mendorong tubuh Randu agar segera masuk ke kamar mandi.
Ami sedang membawa cangkir berisi kopi hitam yang masih mengepulkan asap, hendak menaruhnya di meja makan. Randu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kain sarung serta handuk yang melingkar di lehernya sembari mengeringkan rambut. Randu melihat Ami berjalan sedikit berbeda dari biasanya.
Randu mendekat. "Masih sakit ya?" tanyanya pelan.
Ami memasang wajah cemberut. "Gara-gara lo!"
"Tapi gue kan lagi sercing mbah gugel cara biar ga sakit," protes Ami.
"Semua malam pertama ya sakit, kecuali yang udah ga perawan saat nikah."
"Ish, gue masih segel ya!"
"Tau. Tuh bercak merahnya masih ada di seprei." Randu menunjuk kamar mereka dengan dagu.
__ADS_1
"Astogeh! Gue lupa belum beresin!" pekik Ami menepuk keningnya lalu secepat kilat ke kamar.
Randu menyusul Ami ke kamar. Dia melihat istrinya sedang menarik seprei semalam yang ada noda merahnya lalu mengganti dengan seprei yang baru. Dia membantu Ami memasang seprei baru.
Ami menelan ludah susah payah saat melihat Randu berganti pakaian di depannya. Dada bidang dengan perut roti sobek yang tidak terlalu menonjol itu sangat menggoda imannya. Randu mendongakkan kepala dan mendapati Ami masih menatapnya dengan urat leher berkedut.
"Mau megang?" tawar Randu.
Ami menggeleng, tetapi detik berikutnya dia mengangguk. Lalu menggeleng lagi. Ah, benar-bemar sungguh labil. Kadang dia tidak percaya jika Randu benar-benar memilihnya.
Randu meraih tangan Ami dan meletakkannya di dadanya yang belum terlapisi apa pun. "Semua ini milik lo. Lo boleh menyentuhnya kapan pun lo mau," bisik Randu saat Ami hanya menatapnya membisu. Randu kemudian menyatukan bibir mereka, merayu Ami.
***
Selesai sarapan Randu membantu sanak saudara Ami yang sedang membereskan rumah Ami. Sampah bekas resepsi mereka semalam, kursi-kursi yang masih berserakan, serta peralatan dapur yang tersebar ke mana-mana.
"Randu!"
Randu menoleh saat namanya dipanggil. Seorang gadis berdiri di halaman depan rumah Ami. Gadis itu memasang wajah yang memprihatinkan pada Randu.
"Mau apa lagi?" tanya Randu malas.
**Cirebon, 14 April 2022
__ADS_1
Sepertinya next part itu ending ya.
Jangan lupa kasih jempol, komen serta hadiahnya 😘😘😘**