
"AAAAA!"
❤
Prang!
Piring yang ada di pangkuan Randu jatuh ke lantai. Piring itu pecah dan berserakan di lantai. Lisna yang malam itu menemani Randu sampai kaget mendengar suara barang pecah.
"Hati-hati atuh, A. Tinggal bilang kalau sudah selesai makannya, nanti Lisna yang taruh di meja," ucap Lisna seraya memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai.
"Jam berapa ini, Lis?" tanya Randu.
"Jam setengah sepuluh, A. Ada apa?"
"Ami udah nyampe belum ya? Kok perasaan gue ga enak," gumam Randu seraya mengambil ponselnya.
Randu menelepon Ami, tetapi ponsel gadis itu tidak aktif. Dia mencoba menghubungi Toto, tersambung tetapi lama sekali tidak dijawab oleh sahabatnya itu hingga terputus lagi. Kini dia berganti menghubungi Sesil, seseorang yang tidak pernah dihubungi sebelumnya bahkan tidak pernah berpikir untuk menghubunginya. Dan hasilnya sama seperti Toto, tersambung tapi tidak ada jawaban.
Randu semakin gusar, dia kembali menghubungi Toto, berharap sahabatnya itu kali ini akan menjawab teleponnya. Namun, hasilnya masih sama. Dia terus melakukannya berulang kali dan hasilnya tetap sama. Randu semakin gelisah, perasaannya semakin tidak karuan. Dia khawatir terjadi apa-apa pada teman-temannya terutama Ami, gadis yang dicintainya.
"A, A'a teh kenapa? Kenapa A'a keliatannya gelisah?" tanya Lisna dengan logat Sunda-nya yang khas.
"Perasaan A'a ga enak. A'a telepon Ami ga aktif, telepon Toto ga dijawab, Sesil juga sama. A'a hanya ingin tau, mereka udah sampai atau belum," jawab Randu.
"Berdoa saja, A. Mudah-mudahan Teh Ami dan yang lain baik-baik saja. Mungkin saja Teh Ami kehabisan batu dan teman A'a yang lain tidak mendengar ada telepon. Jadi tidak diangkat," hibur Lisna.
***
Mobil Jazz merah milik Toto yang ditumpangi Ami, Toto dan Sesil menabrak pohon besar. Mobil itu ringsek sedikit di bagian depannya. Tidak ada rumah warga di sekeliling mereka, hanya pohon-pohon yang sengaja ditanam di pinggir jalan dan sawah.
Tubuh mereka bertiga membentur bagian dalam mobil lalu terhenyak hebat! Tidak ada pergerakan dari ketiganya. Tubuh Ami, Toto dan Sesil tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pergerakan.
Ami meringis dengan mata masih terpejam. Tubuhnya terasa remuk dan kepalanya berdenyut sakit. Ami mencoba menggerakkan tanyannya, memegang kepalanya yang terasa sakit dan nyeri. Terasa basah dan saat melihat tangannya ada cairan berwarna merah.
Ami berusaha menegakkan badannya dan memandang berkeliling. Toto masih tertelungkup pada setir mobil dan Sesil, gadis itu menyandarkan kepalanya di belakang kursi yang Ami duduki. Ami kembali meringis seraya memegangi kepalanya.
"To. Toto. Toto," panggilnya mengguncang bahu Toto. "Sesil. Sesil." Berkali-kali Ami memanggil kedua temannya itu.
Ami menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Dia tidak tahu sekarang berada di mana. Matanya berkelana ke jalanan di depannya, berusaha mencari apakah ada seseorang yang dapat dimintai tolong. Jalanan sepi, tidak tampak seorang pun di sisi kanan dn kiri jalan. Hanya ada deretan pohon dan sawah.
"To. Toto. Toto." Ami kembali mengguncang bahu Toto, berharap temannya itu akan sadar. Ingin keluar dari mobil dan meminta bantuan pada mobil yng lewat, tapi badan Ami sakit semua.
Selang beberapa menit, tubuh Toto akhirnya bergerak. Kepala Toto bergerak perlahan serta tangannya juga ikut bergerak. Ami merasa lega saat temanny itu mulai mengangkat kepalanya dan memandang berkeliling.
__ADS_1
"Mi," panggil Toto pelan dan lirih disertai ringisan.
"Syukurlah lo masih hidup, To. Gue takut tadi," ucap Ami lega.
"Di mana kita?" tanya Toto.
"Gue ga tau."
"Sesil. Gimana Sesil?"
"Dia masih belum sadar."
Ami melepas sabuk pengamannya lalu beralih ke kursi belakang untuk melihat kondisi Sesil. Dia mengangkat punggung Sesil untuk bersandar pada kursi agar bisa melihat kondisinya. Mungkin diantara merek bertiga, Sesillah yang lukanya paling parah.
Terdapat luka benturan di kening Sesil. Ada juga luka gores di pipi gadis itu sepanjang kurang lebih tiga senti. Sesil masih belum sadarkan diri meski Ami sudah beberapa kali menepuk pipi gadis itu serta mengguncang bahunya.
"To, lo bisa nyalain mobilnya lagi ga? Kita harus bawa Sesil ke rumah sakit," tanya Ami.
Toto segera menyalakan mesin mobilnya. Awalnya mesin tidak menyala, Toto berulang kali mencoba menyalakannya hingga dia memukul-mukul setir mobil. Setelah dicoba berkali-kali akhirnya mobil itu menyala. Toto dan Sesil bersorak saat mesin mobil itu menyala.
Toto melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Mi, cek lokasi kita di mana dan cari rumah sakit terdekat dari sini," perintah Toto.
Ami segera meraih ponsel yang ada di saku celananya. "Mati, To," ucap Ami.
Saat baru membuka ponsel, Ami melihat ada notifikasi panggilan dari Randu. "Randu tadi telepon berkali-kali," ucap Ami.
"Kok gue ga denger?" tanya Toto.
"Mungkin tadi saat kita belum sadar akibat benturan."
"Ya udah, Mi. Lo cari dulu di mana kita dan lokasi rumah sakit terdekat baru lo telepon Randu."
Ami pun menuruti ucapan Toto. Dia memberi tahu di mana letak rumah sakit terdekat dari tempat mereka berada lalu menelepon Randu. "Halo?"
"Ami? Lo udah nyampe? Lo baik-baik aja, kan? Lo ga kenapa-kenapa, kan?" tanya Randu berantai di seberang telepon. Dari suaranya terdengar sangat khawatir.
"Satu-satu dong, Ran. Gue pusing!"
"Abis lo ga bisa dihubungi. Toto juga ga diangkat-angkat," resah Randu.
"Ponsel gue lowbat."
"Lo udah sampai?"
__ADS_1
Ami bingung apa yang akan dia katakan pada Randu. Dia tidak ingin membuat Randu khawatir. Ami bertanya tanpa suara pada Toto, apa yang harus dia katakan. Tapi Toto hanya mengangkat kedua bahunya, sungguh tidak membantu.
"Mi? Lo denger gue kan? Lo baik-baik aja kan?"
"Gue baik-baik aja kok. Emang kenapa sih?"
"Jangan bohong, Mi!"
"Gue ga bohong! Gue baik-baik aja."
Randu mematikan teleponnya, tak berapa lama ponsel Toto kembali berdering. Panggilan video dari Randu. Ami berdecak sebal sebelum menjawab panggilan itu. Sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi.
"Kenapa itu kening? Beneran kan lo ga baik-baik aja?"
"I-iya tadi ada insiden kecil, kita nabrak pohon. Tapi gue ga apa-apa kok, cuma kening aja nih jadi mancungan dikit."
"Beneran cuma itu? Ga ada yang luka lagi?" Wajah Randu terlihat sangat cemas.
"Enggak, ga ada cuma ini doang. Kenapa sih lo jadi cerewet banget?" Ami cemberut kesal.
"Gue khawatir, Yang. Perasaan gue dari tadi ga enak banget, makanya gue telepon lo tapi ga aktif. Buat gue makin khawatir."
"Sekarang lo udah liat kondisi gue, gue ga apa-apa. Sekarang lagi menuju rumah sakit karena Sesil belum sadar juga," papar Ami. "Gue tutup dulu ya, udah nyampe rumah sakit. Nanti telepon lagi."
"Oke. Hati-hati bawa mobilnya, To," seru Randu lalu mengakhiri sambungan telepon.
Toto menghentikan mobilnya tepat di depan pintu IGD. Seorang suster langsung menarik brankar ke arah mereka. Ami dan Toto mengikuti langkah perawat yang membawa Sesil. Ami dan Toto pun mendapat perawatan pertama dari perawat rumah sakit.
Satu jam kemudian Sesil siuman. Ami dan Toto menemaninya selama proses perawatan di IGD. Sesil meringis kesakitan, dia berusaha bangun. Ami langsung mencegahnya agar tetap berbaring.
"Ini di mana?" tanya Sesil.
"Kita di IGD rumah sakit," jawab Ami.
"Kepala gue sakit banget. Sssss ...." Sesil kembali meringis memegangi pipinya yang terasa sakit dan perih. "Gue kenapa?"
"Kita tadi kecelakaan, gue liat ada bapak-bapak nyeberang jadi gue banting setir dan akhirnya nabrak pohon," jawab Toto.
Sesil melihat ada luka di kening Ami dan Toto. Dia meraba pipi dan keningnya. "Ponsel, ponsel gue mana" Ami memberikan ponsel Sesil dangan ragu.
"Aaa!" teriak Sesil saat melihat wajahnya.
**Cirebon, 26 Maret 2022
__ADS_1
Kasih Emak like, komen dan vote juga yaaa. Kasih bunga or kopi juga kalau boleh 😁😁😁**