Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
26. Menjemput Jodoh


__ADS_3

AMI sudah memikirkan masak-masak saran kedua sahabatnya. Dia sudah membuat keputusan, akhir pekan nanti dia akan mengatakannya pada dua sahabatnya. Apakah dia akan melakukan saran temannya atau tidak.


Ami sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi kemungkinan hujatan ataupun cibiran dari dua sahabatnya. Tekadnya sudah bulat, dan dia tidak akan berubah pikiran lagi. Masa galau sudah lewat, kini saatnya dia menatap masa depannya.


***


AMI berlari secepat yang dia bisa, menyusuri peron stasiun kereta. Dia terlambat karena angkot yang ditumpanginya berhenti terlalu lama untuk menunggu penumpang. Ransel yang ada di punggungnya bergoyang mengikuti derap kakinya berlari.


Kereta yang akan membawa penumpang tujuan Bandung akan segera berangkat. Dia segera menunjukkan tiket yang sudah dipesankan Cici untuk menjemput jodohnya. Dia selalu berdoa dalam hati, semoga misinya ke kota Paris Van Java untuk menjemput jodohnya itu berhasil.


Napasnya tersengal saat kakinya mulai menapak di gerbong kereta yang beberapa detik kemudian langsung merayap di atas rel. Dia berjalan menyusuri lorong kereta mencari tempat duduknya. Dia mendudukkan pantat semoknya di atas kursi kereta kelas bisnis dan memangku tas ranselnya. Pikirannya kembali melayang pada pertemuannya dengan Leni dan Cici semalam sepulang kerja.


"*Gue udah putusin,..."


"Mutusin siapa, Mi? Perasaan lo jomblo deh." Sela Cici yang mendapat pelototan dari Ami dan Leni.


"Makanya dengerin dulu, Maymunah!" Seru Ami kesal. "Gue udah putuskan,,, untuk mengikuti saran lo berdua."


"Lo mau ke Bandung?"


"Lo mau jemput jodoh lo?"


Tanya Leni dan Cici bergantian. Ami mengangguk yakin. Ya, dia sudah memikirkannya selama beberapa hari tentang keputusannya ini.


"Gue akan ke Bandung untuk mencoba peruntungan sekali lagi, usaha terakhir gue."


"Oke. Gue pesenin tiket kereta buat lo! Buat perjuangin cinta lo!" Janji Cici.


"Cakep!" Puji Leni dan Ami kompak sembari mengacungkan jempol*.


Tak terasa, kereta yang Ami tumpangi sudah sampai di stasiun kota Bandung. Ami segera menggendong ranselnya dan keluar dari kereta. Dia menyempatkan diri membeli cemilan dan duduk di kursi tunggu untuk memakannya.


Ami mengambil secarik kertas dari saku celana jinsnya, melihat kembali alamat yang tertera di kertas itu. Dia segera memesan ojol untuk melanjutkan perjalanan menuju ke alamat itu.

__ADS_1


Ami langsung keluar stasiun setelah menerima telepon dari pengemudi ojol jika si ojol sudah berada di depan stasiun. Ami menunjukkan alamat yang tertera di kertas itu pada pengemudi ojol yang langsung mengangguk karena mengetahui dimana letak tempat itu.


Pengemudi ojol menghentikan motornya di depan sebuah warung makan yang lumayan besar, atau mungkin bisa disebut sebagai rumah makan. Ami mengerutkan keningnya, bukankah Randu bilang usaha warung makan kecil-kecilan?


"Sudah sampai, Teh. Kenapa Teteh ga turun?" Tanya pengemudi ojol merasa heran.


"Ini bener tempatnya, Bang, eh Mas?" Tanya Ami sangsi.


"Iya atuh, Teh. Saya sering dapat pesanan makanan di sini." Jawab pengemudi ojol meyakinkan.


Ami pun turun dari motor lalu memberikan uang ongkos. "Makasih ya, Bang, eh Mas."


"Sama-sama, Teh."


Ami melangkahkan kakinya setelah Mas ojol pergi. Sesaat Ami ragu, apakah ini benar warung makan milik Randu atau bukan. Langkahnya berhenti di teras warung. Dia meremas jari jemarinya sendiri, ragu dan gugup menjadi satu.


Ini perjuangan terakhir gue. Gue harus berani! Semangat Ami! Lo harus memperjuangkan pangeran lo!


Ami menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia melangkah memasuki bagian dalam rumah makan.


Ami pun tersenyum ramah tapi canggung. Matanya beredar ke seluruh penjuru rumah makan, mencari sosok yang sangat dirindukannya.


Matanya terpaku saat menangkap sosok itu lewat netra indahnya. Tapi alangkah hancur hatinya saat melihat cowok itu sedang merangkul bahu seorang gadis yang diperkirakan usianya lebih muda darinya.


Lama Ami menatap sejoli yang belum menyadari kehadirannya, hingga matanya memanas dan terlihat genangan dimata indah itu. Sejoli itu tersenyum dan tertawa yang membuatnya sangat iri.


Iri? Benarkah dia iri? Atau sesungguhnya dia cemburu? Iri dan cemburu memang berbeda tipis. Ami memilih meninggalkan rumah makan itu sebelum hatinya bertambah sakit.


"Teh! Teteh kenapa pergi? Duduk dulu atuh, Teh!" Teriak pelayan perempuan tadi berusaha mencegah Ami.


Pria yang ada dibalik meja kasir menoleh ke arah seruan pelayannya. Pada saat itulah sepasang mata tajamnya menangkap sosok gadis yang sangat dikenalnya tengah menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan. Ami...


Ami berlari begitu dirinya merasa tertangkap basah oleh cowok itu. Dia mengabaikan panggilan cowok yang sudah membuatnya kecewa berulang kali itu. Mungkin keberuntungan sedang berpihak padanya, saat dia ingin segera pergi dari tempat itu, saat itu ada angkot yang melintas di depannya.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan tempat tujuan angkot itu, Ami langsung memasukinya.


"Ami!"


Randu segera menaiki motornya dan mengejar angkot yang ditumpangi Ami. "Ami! Turun, Mi!" Teriak Randu.


Ami tak mempedulikan teriakan Randu. Dia diam di tempat duduknya tanpa mau melihat Randu.


"Lagi berantem sama pacar ya, Neng?" Tanya ibu-ibu penumpang angkot.


Ami hanya tersenyum tipis dan getir menanggapi pertanyaan ibu itu. Dia tetap membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Merasa Ami tidak mau mendengarnya, Randu mengencangkan laju motornya hingga berada tepat di samping sopir angkot. "Kang! Punten berhenti dulu, Kang!" Seru Randu pada sopir angkot.


Sopir angkot mengangguk dan menghentikan angkotnya di tepi trotoar. Randu ikut menghentikan motornya di belakang angkot itu.


Randu berdiri di depan pintu angkot. "Turun, Mi."


Ami tak menghiraukan Randu, menatapnya pun tidak.


"Ami.."


Ami masih belum bergeming. Randu tidak ingin membuang waktu, dia menarik tangan Ami sampai gadis itu keluar dari angkot. Angkot pun melaju kembali.


"Lepas! Sakit tau!" Ami berontak.


Randu melepaskan tangan Ami. "Kenapa pergi lagi?"


Bukannya menjawab pertanyaan Randu, Ami malah membuang muka. Randu menarik napas dalam, berusaha sabar dalam menghadapi gadis di depannya.


Jangan bosen yaaa kalau aku promo lagi promo lagi 😀😀. Namanya juga usaha ingin karyanya dibaca oleh lebih banyak orang, jadi wajar ye kaaaan kalau aku promo terus. Otor picisan ini juga mengharapkan komentar kalian disetiap bab dari setiap karya otor yaa 😉


__ADS_1


Cirebon, 28 Februari 2022


__ADS_2