
"Mau apa kamu di sini?" tanya gadis yang baru saja membuka pintu kamar rawat Randu.
"Mestinya gue yang nanya, lo ngapain ke sini?" Ami balik bertanya dengan nada ketus.
"Saya teh mau nengokin A Randu," jawab gadis itu.
"Udah liat kan keadaannya Randu, jadi pulang sono!" usir Ami.
"Ih, kamu teh meuni judes pisan," tukas gadis itu.
"Lo juga ngeselin banget! Ganggu orang lagi berduaan!" Ami balas tak kalah judes. Dia membantu Randu hingga pemuda itu sampai di brankar.
Randu diam saja karena dia yakin Ami bisa mengatasi masalah ini. Ingat, Ami bukan gadis lemah. Ami akan melawan siapa pun yang menindasnya.
"Kamu teh saha? Melarang saya bertemu dengan A Randu," tanya gadis itu menuntut penjelasan. "Dulu kamu juga usir saya dari rumah A Randu."
"Gue calon istrinya Randu. Terus lo mau apa?" tantang Ami bersedekap.
"Masa sih?" tanya gadis itu tidak percaya. Dia mendekati brankar. "Dia bohong 'kan, A?" tuntut gadis itu.
"Dia ga bohong." Hanya itu jawaban Randu.
"A Randu 'kan tau kalau Intan teh suka A'a. Kenapa A'a milih dia?" Kembali gadis bernama Intan itu bertanya.
"Karena lo bukan jodoh Randu. Simpel 'kan?" sela Ami.
"A Randu jahat!" hardik Intan yang mulai sesenggukan lalu keluar.
Ami duduk di kursi dekat brankar dengan tangan masih bersedekap dan bibir cemberut. Dia masih kesal pada Randu yang dinilainya diam saja. Meski Randu mengatakan jika dia tidak bohong di depan Intan, Ami tetap masih merasa jengkel dengan cowok itu. Seorang pelayan rumah sakit masuk mengantarkan makan siang.
Lagu Something Stupid mengalun dari ponsel Ami. Gadis itu segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana jins. Dia melihat gambar dua sahabatnya di layar datar itu. Ami menepuk kening sebelum menjawab panggilan.
"Siaapa?" tanya Randu.
"Gue lupa belum ngabarin mereka, baru ngabarin kantor aja kalau hari ini ga masuk." Ami segera menjawab panggilan video dari dua sahabatnya.
"Bakmi! Awas lo ya, ga bilang-bilang mau ke Bandung! Gue sumpahin cepet nikah dan cepet punya anak lo biar rempong!" seru Cici.
"Tau nih, ga setia kawan! Gue taunya dari Bang Arman," imbuh Leni.
"Ya maaf, gue kalap," balas Ami.
"Terus gimana keadaan Randu?" tanya Leni.
Ami menggeser ponselnya agar kedua sohibnya bisa melihat Randu. Randu melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum. "Hai," sapanya.
__ADS_1
"Lo udah baikan, Ran?" tanya Leni.
"Udah mendingan, kan ada yang nemenin," jawab Randu melirik pada Ami.
"Cie cie... Udah cepetan halalin," seloroh Cici.
"Kuy lah! Gaskeun!" timpal Leni.
"Entar, dia belum minta gue ke Babeh."
Randu menarik kepala Ami hingga wajah mereka berdampingan terbingkai di layar ponsel. "Cocok 'kan?"
"Yeay! Kita bakal jadi pagaer ayu, Len!" sorak Cici.
"Pager ayu, pager reyot iya!" timpal Ami.
"Ish, sadis banget lo, Mi." Cici mencebikkan bibirnya.
"Pokoknya gue tunggu kabar baik dari kalian," ucap Leni.
Mereka pun mengakhiri panggilan video mereka karena istirahat makan siang sudah habis. Ami dan Randu saling tatap. Randu berusaha mendekatkan wajahnya pada wajah Ami. Semakin dekat, semakin dekat, dan,,,
Kreuukkk...
Ami meringis. Dasar musik ga tau diri! Musiknya ga enak tapi suka ngalun sendiri, jadi bikin keki!
Ami cemberut mendengar kekehan Randu. "Seneng banget ketawanya."
"Ini ada nasi dari rumah sakit. Kita makan berdua," ucap Randu.
"Nasinya dikit banget masa buat berdua?"
"Kalau makannya sepiring berdua pasti kenyang."
"Belajar dari mana kata-kata seperti itu?"
Randu tak menjawab, dia mengalihkan pandangannya. Berusaha fokus membuka plastik penutup makanan dari rumah sakit. Entah kenapa, jika bersama Ami sisi romantisnya meronta ingin keluar.
"Maaf, Ibu telat bawa makan siang," ucap Ibu yang baru saja masuk dengan membawa rantang susun.
"Ga apa-apa, Bu. Ibu pasti sibuk," balas Ami.
"Mangga atuh, Neng. Makan siang dulu." Kembali Ibu berucap.
"Ibu juga sekalian makan yuk," ajak Ami.
__ADS_1
"Ibu mah tadi sudah di warung, Neng."
"Masa aku makan sendirian," keluh Ami.
"Gue juga makan. Udah cepetan dimakan, nanti musiknya bunyi lagi," ucap Randu.
Akhirnya Ami pun makan ditemani Randu. Ibu juga membawakan satu setel pakaian ganti untuk Randu. Terkadang diselingi obrolan ringan, atau candaan. Ibu menyukai pembawaan Ami yang apa adanya dan humoris.
"Apa Ibu kasih tau Intan?" tanya Randu.
"Intan? Ya enggak atuh, Randu. Kunaon?" Ibu balas bertanya.
"Tadi dia ke sini. Dan seperti biasa, dia ga suka Ami di sini. Aku ga tau siapa yang kasih tau," beber Randu.
"Tos atuh, ulah dipikirkeun."
Ami sudah selesai makan, dia ke kamar mandi untuk mencuci piring bekas makannya. Dia sedikit lama di kamar mandi, hingga membuat Ibu khawatir. Ibu sampai menyalahkan Randu kenapa membahas Intan saat ada Ami. Tapi Randu terlihat santai saja, dia yakin Ami tidak sedang merajuk.
"Lama banget di kamar mandi, ngapain?" tanya Randu saat Ami keluar kamar mandi.
"Gue kebelet pipis," jawab Ami. Dia duduk lagi di tikar bersama Ibu. "Mm,,, Bu, aku harus pulang ke Jakarta," pamit Ami.
"Lo tadi ga bahas kalau lo mau pulang," ucap Randu, terdengar kekecewaan dinada suaranya.
"Gue kan dari tadi pagi udah bilang, gue ijin bolos cuma sehari kalau banyak-banyak bisa dipecat," balas Ami jengkel.
"Kalau dipecat ya udah, pindah aja ke Bandung." Randu menatap Ami tajam.
Ibu merasa serba salah. Ingin ikut bicara takut salah, karena dia melihat Randu tidak suka saat Ami pamit. Ingin pergi saja merasa tidak enak pada Ami jika asal pergi. "Ibu ke kantin dulu ya, mau beli roti tadi lupa." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya dan langsung keluar kamar.
Mereka berdua hening setelah kepergian Ibu. Ami menatap keluar jendela, sementara Randu yang masih duduk di brankar menatap kosong pintu. Mereka masih diam membisu, hanya napas mereka yang menjadi musik pengiring kebisuan dua insan itu.
Randu menoleh pada Ami, gadis itu masih menatap kosong jendela. "Mi..."
Ami tak bergeming, masih setia dengan jendela berdaun persegi itu. "Mi..." Randu memanggil sekali lagi, tapi Ami masih diam. "Lo marah?" tanya Randu.
Ami menoleh, matanya merah tapi tidak ada genangan air di sana. Dia menatap pemuda di depannya tanpa kedip. Pemuda itu mengulurkan tangan padanya, isyarat agar dia mendekat kepada pemuda itu. Ami menelan ludahnya kasar, lalu berdiri dan berjalan ke arah pemuda itu. Dia menyambut uluran tangan Randu lalu mereka saling berpelukan.
"Maaf jika gue egois," bisik Randu.
Ami semakin mengeratkan pelukannya tanpa membalas ucapan Randu. Dia hanya ingin merasakan kehangatan pelukan ini lebih lama lagi. Dia juga sebenarnya ingin selalu berada didekat kekasihnya itu. Kekasih ya? Iya, mereka kan sepasang kekasih. Meski pun seperti itu, Ami masih tetap merasa geli jika menyebut kekasih. Dia masih suka senyum-senyum sendiri.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
**Cirebon,22 Maret 2022
__ADS_1
Kali ini Emak mau merekomendasikan karya teman Emak. Dia pernag jadi juara di event Berbagi Cinta looh.. Yaps, siapa sih yang ga kenal sama kak author Nadziroh? Yuk baca cerita dia yang berjujudul **Bukan Sebatas Impian. Happy reading... 😘😘😘