Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
31. Aku Sayang Kamu


__ADS_3

AMI bangun jam 5.30 pagi. Dia langsung tersenyum saat menyadari berada di kamar Randu, Pangeran Berkuda Hitam-nya. Keluar kamar, dia melihat cowok pujaannya masih tidur di karpet. Dia mendengar suara kuali beradu dengan sutil yang membawa kakinya ke arah dapur. Dilihatnya Ibu sedang membuat nasi goreng.


"Keduluan Ibu bangunnya, aku jadi malu." Ucap Ami cengengesan.


"Teu nanaon, Neng. Ibu teh malah suka Eneng bisa tidur nyenyak. Berarti Eneng betah di sini." Ibu berbalik menghadap Ami. "Mandi dulu atuh, biar seger."


"Iya, Bu."


Ami kembali ke kamar Randu untuk mengambil handuknya. Dia menepuk kening saat tidak menemukan handuk di ranselnya.


"Kenapa bengong?"


Suara Randu mengagetkannya yang masih termenung di kasur. Cowok itu sudah berdiri di ambang pintu.


"Gue lupa ga bawa handuk."


Randu masuk ke kamarnya, membuka lemari lalu memberikan handuknya untuk dipakai Ami. "Pake ini."


Ami tersenyum. "Makasih." Dia lalu segera ke kamar mandi.


Randu berbaring di kasurnya dan kembali tidur. Lisna dan Tanti yang baru keluar dari kamar terkejut saat melewati kamar Randu yang pintunya terbuka, mereka melihat Kakaknya tidur di sana.


Mereka bergegas ke dapur dan mengadu pada ibunya. "Bu, itu A'a tidur seranjang sama Teh Ami?" Tanya Lisna.


"Ya tidak, atuh." Jawab Ibu.


"Tapi itu, A'a ada di kasur." tunjuk Tanti.


"Dia pindah tadi setelah Ami bangun dan masuk kamar mandi."


"Ooo..." Lisna dan Tanti mengangguk.


"Udah lama nunggu?" Tanya Ami saat keluar kamar mandi dan melihat Lisna serta Tanti mengantri untuk ke kamar mandi juga.


"Enggak kok, Teh." Jawab Lisna.


Ami masuk ke kamar Randu dan mendapati cowok itu tidur lagi. "Randu, bangun! Udah pagi napa tidur lagi."


Ami menggoyang-goyang tubuh Randu hingga cowok itu menggeliat dan bangun.


"Apa lagi sih?" Tanya Randu kesal.


"Bangun, mandi, udah siang nih!"


Dengan terpaksa Randu bangun dari tidurnya karena Ami menyeretnya hingga keluar kamar.


"Hayu sarapan dulu." Ajak Ibu yang sudah duduk di karpet bersama Lisna dan Tanti.


Randu sudah berjongkok hendak duduk tapi gerakannya tertahan oleh tangan Ami.


"Mandi dulu! Emang enak makan campur iler!?" Sentak Ami.


"Ya Tuhan... Belum jadi istri aja udah galak." Gerutu Randu.


"Terus, kapan lo mau lamar gue?" Tanya Ami tanpa malu dengan senyum pepsoden.


Randu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan melihat Ibunya sekilas. "Mandi dulu."


"Ditanyain jawabannya ga nyambung!" Ami mengomel kesal.


Mereka pun sarapan bersama setelah Randu mandi. Ami membantu Lisna membereskan bekas makan mereka lalu mencucinya.


"Kalian mau ke mana?" Tanya Ami saat melihat Lisna dan Tanti bersiap hendak keluar rumah.


"Kami mau ke pasar, Teh. Belanja kebutuhan rumah makan." Jawab Lisna.


"Ikut boleh?"


"Nanti Teteh capek, panas dan berat karena belanjaannya banyak." Tolak Lisna halus.


"Ga apa-apa. Aku udah biasa ke pasar kok. Emak juga punya warung kelontong, jadi kalau minggu gue ikut Emak ke pasar."


"Tapi sambil menggerutu." Randu menambahkan.


"Biarin!"


"Sudah atuh. Masa berantem terus." Ibu melerai mereka.


"Yuk ah! Di sini bikin gue kesel!"

__ADS_1


Ami mendahului Lisna dan Tanti keluar rumah. Mereka bertiga berangkat ke pasar naik angkot. Kini tinggal Randu dan Ibunya yang berada di rumah.


"Randu.." Panggil Ibu saat Randu hendak berdiri.


Randu pun duduk kembali di depan Ibunya. "Ada apa, Bu?"


"Kamu teh serius sama Neng Ami?" Randu diam. "Kamu teh suka sama Neng Ami?"


"Jika Ibu merestui.." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Randu.


"Asal kamu bahagia, dan dia gadis baik-baik, Ibu pasti merestui." Balas Ibu menepuk bahu Randu.



AMI, Lisna dan Tanti menjelajah seluruh pasar dengan membawa beberapa kantong belanjaan. Ami sudah lelah dengan tubuh penuh peluh.


"Yuk pulang, Teh." Ajak Lisna.


"Udah semua?" Tanya Ami.


"Udah, Teh."


Saat akan keluar pasar, mereka berpapasan dengan Intan. Intan langsung menatap tajam Ami.


"Kenapa kamu teh masih di sini? Harusnya teh pulang, jangan gangguin A Randu! A Randu teh pacar saya!" Seru Intan.


"A Randu ga pernah bilang kalau dia suka sama Teh Intan." Lisna menyanggah ucapan Intan.


"Kalian berdua teh masih kecil, ga ngarti pacar-pacaran."


"Cinta itu bukan paksaan, tapi harus suka sama suka. Lo ga bakal bahagia kalo lo maksa Randu buat suka sama lo." Ucap Ami cuek. "Udah yuk ah, pulang. Ga mutu ladenin orang kaya dia."


Lisna dan Tanti mengikuti langkah Ami. Intan merasa kesal sendiri karena Ami tidak gentar berhadapan dengannya.



DARI pasar mereka langsung ke rumah makan Randu, Ami sempat protes karena angkot yang dinaiki berbeda nomor dengan yang dinaiki saat berangkat tadi pagi.


"Kita langsung ke rumah makan, Teh. Ibu sama A'a sudah berada di sana." Jawab Lisna.


Ami hanya menurut saja. Dan memang benar, saat Ami sampai, Ibu dan Randu sudah ada di tempat itu. Karyawan Randu yang laki-laki segera membawa barang belanjaan ke belakang. Ami mengelap pelipisnya dengan punggung tangan.


"Ibu tau aja kalau aku haus. Makasih, Bu." Ami langsung meminumnya.


"Tadi kita ketemu sama Teh Intan." Ucap Tanti.


"Mau apa?" Tanya Randu.


"Dia ngatain Teh Ami, A."


"Udah ga perlu dibahas, seneng aja dia kalo kita gibahin." Sela Ami. "Ibu mau ke mana?"


"Ke dapur atuh, Neng. Siap-siap masak."


"Aku bantu boleh?"


"Boleh atuh, masa ga boleh.."


Ami mengikuti langkah Ibu ke dapur. Randu menyusul dan merangkul bahu Ami, membuat Ami tersipu. Ami membantu Ibu dan 2 orang pegawai Randu yang lain memasak di dapur, Randu memperhatikan gerak gerik Ami.


"Ngapain liatin mulu?" Tanya Ami.


"Ga, takutnya lo ga bisa masak dan malah bikin ancur usaha gue."


"Gini-gini gue bisa masak ya, jangan dikira dandan doang!" Ami tidak terima dibilang Randu tidak bisa masak.


"Pulang jam berapa?" Tanya Randu.


"Ngusir gue!?"


"Bukan. Gue mau masak, biar lo cicipin masakan gue."


"Uuuhhh.... So sweet.. Yang banyak ya!" Ami tersenyum lebar.


"Teh Ami kuat makan banyak?" Tanya Tanti.


"Mumpung Kakak lo gratisin. Kalo makanan gratis makannya jangan sedikit, rugi." Jawab Ami cuek, tak mempedulikan pandangan keluarga Randu.


"Jangan ditiru! Malu-maluin!" Randu mengingatkan kedua adiknya.

__ADS_1


"Tapu A'a suka sama Teh Ami. Katanya malu-maluin." Protes Lisna.


"Nah tu dia! Malu-maluin ga apa-apa, yang penting lo suka sama gue. Itu udah buat gue seneng!" Ami bersorak seperti habis mendapatkan undian.


Randu sedang berkutat di dapur sementara Ami hanya menjadi penonton. Randu menepati janjinya masak untuk Ami sebelum gadis itu kembali ke Jakarta. Ami akan pulang naik kereta jam 4 sore ini.


"Sudah matang."


Randu menyajikan masakannya di meja di mana Ami sudah duduk dengan memegang sendok dan garpu.


"Selamat makan!" Seru Ami sebelum menyantap makan siangnya.


Ibu dan adik-adik Randu tersenyum melihat tingkah Ami. Mereka juga suka pada Ami yang apa adanya. Apalagi saat melihat Randu yang selalu tersenyum meski samar saat bersama Ami.


Ehheeggg!


"Ups.." Ami menutup mulutnya. "Sori, kelepasan." Ami nyengir dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah.


"Kebiasaan." Ucap Randu.


Setelah makan, Randu mengantar Ami ke rumah untuk mengambil barang-barang Ami. Randu membantu Ami mengemasi barang-barangnya. Ami berharap Randu memeluknya dan menyatakan cinta padanya.


Tapi nihil. Cowok itu langsung mengajak Ami kembali ke rumah makan untuk berpamitan pada Ibu dan kedua adiknya. Sepanjang perjalanan Ami diam karena kecewa. *H*arus pake apa sih biar lo bilang suka ke gue? Gue pake pelet jaran goyang mampus lo ngejar gue!


Ami berpamitan kepada keluarga Randu.


"Makasih ya, Bu, Lisna, Tanti, udah mau nerima aku di sini. Maaf kalau omongan aku dan sikap aku bikin kalian kesel."


"Teu nanaon, Neng." Ucap Ibu.


"Aku mah malah suka, Teh Ami lucu buat aku ketawa." Imbuh Lisna dan Tanti hanya mengangguk.


"Aku pamit pulang ya.." Ami mencium tangan Ibu dan berpelukan dengan Lisna dan Tanti.


"Ati-ati di jalan, Neng." pesan Ibu dan dibalas anggukan oleh Ami.


Randu mengantar Ami ke stasiun kereta. Memasuki stasiun, Randu selalu menggenggam tangan Ami erat.


"Bentar, gue ke loket dulu. Gue udah pesan tiket pagi tadi."


Ami menatap punggung Randu yang menjauh. Dia memilih duduk di kursi calon penumpang kereta. Tak berapa lama Randu duduk di sampingnya seraya menyodorkan tiket kereta.


Ami menatap tiket kereta itu sesaat lalu menatap Randu, lalu menerima tiket itu dengan lemas. Randu seakan mengerti apa yang dirasakan Ami. Dia merangkul bahu Ami dan berucap, "nanti gue yang akan ke Jakarta."


"Janji?"


"Gue janji." Ami tersenyum simpul.


Randu mengantar Ami sampai samping gerbong yang akan dinaiki Ami. Mereka berdua sama-sama diam dan saling pandang berhadapan.


"Makasih... Ini,,, weekend terindah bisa sama lo dan kenal sama keluarga lo."


Randu menyelipkan rambut Ami ke belakang telinga, gadis itu menunduk.


"Randu.. Gue,,, gue,,, mau ga lo peluk gu--"


Tubuh Ami tertarik ke depan dan tau-tau sudah berada dalam pelukan Randu. Cowok itu memeluknya erat, Ami pun balas memeluk cowok itu tak kalah eratnya.


"Lo harus datang ke Jakarta. Lo udah janji." Bisik Ami dalam pelukan Randu.


"Gue pasti datang. Gue sayang sama lo." Bisik Randu di telinga Ami.


Ami semakin mengeratkan pelukannya setelah mendengar bisikan Randu. Suara klakson kereta yang menggema mengurai pelukan mereka.


"Hati-hati di jalan." Randu mencium kening Ami beberapa detik sebelum melepaskan gadis itu masuk ke gerbong kereta.


"Gue tunggu lo di Jakarta." Ucap Ami saat dirinya sudah berdiri di pintu kereta yang mulai merayap.


Mereka saling melambaikan tangan tanda perpisahan...


**Akhirnya bisa up juga meski agak sore dikit. Gantau dari siang jaringan eror, ga bisa buka aplikasi 🙏🙏


Sampe sini udah puas belum sama perjalanan cinta Ami?


Cirebon, 5 Maret 2022


Baca juga karya teman Emak yang kece badai ya**


__ADS_1


__ADS_2