Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
6. Tetap Cinta


__ADS_3

SAAT masuk kembali ke kelas, Ami masih memasang wajah kecewa seperti tadi pagi. Randu yang melihat kedatangan Ami, hanya bersikap biasa dan datar. Dia malah lebih acuh lagi pada Ami.


Pelajaran sekolah setelah jam istirahat kali ini terasa lambat. Semua karena rasa kecewa Ami pada Randu. Cowok yang duduk di sebelahnya itu adalah pangeran impiannya, tapi bukan pangeran kuda putih seperti yang dia harapkan. Melainkan pangeran kuda hitam seperti yang Cici katakan.


Ingin Ami menepis fakta itu, tapi kenyataannya memang seperti itu. Randu hanya seorang pangeran berkuda hitam.


***


HARI terus berganti. Ami masih menyimpan kekecewaan pada Randu, tapi dia pun tidak bisa memungkiri pesona pangeran kuda hitamnya. Apalagi, permainan basket pangeran kuda hitamnya semakin bagus dan menjadi salah satu andalan SMAnya saat ada pertandingan antar SMA.


Seperti biasa setiap jam istirahat, Trio Kiyut makan bersama di kantin. Selain membicarakan pelajaran sekolah, tentunya berghibah juga jadi santapan wajib mereka setiap jam istirahat. Bukan hanya mereka mungkin, semua orang juga sepertinya sangat menyukai menu ghibah itu.


"Lo beberapa hari ini diem mulu sih, Mi. Uang jajan lo dipotong ya sama Emak lo?" Tanya Cici yang mulai penasaran penyebab sahabatnya berubah menjadi cewek alim.


"Enggak." Jawab Ami lesu, dia mengaduk-aduk ketopraknya.


"Terus kenapa lo jadi berubah alim kayak gini?" Ganti Leni yang bertanya.


"Berubah tuh jadi Cinderella kek biar cantik, atau jadi Wonder Woman yang hebat. Nah lo?" Omel Cici.


"Gue kan lagi kecewa berat ama pangeran kuda putih gue."


"Kuda item, Mi. Inget, Randu kere!" Cici meralat ucapan Ami.


"Iya, pangeran kuda item gue!" seru Ami kesal. "Gue pengen mup-on dari dia, tapi gimana caranya? Dia kan duduk di samping gue."


"Ya lo pindah duduk aja, Mi. Gampang kan?" Saran Cici.


"Maksud lo tukeran duduk sama temen sekelas gue?" Tanya Ami terlihat bodoh. Ami tidak bodoh ya pemirsa, hanya terkadang Ami terlewat polos dalam hal tertentu.

__ADS_1


"Ya iya, Bakmi! Masa tukeran ma gue!" Geram Cici.


"Itu sama aja, gue masih ada di kelas yang sama ama dia, Maymunah!" seru Ami tak kalah kesal.


"Terus lo pengen pindah ke kelas gue?" Tanya Cici.


"Gue takut bilang sama guru." Keluh Ami.


"Kalo gitu, Randu aja yang suruh pindah ke kelas gue." Ucap Cici tersenyum riang.


"Enak aja! Entar lo sleding lagi gebetan gue!" Protes Ami.


"Katanya lo pengen move-on dari dia, tapi lo ga pengen dia deket sama cewek lain. Gimana sih, Mi?" Leni heran dengan isi hati Ami.


"Iya nih! Kalo lo pengen mup-on, ya mup-on aja. Biar pangeran kuda item gue yang tampung." sahut Cici.


"Gue emang pengen mup-on, tapi gue ga rela dia ama cewek lain. Apalagi sama lo! Itu tandanya, KAMU JAHAT!" Ucap Ami menirukan cara bicara Cinta pada Rangga di AADC2.


Ami mencacah-cacah lontong ketopraknya dengan sendok, dengan tatapan menyorot tajam pada sosok pemuda di meja depan. Randu memandang sinis dan dingin pada Ami.


"Kamu mau makan apa, Ran? Nanti aku pesenin." Sesil menawarkan diri pada Randu, yang disambut decihan pelan Ami dari kursinya.


"Apa aja." jawab Randu datar tanpa menoleh pada Sesil.


Sesil terlihat kesal karena Randu seperti tak acuh padanya. Tapi dia bertekad, bahwa ini merupakan perjuangannya untuk menaklukkan Randu. Dia pun bergegas ke penjual di kantin, memesan 2 mangkok mi ayam dan 2 teh botol. Saat berjalan, dia sengaja melenggak lenggokkan badannya agar terlihat seksi.


"Ternyata, ada juga ya peragawati yang jalannya ga di catwalk, tapi di ubin! Haha..." ejek Ami.


"Ihhh, rese banget sih lo! Lo ngiri kan karena lo ga bisa jalan cantik kaya gue." Sesil menyombongkan diri dengan mengibaskan rambut panjang lurusnya di depan Ami.

__ADS_1


Dan itu berakibat fatal bagi Sesil, karena saat rambut itu tepat berada di depan wajah Ami, Ami langsung menarik rambut Sesil sampai kepala Sesil hampir menyentuh meja.


"Aww!!" pekik Sesil. "Dasar lo ya cewek barbar!" seru Sesil marah.


"Siapa yang barbar? Gue lagi makan, eh muka gue ketutup rambut. Ya udah gue tarik tuh rambut biar gue tetep bisa makan ketoprak idaman gue." balas Ami santai.


Sesil menatap Randu, berharap cowok itu akan angkat bicara membelanya. Tapi apa yang terjadi? Randu tetap duduk tenang di kursinya dan hanya melirik sekilas padanya. Merasa sangat kesal, Sesil berjalan dengan menghentakkan kakinya kembali duduk di kursi samping Randu.


Ami masih menyisakan sedikit ketopraknya, tapi dia langsung pergi dari kantin. Tidak kuat melihat pemandangan Randu bersama Sesil.


"Mi, tungguin dong! Mi ayam gue belum abis nih, mubadzir tau! Mubadzir itu temennya setan!" seru Cici.


"Udah abisin dulu makan lo, gue ke Ami dulu ya." Leni pun menyusul Ami setelah mendapat anggukan Cici.


Trio Kiyut kini sudah berada di taman belakang sekolah. Ami sedang duduk cemberut di bangku panjang ditemani dua sahabatnya.


"Pokoknya gue ga rela pangeran kuda pu- eh item gue sama cewek lain! Apalagi sama si kuntilanak!" rengek Ami.


"Lo kalo beneran suka sama Randu, bilang aja. Ga usah gengsi. Urusan diterima apa engga, itu urusan nanti. Yang penting, lo udah ungkapin apa yang ada dihati lo." saran Leni.


"Nembak dia?" tanya Ami dan Leni mengangguk. "Gue!?" kembali Leni mengangguk. "Nembak duluan!?" Lagi-lagi Leni mengangguk. "Ogah!! Tengsin gue kalo ditolak!" tolak Ami.


"Ya'elah,Mi. Muka lo kan tebel. Biasanya juga lo malu-maluin." ocehan Cici mendapat pelototan dari Ami.


"Dulu kan gue malu-maluin bukan di depan gebetan gue. Lah ini!? Sama aja itu jatuhin harga diri gue ke jurang!" Protes Ami.


"Terserah lo deh, apa yang mau lo lakuin. Lo mau move-on, lo mau nembak, terserah. Pusing pala cantik gue mikirnya." Leni mulai keluar narsisnya.


Mereka bertiga memang seperti pelangi. Ami yang baik hati tapi labil dan barbar, Leni yang pintar tapi narsis dan Cici yang royal tapi lemot dan lebay. Semua menjadi satu membuat hidup mereka berwarna. Kadang tertawa dengan kekonyolan yang mereka buat, kadang harus menanggung malu dengan tingkah norak mereka, dan sedih saat sedang jalan-jalan tapi kehabisan uang sementara perut lapar dan ingin pulang.

__ADS_1


Ami sedang bingung memikirkan apa yang akan dilakukannya. Move on dan melupakan Randu, atau menyatakan perasaannya pada Randu dengan resiko ditolak. Tapi sejujurnya, Ami tidak kuasa menolak pesona Randu.


__ADS_2