Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
21. Kelima Kali


__ADS_3

DENGAN mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari segala sudut hati, Ami berjalan mendekati Randu. Dia selalu menjunjung tinggi perjuangan RA Kartini untuk kaumnya, jadi dia tidak akan menyia-nyiakannya. Jika pangeran kuda hitamnya tidak mau bertindak lebih dulu, maka dia si bidadari barbar yang akan memulainya lebih dulu.


"Hai..." Sapa Ami saat sudah berada tepat di depan Randu.


"Hai.." Balas Randu datar.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Ami menutupi kecanggungannya.


Randu tersenyum tipis. "Kamu ya?"


Ami melongo. Dia baru menyadari jika tadi dia memanggil Randu dengan sebutan 'kamu'. Ada apa dengan dirinya? Bahkan saat nembak Randu dulu dia memanggil cowok itu tetap dengan sebutan 'lo'. Ami semakin canggung, dia terseyum kikuk.


"Oke. Aku baik. Kamu gimana?" Jawab Randu dengan 'aku-kamu'.


"Baik, lah. Kalau ga baik aku ga bakal ikut reuni." Ami berusaha menetralisir debaran di jantungnya. "Gue.. Eh, ee.." Ami bingung sendiri bahasa apa yang akan dia gunakan.


"Biasa aja kali. Kalo lo lebih nyaman pake lo-gue, ya lo-gue aja. Ga usah dipaksain." Ucap Randu.


"Nah ini nih yang gue suka dari lo. Lo ngerti banget kalo gue ngomong pake aku-kamu tuh belibet!" Ami tertawa ringan agar tidak terlihat canggung.


Randu tersenyum melihat cewek di depannya. Masih sama. Ga ada ja'im-ja'imnya. "Lo udah kerja?"


"Udah. Kalo lo?"


"Gue buka usaha warung makan kecil-kecilan."


"Warung makan kaya punya paman lo?"


"Lebih komplit sih. Selain nasi liwet dan teman-temannya, ada juga jajanan khas Bandung seperti somay dan batagor."


"Wah, asik nih! Kalo gue ke Bandung, boleh ga gue mampir? Mau numpang makan.." Canda Ami.


Randu tertawa ringan. "Boleh banget. Asal jangan banyak-banyak haha..."


"Ish, takut banget rugi lo!"


"Prinsip orang usaha itu harus untung, kalo rugi ngapain buka usaha?" Dalih Randu.


"Iya gue ngerti. Gue sarjana ekonomi loh."


Saat mereka berdua tertawa, seperti biasa cewek yang selalu dipanggil Ami dengan sebutan kuntilanak menyela mereka berdua.


"Hai, Randu.. Gue kangen banget deh sama lo." Sapa Sesil dengan genitnya.


"Dasar kuntilanak! Ga dijemput langsung aja dateng!" Tukas Ami.


"Dih! Siapa juga yang nyamperin lo. Gue lagi nyamperin Randu, lo yang sewot!" Ucap Sesil seraya mengibaskan rambutnya.

__ADS_1


Sabar Ami, sabar. Lo udah janji ga bakalan barbar lagi. Lo udah kerja, udah jadi wanita yang cantik dan anggun. Jadi, jangan barbar. Ami menasehati dirinya.


"Lo di wisma yang mana?" Tanya Sesil pada Randu.


Tapi dengan sotoynya Ami menjawab pertanyaan Sesil untuk Randu sebelum cowok itu sempat menjawab. "Gue di wisma 2, bareng lo kan?"


"Gue ga nanya lo! Ganggu aja!" Bentak Sesil.


"Lo tuh yang ganggu gue ngobrol sama Randu!" Ami tidak mau kalah.


Leni dan Cici mendekat ke arah Ami. "Lo kaya ga tau aja, Mi. Dia kan emang kuntilanak, ya kerjanya gangguin orang lah!" Oceh Cici.


"Dasar tiga kurcaci! Bisa ga sih lo bertiga ga ganggu gue!" Kembali Sesil membentak.


"Hey... Helloo... Siapa yang ganggu lo? Lo yang ganggu gue ngobrol sama Randu ya!" Ah, sifat barbar Ami kembali. Tidak jadi anggun di depan Randu dan Ami merutuki kekhilafannya. Ternyata susah ya jadi anggun. Capek juga.


"Gue masuk dulu ya, Ran. Bisa-bisa darah tinggi gue kalo deket si kuntilanak. Keanggunan gue juga bakal diserobot sama tu kunti." Ami pun pergi diikuti Leni dan Cici.


"Lo anggun dari mananya!? Lo itu barbar, baru bener!" Seru Sesil agar Ami mendengarnya.


Ami hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Kini tinggal Sesil yang masih mendekati Randu, tapi sayang cowok itu malah pergi.


"Gue capek, pengen istirahat." Randu langsung pergi tanpa menoleh lagi.


"Loh, kok gue ditinggalin gini sih!" Gerutu Sesil kesal.


ACARA malam hari lebih meriah. Mereka ada yang menyumbangkan suara perak mereka, ada juga yang unjuk kebolehan bermain piano dan lainnya. Ami merasa bosan, dia memilih duduk di kursi bambu di belakang wisma.


Randu berjalan menyusuri halaman wisma, hingga dia sampai di halaman belakang wisma dia melihat seorang gadis sedang duduk menatap rembulan hari ke-14.


"Apa sekarang kamu seperti rembulan, yang sendirian tanpa teman?"


Pertanyaan itu mampu membuat gadis itu menoleh dan tersenyum melihat kehadirannya. "Apa itu puisi buat gue?" Gadis itu balik bertanya.


"Gue ga lagi baca puisi, gue ga bisa." Jawab Randu santai. "Boleh gue duduk di sini?"


"Kalo lo yang temani, pasti rembulan itu akan lebih indah." Jawab gadis itu sembari menggeser duduknya agar Randu bisa duduk.


"Lo pernah ga sih, Mi. Merasakan kekecewaan?" Tanya Randu pada gadis di sampingnya, Ami.


"Lo tanya gue pernah kecewa apa engga? Ya jelas pernah lah! Lima kali malah!"


"Banyak amat!"


"Lo lupa apa emang udah pikun? Yang bikin gue kecewa tuh lo! Dan itu terjadi sampe 4 kali!" Seru Ami mengacungkan 4 jarinya.


"Yang satunya?"

__ADS_1


"Waktu gue kuliah gue pacaran sama pangeran kuda putih. Tapi ternyata dia selingkuh di belakang gue, dan lo tau siapa yang jadi selingkuhan cowok gue?" Nada bicara Ami tidak ada sedih-sedihnya sama sekali, hanya ada kekesalan dan kekecewaan.


"Mana gue tau!"


"Si kuntilanak!"


"Sesil?"


"Ya siapa lagi? Dulu gue pedekate lo, dia ngrebut lo dari gue. Gue udah jadian baru dua bulan, eh dia jadi selingkuhan cowok gue selama sebulan. Bener-bener jiwa kuntilanak, kan?"


"Dia ga rebut gue dari lo karena kita ga pernah jadian. Dan gue juga ga pernah jadian sama dia." Randu menjelaskan.


"Tapi pokoknya gue kecewa sama lo!" Sentak Ami.


"Mau jalan-jalan enggak? Kita cari jagung bakar dan minuman hangat." Ajak Randu.


"Lo ngajak gue kencan!?" Seru Ami hampir bersorak.


"Gue cuma ngajak lo biar lo ga kesel. Tapi kalo lo ga mau ya udah.." Randu bangkit dari duduknya.


"Eh, enak aja! Masa ada tawaran buat makan jagung bakar gratis ditolak? Ga ada tuh yang begitu dalam kamus Ami. Apalagi yang ngajak pangeran kuda item gue. Yuk!" Ami langsung ikut berdiri.


Randu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah Ami. Mereka berjalan menyusuri jalanan aspal menurun. Ami hampir menyerodot di jalan menurun dan langsung tangannya dipegang Randu.


"Kalo jalan hati-hati." Kata Randu perhatian.


"Ternyata lo perhatian juga ya, padahal cuma modus. Coba kalo dulu kita jadian.."


"Ga usah ngayal!"


"Emang lo ga tertarik sama gue? Gue udah cantik sekarang." Percaya diri sekali bukan?


"Nah! Tuh tukang jagung bakar." Tunjuk Randu.


Di ujung jalan, ada penjual jagung bakar sedang mengipasi beberapa jagung. Di samping penjual jagung bakar, ada penjual wedang jahe dan kopi. Randu dan Ami duduk di kursi panjang yang disediakan penjual jagung bakar itu.


Pesanan mereka sudah siap santap, jagung bakar dan segelas wedang jahe plus susu panas. Mereka menikmati dengan khidmat di bawah sinar rembulan.


"Kalo sekarang gue nembak lagi, lo mau ga jadi cowok gue?"


Pertanyaan Ami yang tak terduga oleh Randu membuatnya keselek biji jagung sampai batuk-batuk.


**Terima ga yaaaa??


Ini kali kelima Ami menyatakan cintanya pada Randu


Tunggu next part!

__ADS_1


Cirebon, 22 Februari 2023**


__ADS_2